Menikahi Janda Tetangga

Menikahi Janda Tetangga
Melepas Rindu


__ADS_3

Seperti yang sudah direncanakan, aku langsung mengarahkan mobil alphard hitam milikku menuju kampung halaman. Tempat dimana aku lahir dan dibesarkan, tempat wanita terkasihku, ibu, tinggal bersama adik bungsuku. Sudah hampir tiga tahun aku tidak mengunjungi mereka, rindu ini sudah menumpuk hingga menyesakkan dada. Terakhir kali aku ke kampung tiga tahun yang lalu, saat ibu jatuh di kamar mandi akibat diabetes dan kolesterol yang tinggi. Itu pun aku hanya menginap beberapa hari saja, karena Rania memaksaku untuk pulang segera. Hampir setiap jam Rania menelpon dan memintaku untuk pulang, entah apa yang dia takutkan jika aku berlama-lama berada di kampung.


Perjalanan ke kampung halaman dari kota ini menghabiskan waktu sekitar lima jam saja, aku perkirakan nanti mungkin sekitar tengah malam aku baru sampai di rumah ibu. Sengaja aku tak mengabari beliau tentang kepulanganku kali ini. Bermaksud membuat kejutan buat ibu dan adikku, Zidan.


*


Aku melirik jam tangan yang melingkar di tangan kananku, sudah hampir pukul dua dini hari. Tinggal beberapa belokan lagi, maka tiba lah aku di rumah ibu. Arghhh... Rasanya sudah tak sabar untuk bertemu serta memeluk tubuh wanita pemilik cinta paling tulus untukku itu. Aku yakin sekali, hal pertama yang akan dilakukan ibuku nantu saat melihatku datang, pastilah ngomel-ngomel. Pertama, karena aku tak memberitahunya soal kepulanganku ini. Kedua, karena aku sudah lama tak pulang kampung. Tapi, aku tak merasa takut sama sekali. Malahan semakin tak sabar untuk mendengar omelan-omelan beliau tersebut.


Mobil ku arahkan masuk ke pekarangan rumah kampung yang memiliki pekarangan yang luas, lalu kuhentikan tepat di depan rumah semi permanen. Rumah ini adalah rumah milik ayah dan ibuku.


Aku segera turun dari mobil, lalu melangkah pelan menuju pintu rumah yang tertutup. Alunan suara wanita yang sedang mengaji, menyambut kedatanganku. Tapi, itu bukan suara ibu. Hmmmhhh... Entah kenapa alunan suara mengaji itu seketika membuat perasaanku sangat tenang. Suara siapa itu?


Lagi enak-enaknya menikmati alunan bacaan ayat suci Al-Qur'an, tiba-tiba saja pintu rumah ibu terbuka pelan. Aku terperanjat kaget karena mendengar suara pintu berderit tiba-tiba. Dari balik pintu tersebut, muncul sosok wanita yang selama ini sangat aku rindukan.


"Assalammualaikum, Ibu."


Ibu mengerjap-ngerjapkan matanya berulang kali, lalu mengucek-nguceknya beberapa kali juga.


"ADIT?! APA ITU KAU, NAK?"


Aku langsung melangkah maju dan mendekati tubuh ibu, agar beliau bisa melihat dengan jelas sosokku.


"Astaghfirullah!! ADITYA!!"


Ibu langsung menghambur ke dalam pelukanku, aku membalas pelukannya dengan erat. Tiba-tiba saja suara isak tangis keluar dari mulut ibu.


"Pantas saja mataku tak mau terpejam sedari tadi!! Rupanya Tuhan memintaku untuk menyambut kepulanganmu... Hiks."


Kubelai rambut ibu yang didominasi warna putih dan abu-abu, lalu kukecup lembut kepala beliau yang selalu mengeluarkan aroma orang-aring yang lembut.


"Anak nakal!! Kenapa kau tak memberitahuku kalau kau mau pulang?!"


"Awwww!!! Sakit, Ibu."


Dengan gerakan cepat, ibu melepaskan pelukannya, lalu menarik telinga kananku dengan cubitan kecil. Namun, lekas dilepaskannya cubitan kecil itu dari telingaku setelah mendengar aku mengaduh.


"Bu!! Ibu bicara dengan siapa?!"


Zidan terbangun, langsung mendekati pintu rumah untuk menyusul ibu. Matanya membelalak kaget melihat kehadiranku.

__ADS_1


"Mas Adit!! Mas Adit pulang!!"


Zidan langsung menabrakkan tubuhnya ke tubuhku, lalu memelukku erat.


"Mas ikut ke acara wisudaku, kan? Mas nggak langsung balik ke kota, kan?"


Aku tersenyum bahagia sambil membalas pelukan adik bungsuku itu.


"Mas cuti... Sebulan! Bagaimana menurutmu?"


Zidan lekas melepaskan pelukannya, lalu menatapku tak percaya.


"Sebulan?! Beneran sebulan, Mas?!"


Aku mengangguk mantap untuk menjawab ketidakpercayaan Zidan.


"Asekkkk!!!"


Lagi-lagi Zidan menghambur ke dalam pelukanku.


"Istrimu mana, Dit?"


Tawaku seketika lenyap begitu mendengar pertanyaan ibu, Zidan kembali melepaskan pelukannya dan melihat ke belakang tubuhku.


