Menikahi Janda Tetangga

Menikahi Janda Tetangga
Berpisah


__ADS_3

"Menikahlah denganku."


Rania menoleh ke samping, lalu menatap Aji, kekasihnya. Saat ini keduanya sedang berada di sebuah kamar hotel dan baru saja menyelesaikan pertarungan panas untuk yang kedua kalinya.


"Dua adikku masih sekolah, Ji. Rumah Ibu juga belum selesai di rehab. Aku masih sangat membutuhkan kucuran dana dari Mas Aditya," ucap Rania lemah.


"Hmmmhhh!! Selalu saja itu alasanmu. Apa kamu yakin kamu akan kuat berada di rumah itu lebih lama lagi? Tinggal bersama di bawah satu atap dengan istri baru suamimu?"


Rania membuang muka ke arah lain, menatap lurus langit-langit kamar hotel yang sudah dia bayar untuk menginap selama dua malam. Lagi-lagi menginap malam ini menggunakan uang pribadinya. Kalau malam-malam sebelumnya Rania tak ambil pusing soal uang gaji yang habis untuk bersenang-senang dengan sang kekasih, belakangan ini dia mulai sedikit merasa keberatan. Tepatnya sejak Aditya memperkenalkan Putri sebagai istri mudanya dan menghentikan uang nafkah sepuluh juta sebulan yang menjadi haknya.


"Ran."


Aji memanggil Rania, membangunkan Rania dari lamunan. Rania menghembuskan nafas perlahan, lalu bangkit untuk duduk dengan tangan menarik selimut untuk menutupi dadanya yang polos.


"Deposito kamu lama juga cairnya ya, Ji?"


Aji tersentak mendengar pertanyaan Rania, tenggorokannya seketika saja tercekat. Rania yang sudah duduk bersandar pada kepala spring bed, menatap Aji dengan tatapan serius namun lembut. Aji mulai salah tingkah akibat tatapan Rania yang menuntut sebuah jawaban darinya.


"Ji."


Aji ikut bangkit untuk duduk, sambil menarik ujung selimut untuk menutupi bagian tubuhnya yang berada di bawah pinggang.


"Ng... It-Itu, sayang... Ng... Apa namanya?"


Rania masih menunggu jawaban dari mulut Ajj, sementara Aji sendiri sedang memaksa otaknya untuk berpikir cepat agar segera mendapatkan jawaban yang tepat.


"Mama, Yang...."


Rania mengernyitkan kening sambil terus menatap wajah Aji, tak mengerti kemana arah jawaban Aji barusan.


"Iya, Yang... Mama. Rupanya Mama sudah lebih dulu mengambil uang depositoku. Beliau sedang sangat membutuhkan uang katanya, makanya beliau mengambil semua uang depositoku," jawab Aji kemudian. Rania tetap menatap wajah Aji, dia bisa merasakan kalau Aji sedang berbohong saat ini. Keraguan di hatinya mulai membesar pada laki-laki yang kemarin membuatnya berpaling dari sang suami.


"Bagaimana mungkin uang deposito kamu diambil Mama tanpa sepengetahuan kamu, Ji? Memangnya deposito itu atas nama Mama?"

__ADS_1


Aji lekas menganggukkan kepala untuk menjawab pertanyaan Rania.


Rania menghembuskan nafas dengan kasar, kemudian mengalihkan tatapannya ke televisi yang menempel di dinding tepat di hadapannya. Mendengar jawaban Aji barusan, Rania semakin yakin kalau selama ini Aji sudah membohonginya.


"Tenang aja, Yang... Bulan depan uang deposito adalah milikku. Mama sudah menyelesaikan semua urusannya, beliau pasti tidak akan mengambil uang itu lagi nanti."


Aji menunduk perlahan, lalu mengecup pangkal lengan Rania dengan sangat lembut dan hangat.


Tangan Aji bergerak masuk ke balik selimut yang menutupi tubuh Rania, lalu mendarat di paha mulus Rania. Perlahan Aji membelai dan meremas pelan paha tersebut, bermaksud untuk memancing gairah Rania agar perempuan itu bisa lupa soal uang deposito yang selama ini digadang-gadangnya.


"Aku ngantuk, Ji... Udah dulu."


Rania menggeser tangan Aji untuk menjauh dari pahanya, kemudian dia menggeser bokongnya ke depan, lalu kembali berbaring. Aji menatap aneh pada Rania.


"Kamu marah ke aku, Yang? Cuma gara-gara uang deposito diambil Mama?" Aji bertanya pada Rania, wajah laki-laki itu sudah merah akibat kesal ditolak.


"Nggak," jawab Rania pendek saja.


"Trus, kenapa kamu langsung berubah gitu?"


"Setahuku, seorang pengusaha tidak perlu menunggu uang deposito kalau hanya sekedar untuk bersenang-senang. Tapi sepertinya kamu adalah pengusaha yang berbeda," jawab Rania. Kalimat sindiran itu memang disampaikan Rania dengan nada yang sangat pelan, tapi tak ayal mampu menyulut kemarahan Aji.


"Cuma gara-gara uang, kamu menolakku dan bersikap aneh seperti tadi. OK!! Aku mulai paham siapa kamu sekarang. Kamu berubah, Ran! Kamu udah nggak bisa mencintai aku dengan tulus lagi rupanya," ucap Aji dengan nada tinggi.


