
Aditya POV
Hmmmmhhh... Tak ada kata yang bisa mewakili segala nikmat Tuhan selain syukur. Menikah dua kali tak pernah terlintas di pikiranku, tapi Tuhan memberikan jalan untuk ku menikah lagi seperti sebuah hadiah atas kesabaranku menghadapi Rania dan keluarganya bertahun-tahun.
Aku tidak pernah mengenal Putri sebelumnya, bahkan saat dia menikah dengan sahabat sekaligus tetanggaku dulu, aku tidak menghadiri acaranya. Secara visual, Putri terlihat seperti perempuan dingin dan lurus-lurus saja, layaknya perempuan-perempuan yang lahir dan besar di kampung pada umumnya. Perempuan yang tidak terlalu tertarik dengan aktivitas bercinta, hanya menunggu untuk disentuh dan tak akan pernah meminta, lalu diam tanpa perlawanan di bawah keegoan seorang laki-laki saat di atas ranjang. Ternyata aku salah besar.
Putri justru adalah perempuan hangat yang selalu memberikan perhatian padaku sekecil apa pun itu. Dia mengerti ketika aku butuh pijatan lembut di punggung dan bahu saat mata dan tengkukku terasa letih menatap layar laptop. Dia juga seperti tahu kalau bercinta merupakan healing terbaik bagi pria pekerja seperti aku. Jujur saja, sejak kejadian penyatuan tubuh kami yang pertama beberapa bulan yang lalu, hingga hari ini, tak pernah aku melewatkan satu malam pun tanpa mengerang nikmat, kecuali saat itu Putri sedang mendapatkan tamu tak diundang. Bahkan tak jarang, di tengah-tengah mengerjakan pekerjaan kantor pun dia menyempatkan diri untuk memberikan kenikmatan itu dulu kepadaku. Baru lah setelah itu kami fokus pada pekerjaan kami masing-masing. Kalau sudah selesai bekerja, kami akan mengulang kegiatan itu lagi sebelum akhirnya sama-sama menutup mata untuk beristirahat.
Satu rahasia Putri yang baru saja aku dengar dari ceritanya, kalau dulunya dia dan sang suami justru sangat jarang bercinta.
"Haus kasih sayang mungkin kata yang tepat untuk menggambarkan pribadiku yang dahulu," kata Putri saat itu. Itu lah kenapa dia selalu terlihat serius, semua karena gairahnya yang panas membara sering tak terlampiaskan.
Lalu, apakah dia marah? Tidak, katanya. Hanya kecewa saja, tapi tak perlu rasanya mengambil sikap marah. Pernahkah terpikir untuk selingkuh? Tanyaku lagi saat itu, dia malah tertawa terbahak-bahak mendengar pertanyaanku, lalu setelah itu dia menjawab.
"Dosaku saja sudah cukup banyak, Mas... Sampai sekarang aku rasa semua ibadahku belum cukup untuk menutupi semua dosa yang sudah pernah aku perbuat. Aku tak punya keberanian berlebih untuk melakukan apa lagi memikirkan itu. Yah... Kekurangan suamiku dulu hanya itu, dia laki-laki yang sangat bertanggung jawab, semua kebutuhanku yang lain dipenuhinya dan itu sudah cukup bagiku. Toh tidak semua manusia beruntung bisa mendapatkan semua keinginan bukan? Termasuk aku."
Aku semakin yakin kepadanya setelah mendengar jawabannya itu. Putri adalah orang yang sangat takut pada Tuhan, jadi aku yakin kalau dia tidak akan pernah mengkhianatiku. Aku mungkin tidak akan tahu ketika aku diselingkuhi, seperti yang sudah terjadi pada Rania dulu, tapi Tuhan tentu tahu. Dan Putri jauh lebih takut pada Tuhan dari pada aku.
Cup.
Aku menoleh ke samping, senyum manis Putri sudah menyambut di sana. Dia duduk di tepi ranjang baru kami dengan handuk menutupi rambutnya yang basah. Jangan tanya apa yang baru saja kami lakukan, kalian pasti akan iri jika aku ceritakan.
"Mandi, gih... Aku siapkan sarapan."
Tanganku terangkat ke udara, lalu mendarat di pangkal lengannya yang tertutup kain berwarna biru langit. Lalu ku elus pangkal lengan itu dengan lembut, kemudian bergerak ke samping menuju salah satu gunung yang semakin hari semakin besar dan padat saja. Mungkin perubahan ini akibat keadaannya yang sedang hamil, aku jadi semakin gemas membayangkan wajahku diapit oleh dua bukit yang berada di dalam sana.
