Menikahi Janda Tetangga

Menikahi Janda Tetangga
Sakit tapi Tak Berdarah


__ADS_3

Langit gelap tanpa bintang, tiupan angin kencang yang sesekali lewat membuat jendela kamarku yang sengaja ku buka lebar, jadi bergerak-gerak sendiri. Ini sudah pukul satu dini hari, tapi mataku belum juga mau terpejam. Padahal tubuh ini sudah sangat letih, apa lagi hatiku.


Pemandangan menjijikkan tadi siang terbayang lagi, menghadirkan perasaan mual di perut. Aku sama sekali tidak menyangka, kalau perempuan yang selama ini kutitipkan hati dan kesetiaan, ternyata sudah mengkhianati aku. Apa salahku? Kenapa dia tega mengkhianati aku? Arghhhhh!!


Kedua mataku kembali terasa panas, perlahan air mata mengalir dari kedua sudut mata ini. Lemah... Terserah!! Aku sudah tak bisa menahan sakit di dada ini lagi, setelah sekian jam lamanya aku menahan diri untuk tidak menangis. Sial**!! Aku pikir memilih istri dari kalangan ekonomi menengah ke bawah akan menjamin rumah tanggaku adem ayem tanpa pengkhianatan. Sekalipun ada perselisihan atau pertengkaran, setidaknya bukan karena orang ketiga. Aku berkaca pada hubungan almarhum ayah dan ibu, sekalipun keduanya amat sering berbeda pendapat, bahkan pernah sekali waktu sampai adu urat yang harus dipisahkan oleh pak RT, tapi cinta keduanya tak pernah berpaling hingga dipisahkan oleh maut. Cinta sampai mati... Dan itu yang aku inginkan di rumah tanggaku ini.


Kalau soal godaan, mungkin aku lah yang lebih banyak mendapatkan godaan selama ini. Entah sudah berapa wanita yang ikhlas menyodorkan diri untuk menjadi istri kedua, tapi tak satu pun ku acuhkan. Bagiku, Rania adalah cinta sejati yang akan kubawa sampai mati. Meski hingga saat ini Rania belum juga hamil, sekalipun tak pernah terbersit di otakku untuk menduakan apa lagi menggantikan  posisinya. Tapi, kenapa justru dia yang tega menduakan aku? Apa kekuranganku sebagai suami?


Sejak menikah dengan Rania, aku bukan hanya menjadi tulang punggung bagi keluarga kecil kami saja. Aku juga sudah menjadi tulang punggung bagi keluarga besarnya. Setiap bulan aku tak lupa mentransfer sejumlah uang untuk ibu dan kedua adiknya, termasuk juga membiayai sekolah kedua adiknya itu. Sepuluh juta adalah biaya rutin tiap bulan yang harus aku keluarkan untuk ibu dan kedua adik Rania, Sepuluh juta untuk kebutuhan Rania dan rumah tangga kami dan untuk ibu serta Zidan, hanya lima juta saja. Gajiku hanya tersisa dua juta saja untuk biaya operasionalku sehari-hari. Itupun tak jarang harus terpakai untuk membeli makanan jadi atau makan di restoran karena istri cantikku itu tak sempat memasak. Untung saja Rania tak tahu kalau dua tahun belakangan ada kebijakan baru di perusahaan soal tunjangan kinerja. Selama dua tahun ini, aku berhasil menyimpan tunjangan kinerjaku yang jumlahnya cukup lumayan. Rencananya uang simpanan itu akan aku gunakan untuk mengajak Rania jalan-jalan keluar negeri merayakan anniversary kami yang ke enam, beberapa bulan lagi. Tapi sayang... Tak akan ada anniversary yang pantas untuk dirayakan lagi mulai tahun ini.


"A'udzubillaahiminasyaitoonirrojiim...."


Hmmmhhh... Lantunan ayat Al-Qur'an yang menenangkan hati itu terdengar lagi. Suara merdu seorang wanita melantunkannya di malam gelap segelap hatiku, malah membuat sesak di dada perlahan berkurang sedikit demi sedikit dan membuat rongga dadaku mengembang untuk mengalirkan oksigen yang sangat banyak ke seluruh tubuh. Kurebahkan tubuh yang sudah letih ini, seraya kuusap wajahku yang basah akibat menangis tadi. Rasa rileks seketika membuat tubuh ini terasa sangat lemas, seperti terkena suntik bius yang perlahan akan membuat kita tak sadarkan diri.


