
Author POV
Rania sudah bersiap-siap hendak ke kantor, berusaha tampil sesempurna mungkin untuk memikat hati suaminya, Aditya. Setelah memastikan kalau penampilannya sudah sempurna, Rania pun keluar dari kamar.
Langkah Rania terhenti seketika, ketika melihat sang suami sedang sarapan bersama ibu mertua dan perempuan yang berstatus adik madunya, Putri. Bukan penampakan kegiatan sarapan mereka yang membuat langkahnya terhenti, tapi justru penampilan Putri pagi ini. Dengan kemeja hitam lengan panjang dan make up tipis yang sempurna, rambut panjang lurus yang dibiarkan terlepas dan jatuh, penampilan Putri saat ini jauh berbeda dari penampilannya semalam. Cantik... Kata itu yang terbersit pertama kali di otak Rania.
"Arghhh!! Ternyata dia bisa bergaya juga. Aku pikir, dia hanya perempuan kampung biasa yang selalu dibalut daster murahan seperti yang dia tampilkan semalam," rutuk Rania. Tapi, Rania berusaha tak mengacuhkan penampilan Putri yang mengagumkan, dengan langkah tegap dan penuh percaya diri, Rania melangkah mendekati meja makan.
"Mas."
Aditya menoleh ke samping, hanya menatap kursi makan yang sedang ditarik pelan oleh Rania.
"Antar aku ke kantor, ya? Kantor kita kan sejalan."
Bu Sukma mencibir geli mendengar nada bicara Rania yang dibuat-buat.
"Aku masih cuti, Ran. Kamu berangkat naik taksi aja," ucap Aditya menolak. Rania mencebik kesal, lalu menghadapkan tubuhnya ke meja makan.
"Ada roti, nggak? Aku nggak biasa makan makanan berat untuk sarapan!"
Hening... Tak ada jawaban. Hanya denting sendok dan garpu yang bertemu piring saja yang terdengar. Aditya melirik Putri, berharap perempuan itu tidak akan tersinggung dengan ucapan Rania.
"Put!! Aku nanya, nih!! Jawab dong!!"
Putri menoleh dan menatap Rania dengan tatapan dingin.
"Tanya apa, Mbak?"
"Ada roti, nggak?! Aku nggak bisa makan mak...."
"Nggak tahu, Mbak. Coba Mbak lihat sendiri di dapur!!"
Putri langsung memotong kalimat Rania, kemudian kembali melanjutkan kegiatannya sarapan. Bu Sukma tersenyum bangga melihat respon Putri, sedangkan Aditya, hanya bisa menghela nafas melihat sikap Rania.
"Mulai besok, kamu siapkan juga roti untuk sarapanku!! Masak cuma nasi goreng dan telur mata sapi! Ini makanan berat namanya!!"
Putri diam, mengunyah pelan makanannya sebelum membalas ucapan Rania.
"Tugas saya sebagai istri, hanya melayani suami saja, Mbak. Juga mertua atau keluarga suami yang ikut menginap di rumah ini. Kebetulan sekali suami dan mertua saya sukanya ini, ya ini yang saya siapkan. Kalau Mbak lebih suka roti, silahkan Mbak siapkan sendiri. Masih punya kaki dan tangan, bukan? Tentunya Mbak masih bisa mengurus kebutuhan Mbak sendiri. Mbak bukan urusan saya, bukan tanggung jawab saya juga."
Rania melotot kaget mendengar jawaban Putri yang panjang lebar. Dia tak menyangka kalau perempuan berwajah ayu itu berani melawan ucapannya.
"Lihat, Mas!! Lihat perempuan yang kau nikahi itu!! Sikapnya sama sekali tidak menunjukkan kalau dia perempuan terpelajar!! Bagaimana mungkin sih Mas mengiyakan saja waktu Ibu menjodohkan Mas dengannya!!"
Rania mengadukan sikap Putri pada sang suami, yang dia pikir akan membelanya kali ini. Putri bangkit dan membawa piring-piring bekas makan mereka ke dapur. Tak dipedulikannya aduan Rania tadi.
"Jadi, menurutmu perempuan yang terpelajar itu yang bagaimana? Apakah perempuan yang mau saja dicium laki-laki yang bukan suaminya itu kriteria perempuan terpelajar menurut versimu?"
Rania menelan salivanya sekuat tenaga, lagi-lagi Aditya membahas masalah itu dengannya.
__ADS_1
"It-Itu... Itu tidak seperti apa yang kau pikirkan, Mas. Makanya, dengar dulu penjelasanku!"
