Menikahi Janda Tetangga

Menikahi Janda Tetangga
Sakit Hati


__ADS_3

"Ini kopinya, Mas."


Aditya menghentikan gerakan sepuluh jarinya di keyboard laptop, menoleh sebentar untuk menatap sang istri dan memberikan senyuman.


"Terima kasih sayang,"ucap Aditya, Putri tersenyum manis merespon ucapan terima kasih dari sang suami.


"Masih banyak ya kerjaannya, Mas?"


"Iya, sayang. Kamu tidur saja duluan kalau sudah ngantuk. Nggak pa pa koq," jawab Aditya sekaligus mempersilahkan wanita yang sudah hampir dua bulan dinikahinya itu untuk tidur duluan.


Bukan tanpa sebab Aditya melakukan itu, sejak menikah dengan Putri, Aditya selalu memperhatikan sang istri selalu tidur setelah dirinya terlelap lebih dulu. Bukan atas permintaan dirinya, tapi Putri melakukannya atas kemauannya sendiri. Sekalipun Aditya baru menyelesaikan pekerjaannya di pukul dua atau tiga pagi.


Lalu, apa yang dilakukan Putri sambil menunggu sang suami tidur? Rupanya Putri juga berprofesi sebagai penulis di beberapa aplikasi novel on line. Jadi, selama dia menunggui sang suami bekerja, dia juga asyik merenda khayal dan menumpahkannya dalam bentuk tulisan, merangkainya menjadi sebuah cerita yang banyak disukai pembaca. Seperti saat ini, Putri duduk di meja riasnya, menghadap laptop dan menatap layar. Sesekali jarinya menari dengan indah di atas keyboard laptop, sesekali berhenti untuk memeriksa hasil tulisannya.


Tapi, sekalipun Putri baru tertidur pukul dua atau tiga pagi, dia tetap bangun lebih dulu dari penghuni rumah yang lainnya di pagi hari. Lalu mengerjakan semua kewajibannya sebagai seorang istri dan menantu, menyiapkan sarapan untuk semua penghuni rumah dan juga kebutuhan suaminya untuk berangkat kerja. Sejak dua bulan terakhir, Aditya jauh lebih produktif dan bersemangat saat bekerja. Pakaiannya selalu rapi, senyuman bahagia dan penuh semangat pun selalu membingkai wajahnya. Semua perubahan di diri Aditya terjadi sejak dia menikahi Putri. Tak jarang para rekan kerja dan pimpinan mengagumi perubahan positifnya itu, membuat Aditya semakin bersemangat.


Setelah mengantarkan suaminya berangkat untuk bekerja, Putri pun berangkat menuju warung makan sederhana miliknya. Warung makan yang dibuka menggunakan uang hasil menjual semua peralatan usaha warung makannya terdahulu, dibantu sedikit bantuan modal dari Aditya. Warung makan milik Putri menyediakan masakan rumahan dengan harga murah. Dengan dibantu dua orang pekerja wanita, warung makan milik Putri terbilang banyak diminati. Sehingga, sejak dua minggu buka, warung tersebut tak pernah tutup sampai magrib. Buka di pukul sebelas siang, jam lima sore semua makanan sudah habis terjual.


Untuk makan siang, biasanya Putri akan mengirimkan masakan yang sudah dia masak di warung ke rumahnya. Untuk nanti di hidangkan oleh sang mertua. Ini dikarenakan sang mertua masih tinggal menginap di rumah milik suaminya itu. Tidak mungkin sang mertua dibiarkan tak makan siang atau bahkan masak untuk makan siangnya sendiri. Putri memang melarang sang mertua untuk mengerjakan apapun pekerjaan rumah, baginya mertuanya adalah ibunya sendiri, yang harus dilayani dan diurus olehnya, bukan malah sebaliknya, sekalipun dia bekerja. Untuk urusan membersihkan rumah, mencuci dan menyeterika pakaian milik semua penghuni rumah, termasuk pakaian milik Rania dan bu Eli juga, diserahkan Putri pada seorang asisten rumah tangga. Seorang janda berusia empat puluh tahunan, yang datang pada jam delapan pagi dan pulang setelah semua tugas-tugasnya selesai.


"Cup."


Putri melonjak kaget begitu merasakan geli dan hangat yang nikmat menyentuh tengkuknya. Dia menoleh ke belakang, menatap sang suami yang sudah memeluk dan menempelkan wajah di punggungnya.

