Menikahi Janda Tetangga

Menikahi Janda Tetangga
Tragedi Nasi Goreng


__ADS_3

Rania POV


Arghhh!! Kemana perginya Aji?! Semua klub malam yang biasa kami datangi dulu sudah ku datangi, tapi sosoknya tak juga kutemukan!! Bahkan teman-temannya pun tak tahu dimana dia berada saat ini. Sudah sebulan lamanya mereka tak bertemu Aji. Dimana kamu, Ji?!


Aditya benar, anak yang sedang ku kandung ini bukanlah benihnya. Tapi, mana mungkin aku akan mengakui itu pada ibu dan adik-adikku. Bisa jatuh harga diriku di depan mereka bertiga, kalau aku mengakui semuanya.


Sudah dua tahun aku dan mas Aditya tak pernah berhubungan badan, bahkan sudah setahun lamanya kami pisah ranjang. Mana mungkin aku bisa hamil anak mas Aditya, kan? Tapi anehnya, selama ini Aji selalu pakai pelindung setiap kami berhubungan, tapi kenapa aku bisa hamil juga olehnya?


Sebenarnya, ada untungnya juga sih aku hamil. Mas Aditya jadi tak bisa menceraikan aku saat ini. Lambat laun aku yakin mas Aditya akan kembali mencintai aku seperti dulu. Aku tahu benar kalau mas Adit sangat mencintai aku, Putri itu hanya sebuah pelarian rasa saja. Tak mungkin cinta mas Adit berpaling begitu saja dengan cepat, aku yakin sekali. Rencananya, mulai besok aku akan merebut perhatian mas Aditya lagi. Kau lihat saja nanti Put... Ibu mertua... Siapa perempuan yang paling dicintai mas Adit di dunia ini?!


*


Author POV


Aroma nasi goreng langsung menyambut indera penciuman Aditya saat dia melewati ambang pintu untuk masuk ke rumah. Dengan wajah penuh senyuman, Aditya langsung melangkahkan kaki menuju dapur, berencana hendak menyapa Putri yang pastinya sedang menyiapkan sarapan seperti biasanya.


"Selamat pagi, say...."


Kalimat Aditya terhenti begitu saja, begitupun juga dengan langkah kakinya memasuki dapur.


"Selamat pagi, Mas... Sebentar... Aku siapkan sarapan dulu, ya."


Perempuan yang kali ini sedang memasak di dapur bukan lah Putri, melainkan Rania. Dengan pakaian kerja lengkap yang dilindungi celemek, Rania terlihat sibuk mengaduk nasi goreng yang ada di dalan kuali. Sesekali tubuhnya miring ke kanan dan ke kiri, menghindari percikan yang hanya berupa bunyi saja. Sikapnya menunjukkan kalau dia hanya sedang berpura-pura masak, bukan sebenar-benarnya sedang memasak.


"Lho... Koq dinyalakan la..."


"Kamu ini gimana sih, Put! Suami mau berangkat kerja bukannya menyiapkan sarapan, malah ngelanjutin tidur!! Udah sana!! Aku udah selesai masak nasi gorengnya!! Nggak becus banget jadi istri!" Rania menyela kalimat yang akan diucapkan Putri, membuat adik madunya itu terbengong menatapnya dan menatap Aditya secara bergantian.


"Tapi...."


"Dik."


Giliran Aditya yang memotong kalimat Putri, Rania tersenyum penuh kemenangan dengan wajah masih menghadap ke arah kuali yang panas. Aroma nasi goreng yang awalnya harum, sudah berubah menjadi bau hangus. Tapi Rania tidak menyadari itu sangking senangnya.


"Tolong siapkan pakaian kerja Mas," ucap Aditya memberikan perintah.


"Tapi itu nasinya...."

__ADS_1


"Dik."


Putri tak jadi melanjutkan kalimatnya, sebenarnya dia hanya ingin mengingatkan kalau nasi goreng yang sedang Rania aduk sudah hangus, tapi Aditya keburu menyela kalimatnya. Jadilah Putri melangkah keluar dari dapur, mengekor di belakang langkah sang suami.