"Nggak!! Aku nggak butuh penjelasanmu! Kau tahu kenapa? Karena aku tak peduli, Rania."
"Nggak peduli? Aku tahu Mas cemburu, makanya Mas membahas kesalahpahaman itu lagi."
"Kau salah paham, Rania... Aku sebenar-benarnya tidak peduli. Aku membahas itu, hanya mencoba menebak kriteria perempuan terpelajar versimu saja. Kalau patokanmu seperti itu, biarlah aku memilih punya istri yang tidak terpelajar. Perempuan yang sudah lebih dulu bangun di pagi hari dibandingkan aku, menyiapkan diri untuk bersama-sama melaksanakan ibadah bersamaku, menyiapkan sarapan, menyiapkan pakaian yang akan aku kenakan dan menemaniku sarapan di meja makan."
Rania melotot marah menatap Aditya, dia tahu kalau apa yang Aditya sampaikan barusan adalah sebuah sindiran untuknya, yang hampir tak pernah melakukan itu lagi semenjak dia mulai bekerja.
"Mas... Aku ini bekerja... Aku wanita karier. Aku kan sudah berulang kali menjelaskan kepadamu, tolonglah pahami aku."
"Mas."
Perhatian Aditya teralihkan, Rania ikut menoleh dan menatap Putri yang sudah siap untuk pergi.
"Sudah mau berangkat, Dik?"
"Hmmmm!!" Putri mengangguk mantap, sambil menatap Aditya dengan lembut.
"Aku janjian jam delapan, takutnya telat."
"Owh... Ok."
Aditya bangkit dan keluar dari meja makan, hendak ikut melangkah keluar bersama istri mudanya. Tapi, Aditya berbalik badan lagi untuk menatap Rania.
Rania merengut kesal mendengar ucapan suaminya.
Aditya mendatangi bu Sukma, lalu meraih tangan wanita tersebut dan menciumnya dengan takzim. Setelah itu, Putri pun melakukan hal yang sama kepada bu Sukma.
"Kami jalan dulu, Bu... Assalammualaikum."
"Waalaikumsalam."
Bu Sukma tersenyum manis mengiringi kepergian sang putra dan menantu barunya. Meski beliau belum melihat cahaya terang di wajah sang putra, tapi beliau sudah cukup bahagia, karena sudah hampir dua minggu sejak anaknya itu menikah, Aditya terlihat lebih bersih dan terurus.
"Hmmm... Sepertinya aku harus melakukan sesuatu. Kasihan sekali mereka berdua, mungkin keduanya masih canggung untuk melakukan itu," ucap bu Sukma di dalam hati.
"Ibu sudah bahagia?!"
Bu Sukma terperanjat kaget, langsung menoleh untuk menatap Rania yang ternyata masih duduk di tempat yang sama.
"Ibu sadar, nggak? Kalau kebahagiaan Ibu sudah membuatku terluka! Ibu nggak tahu sih bagaimana rasanya dikhianati suami!!"
Bu Sukma menghembuskan nafas perlahan, tak mau terbawa emosi atas sikap menantunya yang satu ini.
"Aku memang tidak pernah tahu bagaimana rasa sakitnya dikhianati. Tapi, aku pernah merasa sangat sakit ketika melihat putra kebanggaanku dikhianati ISTRINYA!!"
Brakkk.
__ADS_1
Giliran Rania yang terperanjat kaget, double kaget malah. Kaget mendengar kalimat yang disampaikan bu Sukma, juga kaget karena gebrakan di meja yang dilakukan mertuanya itu.
Bu Sukma melangkah masuk ke kamarnya, tak mau meladeni menantu spesialnya itu. Yah... Spesial. Spesial tingkah dan perilakunya!
"Dasar mertua gendeng!!"
Rania bangkit dari duduk, lalu melangkah keluar rumah untuk segera berangkat ke kantornya.
*
"Alhamdulillah... Urusan tempat sudah selesai. Sekarang, apa lagi, Dik?"
Aditya tersenyum lega, negosiasi dengan pemilik ruko yang akan dijadikan rumah makan untuk usaha Putri, berjalan lancar. Keduanya memasang senyum kelegaan.
"Hmmm... Belanja barang-barang, Mas. Etalase, meja, kursi, alat-alat dapur, kulkas... Hmmm... Masih banyak prosesnya, Mas." Putri menjawab sambil berpikir apa saja yang akan dia beli untuk rumah makan yang akan dibukanya.
