
"Apa yang kau lakukan di sana?!"
Rania tersentak dari diamnya, lalu berbalik badan perlahan untuk menghadapkan tubuh ke arah wanita yang baru saja memberikan pertanyaan kepadanya. Kedua mata wanita itu melotot marah menatap Rania.
"Masuk ke kamarmu!!"
Rania menggeleng-geleng cepat, air mata jatuh berderai membasahi kedua pipinya yang mulus. Wanita tadi langsung melangkah besar dan cepat untuk mendekati Rania, kemudian menyambar tangan Rania dan menarik tubuh tinggi semampainya dengan kasar. Tubuh Rania tersentak, lalu melangkah maju mengikuti tarikan tangan wanita yang sudah melahirkannya ke dunia... Bu Eli.
"Bb-Bu... Hiks."
"Diam kau!! Ayo cepat masuk ke kamarmu!!"
Keduanya langsung masuk ke kamar, lalu pintu kamar pun ditutup dengan kasar.
Brakkk!!
*
Seperti biasa, Putri sudah bangun di pagi hari sebelum semua penghuni rumah terjaga dari mimpi. Segera dia membersihkan tubuh, lalu berpakaian dan beranjak ke dapur untuk memasak nasi dan menyediakan bumbu masakan yang akan diolahnya untuk sarapan nanti. Setelah selesai, Putri kembali ke kamar dan membangunkan Aditya untuk bersiap-siap shalat di mesjid.
Setelah melaksanakan ibadah shalat subuh bersama mertuanya, barulah Putri mengolah bahan masakan untuk dijadikan sarapan. Sementara sang mertua membuka lebar semua pintu dan jendela yang ada di rumah untuk membiarkan udara pagi yang sejuk masuk ke rumah. Rutinitas pagi seperti ini sudah berlangsung sejak kehadiran Putri dan bu Sukma di rumah milik Aditya, sehingga rumah terasa lebih segar dan nyaman untuk ditinggali.
*
"Ini, Mas."
"Terima kasih, Dik."
Rania melirik kesal ke arah Putri yang tak pernah melepaskan senyum dari wajahnya. Rambut panjang Putri tergerai indah dan basah, membuat api di dada Rania semakin berkobar. Bu Eli yang menyadari sang putri tengah menatap adik madunya dengan tatapan kemarahan, menyenggol lengan sang putri agar menurunkan tatapan marahnya itu. Rania mendengus kesal, namun tetap patuh melakukan apa yang diminta bu Eli.
"Aditya!!"
Panggilan bu Eli membuat semua penghuni meja makan menghentikan kegiatan makannya sebentar, kecuali Rania. Aditya, Putri dan bu Sukma, menatap bu Eli secara bersamaan.
"Aku dan Rania sudah memutuskan untuk memberikan izin kepadamu menikahi Putri dan membawa istri mudamu itu tinggal di rumah ini."
Bola mata bu Sukma berputar-putar malas mendengar kalimat yang disampaikan bu Eli, beliau kemudian melanjutkan kegiatan sarapannya, tak peduli pada kalimat apa pun yang nantinya akan menyusul di belakang kalimat barusan. Putri juga sudah kembali menunduk untuk melanjutkan menghabiskan sarapannya. Hanya Aditya saja yang masih menatap bu Eli, menunggu kelanjutan kalimat tadi.
"Dengan syarat, kau harus membelikan rumah baru yang lebih bagus dari rumah ini untuk tempat tinggal Rania, aku dan kedua anak perempuan ku yang lain. Sore ini keduanya akan tiba di sini, besok aku mau kau sudah menyediakan tempat tinggal untuk kami bertiga." Bu Eli menjeda kalimatnya untuk menarik oksigen baru. Aditya masih menatapnya dengan tenang, sekalipun dadanya sudah bergemuruh hebat.
__ADS_1
"Setelah itu, kau daftarkan dua adik Rania ke kampus terbaik dan mahal di kota ini! Ingat!! TERBAIK DAN MAHAL!! Aku nggak mau anakku belajar di kampus biasa-biasa saja. Anak-anakku harus menjadi orang sukses dan bermartabat!!"
Bu Eli memberikan penekanan pada kalimat terakhir yang disampaikannya, sambil melirik Putri yang masih menunduk menatap piring makannya.
Sementara itu, Putri menghela nafas panjang untuk menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Tiba-tiba saja perutnya terasa tak enak, nafasnya pun terasa sangat pendek, membuat kepalanya pusing dan pandangannya berputar-putar.
"Kemudian...."
"Pakai uang siapa, Bu? Maaf kalau aku menyela ucapan Ibu. Ibu minta aku membelikan rumah mewah untuk kalian tempati berempat, lalu menguliahkan si kembar ke kampus terbaik dan mahal. Siapa yang akan mengeluarkan uang untuk itu semua?" Adit lekas memotong kalimat bu Eli, sudah tak bisa menahan muak di hatinya lagi.
"Ya kamu, lah!! Kan kamu yang menikah lagi!! Kamu juga kepala keluarganya!! Memangnya pakai uang siapa?! Tidak hanya itu!! Ada lagi!! Si kembar tidak terbiasa naik angkutan, apa lagi ojek motor. Jadi...."
"UWEEEKKKKKK!!!"
"UWEEEKKKKKK!!!"
Putri dan Rania sama-sama bangkit dari kursi masing-masing, lalu bergegas lari menuju kamar masing-masing. Aditya melotot kaget melihat sikap dua perempuan itu, begitu juga bu Sukma dan bu Eli.
"Dik!!"
"Putri!!"
Aditya dan bu Sukma ikut bangkit dan berlari menyusul Putri, sementara bu Eli bangkit dan berlari untuk menyusul Rania.
