Menikahi Janda Tetangga

Menikahi Janda Tetangga
Cahaya di Wajah Aditya


__ADS_3

Untuk yang kesekian kalinya, Rania keluar dari kamar, melangkah ke ruang tamu, lalu mengintip keluar rumah lewat jendela kaca di samping pintu. Sudah pukul sepuluh malam, tapi Aditya dan Putri belum kembali juga. Rania yang sudah sedari tadi mempersiapkan diri untuk menyambut kepulangan sang suami, berkali-kali berdecis kesal karena sampai saat ini suaminya juga belum pulang.


"Kenapa kamu?"


Rania melonjak kaget, tak menyangka kalau ibu mertuanya sudah berdiri di belakangnya sambil menatap bingung.


"Sudah jam sepuluh, Mas Adit belum pulang juga. Kemana sih mereka?!"


Bu Sukma memutar-mutar bola matanya, merasa geli sendiri melihat sikap sang menantu yang tiba-tiba saja sok perhatian. Hampir tiga minggu Aditya berada di kampung kemarin, belum sekalipun menantunya ini menghubungi anaknya untuk menunjukkan perhatian. Tapi malam ini, dia tiba-tiba saja berubah.


"Ponselnya Mas Adit juga nggak aktif... Ishhhh!! Apa jangan-jangan...."


Rania sengaja menggantung kalimatnya, untuk membuat bu Sukma penasaran.


"Jangan-jangan apa?!"


Rania berhasil, bu Sukma langsung mempertanyakan kelanjutan kalimatnya.


"Jangan-jangan mas Adit di begal? Jangan-jangan si Putri itu sudah bekerja sama dengan para preman, lalu...."


"Halu mu kejauhan!! Udah!! Tidur aja sana!! Mereka nggak pulang malam ini!!"


Rania melotot kaget, rencana untuk membuat mertuanya berpikiran buruk tentang Putri, gagal total. Malahan, sang mertua sudah memberikan kejutan lain kepadanya.


"Kenapa mereka nggak pulang?! Kemana mereka pergi?!"


Rania melangkah cepat mengejar bu Sukma, yang sudah melangkah menuju kamarnya, dia ingin segera tahu kemana perginya sang suami dan istri mudanya itu, sebelum bu Sukma masuk ke kamar. Bu Sukma berbalik badan dan menatap Rania.


"Bulan madu, lah!! Mereka kan pengantin baru! Wajar dong mereka pergi berbulan madu!! Memangnya kamu!! Heh!! Menjijikkan!!"


Bu Sukma lekas masuk ke kamar, menutup pintu, lalu menguncinya dari dalam, takut diamuk Rania karena kata-katanya tadi.


Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Rania hanya diam, terpaku di depan pintu kamar yang ditempati bu Sukma. Rasa sakit menyelusup masuk ke dadanya, membayangkan apa yang sedang dilakukan sang suami dengan istri mudanya saat ini.


"Tega kamu, Mas." Rania menggerutu pelan tanpa ekspresi. Langkahnya berbelok ke arah kamarnya sendiri.


*


Bu Sukma tersenyum lebar menyambut kepulangan anak dan menantunya. Pancaran sinar di wajah Aditya yang tersenyum lepas, membuatnya tertawa kecil karena bahagia. Wajah Aditya terlihat sangat bersih dan bercahaya.


"Bu."


Aditya menyapa sang ibu, kemudian meraih tangan beliau dan sedikit membungkukkan tubuh untuk mencium tangan tersebut dengan takzim. Putri juga melakukan hal yang sama setelah Aditya menegakkan tubuh dan menjatuhkan bobot tubuhnya di sofa, tepat di samping ibu.


Putri kemudian berpamitan untuk segera masuk ke kamar, bu Sukma menoleh dan menatap wajah Aditya dari samping. Senyum di wajah anaknya sudah menjadi bukti kalau semalaman kedua pengantin baru itu melakukan hal-hal yang membahagiakan.


"Gimana? Mantap, kan?"


Aditya melonjak kaget, lekas menoleh dan menatap sang ibu. Kedua alis mata bu Sukma bergerak turun naik untuk membercandai sang putra. Aditya tertawa melihat ekspresi bu Sukma yang menurutnya lucu.


