
Ap-Apa syaratnya?" Tanya bu Sukma. Sangking merasa aneh, bu Sukma sampai tergagap saat bicara.
Sementara itu, Aditya menatap sang istri dengan tatapan tajam. Jelas sekali terlihat di wajah dua ibu dan anak tersebut, kalau keduanya sedang merasa aneh pada sikap Putri barusan.
Putri membalas tatapan bu Sukma dengan wajah serius.
"Ibu tidak boleh ikut mengerjakan apa pun di warung. Apa lagi ikut masak atau membersihkan warung... Gimana?"
Bu Sukma dan Aditya menghembuskan nafas lega setelah mendengar jawaban Putri.
"Kamu ini, Put... Ibu kira apaan... Udah takut Ibu jadinya, takut dapat menantu durhaka lagi," sahut bu Sukma sambil tertawa kecil. Aditya dan Putri ikut tertawa bersama bu Sukma.
*
Bu Sukma akhirnya ikut bersama Putri ke warung, lalu melihat langsung sang menantu melakukan pekerjaan bersama dua karyawan wanitanya. Seperti yang sudah beliau janjikan sebelum berangkat ke warung, bu Sukma tidak melakukan apa pun selama berada di warung. Sesekali beliau mengajak ngobrol orang-orang yang menunggu makanannya sedang disiapkan oleh salah satu karyawan, atau duduk di depan ruko dan mengajak ngobrol para pemilik ruko tetangga. Tanpa terasa, sore pun menjelang. Aditya berinisiatif menjemput istri dan ibunya ke warung sepulang dari kantor, untuk pulang ke rumah bersama-sama.
Putri dan bu Sukma masuk ke rumah bersama-sama, sementara Aditya masih berada di mobil.
"Kamu ini bener-bener, ya!! Seharian kami menunggu makanan!! Kenapa tidak ada gojek yang antarkan makanan ke rumah seperti biasa?!"
Langkah Putri dan bu Sukma langsung terhenti, bu Eli sudah menghadang keduanya dan berteriak-teriak layaknya orang tidak waras. Di belakangnya berdiri dua orang pasukan berwajah sangat mirip, Salma dan Salwa, adik kembar Rania. Ketiganya berdiri dengan pose yang sama, bersidekap dan memasang mata membulat besar.
"Apa kau pikir kami ini nggak butuh makan?! Iya!! Uang gaji Aditya semuanya kau yang pegang, anakku yang jelas-jelas istri pertamanya saja tak dia kasih! Kau menguasai semua uang gajinya!! Sekarang, kau malah tak menyiapkan makanan untuk kami!! Dasar perempuan serakah, kau!!"
"Bu Eli...."
__ADS_1
Putri menahan bu Sukma untuk membalas ucapan bu Eli, melawan dengan emosi bukanlah pilihan yang tepat untuk melawan wanita tua itu menurut Putri. Bu Sukma langsung mengurungkan niatnya membalas ucapan kasar bu Eli, namun kedua tangan beliau mengepal erat di kedua sisi tubuhnya. Jelas sekali kalau beliah sangat geram pada bu Eli saat ini.
"Ibu bukan orang tuaku, bukan juga mertuaku. Aku rasa aku tak punya kewajiban untuk melayani Ibu, dan ketiga anak Ibu yang sudah dewasa ini," ucap Putri dengan santai.
"Mas Aditya memang tidak memberikan uang gaji kepada Mbak Rania, tapi coba Ibu cek di dapur. Apakah ada bahan masakan yang tak dicukupi di sana? Mas Adit sudah mencukupi semuanya, sekarang tugas Mbak Rania dong yang melayani Ibu... Bukan aku."
"Kemarin-kemarin aku mengantarkan makanan setiap siang sebenarnya hanya untuk Ibu mertuaku saja, bukan untuk Ibu dan Mbak Rania. Tapi Bu Eli dan Mbak Rania ikut menikmati makanan itu juga, ya sudahlah... Aku sih nggak masalah. Karena mulai hari ini Ibu ikut aku ke warung, jadi aku tak perlu lagi mengirimkan makanan ke rumah. Kalau Ibu dan anak-anak Ibu lapar, ya masak!! Kenapa malah ngomel-ngomel menyalahkan orang lain. Kenyang nggak, malah stroke nanti." Putri panjang lebar menjelaskan pada bu Eli, tapi bu Eli masih belum terima. Kedua bola matanya dibesarkan lagi untuk mengintimidasi Putri, tapi Putri membalas tatapan tersebut dengan santai.
