
[Mas... Kamu dimana? Pulang dong....]
Kirim... Centang satu.
Aneh... Kenapa pesan WA nya hanya centang satu? Ku klik simbol telepon di sudut kanan atas, bermaksud untuk menelpon mas Adit lewat aplikasi WA. Satu detik, dua, tiga, empat... Hanya memanggil. Ku tunggu hingga satu menit, tapi tetap tulisan memanggil yang tertera di layar. Lho?? Tumben.
Selama aku mengenal mas Adit, belum pernah sekalipun WA nya tak aktif. Tapi hari ini, kenapa berubah?
Aku keluar dari aplikasi WA, kemudian menekan nama mas Adit yang tertera di phone book.
"Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif...."
Arghhh!! Kenapa ponselnya tidak aktif? Ada apa dengan mas Adit? Apa jangan-jangan dia sudah tahu soal penggerebekan itu? Arghhh!! Ini gara-gara tetangga-tetangga kepo nggak punya adab itu!! Semua jadi berantakan gara-gara ulah mereka.
Aji diusir paksa dari rumahku setelah penggerebekan dua malam yang lalu, dipermalukan dengan teriakan-teriakan penghinaan. Terpaksa Aji pergi dengan membawa rasa malu. Untung saja kami belum melakukan apa-apa semalam? Kalau tidak, pastinya para tetangga akan langsung menikahkan aku dengan Aji malam itu juga.
Hmmmhhh!! Sudahlah!! Terserah mas Adit saja kapan dia mau pulang. Mending aku berangkat kerja, kemudian menghabiskan waktu dengan Aji. Malam ini kami sudah janjian menginap di hotel, huffttt... Gaji dua belas juta sebulan hampir menipis untuk biaya menginap di hotel. Sementara Aji, masih menunggu depositonya cair. Entah kenapa bulan ini lama sekali depositonya cair, kalau nggak kan bisa happy-happy dengan uang itu.
Tapi, demi Aji apapun akan aku lakukan. Toh credit card milik mas Adit masih ada di tanganku. Beberapa minggu yang lalu, sudah aku gunakan juga untuk mengirim uang ke kampung, gara-gara mas Adit ngambek karena mbak Sarah aku pecat. Habisnya, pembantu ku yang berstatus janda itu sudah seenaknya merayu mas Adit, sih. Ya sudah, ku pecat saja. Dari pada mas Adit berpindah ke lain hati karena melihat perhatian pembantuku itu. Bukannya apa-apa, aku masih butuh duit mas Adit untuk membiayai ibu dan adik-adikku di kampung. Sebentar lagi adik kembarku itu tamat SMA, aku berniat menguliahkan keduanya hingga sarjana. Yah... Setidaknya aku harus bersabar dulu hingga empat atau lima tahun ini. Untung saja Aji mau memahami keinginanku ini. Gimana nggak tambah cinta aku padanya. Mana dia lebih perkasa dan gagah pula di ranjang... Arggghhh!! Bagian sensitifku langsung berkedut setiap kali mengingat apa saja yang pernah dilakukan Aji pada tubuh ini.
*
Hmmmhhh... Badanku serasa mau remuk saat ini. Setelah dua malam menginap di hotel bersama Aji, hari ini kuputuskan untuk pulang. Siapa tahu mas Adit sudah berada di rumah, jadi aku bisa merayunya untuk mendapatkan uang. Toh bulan ini dia belum memberikan gajinya untukku, lusa sudah tanggal satu lagi. Semoga saja mas Adit sedang good mood, jadi bisa dapat uang double.
Taksi yang mengantarkan aku pulang berhenti tepat di depan rumah, senyumku langsung mengembang, begitu melihat mobil alphard milik mas Adit sudah terparkir di bawah carport. Arghhh!! Pucuk dicinta ulam tiba.
Gegas kulangkahkan kaki masuk melewati pagar, lalu naik ke teras, kemudian membuka pintu.
"MAS ADIT!! MAS!! MAS UDAH PU...."
Kalimatku langsung terhenti, mataku membelalak kaget melihat kehadiran ibu dan seorang perempuan, duduk bersama mas Adit di meja makan. Mereka bertiga sedang menikmati makan malam, ibu langsung melengos malas begitu melihat kehadiranku. Cih... Gayamu, Bu... Bu. Sok-sokan jadi pemilik rumah ini saja. Dia lupa kalau rumah ini kan rumah suamiku, rumahku juga.