__ADS_1


"Udah selesai, Mas?"


"Hmmmm."


Aditya hanya menjawab lewat gumaman, sementara wajahnya masih menempel di punggung sang istri, sambil sesekali menghirup aroma tubuh sang istri yang harum bagi indera penciumannya.


"Sebentar, aku save tulisannya dulu, ya."


"Hmmmmm."


Putri tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah suaminya yang sangat manja.


Sudah lama Aditya tidak melakukan hal ini, tidak juga diperlakukan seperti apa yang Putri lakukan kepadanya. Hanya setahun saja lamanya setelah menikah dia dimanja dan diperhatikan Rania, itupun tidak sesempurna cara Putri memperlakukannya. Tapi, setelah lewat satu tahun pernikahannya dulu, sejak Aditya mengizinkan Rania untuk bekerja, sejak itu lah semua perhatian dan kasih sayang istri pertamanya itu perlahan berkurang. Bahkan semua itu hilang sejak dua tahun terakhir. Setahun sudah Rania dan Aditya tidur di kamar terpisah, selama itu pula Aditya harus melakukan self service untuk meredakan sakit di kepalanya.


"Udah... Yuk."


Putri sedikit membungkuk, menjauhkan wajah sang suami dari punggungnya.


Aditya menegakkan tubuh, lalu meraih tangan Putri dan mengajak perempuan itu untuk berdiri berhadapan dengannya. Putri bangkit dan patuh mengikuti arahan sang suami, berdiri di hadapan Aditya dengan tubuh menempel. Kedua tangan Putri melingkar di tubuh Aditya, menghapus jarak di antara keduanya.


"Terima kasih, Dik."


Putri mengernyit sambil terus membalas tatapan sang suami yang hangat.

__ADS_1


"Terima kasih untuk apa, Mas?" Tanya Putri pelan.


"Untuk semuanya. Perhatian, cinta, rasa hormat, yang bukan saja untuk Mas tapi juga untuk Ibu," jawab Aditya jujur.


"Terima kasih ya, Mas." Ucap Putri kemudian. Aditya balas menatap Putri dengan kening mengernyit.


"Untuk ucapan terima kasih yang Mas berikan. Terima kasih sudah menghargai semua yang aku lakukan," jawab Putri melanjutkan. Aditya menggeleng-geleng sambil tersenyum, merasa aneh dengan ucapan terima kasih untuk sebuah ucapan terima kasih yang diucapkannya tadi.


"Cuma terima kasih saja, kah?" Tanya Aditya, berniat menjahili sang istri baru. Putri tersenyum sambil menggigit bibir bawahnya, sudah mengerti kemana arah pertanyaan sang suami.


Perlahan kepala Putri mendekat ke leher Aditya, mendaratkan kecupan hangat di kulit leher sang suami, lalu menghisapnya sebentar. Aditya menengadah sambil menutup mata, menikmati rasa geli dan hangat yang dihantarkan Putri lewat kecupannya itu.


Putri memindahkan kedua tangannya dari belakang pinggang Aditya, berpindah ke dada, membelai bagian tubuh suaminya yang lebar dan padat, pertanda sang suami sangat suka melakukan olah raga di sela-sela waktunya bekerja.


Keduanya mulai mengarungi lautan cinta, bergerak aktif saling menyentuh dan membalas ciuman. Keduanya sangat bahagia, karena apa yang selama ini tak mereka tahan, akhirnya bisa dilepaskan bersama orang yang sangat dicinta.


Tapi bahagia yang Aditya dan Putri rasakan berbanding terbalik dengan apa yang tengah dirasakan wanita yang sedang berdiri di balik pintu kamar pribadi mereka, suara ******* keduanya terdengar bak pisau dan belati tajam yang menusuk jantungnya. Air matanya mengalir deras tanpa suara dan tanpa dikomandoi, tapi dia tetap berdiri di depan pintu kamar pribadi milik Aditya dan Putri, dengan telinga hampir menempel pada pintu. Sekalipun hatinya sedang terluka dan berdarah, dia tak beranjak sedikitpun.


"Apa yang kau lakukan di sana?!"


______________________________________________


Siapa kira-kira yang memergoki Rania sedang menguping, ya? Tulis di kolom komentar ya kakak-kakak reader... Jangan lupa klik tanda jempolnya juga... Terima kasih.....

__ADS_1


__ADS_2