"Ya sudah, kita ke pasar aja sekarang. Lihat-lihat barang yang akan dibeli. Kalau cocok, langsung beli dan minta diantarkan langsung ke ruko besok," ajak Aditya. Putri mengangguk setuju.
"Pasang seatbeltnya, Dik."
Rania menarik seatbelt yang ada di sebelah kiri jok yang dia duduki, sementara Aditya sedang memasang seatbeltnya. Putri menoleh ke belakang, merasa kalau ada sesuatu yang mengganjal seatbelt miliknya, sambil menarik-narik seatbelt tersebut. Aditya menoleh dan melihat Putri yang kesulitan untuk menarik seatbelt.
"Kenapa, Dik?" Tanya Aditya.
"Kayaknya ada yang nyangkut deh, Mas... Sebentar."
Putri masih berusaha untuk menarik seatbelt tersebut, tapi tetap tidak berhasil. Aditya berinisiatif untuk membantu Putri menarik seatbelt. Dilepaskannya seatbeltnya terlebih dahulu, lalu memajukan tubuh dan memanjangkan tangan untuk ikut menarik seatbelt di samping kiri Putri.
Merasa ada yang mendekati tubuhnya, Putri terperanjat kaget. Lekas dia menghadapkan tubuh ke depan dan melepaskan cengkeramannya pada seatbelt. Gerakan Putri yang tiba-tiba, membuat Aditya ikut kaget dan menghentikan gerakan tiba-tiba. Akhirnya, kedua pasangan suami istri itu sama-sama tak bergerak, hanya saling memandang saja. Sementara posisi tubuh keduanya sudah menempel.
Tatapan Aditya jatuh di bibir Putri yang berwarna pink. Bibir itu seakan merayunya untuk disentuh dengan bibirnya. Perlahan kepala Aditya bergerak mendekat... Semakin dekat... Menempel.
"Hmmmmhhhh"
Putri mendesah sambil menutup mulut, tak ada penolakan sedikitpun dilakukannya. Tubuhnya langsung tersandar lemas, saat bibir Aditya audah menempel di bibirnya. Hal ini membuat Aditya merasa kalau dia harus tetap maju untuk merasakan manisnya bibir berwarna pink milik Putri. Aditya menekan wajahnya, ******* sepasang bibir Putri dengan sangat lembut dan hati-hati. Putri tak tinggal diam, hasrat yang sudah tiga tahun tertahan, memaksanya untuk membalas ciuman dari sang suami, bahkan kedua tangannya sudah menekan kepala Aditya untuk lebih merasakan kehangatan yang dihantar mulut dan lidah laki-laki itu.
Kegiatan saling ******* itu terjadi selama beberapa menit, sampai akhirnya kedua anak manusia ini pun kehabisan nafas dan memutuskan untuk melepaskan ciuman mereka. Aditya menatap Putri dengan penuh cinta, dia tak mempu membohongi diri, kalau dia sedang sangat ingin menikmati tubuh istrinya itu.
"Aku... Hmmmmhhh... Bolehkah aku mendapatkan hakku sekarang, Dik?"
Putri masih menahan nafas, mencoba meredam gairahnya sendiri. Tapi, usahanya bertahan langsung jebol akibat permintaan izin dari Aditya. Tiga tahun tak merasakan sentuhan laki-laki, tentu saja Putri sangat merindu untuk disentuh dan dipuaskan. Tanpa sadar, kepala Putri mengangguk pelan, membuat Aditya tersenyum lebar.
"Kita cari hotel, ya?"
Aditya melanjutkan rencananya di awal untuk membantu Putri menarik seatbelt. Sangking senangnya, dia tak melihat kalau istrinya sudah menjawab ajakannya lewat anggukan.
Aditya menarik seatbelt yang ada di sisi kiri jok Putri. Hanya dengan sekali tarikan saja seatbelt tersebut patuh mengikuti tarikan tangan Aditya. Melihat kejadian itu, Aditya dan Putri tertawa kecil bersama. Keduanya seperti baru saja kena prank seatbelt.
Aditya kembali ke posisinya semula, setelah memasangkan seatbelt pada sang istri. Dengan gerakan cepat, dia memasang seatbeltnya sendiri, lalu menyalakan mesin mobil. Setelah itu, Aditya mulai membawa mobilnya melaju pelan, masuk ke jalanan yang ramai, menuju hotel, untuk mereguk nikmatnya bulan madu kedua.
__ADS_1