"Kamu ngedoain aku supaya kena stroke?! Ha!!"
"Nggak!! Rugi banget saya mendoakan hal-hal buruk untuk orang lain, apa lagi untuk Bu Eli...Saya mending berdoa supaya mertua dan suami saya semakin sayang ke saya, hingga tak akan ada satu orang pun di dunia ini bisa mengalihkan cinta dan kasih sayang mereka untuk saya. Saya juga berdoa untuk kesehatan dan ketenangan di rumah ini, tapi sepertinya Tuhan masih ingin menguji keimanan saya dengan menghadirkan Ibu dan dua anak Ibu yang lain," jawab Putri.
"Ya sudah lah... Kami capek, kami butuh istirahat. Permisi...."
"Tidak ada yang boleh masuk sebelum...."
"SEBELUM APA?!"
Aditya tiba-tiba saja masuk, bu Eli dan kedua anak kembarnya melonjak kaget. Rupanya mereka tak tahu kalau Putri dan bu Sukma pulang bersama Aditya. Si kembar perlahan melangkah mundur, lalu berlindung di belakang tubuh sang ibu. Sementara bu Eli sudah pucat pasi karena ketakutan.
"INI RUMAH SAYA!! BUKAN RUMAH IBU!! KENAPA MALAH IBU MELARANG IBU KANDUNG DAN ISTRI SAYA MASUK?! SIAPA MEMBERIKAN HAK ITU KEPADA IBU?!"
Bu Eli menoleh ke kiri dan ke kanan, baru menyadari kalau kedua putrinya sudah tak lagiberdiri di kedua sisinya. Beliau menoleh ke belakang, lalu berdecis kesal.
"Bbe-Begini lho, Dit. Putri ini lho... Biasanya kan lauk makan siang diantar ke rumah, tapi hari ini nggak. Kami udah kelaparan menunggu lauk, bahkan sampai sekarang belum makan. Rania juga, dia belum makan apa pun dari pagi. Kasihan kan dia, Dit... Dia sedang hamil anak kalian, kalau nanti...."
__ADS_1
"Anak kalian?! Kalian siapa?!" Aditya memotong kalimat bu Eli, kedua matanya melotot marah menatap bu Eli.
"Aku sudah bilang kalau anak yang dia kandung bukanlah anakku!! Aku bisa pastikan itu!! Sekarang aku mungkin belum bisa membuktikannya, tapi segera setelah anak itu lahir ke dunia, akan ku tunjukkan pada Ibu betapa anakmu yang sarjana dan bermartabat adalah wanita murahan tak tahu diri!!"
"ADITYA!! JAGA MULUTMU!!"
"KENAPA?! IBU TIDAK SUKA?!"
Aditya berbalik badan, lalu membuka pintu rumahnya lebar-lebar.
"Silahkan keluar dari rumah ini jika tidak suka!!"
Bu Eli mengkerut lagi, terpaksa ditahannya rasa marah akibat ucapan kasar Aditya untuk putri kebanggaannya.
"Putri tidak punya kewajiban mengurusi Ibu dan ketiga anak Ibu! Mulai besok, urus semua kebutuhan kalian sendiri! Mulai dari membersihkan tempat tidur, mencuci, menyeterika, juga masak!! Gaji anakmu dua belas juta sebulan, Bu!! Tanpa gaji dari ku pun dia masih bisa membiayai hidupnya dan keluarganya!! Apa lagi anak yang dikandungnya bukan anakku!! Apa peduliku dia belum makan atau sudah?!"
"Sekali lagi aku ingatkan, rumah ini masih rumahku!! Ibuku jauh lebih berhak dari pada anda di rumah ini!! Jangan coba-coba bicara dengan nada tinggi apa lagi mengancam Ibu dan Putri!! Kalau tidak, aku sendiri yang akan membawa kalian ke penjara!! PAHAM!!"
Bu Eli masih terdiam sambil menggeram marah, tak terima dengan semua ucapan kasar Aditya tentang putrinya, Rania. Sementara si kembar sudah mengangguk-angguk patuh sambil menundukkan tatapan, tak berani menatap kemarahan yang dipancarkan dari bola mata Aditya.
Setelah itu, Aditya mengajak masuk sang ibu dan Putri. Ketiganya langsung masuk ke kamar masing-masing, meninggalkan bu Eli dan dua putrinya. Tapi, dimana Rania? Masak dia nggak terganggu sama sekali dengan keributan yang barusan terjadi?
______________________________________________
Like, comment dulu dong, Kakak... Terima kasih.
__ADS_1