"Berhasil!!"


Rania tersenyum bangga, tapi sesaat kemudian senyuman lebarnya seketika saja menghilang. Nasi yang diaduknya sudah berubah warna menjadi hitam dan berkerak.


"ARGHHHH!! Ap-Apa yang terjadi?! Kenapa jadi begini?!"


Rania panik, dia mengaduk isi kuali dengan cepat dan kasar, sehingga butiran-butiran nasi goreng yang diaduknya berhamburan keluar dari kuali. Ketika Rania menyadari kalau nasi goreng yang sedari tadi dia aduk sudah hangus, lekas dimatikannya kompor gas tersebut, kemudian ditatapnya keadaan nasi goreng yang tersisa di dalam kuali. Kedua matanya menggenang melihat kekacauan yang sudah dia buat sendiri.


"Astaga!! Apa yang sudah aku lakukan?! Bagaimana ini?!"


*


Aditya, Putri dan bu Sukma menikmati nasi uduk yang dibeli Aditya di depan gang rumahnya. Aditya yang sudah bisa menebak nasib nasi goreng yang tadi diaduk Rania, berinisiatif membeli tiga bungkus nasi uduk untuknya, Putri dan sang ibu. Saat ini ketiganya tengah menikmati nasi uduk tersebut tanpa mengeluarkan suara, sambil menahan diri untuk tertawa.


"Kamu kenapa nggak belikan untuk kami juga sih, Dit!! Pelit amat jadi menantu!!"


Bu Eli menggerutu kesal sedari tadi, nafsu makannya hilang dalam sekejap begitu melihat penampakan nasi goreng yang ada di hadapannya. Bahkan si kembar yang belum cuci muka saja bisa melihat dengan jelas betapa mengerikannya penampakan nasi goreng tersebut.


Kejadian sebenarnya, Putri yang sudah selesai memasak nasi goreng, beranjak ke area jemur pakaian sebentar untuk menjemur mukena dan kain sarung shalat miliknya. Seperti biasa, dia akan melakukan hal lain terlebih dahulu sambil menunggu nasi goreng yang sudah dia masak menjadi sedikit hangat. Barulah setelah hangat Putri akan menghidangkannya. Tapi pagi tadi tidak seperti pagi biasanya, Rania yang biasanya baru keluar dari kamar saat sarapan saja, tiba-tiba keluar setelah Putri selesai masak nasi goreng. Saat Rania tiba di dapur, dia melihat dapur dalam keadaan kosong, bertepatan dengan terdengarnya salam dari Aditya yang baru kembali dari mesjid. Saat itu lah Rania memainkan perannya sebagai istri yang sedang menyiapkan sarapan untuk sang suami dan keluarganya. Dia lekas menyalakan kembali kompor yang awalnya sudah dimatikan oleh Putri, lalu mulai mengaduk-aduk nasi goreng dengan gaya yang cukup meyakinkan. Sayangnya, rencana jahat Rania tak berakhir dengan mulus.


"Bu!! Beli nasi uduk aja lah!! Nasi gorengnya menakutkan!!" Sahut Salma dengan ekspresi jijik menatap secambung nasi goreng yang didominasi kerak dan berwarna hitam pekat.


"Ya udah!! Kamu beli, gih!! Dit!! Kasih duitnya ke Salma!!"


Bu Eli seenaknya saja memberikan perintah pada Aditya, membuat Aditya mempercepat gerakan mengunyah makanannya. Bukannya pelit atau tak punya duit, tapi Aditya ingin memberikan sedikit pelajaran pada Rania dan keluarganya.


"Dik... Mas ada rapat pagi ini, kamu ke warungnya pakai taksi aja, ya."


Putri lekas menganggukkan kepala, pikirnya Aditya memang benar ada rapat pagi-pagi sekali. Aditya langsung bangkit berdiri dan keluar dari meja makan, Putri ikut berdiri dan keluar dari meja makan untuk mengantarkan Aditya yang hendak berangkat kerja.


