
“Dari mana saja kamu, Mas?! Jam segini baru pulang?!”
Rania menyambut kepulangan Aditya dengan wajah masam, ditambah dengan rentetan pertanyaan layaknya seorang penyelidik dari kepolisian. Aditya diam, tak berniat untuk menjawab pertanyaan Rania. Sudah seminggu berlalu sejak keributan pagi itu, Aditya lebih banyak menghabiskan waktunya untuk berada di kantor. Entah itu untuk mengerjakan tugas-tugasnya, atau hanya untuk beristirahat di ruangannya hingga larut malam. Ini dia lakukan agar sang istri tau bagaimana rasanya melihat pasangan kita setiap hari pulang bekerja hampir tengah malam.
“Jangan coba-coba mempermainkan aku, Mas. Tadi aku sudah menelpon sekretarismu. Dia bilang malam ini tak ada lembur. Jadi, kemana….”
Aditya melangkah masuk ke kamar tamu, kamar yang sudah setahun menjadi kamar pribadinya. Dia tak mempedulikan sama sekali apa pun ucapan Rania, berusaha untuk tidak terpancing untuk menjawab pertanyaan perempuan itu, apa lagi sampai emosi.
“MAS!! AKU SEDANG BICARA!!”
Rania berteriak di depan pintu kamar yang sudah dikunci dari dalam, sambil menggedor-gedor pintu tersebut dengan kasar.
“BUKA PINTUNYA, MAS!! AKU SEDANG BICARA!!”
Aditya tetap diam, berjalan santai masuk ke kamar mandi yang berada di dalam kamar, lalu menutup pintu kamar mandi. Untuk beberapa saat suara teriakan dan gedoran di pintu kamar masih saja terdengar, tapi Aditya tetap tak peduli. Hingga akhirnya Rania menyerah, dia kembali ke kamarnya dengan langkah kasar. Aditya menyalakan shower, lalu membiarkan air dingin menyirami tubuhnya yang penat dan terasa lengket.
*
“Mbak!! Mbak Sarah!! Sarapan saya….”
“Mbak Sarah udah aku pecat!!”
Aditya berbalik badan untuk menatap Rania, emosinya mulai terpancing kali ini. Sudah lah Rania tak mau menyiapkan sarapan untuknya, dia bahkan dengan lancang memecat asisten rumah tangga di rumah ini.
Tak mau tenggelam dalam emosi, Aditya berbalik arah menuju pintu rumah hendak menuju mobil.
“Mas!! Kamu melupakan sesuatu!!”
Aditya menghentikan langkah, lalu berbalik badan untuk menatap Rania. Aditya sudah tahu kemana arah ucapan Rania, tapi dia tetap berusaha santai seperti orang tak tahu.
“Apa?!” Tanya Aditya dengan nada kasar.
__ADS_1
“Apa?! Koq apa, sih?! Kamu lupa ini tanggal berapa?!” Rania menjawab dengan pertanyaan juga.
“Tanggal satu.”
“Trus?!”
“Trus apa?!”
Rania mendengus kesal, dia tahu suaminya sedang berpura-pura tidak tahu saat ini.
“Mana nafkah untukku? Untuk Ibu dan adik-adikku. Bulan ini Rindu dan Rahma harus bayar uang ujian, jadi tolong dilebihkan!!”
Aditya tersenyum sinis karena tebakannya benar. Jadi, Rania pulang lebih awal semalam dan bangun lebih pagi hanya untuk menuntut sesuatu yang menurutnya adalah haknya. Rania tak pernah lupa pada hak yang harus dia dapatkan sebagai seorang istri, tapi soal kewajiban seorang istri, dia tak mau tahu sama sekali.
“Kau kan juga bekerja, setiap hari tanpa peduli tanggal merah. Bahkan hari Minggu saja pun kau pergi bekerja. Mulai dari pukul delapan pagi, hingga pukul satu malam. Aku yakin gajimu sudah jauh lebih tinggi dari gaji yang aku terima setiap bulannya. Kenapa bukan uang gajimu saja yang kau gunakan untuk membiayai kehidupan Ibu dan adik-adikmu?”
Rania melotot marah mendengar ucapan Aditya, dadanya turun naik karena marah.
“Bagaimana bisa begitu?! Aku ini masih istrimu, Mas!! Semua kebutuhanku adalah tanggung jawabmu!!”
“LALU BAGAIMANA DENGAN KEBUTUHANKU?! SIAPA YANG BERTANGGUNG JAWAB UNTUK MEMENUHI
SEMUA KEBUTUHANKU?!”
Rania meloinjak kaget, hingga melompat mundur beberapa langkah mendengar teriakan kasar Aditya.
