
"Dasar janda gatal!! Bisa-bisanya kau menjebak suamiku!!"
Langkahku terhenti tepat di belakang ibu yang sudah menghentikan langkahnya. Ibu menyeruak masuk ke dalam kerumunan warga, sepertinya beliau penasaran sekali pada perempuan yang saat ini sedang dihina-hina oleh wanita tetangga kami itu.
"Saya tidak melakukan apa-apa, Mbak... Hiks. Mas Tikno sendiri yang datang bertamu ke rumah. Katanya...."
"BOHONG!! Dia sedang berbohong, Dik!!"
"TIKNO!! HENTIKAN!!"
Itu teriakan ibu, aku langsung memaksa menerobos kerumunan yang ada di depanku, Zidan ikut melakukan hal yang sama. Kami berdua ingin segera melihat apa yang membuat ibu berteriak.
"Jangan coba-coba kau lepaskan tendanganmu ke tubuh Putri!! Kalau tidak, ku belah kepalamu sekarang juga!!"
Astaga!! Mataku membulat besar melihat kaki kanan mas Tikno yang terangkat seperti orang yang hendak menginjak sesuatu. Di dekat kakinya, terlihat seorang perempuan sedang menangis tersedu sambil mencengkeram blouse yang sedang dia kenakan dengam kedua tangannya.
"Itu Putri kan, Dan? Istri almarhum Satria?" Tanyaku pada Zidan sambil berbisik.
"Iya, Mas... Kasihan sekali dia. Apa yang sudah terjadi?"
Putri masih menangis tersedu, sementara ibu dan istri mas Tikno sedang adu urat. Perlahan mas Tikno melangkah mundur, berlindung di belakang tubuh sang istri yang lumayan lebar.
"Lepas sarungmu, Dan!! Lihat!! Kancing baju Mbak Putri semua terlepas."
Zidan menunduk untuk memperhatikan bagian depan blouse lengan panjang yang Putri kenakan. Sudah tak ada lagi kancing baju yang bisa digunakan untuk menjadikan dua bagian depan blouse tersebut menjadi satu. Putri terpaksa meremas bagian depan blouse tersebut dengan kedua tangan agar bagian depan blouse tetap tertutup.
"Ini, Mas."
Zidan akhirnya melepaskan kain sarung shalat yang dia kenakan, lalu menyerahkannya kepadaku.
"Dari sekian banyak laki-laki di kampung ini, kenapa hanya suamimu saja yang selalu kedapatan berada di rumah Putri?! Harusnya kau pikir sampai ke situ, Lia!! Seharusnya, cukup kejadian pertama dua tahun yang lalu itu terjadi sekali!! Suamimu seharusnya menjauh dari Putri, jika benar selama ini Putri lah yang sudah merayunya!!"
Ibu masih terus beradu urat dengan mbak Lia, istri mas Tikno. Aku jongkok mendekati Putri yang masih terus menangis, rambutnya sudah acak-acakkan, seperti baru saja dijambak.
"Sarungi tubuhmu dengan ini, Mbak."
Putri mengangkat wajahnya perlahan dan menatap wajahku. Astaga... Wajah itu sudah dipenuhi lebam di sudut bibir, mata dan kedua pipinya. Aku melotot kaget melihat keadaan wajahnya yang bisa dibilang babak belur.
__ADS_1
"Terima kasih, Mas... Hiks."
Putri memajukan sebelah tangannya dengan susah payah, karena dia takut blousenya terbuka. Aku berinisiatif memasukkan memasukkan sendiri sarung tersebut melewati kepalanya, setelah itu Putri membekap dua sisi sarung dengan erat, seperti orang yang sedang kedinginan.
"Pokoknya janda ini harus segera diusir dari kampung ini, Bu!! Malam ini juga dia harus angkat kaki dari rumah Satria!! Aku nggak mau tahu!!"
Mbak Lia masih bersikeras untuk mengusir Putri, aku bangkit berdiri dan menatap mas Tikno dengan tajam.
"Pak RT, siapa yang sudah membuat wajah Mbak Putri lebam-lebam dan luka? Ini bisa jadi panjang ceritanya, pak RT. Ini namanya penganiayaan, bisa dikasuskan."