"Dit!! Uang nya mana?!" Bu Eli berteriak memanggil Aditya.


"Minta pada Rania saja, Bu. Kapan lagi Ibu dan adik-adik menyicipi uang hasil keringatnya?"

__ADS_1


"Nggak bisa gitu dong, Dit!! Kami ini tanggung jawab kamu, bukan tanggung jawab Rania!!"


Aditya seketika saja menghentikan langkahnya mendengar ucapan bu Elu, lalu menghadapkan tubuh pada bu Eli. Wajahnya dipasang sangat serius kali ini.


"Aku sedang malas membahas semua ini sekarang, Bu. Nanti malam, kita akan bahas semuanya sampai tuntas. Tentang hak dan kewajibanku sebagai suami, juga soal hak dan kewajiban kedua perempuan yang menyandang status sebagai istriku!"


Aditya menatap bu Eli dengan tajam sambil menahan geram. Sepertinya dia sudah mulai tak nyaman dengan kehadiran bu Eli dan kedua adik Rania yang manja.


"Nikmati saja sarapan buatan anak Ibu yang berpendidikan serta bermartabat itu!! Kasihan dia sudah bangun pagi-pagi untuk menyiapkan semuanya. Permisi!!"


Aditya kembali melanjutkan langkah keluar rumah ditemani Putri, sementara bu Eli sudah terdiam karena takut melihat ekspresi serius yang ditunjukkan Aditya kepadanya. Bu Sukma bangkit dari duduk, lalu keluar dari meja makan sambil membawa piring bekas makannya, Putri dan juga Aditya.


"Bu...."


Bu Eli menoleh dan menatap Salma sebentar, lalu menoleh untuk menatap Rania.


"Kasih adikmu uang untuk beli sarapan, Ran!! Ini semua gara-gara kamu!! Pakai sok-sokan masak segala!! Udah jelas kamu nggak bisa masak!! Hehhhhh!!"


Rania meraih tas kerjanya dan mengeluarkan donpet dari dalam tas. Setelah itu, ditariknya selembar uang dua puluh ribu, lalu diberikannya pada Salwa.


"Nih!! Kembaliannya jangan lupa kasihkan ke Mbak!!"


Bu Eli melotot menatap uang dua puluh ribu yang diserahkan Rania kepada sang adik.


"Nasi uduk lengkap sebungkus sepuluh ribu!! Itu aja masih kurang!! Kamu malah ngarepin kembalian!! Tambah lagi uangnya!! Dasar pelit!!"


Rania mencibir kesal pada sang ibu, uang dua puluh ribu kembali dimasukkan ke dalam dompet, berganti dengan selembar lima puluh ribuan.


"Nih!! Kem...."


"Nggak ada kembalian!! Beli empat bungkus nasi uduk, lebihnya belikan gorengan!! Cepat, Wa!!"


Bu Eli lekas memotong kalimat Rania, membuat Rania menjadi bertambah kesal. Salma dan Salwa gegas bangkit dari duduk dan berjalan keluar rumah untuk membeli nasi uduk di depan gang.


"Baru uang segitu aja udah perhitungan!! Pantas Aditya marah kepadamu, Ran!! Jangan-jangan apa yang dibilang Aditya selama ini benar, kalau anak yang kau kandung bukan anaknya!! Iya?!"


Wajah Rania seketika pucat pasi, kedua matanya melotot menatap sang ibu. Bu Sukma yang baru muncul dari dapur seketika saja menghentikan langkah, beliau ingin mendengar pengakuan dari Rania. Putri yang baru saja kembali dari teras pun ikut menghentikan langkah. Tiga pasang mata menatap lurus pada Rania, membuat Rania semakin ketakutan dan juga gugup.

__ADS_1


______________________________________________


Eits... Klik jempol dan kasih komentar cantiknya juga dong, kakak... Terima kasih....


__ADS_2