Menikahi Janda Tetangga

Menikahi Janda Tetangga
Putri yang Malang


__ADS_3

Fix... Aku kenal suara perempuan ini. Ini adalah suara yang sama dengan suara alunan pembaca Al-Qur'an yang aku dengar dini hari tadi.


"Oh... Ini anak Ibu, Put... Namanya Aditya. Dit... Putri ini istri Almarhum Satria. Kamu masih ingat Satria, bukan?"


Aku membelalak kaget, mendengar nama teman masa kecilku bersanding dengan kata "Almarhum."


"Satria sudah meninggal, Bu?! Kapan?!"


Aku sampai menegakkan tubuh mendengar berita kematian Satria. Tentu saja aku mengenalnya, bahkan sangat mengenalnya. Sejak SD hingga SMA, kami menuntut ilmu di sekolah yang sama. Bahkan, aku dan Satria selalu ditempatkan di satu kelas yang sama.


"Tiga tahun yang lalu, Dit... Sebulan setelah Ibu jatuh dulu itu, lho. Terakhir Ibu ketemu dia waktu kejadian Ibu jatuh. Satria dan Putri lah yang membantu membawa Ibu ke rumah sakit dengan mobil mereka," jawab ibu lirih. Ya Tuhan...Aku benar-benar tak menyangka kalau si culun Satria sudah meninggal dunia.


"Kenapa Ibu tidak mengabari aku?"


Ibu menatapku lama, lalu menghembuskan nafas dengan kasar.


"Sudah... Istrimu yang menjawab telepon dari Zidan waktu itu," jawab ibu sedikit kesal. Aku ikut menghembuskan nafas dengan kasar. Rania sama sekali tak memberitahu aku soal Zidan yang mengabari kematian Satria. Hingga tiga tahun sudah berlalu, tak pernah dia menyampaikannya. Entah berita apa lagi yang disimpankannya dariku selama ini.


"Saya ikut berduka cita, Mbak Putri. Saya ini salah satu sahabat Satria. Kami selalu sekelas dulu zaman sekolah. Dari SD sampai SMA," ucapku sambil bangkit dan mengulurkan tangan. Putri menangkupkan kedua tangannya di depan dada, menolak menyambut uluran tanganku.


"Terima kasih, Mas... Maaf, saya tidak bisa bersalaman dengan Mas."


Kutarik kembali uluran tanganku, mengerti kalau perempuan ini sedang membentengi dirinya sendiri. Meskipun dia tidak mengenakan hijab, tapi dia mengamalkan apa yang menjadi keharusan di agamanya.


"Ya sudah... Ayo langsung ke dapur saja, Put. Biar kamu bisa lihat langsung proses memasak ikan kuah kuning kemarin. Siapa tahu bisa jadi menu andalan di rumah makan kamu," ucap ibu cepat. Putri mengangguk setuju, lalu mengekor lagi di belakang ibu. Dia menganggukkan kepala kepadaku sebelum ikut ke dapur bersama ibu. Aku membalas anggukannya dengan cara yang sama pula.


*


"Gimana, Dan? Sudah dapat kemeja putih dan celana hitamnya?"


Aku mendekati Zidan, wajahnya pucat seperti orang yang ketakutan. Aku melotot menatapnya, meminta penjelasan kenapa wajahnya tiba-tiba saja jadi pucat begitu.

__ADS_1


"Mas... Di sini mahal-mahal semua! Masak kemeja aja harganya sejutaan? Celananya juga! Kita beli di toko biasa aja, Mas. Aku tahu dimana tokonya." Zidan menjawab pertanyaanku dengan nada berbisik, tawaku seketika pecah dibuatnya. Apa adikku ini sedang mengidap amnesia? Dia lupa kalau masnya ini seorang manajer.


"Ambil saja yang kamu mau dan cocok dengan ukuran tubuhmu!! Nggak usah peduli soal harga!! Mas aja udah ambil tiga kemeja dan tiga celana!! Nih!!"


Kuangkat tiga stel pakaian pilihanku, ku hadapkan kepada Zidan. Sontak saja kedua matanya membulat sangat besar.


"Kalau Ibu tahu berapa harga pakaian-pakaian yang Mas beli, Ibu pasti ngomel!! Pemborosan!!"


Tawaku pecah lagi mendengar ucapan Zidan.


"Sudah lima tahun Mas bekerja untuk membahagiakan orang-orang yang tak tulus mencintai Mas. Sedangkan untuk kamu dan Ibu, tidak. Hanya uang lima juta sebulan yang Mas kirimkan untuk kalian berdua, Mas yakin sekali Ibu pasti masih harus meminta kamu berhemat selama ini, kan? Mana cukup uang segitu untuk biaya makan dan kuliah kamu, Dan."


Zidan tertawa sinis seperti mengejekku.


