
Author POV
"Ibu serius mau mengizinkan Mas Adit menikah lagi?"
Zidan bertanya pada sang ibu, karena dia bingung dengan sikap sang ibu yang tak biasanya mau mencampuri urusan siapa pun terutama anak-anaknya. Tapi sekarang, justru sang ibu sudah mengurusi masalah anak sulungnya terlalu dalam.
"Serius lah!! Pernikahan bukan main-main Dan, bagaimana mungkin Ibu tidak serius?"
"Tapi, Bu... Mas Adit sudah punya istri."
"Ibu tau... Kamu pikir Ibu sudah pikun, sehingga lupa kalau anak sulung Ibu sudah beristri?"
"Trus, bagaimana nanti dengan Kak Rania?"
Bu Sukma menoleh dan menatap tajam pada si bungsu, Zidan yang takut menatap ketajaman mata sang ibu, langsung menundukkan kepalanya untuk menghindari tatapan tersebut.
"Rania tidak serius menjalankan pernikahannya dengan Mas mu! Apa salah jika Ibu mencarikan wanita yang bisa serius dalam menjalankan pernikahan?"
Zidan kembali menatap mata sang ibu, tersirat luka yang sangat dalam pada kilat mata tersebut.
"Laki-laki butuh pendamping, Dan. Kalian adalah makhluk Tuhan yang tak akan pernah sanggup hidup sendiri. Pendamping yang mau melayani kebutuhan, terutama kebutuhan biologis." Bu Sukma mulai menjelaskan pada Zidan. Sementara Aditya, masih berdiam diri di dalam kamarnya, sambil terus memasang telinga, mendengarkan pembicaraan sang ibu dengan adiknya.
"Pendamping yang mau mengurusi semua keperluan kalian. Apa kau tak lihat, Abangmu semakin kurus dan tak bersemangat. Usianya belum empat puluh tahun, tapi perawakannya sudah seperti bapak-bapak berusia hampir lima puluh tahun."
"Itu karena kebutuhan biologosnya tidak terpenuhi, Dan. Terpancar di wajahnya yang terlihat lebih tua dari pada usianya yang sebenarnya."
"Lagi pula, laki-laki boleh koq memiliki istri lebih dari satu. Di luar sana, banyak koq laki-laki yang memiliki istri lebih dari satu. Bahkan banyak juga yang menikah lagi padahal istrinya sudah melayaninya sepenuh hati."
"Dalam kasus Aditya, Ibu yakin siapa pun tidak akan menyalahkannya jika dia beristri lagi. Kamu belum lupa pada apa yang kita lihat kemarin itu, bukan?"
Zidan menghela nafas berat, tentu saja dia belum melupakan pemandangan kakak iparnya yang berpelukan mesra dan manja dengan seorang laki-laki yang jelas-jelas bukan suaminya.
"Kata apa yang tepat untuk disematkan pada menantuku itu? Murah**!!"
Bu Sukma bangkit berdiri, hendak segera masuk ke kamarnya dan melanjutkan untuk beristirahat.
"Jadikan ini pelajaran buatmu saat nanti kamu memilih wanita untuk menjadi istri. Cantik saja tidak cukup! Kesiapan diri dan akhlak adalah yang utama."
Bu Sukma melangkah hendak ke kamarnya, setelah meninggalkan pesan pada si bungsu tentang memilih perempuan. Zidan kembali menghela nafas berat, dalam hatinya membenarkan apa yang diucapkan sang ibu.
"Bereskan kekacauan ini sebelum kau masuk kamar, Dan!!"
Zidan menoleh cepat untuk menatap ibu, wanita itu sudah melotot sambil menunjuk bangkai televisi yang masih menelungkup di lantai.
"Iy-Iya, Bu... Iya."
Zidan segera bangkit untuk mengumpulkan bangkai televisi milik ibu.
__ADS_1
"Arggghhh!! Dimana besok ibu nonton ikatan cinta?? Ini semua gara-gara kecerobohan kalian berdua!!"
Brakkk
Ibu masuk ke kamarnya, sambil membanting pintu karena kesal.
*
[Mas!! Kamu dimana?! Kenapa belum pulang?! Aku sudah di rumah, tapi kamu belum pulang juga!!]
Aditya tersenyum sinis sambil membaca isi pesan wa yang diterimanya. Baru saja Aditya hendak memasukkan ponsel miliknya ke dalam saku celana, bunyi notifikasi pesan masuk lain terdengar lagi. Aditya mengurungkan niatnya unyuk menyimpan ponsel, lalu kembali membuka aplikasi pesan whattsapp.
[Assalammualaikum, Pak Adit... Maaf... Saya mau tanya sesuatu. Apa benar pria di dalam foto ini adalah sepupunya Mbak Rania?]
Kali ini pesan masuk bukan dari Rania, tapi dari tetangga Aditya, pak Nardi namanya.
Sesaat kemudian, pesan lain berupa foto masuk. Aditya menghela nafas berat begitu foto tersebut sudah terbuka. Nampak wajah sang istri yang sedang berbicara dengan beberapa tetangga, tidak menghadap ke arah kamera. Sepertinya foto itu diambil secara sembunyi-sembunyi. Di sampingnya berdiri seorang laki-laki dengan ekspresi sangat santai. Laki-laki yang ada di dalam foto tersebut, adalah laki-laki yang sama dengan yang dia lihat dipelataran hotel bersama istrinya itu beberapa minggu yang lalu. Lagi-lagi rasa sakit menelusup ke dalam relung hati Aditya.