Puas tertawa terbahak-bahak, Aditya menempelkan tubuhnya dengan manja pada sang ibu.


"Terima kasih, Bu."


Bu Sukma mengernyitkan kening, bingung mendengar ucapan terima kasih yang diucapkan anaknya.


"Terima kasih untuk apa?" Tanya bu Sukma.


"Untuk memilihkan pasangan yang tepat," jawab Aditya. Bu Sukma tersenyum jumawa.


"Feeling seorang Ibu tidak pernah salah, Nak."


Aditya menatap serius wajah ibunya.


"Apakah Ibu juga sudah punya feeling, saat aku mengenalkan Rania dulu?"


Bu Sukma menghela nafas panjang, lalu menghembuskannya perlahan.


"Sudah," jawab bu Sukma. Giliran Aditya yang menghembuskan nafas dengan lambat.


"Tapi dia adalah pilihanmu saat itu. Ibu tak mau mengganggu pilihanmu," lanjut bu Sukma.

__ADS_1


"Meskipun begitu, Ibu tak pernah berhenti berdoa dan meminta kepada Tuhan untuk membuktikan kalau feeling Ibu tentangnya salah."


Bu Sukma kembali menghela nafas berat.


"Tapi yang Tuhan tunjukkan justru sebaliknya."


Aditya merebahkan kepala di pangkal lengan bu Sukma, lalu mengusap-usap punggung tangan yang sudah berkeriput milik ibunya itu.


*


Rania keluar dari kamar saat jam makan siang. Dengan pakaian lengkap bak seseorang yang ingin pergi dan make up tebal yang selalu menutupi wajah aslinya. Rania melangkah angkuh melewati ruang makan.


"Halo... Iya, sayang. Aku segera keluar."


Rania berpura-pura sedang menjawab telepon dari seseorang, berniat memanas-manasi Aditya.


"Mas!! Aku keluar dulu, mau refreshing!! Mungkin pulang agak telat," ucap Rania pada sang suami. Berharap Aditya akan marah dan bertanya kemana dia akan pergi, tapi yang terjadi malah jauh panggang dari api.


"Hmmmmm." Hanya itu respon Aditya.


Rania menghentakkan kakinya dengan keras, kesal melihat respon sang suami yang tak peduli. Setelah itu, Rania melangkah meninggalkan ruang makan, untuk pergi menemui kekasihnya... Aji.


*


Pagi menjelang, Aditya, Putri dan bu Sukma, sedang menikmati sarapan bersama di ruang makan, saat pintu rumah dibuka dengan kasar dari luar. Ketiganya terperanjat kaget, lalu sama-sama menoleh ke arah pintu utama yang masih bisa dilihat dari ruang makan.


Rania yang baru masuk, berjalan dengan langkah kasar dan lebar. Wajahnya cemberut menunjukkan kekesalan, entah kesal untuk apa. Aditya, Putri dan bu Sukma mengacuhkannya, kemudian melanjutkan kegiatan sarapan yang tadi sempat terhenti sejenak.


"ASSALAMMUALAIKUM!! RANIA!! RANIA SAYANG!!"


Teriakan salam terdengar dari luar rumah, Aditya sangat mengenal pemilik suara teriakan tersebut.


Brakkk!!


"WAALAIKUMSALAM!!"


Rania yang keluar dari kamar, membuka pintu kamarnya dengan kasar dan melangkah cepat untuk menyambut kedatangan perempuan yang tadi berteriak-teriak dari luar.


"Siapa, Dit? Mertuamu, ya?" Bu Sukma bertanya dengan nada pelan.


"Iya, Bu."


Bu Sukma kemudian menghela nafas berat, dia tahu ini akan menjadi hari yang sangat panjang dan berat bagi mereka semua, terutama Aditya. Meski jarang bertemu dengan sang bisan, bu Sukma sudah paham benar bagaimana karakter wanita bernama Eliyanti tersebut.


"Ya sudah... Tenang saja. Sepertinya kamu belum bisa ke kantor hari ini, Dit. Minta lah izin pada pimpinanmu sekarang," ucap bu Sukma menyampaikan saran.


"Iya, Bu."


