
Selepas shalat isya dan makan malam, seperti yang sudah direncanakan pagi tadi, semua penghuni rumah berkumpul di ruang tamu termasuk juga si kembar Salma dan Salwa yang baru datang.
"Langsung saja... Tujuanku mengumpulkan semua penghuni rumah malam ini adalah untuk menjelaskan beberapa hal." Aditya langsung menyampaikan maksudnya mengajak semua penghuni rumah berkumpul malam ini, tanpa basa basi.
"Put... Ini uang untuk biaya rumah tangga, jumlahnya sepuluh juta. Ini sudah termasuk uang makan, listrik, air dan semua iuran wajib bulanan. Mas serahkan ke kamu, tolong atur dengan sebaik-baiknya, ya... Maaf kalau jumlahnya hanya segini. Tapi, kapan pun kamu butuh tambahan uang belanja, sampaikan ke Mas."
Aditya menyerahkan amplop coklat tebal tersebut pada Putri.
"Astaga, Dit!! Dia itu istri kedua!! Kenapa biaya rumah ini diserahkan ke dia?! Seharusnya, Rania lah yang berhak mengatur!! Bukan dia!!"
Belum lagi amplop tadi berpindah tangan, bu Eli sudah mulai protes. Aditya menggeram sambil menolehkan wajah pada ibu mertuanya itu.
"Apa anak Ibu bisa masak?!" Tanya Aditya dengan nada penuh penekanan. Bu Eli langsung terdiam mendengar pertanyaan Aditya.
"Enam tahun kami bersama, yang bisa dia siapkan untukku dengan tangannya sendiri hanya secangkir kopi saja. Itu pun hanya di awal-awal pernikahan, selebihnya tidak lagi, hingga hari ini. Apa Ibu mau menikmati makanan hangus seperti yang tadi pagi disiapkan oleh anak Ibu?!"
"NGGAK!!"
Bu Eli menoleh untuk menatap si kembar yang merampas jawaban dari pertanyaan Aditya.
"Aku juga tidak!! Makanya aku memberikan tanggung jawab ini pada Putri, bukan pada Rania, sambung Aditya.
"Dan untuk semua penghuni rumah, tidak ada yang protes dengan makanan apa pun yang disiapkan Putri! Uang sepuluh juta itu tidak banyak, apa lagi kalau harus mengikuti keinginan lambung-lambung angkuh orang biasa yang sok kaya!! Bagi yang tidak suka dengan makanan yang disediakan Putri, silahkan beli sendiri, pakai uang sendiri!! Atau kalau perlu, keluar dari rumah ini agar beban rumah tangga ku sedikit berkurang!!"
Bu Eli dan Rania melotot kesal menatap Aditya, tapi Aditya tak peduli. Bukannya Aditya tidak tahu akal licik Rania dan ibunya. Enam tahun sudah cukup bagi Aditya untuk mengenali semua anggota keluarga Rania beserta sifat aslinya sekalian. Aditya mengantisipasi penolakan-penolakan yang akan diajukan Rania dan keluarganya nanti untuk mengerjai Putri dan membuat uang sepuluh juta itu habis sebelum waktunya.
Putri menerima amplop yang diberikan Aditya kepadanya sambil mengulas senyuman, lalu meletakkannya di pangkuan.
"Ini nafkah pribadi untuk Putri dan Rania, jumlahnya sama, lima juta rupiah."
Aditya meletakkan amplop untuk Putri dan Rania di atas meja, tepat di hadapan keduanya. Putri meraih amplop tersebut dan mengucapkan terima kasih pada Aditya, lalu menumpuknya bersama dengan amplop yang pertama, sedangkan Rania masih melotot tak terima.
"Bisa apa aku dengan uang segitu, Mas?! Kamu jangan seenak-enaknya memotong hak ku dong!! NGGAK MAU!! Kembalikan hakku seperti semula!! Sepuluh juta!!" Sahut Rania, bu Eli mengangguk setuju dengan mata menatap sinis pada Aditya.
__ADS_1
"Kau pikir aku peduli?!"
Rania melotot kaget mendengar ucapan Aditya.
"Mas...."
"Aku nggak peduli apakah uang itu cukup atau tidak!! Toh selama ini kau pun tak pernah menjalankan kewajibanmu sebagai istri, bukan? Kalau kemarin-kemarin aku diam saja, sekarang tidak lagi!! Kalau kau tak mau menerima uang segitu, aku akan ambil uang itu dan menyerahkan semuanya pada Putri, karena dia lah yang menjalankan tugas sebagai istri sepenuhnya! Bahkan dia melakukannya dengan sangat baik, TIDAK SEPERTI KAU!! Bagaimana?!"
Rania lekas memajukan tubuh dan segera menyambar amplop yang berada di hadapannya. Ekspresi serius Aditya tak bisa dianggapnya enteng, Rania tak mau kehilangan haknya sekalipun itu hanya lima juta. Sudah dua bulan dia tak menerima uang dari Aditya, yang akhirnya menjadi pemicu pertengkarannya dengan Aji beberapa waktu lalu, hingga akhirnya laki-laki itu pergi meninggalkannya dan tahu dimana rimbanya sampai hari ini. Aditya diam sambil menatap Rania yang membawa amplop coklat berisi uang lima juta yang dia berikan, ke dalam pelukan.
"Ini untuk Ibu dan ini untuk Ibu mertua."
Aditya menyerahkan masing-masing satu amplop pada bu Sukma dan bu Eli.
