
"Lho?? Koq Bu Sukma yang menyediakan makan malam? Menantu kesayangan Ibu mana?"
Bu Sukma menghembuskan nafas dengan kasar, tapi tetap menahan diri agar tak terpancing oleh kalimat sindiran dari bu Eli.
"Masih sore udah tidur!! Pemalas!! Baru aja seminggu di kasih wewenang mengurus uang belanja, udah malas aja... Menantu macam apa itu?"
Bu Sukma masih tetap diam, tangan beliau bergerak kesana kemari menyalin makanan yang barusan dibelikan si bibik, si asisten rumah tangga.
"Makanan beli toh, Bu? Hadeuh... Gima...."
"BISA DIAM, NGGAK?! DIAM!!"
Bu Eli seketika terdiam mendengar bentakan bu Sukma.
"Setidaknya Putri tidak sedang hamil anak laki-laki lain, itu sudah cukup buat saya!! Terserah dia mau tidur atau jalan-jalan sekalipun, tidak masalah!!"
"Maksud Bu Sukma apa?!"
Bu Sukma bangkit dari duduk, kedua matanya melotot marah menatap sang bisan. Kali ini emosinya sudah tak bisa disabarkan lagi.
"Bu Eli selalu hebat melihat kesalahan orang lain, padahal kesalahan keluarga sendiri sudah menggunung! Urusi saja putri Ibu, nggak perlu mengurusi Putri. Baru kali ini dia tak menyiapkan makan malam untuk kita semua, lah anak Ibu?! Sudah berapa tahun dia tak melayani suaminya?! Ha!! Apa dia pernah melayani kita selama kita berada di rumah ini?! Ha!!"
Kedua mata bu Sukma melotot tajam menatap bu Eli, kilat kemarahan dari kedua mata beliau membuat bu Eli ketakutan.
"Perbaiki akhlak anak anda dulu, nggak usah sok-sokan memperbaiki akhlak orang lain!! Diri sendiri aja masih kacau, sok-sokan memperbaiki orang lain!! Dasar nggak tahu diri!!"
"Sudah untung masih ditampung dan dikasih makan di rumah ini, masih aja suka komentar ini itu, ngomong kesana kemari tentang keburukan saya dan Putri. Hati-hati, Bu Eli... Aditya itu kalau sudah mengamuk, dia tak akan pandang bulu. Sekalipun Ibu sudah tua, dia akan melupakan rasa hormatnya pada Ibu!! Buktikan saja ucapan saya ini!!"
Bu Eli bertambah takut mendengar ancaman bu Sukma. Beliau memang belum pernah melihat Aditya marah besar selama ini. Meski kemarin-kemarin Aditya berbicara dengan nada tinggi, tapi masih di batas sekedar bicara saja, bukan kemarahan yang luar biasa.
"Apa mereka sudah tahu kalau aku selalu menjelek-jelekkan mereka pada tetangga di sini? Tapi, siapa yang menyampaikan kepada mereka?"
Bu Eli bermonolog di dalam hati, dengan wajah yang pucat pasi.
*
Flasback On
__ADS_1
Brakkk
Bu Sukma melonjak kaget mendengar suara pintu yang ditutup dengan kasar. Beliau yang sedang mengobrol dengan asisten rumah tangga yang sedang menyeterika, langsung bangkit dan berjalan cepat menuju ruang tamu. Asisten rumah tangga pun ikut bangkit dan mengekor di belakang bu Sukma, ingin tahu siapa yang barusan menutup pintu dengan kasar.
Brakkk
Baru saja beberapa langkah, suara lain terdengar. Bu Sukma melihat Putri masuk ke dalam kamar dan menutup pintu kamar dengan kasar.
"Putri?! Kenapa dia?"
Asisten rumah tangga hanya mengedikkan bahu merespon pertanyaan bu Sukma, kemudian dia ikut melangkah bersama bu Sukma menuju kamar Putri.
"Put...."
Bu Sukma membuka pelan pintu kamar Putri, lalu melangkah masuk ke kamar tersebut. Sementara si bibik asisten rumah tangga hanya berdiri di ambang pintu kamar, merasa segan untuk ikut masuk ke dalam kamar.
Bu Sukma mendekati ranjang, lalu duduk perlahan di tepi ranjang. Suara tangisan terdengar jelas dari Putri, yang sedang berbaring telungkup.
"Put... Ada apa?"
Putri bangkit perlahan, lalu menghadapkan tubuh pada bu Sukma. Wajahnya sudah basah oleh air mata, kedua matanya bahkan sudah merah. Bu Sukma menatapnya iba, sambil mengelus-elus punggung tangan Putri yang terletak di tepi ranjang.
Putri bergeser mendekati bu Sukma, lalu meminta sang mertua untuk memeluk tubuhnya dengan cara merentangkan kedua tangan lebar-lebar. Bu Sukma lekas memberikan pelukan pada Putri.
"Putri nggak rebut Mas Adit kan, Bu?? Huhuuuhuuu... Hiks. Bukan Putri yang meminta dinikahi Mas Adit... Hiks. Kenapa semua orang menyalahkan Putri, Bu? Padahal... Hiks... Padahal mereka nggak tahu apa yang sebenarnya terjadi... Huhuuuhuuuuhuu."
