Menikahi Janda Tetangga

Menikahi Janda Tetangga
Murka


__ADS_3

Aditya menatap tajam dua wanita beda generasi yang duduk di hadapannya, bu Eli dan Rania. Sementara si kembar, entah dimana mereka berada. Keduanya memang sudah tidak sedang berada di rumah saat Aditya datang. Bu Sukma duduk tepat di samping sang putra, menatap malas pada bu Eli dan Rania.


"Apa yang kalian lakukan sudah tak bisa kutolerir lagi. Sepertinya aku kurang tegas selama ini."


Rania dan bu Eli sama-sama membalas tatapan Aditya dengan tatapan marah, sama sekali tak menyadari kesalahan yang sudah mereka perbuat, terutama bu Eli.


"Apa lagi yang akan kau lakukan kali ini, Dit?! Apa belum cukup kau tak menafkahi kami sejak kau menikahi gundikmu itu? Apa kau juga ingin mengusir kami dari rumah ini?!"


Bu Eli angkat suara, wajahnya terlihat geram.


"Mungkin," jawab Aditya.


"MAS!! Nggak usah kelewatan gitu dong!! Aku ini sedang hamil, apa kau tega melihat aku luntang lantung di jalanan dalam keadaan hamil?!" Rania berteriak kesal pada Aditya, hatinya terasa sakit melihat respon santai nan memuakkan yang ditunjukkan Aditya kepadanya.


"Bukankah selama ini kau juga tega membiarkan aku tidur sambil menahan birahiku sendiri selama bertahun-tahun?! Ha!!"


Rania terkesiap mendengar pertanyaan Aditya yang diucapkan dengan nada pelan, tapi sanggup melukai hatinya lebih dalam.


"Kau juga tega membiarkan aku berangkat ke kantor tanpa sarapan atau sekedar minum segelas air putih. Kau tega memaksaku untuk menafkahi semua anggota keluargamu, sementara keluargaku sendiri terabaikan."


"Dan terakhir... Kau tega memberikan tubuhmu pada laki-laki lain yang je...."


"DIAM, MAS!! CUKUP!!"


Rania bangkit sambil menggeram marah, kedua tangannya mengepal erat di kedua sisi tubuhnya, kedua matanya melotot marah dan berkilat. Bukannya merasa takut pada ekspresi yang ditunjukkan Rania, Aditya justru tersenyum penuh kemenangan karena berhasil membuat Rania mengamuk.


"KAMU SALAH PAHAM!! AKU TIDAK MELAKUKAN APA-APA!! BUKANKAH SUDAH BERULANG KALI AKU MENJELASKANNYA KEPADAMU?!"

__ADS_1


"JANGAN MENCARI-CARI KESALAHANKU HANYA UNTUK MEMBENARKAN PERBUATANMU YANG MENIKAH LAGI TANPA SEIZINKU, MAS!! KAU LAH YANG BERSELINGKUH, BUKAN AKU!!"


"Lalu ini apa namanya? Hmmm?!"


Aditya melemparkan beberapa lembar foto yang dicetak besar ke atas meja. Tampak sepasang anak manusia yang sedang tertawa bahagia dengan posisi saling berpagutan mesra. Bahkan di salah satu foto, terlihat keduanya sedang saling berciuman. Sesuatu yang tak mungkin dilakukan oleh dua orang manusia berstatus hanya teman atau sahabat. Itu adalah foto-foto Rania bersama Aji yang baru keluar dari hotel, kejadian beberapa bulan lalu yang sudah membuat hati Aditya sangat sakit sehingga dia pun mantap untuk menikahi Putri. Mata bu Eli membelalak sempurna, beliau lekas meraih salah satu foto dan menatapnya dengan ekspresi marah.


"Bb-Bbu!! In-Ini hanya salah paham!! In-Ini tidak seperti yang Ibu fikirkan!!"


"DIAM, KAU!! MURAHAN!!"


Bu Eli menepis tangan Rania yang hendak merebut foto yang ada di tangannya, Rania seketika saja terdiam, kedua tangan yang digunakannya untuk merebut foto tadi terpaksa di kembalikan ke kedua sisi tubuhnya.


Air mata Rania mengalir deras, dia merasa sangat malu pada sang ibu sskaligus juga marah pada Aditya.