"Yeee... Lebih dari cukup itu, Mas. Kalau Mas tahu apa yang sudah Ibu lakukan pada uang kiriman dari Mas selama lima tahun ini, aku yakin Mas akan takjub."


Aku terdiam mendengar jawaban Zidan, penasaran dengan maksud ucapannya itu.


"Kejutan!! Biar Ibu aja yang ngomong. Ntar aku dimarahin Ibu gara-gara ngebocorin rahasia beliau."


Zidan ngeloyor pergi, meninggalkan aku dalam kebingungan. Arghhh!! Bocah ini bikin aku penasaran saja!!


*


Adikku seketika menjadi laki-laki yang paling gagah di deretan ratusan mahasiswa yang wisuda hari ini. Tak percuma aku merogoh isi dompet hingga delapan juta rupiah untuknya semalam, plus omelan-omelan khas ibu ketika tahu berapa harga out fit yang akan dikenakan putra bungsunya hari ini.


Meskipun ibu berangkat dengan wajah cemberut tadi, kali ini beliau justru berulang kali mengusap air matanya karena bangga pada pencapaian Zidan. Aku justru bangga pada ibu, karena tanpa kehadiran ayah, ibu mampu mengantarkan aku hingga sarjana dan adikku hingga diploma tiga. Zidan sendiri yang meminta kuliah mengambil diploma, itu saja harus dengan paksaan dan ancaman terlebih dahulu. Katanya, dia sudah capek belajar. Cukup kuliah tiga tahun saja, tidak perlu sampai lima tahun. Akhirnya, aku dan ibu menyerah juga. Pokoknya dia punya gelar, terserah apa pilihannya.


"Terima kasih, Dit... Hiks."


Ibu menempelkan tubuhnya kepadaku, kurangkul pundak beliau dengan lembut, lalu tersenyum.

__ADS_1


"Terima kasih untuk apa, Bu? Aku hanya menjalankan kewajibanku sebagai anak tertua yang alhamdulillah sukses. Semua ini justru karena doa yang tak henti Ibu bisikkan kepada Tuhan " ucapku pelan. Ibu tersenyum manis, sambil mengusap air mata di wajahnya.


*


Pulang dari acara wisuda, aku mengajak ibu dan Zidan makan di restoran. Tadi kami berangkat pagi-pagi sekali, tentu saja ibu tak sempat memasak jadinya. Lagi pula, ibu dan Zidan pasti sudah lama tidak makan di restoran mahal dan enak.


Setelah selesai membayar makanan yang sudah kami nikmati, kami pun keluar dari restoran bersama-sama. Sedari tadi ibu tak pernah berhenti tersenyum, pertanda kalau beliau sedang sangat bahagia hari ini.


Saat berjalan ke parkiran, tiba-tiba saja langkah ibu terhenti. Aku dan Zidan ikut menghentikan langkah dan sama-sama menatap ibu untuk meminta penjelasan.


"Bu."


Ibu diam tak menjawab panggilanku, tatapannya berkilat tajam menatap ke satu titik di depan kami. Entah apa yang sedang beliau tatap, hingga senyumannya lenyap begitu saja dan tatapannya berkilat marah.


"Katakan kalau Ibu saat ini sedang salah lihat, Dit. Perempuan di seberang itu bukan istrimu, kan?"


Aku menoleh ke arah tatapan ibu tertuju, mencoba mencari titik yang sedang ibu tatap. Sesaat kemudian, aku menemukan titik itu. Rupanya ibu sedang menatap sepasang kekasih yang sedang berjalan keluar dari sebuah hotel. Keduanya terlihat sangat bahagia dan saling mencintai. Bahkan sang pria tak segan-segan mengecup pipi perempuannya di depan umum.


Bukan apa yang sedang mereka lakukan yang membuat ibu menatap marah, tapi karena perempuan yang menerima kecupan hangat dari prianya itu adalah Rania... Istriku.


"Bangs**!!"


Aku lekas mengambil ancang-ancang untuk mendatangi pasangan tersebut, tapi langkahku terhenti akibat cekalan sangat erat di lengan. Aku menoleh dan menatap ibu, beliaulah yang menahan langkahku saat ini.


"Harga dirimu jauh lebih tinggi dari pada perempuan itu! Kehilangannya bisa kau ganti dengan yang lain, tapi kehilangan harga diri dengan marah-marah di depan umum untuk perempuan macam dia, tak bisa terganti!"


Kedua mataku menjadi panas, wajahku juga sudah seperti terbakar. Zidan ikut memegangi lenganku, tak setuju dengan keputusanku untuk mendatangi pasangan tersebut.


"Kita pulang, Dit!! SEKARANG!!"


Seperti bocah sepuluh tahun yang ketahuan mencuri uang dari dompet ibu, tanganku ditarik paksa menuju mobil dan aku hanya menurut pasrah.

__ADS_1


__ADS_2