Aku menghela nafas berat, kemudian menganggukkan kepala. Kupaksakan bibir ini untuk tersungging agar muncul sebuah senyuman. Entah apakah ibu dan Zidan bisa melihat senyuman keterpaksaanku ini.


Zidan kemudian menoleh untuk menatap ibu, keduanya saling bertukar tatap sebentar.


"Ya sudah!! Masuklah, Dit!! Kamu pasti capek! Sebentar... Biar Ibu bereskan dulu kamarmu."


Aku dan Zidan mengekor masuk ke dalam rumah, setelah itu Zidan mengunci kembali pintu rumah.


*


"Apa kalian baik-baik saja, Dit?"


Aku melirik wajah ibu yang sedang tertunduk, beliau sedang merajang sayuran untuk diolah.


"Jangan coba-coba berbohong atau mencari-cari alasan pada Ibu!! Ibu yakin kalian tidak sedang baik-baik saja!"

__ADS_1


Kuhela nafas panjang, agar aku bisa menjawab pertanyaan ibu dengan jujur. Beliau memang selalu memiliki insting yang kuat, tak satupun dari kami anak-anaknya yang mampu merangkai kebohongan kepada beliau sejak kami kecil.


"Aditya!"


Aku kembali menatap wajah ibu, wajah yang selalu teduh dan memancarkan kedamaian. Beliau sedang menatapku saat ini, seperti sedang mengintimidasi aku untuk jujur.


Ku ambil baskom yang berada di atas pangkuan ibu, lalu ku letakkan di atas meja. Kemudian, ku jatuhkan bobot tubuhku ke lantai, dan membaringkan kepalaku di atas pangkuan ibu.


"Aditya capek, Ibu... Huhuuuhuuu... Aditya gagal! Hiks."


Tangisku pecah begitu saja di atas pangkuan ibu. Beliau diam tak berkomentar apa pun, tapi kedua tangannya membelai kepalaku dengan lembut.


Setelah itu, mengalirlah semua cerita kehidupan yang aku jalani sejak aku menikah dengan Rania. Panjang lebar dan detail kuceritakan semuanya kepada beliau. Biarlah orang menganggapku lemah karena mengadukan kehidupan rumah tanggaku pada beliau, yang penting sesak di dadaku bisa hilang.


Ibu tetap mendengarkan, tidak berusaha memotong ceritaku atau bertanya. Tangannya yang tak henti bergerak di atas kepalaku, menghadirkan ketenangan yang sudah lama tak aku rasakan.


Kebetulan saja Zidan sedang pergi ke kampus, menghadiri gladi bersih untuk acara wisudanya besok. Jadi, aku tak perlu malu melepaskan tangis di depan ibu. Aku lebih leluasa bercerita, mencurahkan apa yang aku pendam dan rasakan selama empat tahun ini.


"Lalu... Apa keinginanmu sekarang? Seperti saat Ibu memberikan kebebasan kepadamu memilih perempuan yang akan kau jadikan istri, seperti itu juga lah Ibu memberikan kebebasan kepadamu untuk membuat keputusan saat ini," ucap ibu setelah aku selesai menceritakan keresahanku.


"Tapi, ingat!! Setiap keputusan memiliki konsekuensinya masing-masing. Kamu harus siap menerima dan menjalani konsekuensi tersebut setelah memutuskan. Coba introspeksi lah dulu, apa kau pernah menyinggung perasaan istrimu? Atau, apa kau pernah melakukan sesuatu hal yang tak disukai istrimu? Sejatinya, semua wanita itu sangat halus perasaannya. Kami tidak akan mengulang dua kali untuk mengingatkan kesalahan, kami berharap kalian para pria bisa memahami itu."


Aku masih diam mendengarkan wejangan ibu, sesuatu yang tidak pernah aku dengar dari beliau sejak aku menikah. Ibu bukan tipe wanita yang sok tahu dan suka ikut campur, sekalipun itu masalah anaknya.


"Lakukan shalat tahajud, Dit... Juga shalat istikharah. Minta petunjuk pada Tuhan, agar apa pun keputusan yang kau buat nanti, tidak akan kau sesali," sambung ibu. Aku mengangguk lemah, masih sambil merebahkan kepala di atas pangkuan ibu.


"Assalammualaikum, Bu!!"


"Waalaikumsalam!!"


Aku lekas mengangkat kepala begitu mendengar suara seorang wanita yang mengucapkan salam dari luar. Segera ku usap wajahku yang basah, lalu bangkit dan duduk kembali ke tempat dudukku semula.


Ibu bangkit dari kursi yang didudukinya, lalu berjalan keluar rumah untuk menyambut tamu yang datang.


"Eh... Putri... Mari masuk, Nak... Ayo... Ayo."


Aku menoleh ke arah pintu rumah, ingin melihat perempuan yang dipanggil "Putri" oleh ibu. Sepertinya aku pernah mendengar suara tamu perempuan itu, tapi namanya baru kali ini aku dengar.


Ibu kembali masuk ke rumah, di belakangnya seorang perempuan berjalan mengekor. Saat mata kami bertemu, perempuan itu tersenyum sopan sambil menganggukkan kepala.

__ADS_1


"Eh... Ibu lagi ada tamu... Maaf, Putri mengganggu,"


Fix... Aku kenal suara perempuan ini. Ini adalah suara yang sama dengan suara alunan pembaca Al-Qur'an yang aku dengar dini hari tadi.


__ADS_2