[Sudah dua kali kami melihat laki-laki ini bertamu ke rumah Pak Adit, dan baru pulang lewat tengah malam. Malam ini yang ketiga kalinya, tetangga mulai resah, Pak.]
Pesan masuk lain dari pak Nardi pun menyusul, Aditya mengetikkan balasan untuk semua pesan yang dikirimkan pak Nardi.
[Saya tidak kenal laki-laki itu, Pak. Kalau meresahkan, boleh langsung digerebek saja. Saya sedang di luar kota, beberapa hari lagi baru pulang.]
Send... Langsung centang dua biru terpampang.
[Silahkan, Pak. Dengan senang hati saya memberikan izin. Terima kasih banyak atas perhatian Bapak dan semua tetangga.]
Aditya menghela nafas berat, lalu membuka laci nakas yang ada di hadapannya, kemudian menyimpan ponsel miliknya di dalam sana.
"Berani-beraninya kau membawa selingkuhanmu ke rumahku, Ran... Tunggu saja, secepatnya akan kubalas rasa sakit ini."
Aditya bermonolog di dalam hati, merasa geram melihat tingkah sang istri yang sudah kelewatan.
*
"Saya terima nikahnya, Putri Laila binti Ahmad, dengan mas kawin seperangkat alat shalat dan emas seberat lima puluh gram, dibayar tunai."
"Sah?"
"Sah!"
"Sah?"
"Sah!"
"Alhamdulillah...."
__ADS_1
Doa-doa baik pun meluncur dari bibir penghulu yang usianya masih sangat muda, para tamu mengaminkan setiap doa yang dilantunkan. Berkali-kali Aditya menghembuskan nafas panjang setelah mengucapkan akad nikah, untuk menghilangkan rasa gugup di hatinya.
Setelah puja puji dan doa-doa dilantunkan, penghulu mempersilahkan Putri untuk masuk ke ruang akad dan duduk mendampingi Aditya yang sekarang sudah sah menjadi suaminya.
*
Rania POV
Arghhh!! Tetangga-tetangga kepo!! Mau tahu aja urusan orang lain!! Kesal sekali aku melihat sikap para tetangga di sini, padahal selama ini aku tak pernah ikut campur dengan urusan mereka.
"Sudahlah sayang... Jangan cemberut lagi. Ntar cantikmu hilang, lho."
Aku mendengus kesal, tapi tetap menempelkan tubuhku dengan manja ke tubuh Aji, kekasihku.
"Kesel aku, Yank... Kesel banget!" Ucapku sambil menggeram. Aji malah tertawa mendengar kalimat kekesalanku.
"Cuekin aja... Lagi pula, bagus kalau para tetangga sudah tahu. Dengan begitu, suamimu akan segera menceraikanmu. Dan kita akan segera menikah. Aku udah nggak sabar untuk memilikimu, sayang."
Aji mendekatkan wajahnya ke pipiku, lalu memberikan kecupan hangat di sana. Perlahan kecupannya bergerak turun ke leherku, menghadirkan rasa geli yang nikmat. Aku menutup kedua mata untuk menikmati sapuan bibir dan lidahnya di leherku.
"Hmmmmhhh...."
Tangan kanan Aji menyusup masuk lewat ujung bawah kemeja longgar yang aku kenakan. Langsung menuju dadaku yang menjadi bagian favoritnya. Dari zaman SMA, hingga kini, Aji selalu pandai membuatku lemah dipeluk kenikmatan. Dia lah yang mengambil kegadisanku dulu, saat itu usiaku baru delapan belas tahun. Tapi, hubungan kami harus berakhir, karena orang tua Aji, terutama ibunya, tidak menyetujui hubungan kami.
"Arghhhhh!!!"
Aji menghisap leherku, meninggalkan tanda kepemilikannya di sana. Yah... Meski kami sudah terpisah lama, kami masih saling mencintai. Aku akan selalu jadi miliknya, begitu juga Aji. Dia akan selalu menjadi milikku.
Brakkk
"APA YANG SEDANG KALIAN LAKUKAN?! BANGS**!!"
Aku dan Aji melonjak kaget, pintu rumahku tiba-tiba saja dibuka dengan kasar dari luar. Para tetangga yang tadi menanyai identitas Aji, sekarang sudah berada di dalam rumahku. Mereka sedang melotot marah menatapku dan Aji.
"APA-APAAN SIH KALIAN?! LIHAT!! PINTU RUMAHKU RUSAK GARA-GARA ULAH KALIAN!!"
Tak terima diperlakukan tidak sopan, aku pun berteriak sekuat tenaga.
"KULAPORKAN KALIAN KE POLISI, KALIAN LIHAT SAJA!!"
Aku bergerak mencari tas, pura-pura mau menelpon polisi untuk menakut-nakuti para tetangga kepo ini.
"SILAHKAN!! LAPORKAN SAJA!! SEKALIAN KAMI AKAN MELAPORKAN PERZINAHAN YANG BARU SAJA KAMI LIHAT!! AYO!! LAPORKAN!!"
"Rekam!! Rekam!! Beri tahu Pak Adit!!"
Mati aku!! Lekas aku menoleh untuk menatap pria yang menyuruh seseorang untuk merekam apa yang sedang terjadi. Waduhhh!! Bagaimana ini!! Meskipun sudah lama aku ingin berpisah dengan Mas Adit, aku nggak mau jadi pihak yang disalahkan.
__ADS_1