Aji gegas turun dari ranjang, lalu melangkah kasar ke arah kamar mandi. Rania lekas bangkit, lalu duduk menatap tubuh Aji yang bergerak menjauh dan kemudian hilang di balik pintu kamar mandi yang sudah ditutup. Rania menghela nafas panjang, lalu menghembuskannya perlahan.


Sesaat kemudian, Aji keluar dari kamar mandi dengan sudah berpakaian lengkap. Rania kembali menoleh untuk menatap laki-laki tersebut dalam diam. Tak ada keinginan sedikitpun di hatinya untuk bertanya, kenapa laki-laki itu sudah mengenakan pakaiannya? Sementara kamar yang sedang mereka tempati saat ini sudah dibayar cash untuk dua malam.


"Kalau cintamu kepadaku hanya sebatas uang, kita sudahi saja hubungan ini," ucap Aji sambil menyelipkan ujung kemejanya ke balik pinggang celana yang dia kenakan.


"Ada banyak masalah perusahaan yang sedang aku hadapi, tapi tak sekalipun aku membicarakannya denganmu. Aku nggak mau membebankan semua masalah yang aku hadapi kepadamu, aku nggak mau kehilangan senyuman dan kehangatanmu."


"Tapi sepertinya, kamu nggak bisa menghargai itu. Ya sudah... Kita akhiri saja semua sampai di sini."

__ADS_1


Hening... Tak ada jawaban. Bahkan suara nafas dua anak manusia itupun tak bisa terdengar. Aji melirik Rania yang masih duduk diam di atas ranjang hotel, tatapan perempuan itu sudah fokus ke televisi, tidak lagi pada Aji seperti tadi. Besar harapan di hati Aji, Rania akan berlari ke arahnya dan memohon agar Aji tidak pergi meninggalkannya. Sekaligus juga berjanji kalau dia tak akan membahas soal deposito atau uang lagi sampai kapanpun.


Aji berjalan perlahan menuju sofa single di samping tempat tidur sambil menenteng sepatunya, lalu menjatuhkan bobotnya dengan perlahan. Semua gerakan dilakukannya dengan sangat lambat, untuk mengulur waktu hingga Rania berubah pikiran dan melakukan seperti apa yang dia harapkan. Ini sudah pukul satu dini hari, Aji tak tahu harus pulang ke kontrakannya dengan apa. Apa lagi dia tak memiliki uang satu rupiah pun di dalam saku dan dompetnya saat ini.


Hingga kedua sepatu terpasang rapi di kedua kakinya, Rania tetap bergeming. Tak terlihat sedikitpun keinginan perempuan itu untuk menahan Aji untuk pergi. Dengan gerakan kasar dan dengusan nafas kesal, Aji bangkit dari duduk, lalu berjalan menuju pintu.


"Ji!!"


Baru saja Aji hendak menggenggam handle pintu, Rania memanggil namanya. Sebuah senyum penuh kemenangan tersungging manis di kedua sudut bibirnya.


*


Aji POV


Rania kepar**!! Perempuan as*! Siala**!!


Udara dingin menyapa tubuhku, aku terpaksa memeluk tubuhku sendiri sambil terus melangkah, untuk membuat tubuhku sedikit hangat.


Aku pikir Rania akan melemah setelah mendengar ucapan-ucapanku tadi, tapi ternyata aku salah!! Dasar perempuan sial**!


Arghh!! Cepat sekali semua berakhir. Hanya sedikit lagi, maka aku akan berhasil menikah dengan Rania dan bisa hidup tenang tanpa perlu capek-capek bekerja. Mana pihak perusahaan tempatku bekerja sudah melayangkan SP 2 untukku gara-gara aku sering nggak masuk kerja, sekarang Rania malah mendepakku pula. Arghhhh!! Habis aku!!


Rania tidak pernah tahu kalau keadaan keluargaku saat ini tidak lah sama dengan dulu. Dia nggak tahu kalau aku tidak jadi melanjutkan kuliah karena papa meninggal secara mendadak saat itu. Dia sama sekali tak tahu apa pun tentangku. Makanya saat aku bilang kalau aku bekerja sebagai pengusaha makanan, dengan mudahnya dia percaya begitu saja.


Tapi Rania yang ku lihat malam ini sungguh jauh berbeda. Dia mulai mempertanyakan uang deposito gaib yang selalu ku ucapkan kepadanya. Tentu saja hal ini sudah membuatku kesal hingga terpancing untuk emosi tadi.


"Mas Aji!! Mau kemana?!"


Aku menoleh untuk menatap seseorang yang baru saja menyapaku. Ternyata dia adalah Anandita, seorang perawan tua yang bekerja sebagai staf HRD di perusahaan tempatku bekerja.


"Mbak Dita... Enggg... Ini, Mbak. Saya mau pulang."


"Dari mana? Kenapa sendirian aja? Trus, sekarang mau kemana?"

__ADS_1


Argghhh!! Kenapa banyak sekali pertanyaan yang dilemparkan mbak Dita kepadaku. Aku jadi bingung mau jawab pertanyaan yang mana dulu?


__ADS_2