Adit bangkit dan berjalan menuju kamarnya. Rencananya adalah meminta bantuan kepada Aryo untuk meyakinkan si bos kalau dia sedang sakit, sehingga tak bisa datang ke kantor.


"Tebalkan telingamu, Put. Kuatkan dadamu! Wanita yang baru datang itu, mulutnya sepedas cabe rawit domba satu kilo!"


Bukannya merasa takut, Putri malah tertawa kecil mendengar kalimat yang disampaikan ibu mertuanya. Bu Sukma melotot kesal, untuk menunjukkan kalau beliau serius dengan apa yang diucapkannya tadi.


"Iya, Bu... Ibu tenang aja," ucap Putri dengan santai.


*


Bola mata bu Eli membulat sebesar jengkol, dadanya turun naik menahan amarah. Di sampingnya Rania duduk menempelkan tubuh pada tubuh beliau, sambil menangis drama. Bu Sukma mencibir melihat tingkah menantunya itu.


"APA MAKSUD SEMUA INI, ADITYA?! KENAPA KAU BERANI SEKALI MENYAKITI ANAKKU?!"


Aditya memejamkan mata untuk membuat telinganya kuat mendengar lengkingan suara bu Eli.


"PANTAS SAJA KAU TAK LAGI MENUNTASKAN KEWAJIBANMU PADA KAMI!! RUPA-RUPANYA, SUDAH ADA PEREMPUAN INI!! DASAR PELAKOR JAHAN**! WANITA SUND** MURAH**!! MATI SAJA KAU SANA!!"


"Astaghfirullahhaladzim!!" Bu Sukma lekas beristighfar sambil memegangi dada. Selain karena dadanya sakit mendengar ucapan-ucapan kasar dari bu Eli, suara wanita itu juga membuat jantung bu Sukma berdegup sangat keras.


"Hati-hati kalau bicara, Bu. Putri ini adalah istriku," ucap Aditya dengan nada penuh penekanan. Sebisa mungkin dia menahan diri untuk tidak melakukan hal-hal kasar pada mertuanya itu.


"RANIA JUGA ISTRIMU!! APA KAU LUPA?!" Lagi-lagi bu Eli bicara dengan nada yang memekakkan telinga.

__ADS_1


"Tidak, Bu. Aku tidak lupa. Setidaknya, hargailah orang yang baru Ibu kenal."


"HARGAI KATAMU!! CUIHHH!!"


Bu Eli melemparkan ludahnya ke sembarang tempat, mendarat sempurna di gorden berwarna coklat gelap. Bu Sukma melotot menatap ludah bu Eli yang bertengger manja di kain gorden tersebut, seakan-akan ludah itu sedang menjulurkan lidah kepadanya.


"PELAKOR MACAM DIA TAK PANTAS UNTUK DIHARGAI!! WANITA TAK LAKU YANG HANYA INGIN MENGANGKANGI HARTA-HARTAMU!! AKU YAKIN DIA TAK PUNYA PEKERJAAN, TAPI INGIN HIDUP ENAK TANPA BERUSAHA!! MAKANYA DIA MEMILIH JADI PELAKOR!!"


Aditya menggeram, kedua tangannya mengepal erat di atas lengan sofa.


"KENAPA?! KAU TAK TERIMA KALAU PEREMPUAN INI AKU SEBUT PELAKOR?! IYA?! HEH!! KATA APA LAGI YANG PANTAS DISEBUTKAN UNTUK MEWAKILI PEREMPUAN-PEREMPUAN PEREBUT SUAMI ORANG?! BINAT***?! ANJI**?! ATAU...."


"SUDAH, BU!! CUKUP!!"


Aditya bangkit dari duduk, kemudian menatap ibu mertuanya dengan nyalang. Adu tatapan berlangsung untuk beberapa menit, antara Aditya dengan bu Eli.


"Sekarang aku balik bertanya pada Ibu!! Kata apa yang pantas untuk disematkan pada perempuan bersuami YANG TIDUR DENGAN LAKI-LAKI YANG BUKAN SUAMINYA?!"


Rania lekas mengangkat kepala, tak percaya kalau Aditya akan mengatakan hal itu kepada bu Eli, ibunya sendiri.


