
"Mmas...."
Aditya melanjutkan langkah mendekati ranjang yang ditempati Rania, kedua matanya melotot merah karena marah.
"Cepat katakan!! Anak siapa yang ada di rahimmu itu?!"
Aditya membentak Rania, membuat perempuan yang sedang duduk selonjoran di atas kasur tersebut sampai harus memejamkan mata untuk menahan pengang di telinganya akibat bentakan Aditya.
"CEPAT KATAKAN, RANIA!! AKU TAHU SEKALI KALAU BENIH YANG ADA DI RAHIMMU BUKAN LAH MILIKKU!! CEPAT AKUI DI DEPAN IBUMU!!"
Perlahan Rania membuka mata, lalu membalas tatapan Aditya dengan tatapan yang dingin.
"Ini anakmu, Mas!! Anak kita."
Aditya menggeram kesal mendengar jawaban Rania, kedua tangannya mengepal erat di kedua sisi tubuhnya, rahangnya bergerak-gerak dan kedua matanya merah.
"Pembohong!! Kau benar-benar pembohong, Rania!!"
Bukannya marah dikatai pembohong oleh Aditya, Rania malah tersenyum mengejek sambil membuang muka.
"Terserah lah, Mas. Terserah kau mau bilang apa. Yang penting sekarang, kau tak akan bisa menceraikan aku... Karena aku sedang hamil."
Rania kembali menghadapkan wajahnya pada Aditya, tersenyum penuh kemenangan. Aditya berpikir keras bagaimana cara membalikkan keadaan, dia tentu tak mau kehamilan ini dijadikan alasan bagi Rania untuk menguasainya atau bahkan merebut perhatian dan cintanya pada Putri.
"Ok... Baiklah... Kalau itu maumu," ucap Aditya santai. Rania terdiam mendengar ucapan Aditya yang tak terpancing emosi dengan kalimatnya tadi.
"Aku mungkin tak bisa menceraikanmu saat ini, tapi ingat!! Semua itu adalah pilihanmu, bukan mauku," lanjut Aditya sambil tersenyum penuh arti. Rania semakin tak mengerti dengan respon suaminya itu.
"Aku tahu anak di dalam kandunganmu bukanlah anakku, jadi... Bukan kewajibanku juga untuk membantunya tumbuh di rahim jala**mu!! Silahkan bertahan sekuat yang kau mau, kita lihat saja nanti, siapa yang akhirnya akan mundur dan keluar dari rumah ini tanpa diminta!"
Aditya tersenyum sinis sambil berbalik badan, kemudian dia melangkah keluar dari kamar yang ditempati Rania dan ibunya.
*
__ADS_1
Sore harinya, dua adik kembar Rania tiba di rumah. Keduanya disambut langsung oleh sang ibu, bu Eli.
"Bu... Lapar...."
Salwa si bungsu langsung merengek manja pada sang ibu, padahal usianya sudah delapan belas tahun.
"Oalah... Kalau lapar ya makan lah!!" Sahut bu Eli pada si bungsu.
"Sebentar, biar Ibu suruh istri baru Abangmu untuk menyediakan makanan untuk kalian."
Bu Eli bangkit dari duduk, lalu berjalan menuju kamar Putri. Diketuknya pintu kamar Putri berkali-kali, tapi tak ada jawaban. Kemudian, digedornya pintu kamar tersebut, bermaksud untuk mengganggu istirahat Putri.
Tiba-tiba saja pintu kamar yang ditempati bu Sukma terbuka, sosok wanita tua yang bersahaja itu keluar mendatangi bisannya yang masih terus menggedor pintu kamar Putri.
"Apa yang Ibu lakukan?"
Bu Eli lekas berbalik badan karena kesal, sekarang kedua wanita tersebut sudah saling berhadapan.
"Lihat menantu kebanggaan dan kesayanganmu itu!! Nggak punya adab!! Di rumah sedang ada tamu, dia malah enak-enakkan tidur!!"
"Mereka itu anakmu, bukan?" Tanya bu Sukma.
"Iya!! Justru itu Putri harus melayani mereka!!" Balas bu Eli dengan nada membentak.
"Kenapa bukan anda saja yang menyiapkan makanan untuk mereka? Atau... Suruh anak sulungmu, kenapa harus Putri?"
"Rania sedang hamil, dia butuh istirahat!!"
"Apa bedanya dengan Putri?! Dia juga sedang hamil dan butuh istirahat," bentak bu Sukma kesal.
"Lalu?! Siapa dong yang akan menyiapkan makanan?! Masak aku?! Aku di sini kan tamu juga!!"