"Mas...."
Perempuan yang duduk di samping ibu bangkit dan mengambil piring bekas makan mas Adit, kemudian menumpuknya menjadi satu dengan piring bekas makannya dan ibu. Aku segera mendekati mas Adit, menarik keluar satu kursi makan yang ada di samping suamiku, lalu duduk.
"Mas kemana aja, sih? Aku...."
"Tak bisakah kau menyapa Ibuku terlebih dahulu, sebelum bertanya panjang lebar kepadaku?"
Aku langsung mencebik, kemudian menoleh untuk menatap ibu dengan malas. Mau ngapain wanita tua ini ke sini? Pasti mau minta uang!! Enak saja!! Jangan harap dia bisa mendapatkan uang suamiku dengan mudah.
"Apa kabar, Bu?!" Tanyaku berbasa basi.
"Baik!! Sangat baik!!"
Heh!! Jawaban apa itu?! Dia pikir aku tertarik dengan jawabannya?
__ADS_1
Perempuan yang tadi membawakan piring-piring bekas makan ke dapur, sudah kembali ke ruang makan. Tangannya membawa piring berisi potongan buah pepaya dan mangga, lalu diletakkannya di atas meja.
"Mas bawa pembantu baru? Untuk apa? Aku tidak...."
"DIAM KAU!!"
Aku langsung terdiam, cukup kaget melihat keberanian mas Adit membentakku di hadapan ibu dan perempuan itu.
"Duduk, Dik... Jangan hiraukan kata-katanya."
Sekali lagi aku membelalak kaget, mendengar mas Adit memanggil perempuan itu dengan sebutan "dik." Itu kan panggilan sayangnya untukku? Kenapa dia memanggil pembantu ini dengan sebutan yang sama?
Perempuan itu duduk di samping ibu, ditempat yang sama dengan yang dia duduki tadi. Ibu menepuk-nepuk pelan tangan perempuan itu, kemudian keduanya saling bertatapan dan tersenyum.
"Dik... Kenalkan. Ini Rania... Kakak madumu."
Kepalaku lekas menoleh untuk menatap mas Adit, tiba-tiba saja nafasku tercekat. Apa aku tidak salah dengar? Mas Adit memperkenalkan aku sebagai kakak madu, berarti dia....
"Apa maksud ucapanmu, Mas?" Nada suaraku sudah bergetar, entah kenapa aku merasakan sakit teramat sangat di hati ini.
"Dia Putri... Dia adalah perempuan yang sudah aku nikahi seminggu yang lalu. Tidak ada maksud apa-apa, tapi aku memang butuh istri yang mau menjalankan kodratnya sebagai istri yang sebenarnya. Makanya aku memilih untuk menikahinya."
"NGGAK!! AKU NGGAK MAU DIDUAKAN, MAS!!"
Aku langsung bangkit berdiri, menatap nyalang pada mas Adit. Bisa-bisanya dia menikah lagi tanpa meminta izin dulu dariku. Apa dia pikir aku akan diam saja mengetahui kalau dia sudah menikah lagi?
Sial**!! Kenapa mas Adit malah mengusirku? Seharusnya dia membujukku agar mengizinkannya beristri dua. Meskipun aku tidak akan memberikan izin itu, setidaknya rayulah aku dulu.
Aku menoleh dan menatap ibu, "lihat, Bu!! Lihat apa yang sudah dilakukan anakmu kepadaku!!"
Ibu menghela nafas panjang, "ya... Aku sudah lihat apa yang dilakukan anakku kepadamu. Bahkan, aku sendiri yang memilihkan perempuan ini untuk menjadi istrinya "
"AP-APA?! IBU MEMILIHKAN PEREMPUAN INI UNTUK MENJADI ISTRI KEDUA MAS ADIT?! APA-APAAN IBU NI?!"
"RENDAHKAN NADA SUARAMU!! AKU INI MERTUAMU!!"
Aku melotot kaget mendengar bentakan ibu. Kurang ajar sekali wanita tua ini!!
"Laki-laki dibolehkan beristri lebih dari satu, terlebih lagi jika istri pertamanya sudah tak bisa lagi mengurus serta melayaninya. Kemana pun kau akan mengadu, maka jawaban yang kau terima pastilah sama dengan apa yang aku sampaikan kepadamu."