"Ini untuk Salma dan Salwa," lanjut Aditya lagi. Si kembar lekas meraih amplop yang diberikan Aditya kepada mereka sambil tersenyum.
"TIGA JUTA?! KAMU MEMBERI IBU HANYA TIGA JUTA?! NGGAK MAU!!"
"Astaghfirullahaladzim!!"
Putri dan bu Sukma mengucapkan istighfar bersama-sama melihat sikap kasar bu Eli.
"Dari sepuluh juta sebulan, turun jadi tiga juta!! Kau pikir aku ini apa?!"
Aditya menatap nyalang pada sang mertua, kedua tangannya menggenggam erat menahan amarah.
"Lihat bedanya Ibu dengan Ibuku... Lihat, kan?!"
Bu Eli mendengus kesal, belum habis kesalnya karena uang bulanan yang jauh berkurang, sekarang harus dibanding-bandingkan pula dengan sang bisan.
"Tanpa membuka amplop, tanpa menghitung berapa isinya, beliau mengucapkan terima kasih dengan tulus. Jatah beliau pun aku potong, jumlahnya sama, tiga juta, tapi beliau tidak mempermasalahkan hal itu sama sekali."
"Sementara anda, Ibu mertuaku yang terhormat. Sudah enam tahun saya patuh pada istri dengan memberikan uang sepuluh juta setiap bulannya untuk anda, saya kurangi bulan ini karena toh anda dan dua putri anda yang lain sudah tinggal bersama di rumah ini. Anda tidak perlu memikirkan uang belanja atau apa pun lagi. Uang tiga juta itu bisa anda gunakan untuk keperluan anda pribadi. Si kembar juga tak perlu mengganggu jatah bulanan anda karena mereka sudah saya beri jatah juga. Sebenarnya saya rugi banyak dengan kehadiran anda dan si kembar, tapi saya tidak mempermasalahkan hal itu. Tapi justru anda yang tak terima, malah minta diberi penuh seperti dulu!! TIDAK BISA!!"
__ADS_1
Aditya bangkit berdiri, lalu meraih amplop coklat yang dilemparkan bu Eli tadi. Setelah itu, Aditya menggenggam amplop tersebut di tangannya.
"Saya sudah berusaha bersikap adil soal uang, hanya segitu lah kemampuan saya. Jika Ibu berharap lebih, Ibu bisa carikan suami baru untuk Rania... Saya akan dengan senang hati melepaskannya."
Bu Eli mendadak pucat mendengar ucapan Aditya, matanya masih melotot tak percaya menatap menantu yang selama ini jadi ATM bernyawa buatnya.
"Terakhir... Pembagian seperti ini hanya berlaku sampai anak yang ada di dalam kandungan Rania lahir. Setelah anak itu lahir, aku akan segera menceraikan Rania dan kalian semua bisa kembali ke kampung.
Bu Eli membuka mulut untuk bicara, tapi Aditya lekas mencegahnya untuk bicara dengan cara menghadapkan telapak tangan pada bu Eli.
"Tidak usah banyak protes, Bu!! Bukankah sudah berulang kali aku katakan kalau anak yang di dalam kandungan Rania BUKAN ANAKKU!! SEKALI LAGI AKU KATAKAN, ANAK YANG ADA DI RAHIM RANIA ITU BUKAN DARAH DAGINGKU!! TERSERAH ANDA MAU PERCAYA ATAU TIDAK!!"
Salma dan Salwa terperanjat kaget mendengar bentakan Aditya, keduanya lekas menoleh dan menatap Rania, seperti sedang mempertanyakan kebenaran kalimat yang Aditya sampaikan barusan. Rania tak membalas tatapan kedua adik kembarnya, wajahnya sudah merah karena malu.
"Dengar Rania... Serapat apa pun KAU menyimpan rahasia ini dari keluargamu, suatu hari semua akan terbongkar juga!! Dan sebelum semuanya terbongkar, pastikan terlebih dahulu kalau jantung Ibumu aman!! Aku nggak mau keluar uang lagi untuk mengurusi biaya rumah sakitnya!! PAHAM?!"
Rania melonjak kaget sambil memejamkan mata, nada bicara Aditya yang tegas dan lantang sudah membuatnya benar-benar terkejut. Saat Rania membuka mata, dia hanya bisa menatap pinggung Aditya yang bergerak menjauh bersama punggung Putri dan ibu mertuanya.
"Ran...."
Rania menoleh ke samping untuk menatap sang ibu.
"Duit Ibu dibawa Adit," ucap bu Eli dengan nada lemah, Rania menghembuskan nafasnya dengan kasar.
"Lagian tadi kenapa nolak? Pakai acara lempar-lempar amplop kayak orang banyak duit," sahut Rania kesal.
"Tau nih, Ibu... Padahal lumayan kan tiga juta mah. Mau makan udah ada yang siapkan, nggak capek mikirin uang listrik, air, iuran sampah dan lainnya. Wajarlah jatah Ibu dikurangi, kan sekarang semuanya sudah diurus Mbak Putri, kita tinggal terima jadi."
Bu Eli mendesah kesal sekaligus menyesali sikapnya melempar amplop berisi uang tiga juta tadi. Sekarang, dia malah tak mendapat apa-apa jadinya.
______________________________________________
Terima kasih sebanyak-banyaknya untuk kakak-kakak reader yang sudah memberikan komen dan klik jempolnya untuk ceritaku ini... Bagi yang belum, aku masih sangat mengharapkan dukungannya, ya... Aku juga siap terima hadiah dan vote nya lho... Hehehe....
__ADS_1