*


"Kamu itu ceroboh banget sih, Dit!! Tidur tapi nggak nutup jendela!! Untung aja maling nggak masuk!!"


Astaga!! Aku lupa menutup jendela kamar sebelum akhirnya terlelap semalam. Ini gara-gara lantunan ayat Al-Qur'an yang semalam aku dengar. Aku jadi lupa diri sangking tenang dan rileksnya.


"Maaf, Bu... Adit ketiduran semalam," ucapku sambil nyengir dan garuk-garuk kepala, padahal nggak kerasa gatal sama sekali.


"Ibu ngapain?"


Aku bertanya karena melihat aktivitas yang sedang ibu lakukan. Beliau sedang mengepel genangan air di dapur dengan daster buluk sambil duduk, lalu memeras kain tersebut di atas baskom.


"Nyuci foto!!"


Aku mendelik mendengar jawaban asal yang keluar dari mulut ibu, mulutnya komat kamit seperti orang yang sedang membaca mantera... Bukan... Ibu bukan dukun... Beliau sedang menggerutu kesal.


"Emang semalam hujan ya, Bu?" Tanyaku lagi.


"Iya!!"


"Bukannya aku sudah kirimkan uang untuk mengganti seng dapur yang bocor beberapa bulan yang lalu?"


Ibu menghentikan aktivitasnya sebentar, lalu mendelik menatapku.

__ADS_1


"Kamu ngigau atau lagi mabuk sih, Dit? Mana ada kamu kirim uang untuk benerin seng. Ngaco!!"


Astaga!! Ini pasti kerjaan Rania lagi!! Aku memang sengaja memintanya mengirimkan uang sebesar lima juta lewat M-Banking miliknya. Hari itu M-Banking ku sedang bermasalah dan aku sedang terburu-buru untuk melakukan perjalanan dinas keluar kota. Kebetulan uang cash di tangan ada lima juta, jadi uang itu kuberikan pada Rania, sementara uang Rania di rekening lah yang dikirimkan ke ibu.


Tapi waktu itu aku lihat sendiri dia mengotak atik ponselnya, mengirim uang untuk ibu lewat M-Banking. Kalau dia tidak mengirimkannya pada ibu, lalu pada siapa dia mengirimkan uang hari itu? Apa kepada ibunya? Arghh!! Mafia juga istriku itu.


"Ya sudah, Bu!! Biar diganti hari ini juga. Aku ke rumah Mas Tikno dulu, mudah-mudahan dia belum berangkat ngojek."


Aku segera bangkit dari duduk, lalu menyesap habis kopi yang disiapkan ibu.


"Emang duitnya ada, Dit?"


Nada suara ibu sangat pelan, seakan takut uang anaknya ini akan habis jika digunakan untuk memperbaiki seng dapur.


"Ada!! Ibu tenang aja!! Apa sekalian dapur ini kita rapikan aja ya, Bu? Kita lebarkan sampai ke ujung, lalu buat tempat cuci piring di sebelah sini, juga meja kompor. Jadi...."


"Udah, Dit!! Udah!! Cukup perbaiki seng dapur aja!! Kamu ini!! Punya uang itu digunakan untuk yang penting-penting saja!! Nggak usah boros!!" Ibu tampak tak senang mendengar aku hendak memperbaiki dapur dan membuatkan tempat cuci piring dan meja kompor. Selama ini ibu mencuci piring di kamar mandi, sambil duduk. Kalau butuh air, terpaksa bolak balik ke kamar mandi dulu. Kompor gas dua tungku milik ibu pun hanya diletakkan di atas meja yang terbuat dari kayu. Itu pun meja bekas jualan tetangga yang sedikit diperbaiki. Hmmmhhh!! Ternyata aku sudah terlalu lama acuh pada orang tuaku sendiri, malah sibuk bekerja dan menafkahi keluarga orang lain.


"Ibu tenang saja! Duit Adit ada!! Pokonya, Adit mau rehab dapur agar lebih luas dan rapi! Ibu nggak usah khawatir, ya."


Ibu diam sambil menatapku lama, kedua mata tua beliau terlihat menggenang Semoga itu adalah air mata kebahagiaan, bukan kedukaan.