Dadaku turun naik menahan amarah, kutahan keinginanku untuk *******-***** mulut wanita tua bergelar mertua ini. Bisa-bisanya dia mendukung anaknya untuk menikah lagi, apa dia lupa kalau aku masih sehat dan segar bugar? Siapa bilang aku tak mampu melayani suamiku sendiri?
"Tubuhmu memang sehat, kau segar bugar. Bahkan jauh dari kata cacat! Secara pandangan, kau masih sangat mampu melayani dan mengurus suami. Tapi... Apa kau sudah melakukannya selama ini?"
Kenapa wanita tua ini tau apa yang aku pikirkan?
"Itu urusanku dengan Mas Adit, Bu!! Ibu nggak punya hak untuk mencampuri masalah keluarga kami!"
__ADS_1
"TENTU SAJA AKU PUNYA HAK!! AKU PUNYA HAK MERASAKAN SAKIT KETIKA MELIHAT ISTRI ANAKKU SEDANG BERPELUKAN, BERCIUMAN, DI DEPAN UMUM DENGAN LAKI-LAKI YANG BUKAN SUAMINYA!!"
What?! Apa maksud ibu? Apa jangan-jangan dia melihat aku bersama Aji waktu pergi liburan kemarin? Tapi, mana mungkin? Aku tahu sekali kalau mertuaku ini tak pernah jalan jauh dari sekitaran rumahnya. Mana mungkin dia ke kota sendirian?
"Ap-Apa maksud ucapan Ibu? Jangan coba-coba memfitnahku, Bu!! Aku bisa saja memenjarakan ibu atas dasar pencemaran nama baik!"
"Silahkan!! Laporkan saja!! Kau pikir aku takut?"
Hohoho... Berani sekali wanita tua ini menantangku.
"Aku berani karena aku tidak sedang memfitnahmu! Aku mengatakan apa yang aku lihat. Oh iya... Bukan hanya aku yang melihat adegan menjijikkan itu, tapi Aditya dan Zidan juga!!"
Aku lekas menoleh dan menatap mas Adit, rahangnya bergerak-gerak seperti sedang mengadu gigi gerahamnya di dalam mulut. Oh Tuhan!! Apa benar mas Adit sudah melihat itu semua?
"Mm-Mas... Aku bisa menjelaskan semuanya, Mas. Mas sudah salah paham... Ini buk...."
"Aku tak peduli, Ran."
Mas Adit memotong kalimatku dengan tenang, lalu mendongak dan menatapku.
"Sudah lama aku tidak peduli pada apa saja yang kau lakukan. Terserah!! Itu dosamu sendiri, maka kau sendiri juga yang akan menanggung hukumannya."
Kalimat sedingin es itu meluncur dari mulut mas Adit tanpa beban. Seolah-olah dia tak merasa cemburu atau sakit meski sudah melihatku bermesraan dengan Aji.
Mas Adit lalu bangkit, "aku istirahat duluan, Bu." Dia berpamitan pada ibunya. Perempuan yang duduk di samping ibu, ikut bangkit berdiri. Mau kemana dia? Jangan bilang dia mau menemani mas Adit di kamar?
"Iya, Dit... Istirahatlah. Ibu juga mau ke kamar. Shalat isya dulu baru tidur, Dit."
"Iya, Bu."
Mas Adit keluar dari meja makan, lalu berjalan melewatiku menuju kamar tamu yang selama ini ditempatinya sendirian.
"Putri temani Mas dulu, Bu."
"Iya... Pergilah. Urusi suamimu, itu yang utama."
Aku membelalak kaget, kemudian mengikuti langkah perempuan bernama Putri itu dengan tatapan tajam.
"HEI!! MAU KEMANA KAU!!"
"BERHENTI, RANIA!!"
Aku berbalik badan dan menatap ibu, sumpah... Aku muak melihat wanita tua ini.
"Mereka sudah suami istri! Sudah sah di hadapan agama dan juga hukum. Mereka bukan sedang berzinah, seperti yang kau dan kekasihmu lakukan!! Sadarlah!!"
Ibu bangkit dan keluar dari meja makan, lalu melangkah menuju kamar yang berada di samping kamarku. Aku kembali menghadapkan tubuh ke arah kamar tamu, pintu kamar tersebut sudah tertutup rapat. Lamat-lamat kudengar suara tawa dari dalam sana, apa mereka sedang menertawakan aku?
__ADS_1
"ARGGHHHH!! SIAL**!"