Putri menangis di dalam pelukan bu Sukma, sambil menjelaskan alasan kenapa hatinya menjadi sakit hingga harus menangis.
"Apa yang mereka bicarakan kepada kamu, Put? Siapa mereka?" Tanya bu Sukma.
"Ibu-ibu di warung, Bu... Hiks. Mereka sebut Putri pelakor... Huhuuuhuuu... PUTRI BUKAN PELAKOR, BU!! HUAAAAAAAHUHUHUHUUUU!"
Bu Sukma menggeram kesal, namun beliau masih berusaha menenangkan Putri yang masih menangis.
"Mereka bilang Putri hamil dari laki-laki lain, lalu meminta Mas Adit... Hiks... Meminta Mas Adit untuk menikahi Putri. Hati Putri sakit, Bu!! Sakit sekali rasanya!! Huaaaaaaa!! Huhuuuhhhhuuu."
"Sudah, Put... Sudah. Tenang ya... Sabar. Lambat laun semua orang juga akan...."
__ADS_1
Tubuh Putri seketika saja lemas di dalam pelukan bu Sukma, bobot tubuhnya ditompangkan ke tubuh tua bu Sukma, membuat tubuh bu Sukma bergetar untuk bertahan agar mereka berdua tidak jatuh terjerembab ke lantai.
"PUTRI!! PUT!!"
Putri tak menjawab, dia sudah pingsan di dalam pelukan bu Sukma.
"BIK!! TOLONG SSSAYA, BIK!!"
Flashback Off
*
Aditya membantu Putri turun dari mobil, mereka baru saja pulang dari rumah sakit. Dengan bantuan pak RT, Putri langsung dilarikan ke rumah sakit tadi siang. Bu Sukma menemani Putri sampai rumah sakit. Satu jam berikutnya, Aditya datang menyusul, dan satu jam setelah itu, bu Sukma pun pulang ke rumah dengan taksi on line.
Setelah dokter mengizinkan Putri untuk pulang, keduanya pun meninggalkan rumah sakit. Aditya yang sudah mendengar penyebab pingsannya Putri dari sang ibu, langsung memutuskan untuk tidak lagi membawa Putri ke rumah yang sudah lama ditempatinya dengan Rania. Bu Sukma juga sudah tahu kalau anak dan menantunya ini tidak akan pulang ke rumah itu lagi, bahkan Aditya sudah meminta bu Sukma untuk berkemas malam ini. Aditya akan menjemput bu Sukma beberapa hari lagi, setelah dia memberi sedikit pelajaran pada Rania dan ibunya.
"Ini rumah siapa, Mas? Kenapa kita tidak pulang saja?"
Putri menatap aneh pada rumah yang ada di hadapannya. Rumah yang ukurannya lebih besar dari pada rumah yang ditempatinya sebelumnya.
"Rumah kita... Rumah untuk kamu dan anak-anak kita nanti," jawab Aditya. Putri membelalak kaget, tak percaya sama sekali kalau ternyata diam-diam Aditya sudah menyiapkan rumah untuknya.
"Rencananya sih bulan depan Mas mau ajak kamu dan Ibu pindah ke rumah ini, tapi sepertinya lebih cepat lebih baik. Toh rumah ini juga sudah rampung, Mas juga sudah isi semua perabotannya. Tinggal nanti kalau ada yang kurang, kamu lah yang bertugas menambahkan," jelas Aditya. Putri memeluk tubuh suaminya dari samping, air matanya pun berurai sangking bahagianya.
"Pokoknya, jangan pernah meminta berpisah! Sampai kapan pun Mas tidak akan mau berpisah dari kamu! Cukup sekali tadi saja kamu bicara perpisahan, Mas mohon... Jangan ucapkan kata itu lagi ke depannya."
Putri mengangguk-angguk cepat, sambil terus menangis dan memeluk erat tubuh sang suami. Dia yang tertekan dengan tuduhan-tuduhan para tetangga tadi pagi, langsung meminta Aditya untuk menceraikannya sesaat setelah dia sadar saat di rumah sakit tadi. Tentu saja Aditya menolak untuk mengabulkan permintaannya itu.
"Maafkan aku, Mas... Hiks. Putri minta maaf... Tidak seharusnya Putri meminta hal bodoh seperti tadi," ucap Putri menyesal.
"Kecuali kamu sudah tidak mencintai Mas lagi, maka Mas...."
"Nggak!! Putri sayang Mas Adit!! Sangat sayang!! Huhuuuhuhuhuuu... Putri nggak mau berpisah dari Mas Adit!!"
Putri memotong kalimat Aditya, lalu menambah erat pelukannya di tubuh sang suami. Aditya tersenyum melihat sikap istrinya itu.
"Ya sudah... Ayo kita masuk dan beristirahat. Ingat pesan dokter tadi, kamu nggak boleh stress dan terlalu capek," ajak Aditya. Putri mengangguk mantap, lalu mengusap air matanya. Sepasang suami istri ini pun masuk ke rumah baru mereka bersama-sama.
__ADS_1
______________________________________________
Boleh dong kasih like dan comment cantiknya, Kak... Vote dan hadiahnya juga masih ditunggu... Terima kasih.