*


Seminggu sudah berlalu, perbaikan dapur rumah ibu akhirnya selesai juga. Sedari tadi aku berdiri di ambang pintu pemisah antara dapur dan ruang tengah untuk memperhatikan ibu yang sedang menata dapur barunya sambil bersenandung, senyuman di wajahnya pun mengembang sangat lebar dan manis. Arghhh!! Ternyata, membahagiakan orang tua jauh lebih mudah ketimbang membahagiakan istri tak tahu diri.


Sudah dua minggu aku berada di kampung, tapi belum sekalipun perempuan bergelar istriku itu menghubungi aku. Sepertinya dia tak peduli sama sekali, apa aku akan pulang atau tidak. Atau memang dia sudah melupakan aku karena sangking asyiknya memadu kasih dengan selingkuhannya itu. Argghhh!! Rasa nyeri itu menyelinap masuk lagi, membuat dadaku terasa sakit.


Tring.


Nada notifikasi pesan whattsapp dari ponselku berbunyi, ku raih ponselku dari saku celana pendek yang aku kenakan, lalu menyalakan dan menggeser layarnya dengan pelan. Senyumanku tersungging sinis menatap nama pengirim pesan whattsapp yang tertera di layar.


[Mas!! Kenapa uang bulanan Ibu dan adik-adik belum dikirim juga?! Kamu ini apaan sih?!]


Setelah dua minggu berlalu, dia baru menghubungi aku sekali ini, bukan untuk menanyakan dimana aku saat ini? Tapi untuk menanyakan uang! Uang, uang dan uang saja yang dia tahu!!


[Kamu dimana?]

__ADS_1


Iseng aku membalas pesannya, meski sebenarnya aku sendiri tak mau tahu soal itu. Toh aku sudah tahu ada dimana dia saat ini.


[Aku ada dinas keluar kota mendadak!! Minggu depan baru pulang!]


Bohong lagi!! Bohong terus!! Dasar perempuan murah**!


[Mas!! Jangan lupa kirim uang untuk Ibu!! Sekalian uang untukku juga!! Ingat, aku ini masih tanggung jawab kamu!!]


Tanggung jawab katanya... Cih!! Tahu apa dia tentang tanggung jawab?


[Apa kau pernah menjalankan tanggung jawabmu?!]


Terkirim... Dibaca. Aku yakin dadanya sudah sesak begitu membaca balasan pesan dariku... Terserah!! Aku nggak peduli!


Ting


Nada notifikasi pesan masuk berbunyi lagi, ku geser layar ponsel untuk membaca balasan dari Rania.


"TOLONG!! TOLONG!!"


Aku terhenyak kaget, langsung berbalik badan dan terdiam sebentar memastikan apakah yang aku dengar barusan adalah benar.


"Putri!! Itu suara Putri, Dit!!"


Tiba-tiba saja ibu sudah melangkah cepat melewati tubuhku menuju pintu rumah, aku ikut melangkah cepat di belakang beliau.


Bugh!! "Awww!!" Pranggg!!


Zidan yang tiba-tiba keluar dari kamarnya menabrak tubuhku. Tubuhku terlempar hingga menabrak televisi, sementara Zidan terlempar ke belakang dan menabrak pintu kamarnya.


"Astaghfirullahaladzim!! Kalian ini apa-apaan sih?!"


Ibu menghentikan langkahnya tepat di ambang pintu yang sudah dibuka lebar. Beliau melotot menatapku dan televisi dua puluh satu inch yang sudah menelungkup di lantai secara bergantian. Sementara aku mengusap-usap kasar lenganku yang terasa sakit akibat menyenggol keras televisi milik ibu yang sepertinya sudah menjadi bangkai, Zidan berdiri di ambang pintu kamarnya sambil meringis dan menggosok-gosok kepalanya yang ikut terbentur pintu.


"TV Ibu pecah gara-gara kalian!! Arggghhh!! Kalian ini...."


"TOLONGG!! HUHUUUHUUU!! TOLONG SAYAAA!!

__ADS_1


Kalimat ibu terhenti, beliau langsung berbalik badan dan melanjutkan langkah besar dan cepat keluar dari rumah. Aku dan Zidan mengikuti langkah ibu dengan cara yang sama, menuju asal suara seseorang yang tadi berteriak meminta tolong.


__ADS_2