"Aku melihatnya sendiri dengan mata kepalaku, Tuhan seperti menggerakkan hatiku untuk pulang bertemu Ibu sekaligus juga menghadiri wisuda Zidan waktu itu. Rupanya, Tuhan ingin menunjukkan kepadaku rupa asli istriku yang cantik dan pintar ini. Sangking pintarnya, dia berhasil membodohi aku. Mengaku pergi dinas untuk beberapa hari, nggak tahunya untuk berbagi hasrat dengan laki-laki yang bukan suaminya. Heh!! Murahan!!"


Aditya tersenyum sinis dan membuang muka, sama sekali tak terpedaya oleh ekspresi sedih dan menyesal yang ditunjukkan Rania saat ini.


Bu Eli menyandarkan punggungnya di sandaran sofa, terlihat lemas dan tak percaya. Beliau yang suka membangga-banggakan putri sulungnya pada semua orang, merasa sudah tertipu oleh apa yang selama ini putrinya sampaikan kepadanya.


"Tega sekali kamu, Ran... Hiks. Tega sekali kamu mempermalukan dirimu sendiri seperti ini?"


Tatapan bu Eli kosong, dadanya bergerak turun naik dengan cepat, layaknya seseorang yang terserang asma.


"Bu... Maafkan Rania, Bu... Huhuuuhuuu."


*

__ADS_1


Putri berjalan bolak balik dari ruang nonton ke ruang tamu, mengintip dari jendela, lalu berdecis kesal karena sang suami belum juga pulang. Jarum jam yang menempel di dinding sudah menunjukkan pukul dua belas malam, Putri semakin cemas menunggu kepulangan Aditya.


Ponsel Aditya yang mati menambah kekhawatiran di hati Putri saat ini. Dia tak bisa menghubungi sang suami, padahal hatinya sudah ketar ketir ketakutan. Takut terjadi sesuatu pada sang suami.


"Dimana kamu, Mas??" Tanya Putri pada dirinya sendiri.


Putri menyugar rambutnya dengan gerakan kasar, stres memikirkan keadaan dan keberadaan sang suami saat ini.


Selang beberapa menit, deru mesin mobil Aditya memasuki carport, Putri yang awalnya hendak masuk kamar, gegas berbalkm badan dan berjala menuju pintu. Lekas diputarnya anak kunci yang menggantung, lalu pintu rumah pun dibukanya lebar-lebar. Aditya yang baru saja turun dari mobil, melonjak kaget mendengar suara pintu yang terbuka dengan kasar dari dalam.


"Belum tidur, Dik?"


Putri tak menjawab, hanya terus menatap sang suami yang sedang berajalan menuju pagar, lalu menggeser lagar tersebut agar tertutup. Kemudian engsel pagar di atas dan di bawah di tekan ke atas dan ke bawah untuk mengunci.


Aditya kemudian berbalik badan dan berjalan menuju teras, lalu menaiki dua anak tangga untuk menuju teras dan langsung memeluk tubuh sang istri dengan erat.


"Maaf, sayang... Ada sesuatu terjadi di sana, itu makanya aku pulang terlambat," jelas Aditya tanpa melepaskan pelukan.


"Mana Ibu? Bukankah tadi Mas ke sana untuk menjemput Ibu?"


Aditya perlahan melepaskan pelukannya di tubuh Putri, lalu menatap kedslaman sepasang mata bulat milik sang istri.


"Ibu masih berada di sana. Bu Eli jatuh pingsan tadi, setelah ku tunjukkan foto kemesraan putrinya dengan laki-laki lain. Aku terpaksa mengantarkan beliau ke rumah sakit, ternyata tensinya tinggi," jawab Aditya.


"Bu Eli di rawat di rumah sakit, Rania genemani beliau di sana. Ibu jadi berat meninggalkan rumah pada si kembar. Mana tahu apa-apa dua perempuan itu. Taunya hanya minta duit untuk dihabiskan. Maka nya Ibu batal menginap di sini. Mungkin nanyi setelah bu Eli sehat dan pulang dari rumah sakit, baru lah Ibu pindah ke rumah ini.


Aditya menjelaskan kejadian yang sebenarnya sedetail mungkin, tak mau sang istri jadi salah sangka.

__ADS_1


"Kita masuk, yuk... Sudah malam. Angin malam nggal bagus untuk kamu dan calon anak kita," ajak Aditya. Putri mengangguk lemah, meski dia percaya pada apa yang diceritakan suaminya tapi tak ayal dia merasa cemburu.


Putri yang tak pernah suka memperpanjang masalah, langsung mengangguk begitu mendengar ajakan suaminya untuk masuk. Keduanya lalu masuk ke rumah sambil saling berpegangan.


__ADS_2