Bu Sukma menghembuskan nafasnya dengan kasar, gigi-giginya bergemerutuk kesal mendengar pertanyaan bu Eli.
__ADS_1
"Kalau begitu usir saja mereka!! Bikin susah saja!! Kalau sudah lebih dari 2 x 24 jam berada di rumah ini, itu namanya bukan tamu!! Tapi menumpang tinggal!! Jadi, sadar diri saja lah!! Nggak usah sok ngeboss dan minta dilayani! Selama ini di kampung juga melayani diri sendiri, kan?! Tidak dilayani!!"
Bu Sukma lekas berbalik badan hendak kembali ke kamarnya, tapi baru beberapa langkah, beliau kembali berbalik badan. Tepat saat bu Eli hendak berbalik badan menghadap pintu kamar Putri dan Aditya.
"Jangan sampai kalian sekeluarga di paksa keluar malam ini juga oleh anakku, karena sudah mengganggu istirahat istrinya!! Kalau itu terjadi, aku pastikan tidak akan membela kalian semua!!"
Bu Eli mendengus kesal mendengar ancaman bu Sukma. Beliau akhirnya urung berbalik badan, kemudian melangkah ke ruang tamu menemui dua putri kembarnya.
"Dasar keluarga benalu!!"
Bu Sukma menggerutu kesal sambil berbalik badan dan melanjutkan langkah menuju kamarnya.
*
Putri bangun di pagi hari seperti biasa, kondisi tubuhnya sudah mulai membaik, makanya dia mulai berani beraktivitas seperti biasa. Lagi pula, sudah seminggu warung makannya tutup, Putri kasihan pada dua pegawainya yang berstatus janda. Keduanya bergantung hidup pada pekerjaan di warung makan milik Putri. Rancananya, siang ini Putri akan membuka warung. Dia sudah menghubungi dua anak buahnya untuk mengabarkan dan keduanya menyambut rencana Putri dengan bahagia.
"Udah seminggu anak-anak cuma makan tahu, Mbak Put!! Alhamdulillah!! Bisa makan enak lagi," ucap Siti, janda beranak dua, salah satu pegawai di warung. Putri hanya tersenyum mendengar ocehan perempuan muda tersebut.
Setelah subuh tadi, Siti datang ke rumah Putri untuk menjemput uang serta daftar belanjaan untuk hari ini. Dia lah nanti yang akan berbelanja ke pasar, sedangkan pegawai satunya lagi, Mak Edah, stand by di warung. Tugas beliau adalah membersihkan warung dan merajang bahan masakan yang masih tersedia di kulkas. Barulah nanti pukul delapan, ketiganya mengolah semua bahan masakan secara bersama-sama. Seperti itu lah pekerjaan ketiganya setiap hari.
Sarapan sudah tersedia, Putri, Aditya dan bu Sukma sudah duduk bersama di ruang makan untuk sarapan. Sementara Rania beserta ibu dan adik-adiknya, belum juga keluar dari kamar. Keempatnya terpaksa tidur dalam satu kamar yang sama, karena di rumah itu hanya ada tiga kamar utama saja. Sebenarnya masih ada satu kamar lain, kamar yang ukurannya lebih kecil dan letaknya di dekat dapur. Sebenarnya kamar tersebut dibuat untuk asisten rumah tangga, tapi karena tak ada asisten rumah tangga yang menginap di rumah tersebut, kamar itu pun jadinya kosong. Tapi, kedua adik Rania tak mau menempati kamar tersebut. Jadilah mereka ikut tidur bersama di kamar Rania.
"Ibu ikut kamu ya, Put. Ibu malas di rumah saja. Apa lagi, ada empat manusia itu!!"
Putri dan Aditya menoleh dan menatap bu Sukma secara bersamaan.
"Ya sudah, Ibu boleh ikut. Tapi dengan satu syarat."
Aditya dan bu Sukma menoleh dan menatap Putri, keduanya merasa aneh dengan apa yang disampaikan Putri barusan. Entah kenapa keduanya merasa aneh dengan kata syarat yang disampaikan Putri pada sang mertua tadi.
"Ap-Apa syaratnya?" Tanya bu Sukma. Sangking merasa aneh, bu Sukma sampai tergagap saat bicara.
Sementara itu, Aditya menatap sang istri dengan tatapan tajam. Jelas sekali terlihat di wajah dua ibu dan anak tersebut, kalau keduanya sedang merasa aneh pada sikap Putri barusan.
__ADS_1
______________________________________________
Boleh dong Kak di vote... Mbak autor recehan seperti saya pasti sangat membutuhkan dukungan... Terima kasih.