“Bahkan untuk menyiapkan pakaian dan sarapanku saja pun kau tak mau!! Sekarang kau seenaknya berteriak-teriak tentang tanggung jawab!! Bagaimana dengan tanggung jawabmu?! Ha?!”
“Tapi aku bukan pembantu, Mas!! Aku wanita karir!! Aku juga bekerja!!”
“Dan aku bukan mesin ATM!! Aku makhluk hidup, bukan benda mati!! Kalau kau tak mau mengurusi kebutuhanku, kenapa kau memberhentikan asisten rumah tangga?! Siapa yang kau harapkan untuk mengurusku di rumah ini?! DIRIKU SENDIRI?! SEMENTARA KAU SEENAKNYA MINTA NAFKAH UNTUKMU DAN KELUARGAMU?! SIAL**, KAU!!”
__ADS_1
Aditya lekas berbalik badan dan pergi meninggalkan Rania yang masih marah.
“ARGGGHHHHH!!! AWAS SAJA KAU, MASSSSS!!!”
*
“Jadi kau ambil cuti, Dit?”
Tio, sahabat sekaligus rekan kerja Aditya langsung melemparkan pertanyaan kepada Aditya begitu dia sudah berada di ruang kerja milik Aditya.
“Jadi, Yo! Malam ini juga aku langsung berangkat ke kampung!” Jawab Aditya mantap.
“Yah… Tenangkanlah hati dan pikiranmu!! Aku takut kau jadi kehilangan kewarasan kalau tak menyempatkan waktu untuk healing. Duit banyak, jiwa terganggu, nggak lucu juga kedengarannya,” sahut Tio dengan nada bercanda, Aditya tertawa kecil mendengar ucapan sahabatnya itu. Meskipun disampaikan dengan nada bercanda, tapi memang itu lah ketakutan yang sebenarnya di rasakan Tio saat ini.
“Aku kangen Ibu, Yo… Kebetulan Zidan wisuda lusa, jadi aku bisa menghadiri acara wisudanya juga,” ucap Aditya.
“Wah… Selesai juga kuliah diploma si jagoan kampung itu!! Sudah lama juga aku tak bertemu dengannya. Terakhir kali bertemu, dia masih kelas dua SMA.”
“Udah insyaf dia, Yo… Sejak Ibu jatuh di kamar mandi tiga tahun yang lalu. Dia takut ditinggal Ibu,” ucap Aditya.
“Siapa juga yang nggak takut ditinggal Ibu, Dit… Aku saja pun takut. Makanya aku mengajak Ibu tinggal bersamaku. Untung saja istriku orangnya pengertian dan Ibu juga nggak rempong. Dua wanita tercintaku itu jadi bisa akur hingga saat ini,” ucap Tio membanggakan kondisi keluarganya yang memang selalu akur.
“Andai saja Rania memiliki setengah sifat istrimu. Aku yakin rumah tangga kami akan adem ayem,” ucap Aditya lirih. Tio jadi merasa sedikit bersalah karena sudah membanggakan kehidupan rumah tangganya pada Adit tadi.
“Yah… Jalan kehidupan manusia kan berbeda-beda, Dit. Tuhan itu Maha Adil. Dia sudah memberikan porsi yang pas untuk setiap makhluknya. Aku memiliki istri yang sangat baik dan sabar, tapi kau tahu kalau pernikahan kami hingga saat ini belum mendapatkan restu dari kedua orang tua istriku. Bahkan hingga saat ini pun, kedua mertuaku masih suka memecah belah pernikahan kami,” ucap Tio lirih.
“Mereka berpikir kalau aku sudah menghancurkan masa depan putrinya dengan mengajaknya menikah, ekspektasi mereka pada istriku sangat tinggi. Mereka kan maunya istriku itu jadi pengacara hebat dan sukses, menikah dengan pengacara juga agar kehidupan putrinya terjamin. Padahal hingga saat ini, kehidupan putrinya sangat terjamin koq, meski tanpa bantuan financial dari orang tuanya.”
“Sementara kau, mertuamu sangat menyayangimu. Ibu mertuamu bahagia sekali menerimamu menjadi menantunya, beliau sangat bangga kepadamu. Hanya sikap istrimu saja yang jadi masalah saat ini. Jadi, kita dua manusia dengan porsi masalah yang berbeda-beda. Intinya sih kita harus mensyukuri apa pun yang kita dapatkan saat ini, Dit.” Tio menutup kalimatnya sambil bangkit berdiri.
“Makan siang, yok!! Aku lapar!!” Tio mengajak Aditya makan siang, karena jam istirahat sudah lima belas menit berlalu.
__ADS_1
Aditya ikut bangkit dari kursi kebesarannya, lalu keluar dari meja. Kedua sahabat itu langsung melangkah keluar dari ruang kerja Aditya bersama-sama.