*
"KAU HARUS BERSIKAP ADIL, DIT!! INGAT!! RANIA JUGA ISTRIMU!!"
Sudah satu jam lamanya bu Eli mengomeli Aditya, beliau menganggap kalau laki-laki itu sudah bersikap tidak adil pada putrinya.
Aditya dan bu Sukma tadi langsung membawa Putri ke rumah sakit untuk memeriksakan kesehatannya, sementara Rania diacuhkannya saja. Terlebih begitu tahu kalau ternyata Putri sedang hamil. Aditya dan bu Sukma begitu bahagia mendapatkan kabar tersebut. Keduanya sama sekali tak bertanya apa lagi mengkhawatirkan keadaan Rania. Itu lah kenapa bu Eli jadi murka dan mengomel panjang lebar.
"Permisi, Pak Adit."
Seorang perempuan berpakaian seragam putih-putih keluar dari kamar Rania. Dia adalah seorang bidan dari puskesmas pembantu yang ada di dekat tempat tinggal Aditya. Aditya terpaksa memanggil bidan tersebut ke rumahnya untuk memeriksakan keadaan Rania, karena capek mendengar omelan bu Eli. Tapi, bukannya berhenti mengomel, bu Eli ternyata masih melanjutkan lagi omelannya hingga saat sebelum bidan keluar dari kamar Rania.
Aditya bangkit dan tersenyum sopan kepada bu bidan. "Ya, Bu... Bagaimana keadaannya?"
Bidan tersebut membalas senyuman Aditya dengan sopan juga.
__ADS_1
"Selamat, Pak Adit... Bu Rania positif hamil."
Aditya langsung tercekat, bola matanya melotot karena kaget. Setelah sekian lama menunggu kabar kehamilan Rania, akhirnya dia mendapatkan kabar itu juga sekarang. Masalahnya, Aditya sudah hampir dua tahun tidak menyentuh Rania, apa lagi berhubungan badan. Bagaimana dia tidak shock mendengar kabar kehamilan perempuan itu?
Setelah selesai menjelaskan beberapa hal soal kehamilan dan memberikan resep vitamin untuk Rania kepada bu Eli, bidan tersebut berpamitan untuk kembali ke tempat dia bekerja. Bu Eli mengantarkannya hingga ke teras.
"Nah!! Bagaimana sekarang? Kau pastinya bingung, kan? Kau pikir anakku tidak bisa hamil?! Lihat sekarang, dia hamil!! Kedua istrimu hamil dan kau harus bersikap adil pada keduanya!! Bingung kan kau?!" Bu Eli melanjutkan mengomel setelah kembali masuk ke rumah.
Aditya membalas tatapan penuh amarah bu Eli dengan cara yang sama, berkilat penuh amarah juga.
"Ibu benar... Aku memang sedang bingung," ucap Aditya dengan penuh penekanan.
"Makanya!! Jadi laki-laki itu jangan serakah!! Cukup punya satu istri saja!! Bahagiakan satu istrimu!! Cukupkan kebutuhannya!! Bersyukur!! Ini malah menikah lagi!! Kalau udah begini, kamu sendiri yang bingung, kan?!"
Bu Eli masih saja lanjut mengomel, Aditya memejamkan mata sesaat untuk menekan amarahnya yang sudah menuntut untuk diledakkan.
"Justru yang membuat aku bingung itu, KENAPA ANAK IBU BISA HAMIL?! SEMENTARA KAMI TIDAK PERNAH MELAKUKAN HUBUNGAN SUAMI ISTRI SELAMA DUA TAHUN! BAHKAN KAMI SUDAH SETAHUN PISAH RANJANG!! BAGAIMANA CARANYA ****** KU BISA MASUK KE RAHIM ANAK ANDA KALAU TIDUR SAJA KAMI TERPISAH?! BAGAIMANA, BU?! TOLONG BANTU JELASKAN!!"
Aditya berteriak sekuat tenaga untuk melepaskan rasa kecewa dan amarahnya, bu Sukma seketika saja muncul dari balik pintu kamar Aditya, karena kaget mendengar putranya itu berteriak sangat kencang. Bu Eli langsung terdiam. Beliau shock mendengar teriakan Aditya sekaligus juga shock mendengar kenyataan tentang hubungan sang putri dengan menantunya itu.
"NG-NGGAK!! KAU PASTI SEDANG BERBOHONG!!"
Bu Eli menolak percaya, hatinya menolak kenyataan kalau anaknya saat ini sedang hamil anak orang lain, bukan anak Aditya.
"OK!! Kalau begitu, mari kita tanyakan putri Ibu!! Apa kah saya berbohong atau tidak?! AYO!!"
Aditya melangkah kasar melewati tubuh bu Eli, tujuannya saat ini adalah kamar yang dulunya dia tempati bersama Rania. Tapi, sudah setahun lamanya Aditya tak menginjakkan kaki ke kamar tersebut.
Aditya mendorong pintu kamar dengan kasar, Rania melonjak kaget dibuatnya. Wajah wanita itu sudah basah berurai air mata, wajahnya pucat pasi, tatapannya menunjukkan ketakutan yang berlebih.
"Mmas...."
Aditya melanjutkan langkah mendekati ranjang yang ditempati Rania, kedua matanya melotot merah karena marah.
"Cepat katakan!! Anak siapa yang ada di rahimmu itu?!"
______________________________________________
Kira-kira, Rania akan mengaku nggak, ya?
__ADS_1
Mohon dukungannya untuk karyaku ini kakak-kakak reader yang baik hati... Agar aku semakin semangat berkhayal dan menuangkannya menjadi cerita yang bisa dinikmati... Terima kasih...