Aku menyela keributan yang masih berlangsung antara ibu dan mbak Lia, bertanya pada pak RT yang sedari tadi terlihat bingung untuk memutuskan.
"Si Lia, Dit... Barengan sama si Tikno tadi," jawab pak RT sambil berjalan mendekatiku. Pak RT menunduk untuk memperhatikan wajah Putri sebentar, lalu berdecak kesal.
"Apa yang sebenarnya terjadi, Mbak? Kenapa bisa sampai begini? Mbak nggak bisa main hakim sendiri," ucapku pada mbak Lia.
"Perempuan ini merayu suamiku, Dit!! Jelas saja aku naik pitam jadinya!!" Sahut mbak Lia berapi-api.
"Apa Mbak menyaksikan sendiri kalau Putri sedang merayu dan berusaha menjebak Mas Tikno?" Aku kembali bertanya. Mbak Lia seketika terdiam, wajahnya berubah bingung dan panik. Dia langsung menoleh dan menatap suaminya.
"JAWAB, YA!! APA KAU YANG MELIHAT SENDIRI SUAMIMU SEDANG DIRAYU? ATAU HANYA KATA SUAMIMU SAJA SEPERTI SEBELUM-SEBELUMNYA?!" Ibu mendesak mbak Lia untuk segera menjawab pertanyaanku. Semakin di desak, wajah mbak Lia terlihat semakin panik.
Aku terus memperhatikan wajah mas Tikno dan istrinya secara bergantian dengan tatapan tajam, berusaha mengintimidasi keduanya agar takut.
"Coba kau perhatikan wajah suamimu, Ya!! Jauh sekali dari kata ganteng apa lagi gagah!! Masih jauh lebih ganteng pak RT yang usianya tidak lagi muda! Tapi, belum pernah tuh buk RT ribut-ribut mendatangi Putri dan menuduhnya mengganggu pak RT!!"
Mbak Lia menelan salivanya sekuat tenaga, wajahnya yang pucat pasi, terlihat jelas karena ditempa cahaya lampu jalanan. Pak RT berdehem sangat pelan untuk menghilangkan gugup setelah mendengar pujian ibu.
"Kerja juga serabutan!! Rumah aja numpang sama mertua!! Apa yang menurutmu menarik dari suamimu ini, sehingga bisa membuat Putri jatuh cinta berat dan selalu mengejar-ngejar suamimu!! Coba kau pikir dengan akal sehat!!"
"Kalau benar Putri ini janda gatal, maka dia tak akan menunggu sampai tiga tahun untuk mendapatkan pengganti almarhum Satria!! Pelanggan rumah makannya saja banyak orang bermobil!! Orang berduit dan gagah!! Nggak ada apa-apanya seujung kuku pun dari suamimu!! Apa jangan-jangan... Suamimu lah yang selama ini sudah menjebak Putri!! Pura-pura datang bertamu, tapi punya maksud lain!!"
Aku menghela nafas berat, ibu sudah mewakilkan isi kepalaku, jadi tak perlu lagi rasanya aku bersuara.
"Almarhum Satria itu anak yang baik, kedua orang tuanya juga. Selama ini kita semua juga mengenal Putri sebagai pribadi yang sangat baik dan solehah. Kenapa selama ini kalian semua tak bisa membuka mata hati kalian untuk membelanya?! Malah ikut-ikutan mengusirnya dari rumah peninggalan almarhum suaminya!"
"Lia... Tolong ceritakan kepada kami dari awal, kenapa kau datang menyerang Putri ke rumahnya, bahkan sampai melakukan kekerasan. Apa yang sebenarnya terjadi tadi?" Pak RT mulai buka suara, sambil menatap mbak Lia dan mas Tikno. Tak ada jawaban cepat yang keluar dari mulut kedua suami istri itu, keduanya hanya menunduk dalam untuk menyembunyikan wajah mereka yang pucat.
__ADS_1
"Lia!! Cepat jawab pertanyaan saya!!"
Pak RT mulai tak sabar, beliau mendesak mbak Lia untuk segera menjawab pertanyaannya.
"Ng... Itu, Pak RT. Hmmmm...."