"Jangan jahil... Serangan subuhnya udah selesai. Kita sarapan dulu, nanti kalau mau dilanjutkan, ayo... Kebetulan hari ini kan hari Minggu, Mas bebas ngapa-ngapain aku hari ini."
Aku tertawa kecil mendengar ucapan Putri, berharap senjataku yang sudah kembali on fire akan lemas dan beristirahat dulu sebentar. Toh setelah sarapan nanti, dia butuh tenaga yang cukup banyak untuk menjalani pertandingan panas lain seperti yang sudah dijanjikan Putri.
__ADS_1
"Bener, ya?"
"Bener, Mas... Ayo bangun... Mandi dulu."
Aku mengangguk mantap, lalu bangkit dan turun dari ranjang. Dengan langkah penuh percaya diri, aku berjalan menuju kamar mandi tanpa sehelai kain pun melindungi tubuh ini.
"Ishhh!! Kebiasaan!!"
Aku tergelak mendengar gerutuan Putri.
*
"Hmmmhhhh."
"Hmmmhhhh."
"Mas jadi jemput Ibu?"
Aku menganggukan kepala sambil menelan saliva.
"Apa aku perlu ikut?"
"Nggak."
Putri terdiam mendengar jawaban cepatku, untuk sesaat kami berdua pun terdiam.
"Sudah cukup mereka merendahkanmu, mulai sekarang aku tidak akan membiarkannya lagi," lanjutku menjelaskan, suara helaan nafas panjang terdengar dari mulut perempuan yang berbaring di sampingku ini.
Aku bergerak menyamping, menghadapkan tubuh ke arah Putri yang masih terdiam. Matanya sedang menatap langit-langit kamar kami yang berwarna putih bersih. Entah apa yang sedang dia pikirkan, tapi aku tak mau dia jadi salah paham.
__ADS_1
"Sudah cukup telinga kamu ini mendengarkan omongan-omongan buruk dan tuduhan-tuduhan nggak jelas dari mulut wanita tua itu. Ada banyak hal yang ingin Mas sampaikan pada keluarga itu, jadi... Sebaiknya kamu tidak perlu mendengarnya."
"Sepertinya Mas kurang tegas pada mereka selama ini, jadi sore ini Mas harus peringatkan mereka lebih tegas lagi! Kalau kamu ikut, kamu pasti menghalang-halangi Mas melakukan apa yang ingin Mas lakukan, jadi sebaiknya kamu di rumah saja."
Putri mendengarkan semua kalimat yang aku sampaikan dengan seksama, matanya bahkan tak berkedip memperhatikan wajahku. Kubelai lembut pipinya yang mulus, lalu... Cup.
Putri tersenyum setelah mendapatkan kecupan hangat di pipinya.
"Sebesar itu kah cinta Mas ke aku?"
Kutatap kedua mata Putri dalam-dalam, untuk membuatnya yakin dan percaya pada apa yang akan aku sampaikan.
"Ya!! Aku memang sangat mencintaimu, Put."
Putri kembali tersenyum, kedua pipinya merona merah.
"Kamu bukan perempuan pertama yang pernah singgah di hatiku, tapi aku mau kamu lah yang terakhir. Untukku, kamu sempurna, Put. Kehangatanmu, sikapmu, cintamu, yang bukan saja untuk aku, tapi juga untuk Ibu dan adikku."
Kudekatkan wajah ke arah telinga Putri, lalu "kenikmatanmu... Kamu sudah jadi candu buatku, Put."
Putri bergidik geli mendengar bisikanku, tapi dia diam saja saat tanganku sudah mampir mengunjungi salah satu gunung gede miliknya. Tawa geli tadi sudah berubah jadi ******* manis akibat sentuhan ibu jari dan telunjukku di puncak gunungnya itu.
"Hmmmmhhhh."
Tanpa sadar aku ikut mendesah, sambil terus menciumi pipi hingga lehernya. Sementara tangan Putri sudah menekan kepalaku, meminta disentuh lebih dalam lagi.
______________________________________________
Jangan lupa tinggalkan jejak manisnya kakak-kakak readerku yang baik hati... Terima kasih.
__ADS_1