"MAS!!"


"DIAM, KAU!!"


Bibir Rania bergetar, kedua matanya seketika terasa panas, air mata yang sesungguhnya akhirnya keluar juga.


"SIAPA YANG TIDUR DENGAN LAKI-LAKI LAIN?! ANAKKU?! HEH!! TIDAK MUNGKIN!! JANGAN MENJELEK-JELEKKAN ANAKKU DEMI MEMBELA PELAKOR MURAHAN ITU!!"


"ANAKKU PEREMPUAN BERMARTABAT DAN TERPELAJAR!! BUKAN PEREMPUAN KAMPUNG YANG HAUS KEKAYAAN MACAM PEREMPUAN ITU!"


Aditya kembali mengepal kedua tangannya untuk menahan diri.


"OK!! Akan aku tunjukkan siapa sebenarnya anak perempuanmu ini, Bu! Setinggi apa martabatnya?! Setelah ini, aku ingin lihat. Masih bisakah Ibu merasa bangga pada anak perempuan Ibu ini?!"


"Assallammualaikum!"


Lima orang dewasa penghuni ruang tamu menoleh bersamaan ke arah pintu. Dua orang pria dan dua orang wanita sedang berdiri di ambang pintu, menunggu untuk dipersilahkan masuk.


"Waalaikumsalam!! Silahkan masuk, Pak... Buk."


Empat orang tersebut melangkah masuk, Putri segera bangkit dari duduk, agar sofa di ruang tamu cukup menampung semua tamu yang datang.


"Mas!! Kenapa harus memanggil mereka?!"


Rania panik, wajahnya seketika pucat pasi melihat empat tamu yang baru saja datang.


"Karena hanya beliau-beliau ini lah yang bisa memberikan bukti kepada Ibumu, siapa kamu sebenarnya!!"


"Tapi, Mas...."


"SUDAHLAH, RANIA!! TENANG SAJA!! IBU AKAN SELALU MENDUKUNGMU!! APA PUN YANG AKAN MEREKA KATAKAN TENTANGMU, IBU TIDAK PEDULI!! IBU TAHU KALAU INI HANYA AKAL-AKALAN SUAMIMU SAJA!! MEREKA INI SEDANG BEKERJA SAMA MENDUKUNG KEJAHATAN!!"


Empat tamu yang tak lain adalah para tetangga Aditya, mereka adalah saksi kejadian penggerebekan malam itu. Mereka masing-masing masih menyimpan bukti video kejadian, mulai dari saat Rania masuk ke rumah bersama Aji, hingga saat Aji diusir paksa dari daerah tersebut.


"Mohon maaf, Pak Adit. Sepertinya kehadiran kami tidak akan memberikan pengaruh apa-apa."


Salah satu tetangga mulai buka suara, sambil menahan geram karena melihat sikap bu Eli.


"Benar, Pak Adit. Ibu ini sendiri sudah bilang kalau dia tidak akan percaya pada bukti apa pun yang akan kami tunjukkan. Jadi, percuma saja, bukan? Lebih baik kami pulang saja." Salah seorang ibu-ibu yang bertamu ikut buka suara. Aditya menghela nafas panjang, lalu menghembuskannya dengan sangat perlahan.


"Sebentar, Pak... Buk. Saya masih butuh kehadiran bapak-bapak dan Ibuk-ibuk, untuk menjadi saksi atas apa yang akan saya lakukan," cegah Adit cepat.


Adit menghadapkan tubuh pada Rania, lalu menatap tajam penuh kemarahan pada perempuan tersebut.


"Rania Amanda!! Aku jatuhkan...."


Tiba-tiba saja tubuh Rania lemas, kemudian luruh dan jatuh ke lantai. Kepalanya membentur ujung meja sebelum akhirnya mendarat di lantai dengan sempurna.


"RANIA!! RAN!! RANIA!!


_____________________________________________

__ADS_1


Apa yang terjadi pada Rania, ya? Apakah dia benar-benar pingsan, atau hanya pura-pura?


Ikuti terus ceritaku ini ya, kakak-kakak reader... Mohon dukungannya dengan klik tanda jempol dan comment manis di setiap bab... Terima kasih...


__ADS_2