"Begini, Bu arif... Pak RT. Mohon maaf sebelumnya karena saya menyela." Seseibu yang lain menyela kalimat mbak Lia. Tatapan kami pun berpindah pada beliau.
"Sepertinya, memang ada baiknya Putri ini pindah dari kampung ini. Jujur saja, saya sendiri juga mulai resah dengan keberadaannya. Suami-suami kami jadi sering membanding-bandingkan kami dengan Putri sejak dua tahun belakangan."
Aku menghembuskan nafas dengan kasar mendengar ucapan seseibu itu.
"Mbak Putri pintar cari duit, lah... Dia solehah dan sering mengaji, dia juga masih muda dan cantik. Istri mana yang tidak akan resah jika dibanding-bandingkan dengan Putri," sambung seseibu tersebut.
"Seharusnya kalian para istri itu introspeksi!! Bukannya menyalahkan keberadaan Putri di kampung ini!!" Sahut ibu tak kalah geramnya denganku, aku setuju sekali dengan penilaian ibu.
"Introspeksi dan berubah jadi lebih baik!! Itu maksud suami kalian!! Dasar emak-emak muda! Tak mau diduakan, tak suka dibanding-bandingkan!! Tapi, suami pulang kerja kalian malah asyik ngegosip ria!! Suami capek pulang kerja dicuekin!! Udah nggak bisa cari duit, menghargai suami yang cari duit pun tak pandai!! Bisanya ngegosip, mengarang cerita plus ngutang beli daster dan make up!! Kalian bergaya untuk siapa?!"
"Kalau udah dibanding-bandingkan dengan janda, kalian sendiri yang kepanasan!! Belajar dari wanita-wanita bersuami seumuran aku!! Tuh lihat, Bu RT!! Bu Romlah!! Bu Haji Deki dan Bu Haji Anshar!! Nggak ada tuh yang panas dingin ketakutan suaminya diganggu janda!! Karena selama ini mereka mengutamakan suaminya ketimbang gosip yang beredar!!
Seseibu tadi langsung terdiam, para kloninya terlihat sudah menunduk malu dibuat perkataan ibu. Sedangkan ibu-ibu yang namanya disebutkan oleh ibu tadi, tersenyum manis sambil sesekali melirik sang suami... Ibu memang the best!
"Ya sudah!! Kalau kalian takut suami-suami kalian diganggu Putri, biar kujadikan saja Putri ini menantuku!!"
Jedderr!! Tiba-tiba saja aku mendengar suara petir menggelegar tepat di depan telingaku. Apa-apaan ibu ini? Zidan kan masih sangat muda, dia juga belum bekerja. Bagaimana mungkin dia bisa bertanggung jawab pada Putri nanti.
"Ibu serius? Zidan kan masih sangat muda, Bu. Dia juga belum bekerja." Pak RT mewakilkan pertanyaan yang melintas di benakku.
"Pak RT benar... Saya juga belum mau punya menantu dari Zidan. Lha wong jajannya aja masih nadah ke Abangnya!!"
Aku mengernyitkan kening karena bingung. Lalu, siapa lagi anak ibu yang akan dinikahkan dengan Putri? Apa jangan-jangan, ibu punya anak laki-laki lain yang aku dan Zidan tidak kenal?
"Trus? Kalau bukan buat Zidan, buat siapa Bu? Ini soal pernikahan lho, Bu... Bukan masalah kecil," ucap pak RT dengan wajah bingung.
"Aku mau nikahkan Putri dengan Aditya! Aku sudah membahasnya dengan Putri, dan dia setuju. Bukan begitu, Put?"
What!! Ibu mau aku menikah dengan Putri?
__ADS_1
Aku menunduk dan menatap wajah Putri dalam-dalam, mencoba mencari keseriusan di wajahnya yang lebam-lebam itu. Putri membalas tatapanku dengan takut-takut, lama kami saling bertukar tatapan. Seketika saja ada sesuatu yang hangat menyusup masuk ke dalam dada, darahku pun ikut berdesir hangat dibuat tatapan mata Putri yang masih basah. Oh Tuhan... Rencana apa lagi yang kau gariskan untukku hambamu yang lemah ini?