Menikahi Janda Tetangga

Menikahi Janda Tetangga
Bu Eli Versus Aditya


__ADS_3

"Mas."


Aditya menoleh dan menatap Putri, yang baru masuk ke kamar. Wajah lelah terlihat jelas di wajah Aditya, lelah dengan semua masalah rumah tangga yang sudah enam tahun berjalan. Setiap hari Aditya memulai hari dengan harapan Rania akan berubah, tapi hingga saat ini harap itu menguap begitu saja.


Putri memberanikan diri menyentuh punggung sang suami, meskipun semalam keduanya sudah mengarungi samudera cinta yang panas dan berapi-api, Putri masih tetap merasa segan pada laki-laki yang sudah menjadi suaminya itu.


"Aku ingin lepas dari mereka, Dik."


Aditya meraih tangan sang istri, membawa Putri untuk berdiri di hadapannya. Kemudian, dipeluknya pinggang Putri, lalu menempelkan wajahnya di perut Putri tanpa malu-malu.


Putri yang sedikit kaget dengan apa yang Aditya lakukan, sesaat menahan nafas dan gelenyar hangat yang mengalir di tubuhnya.


"Aku capek menghadapi mereka. Rania, ibunya, begitu juga adik kembarnya. Aku capek didikte, diwajibkan memenuhi apa yang mereka butuhkan, diharuskan memenuhi apa yang mereka inginkan, tapi tak kunjung mendapatkan penghormatan layaknya seorang tulang punggung di keluarga mereka."


Putri kembali mengusap-usap punggung sang suami dengan sentuhan yang sangat pelan, berusaha menenangkan kegelisahan yang melanda laki-laki tersebut.


"Apa yang harus Mas lakukan, Dik? Mas sudah muak!!"


Putri menghela nafas berat, "jujur saja, Adik nggak tau bagaimana rasanya jadi Mas."


Aditya menjauhkan wajahnya dari perut Putri, lalu mendongak untuk menatap wajah putih dan bersih alami istri mudanya itu.


"Tapi kalau Mas mengikhlaskan apa yang sudah Mas lakukan untuk Rania dan keluarganya selama ini, mungkin bisa membuat Mas sedikit tenang," lanjut Putri.


"Kemudian mulai bersikap tegas. Tegas memutuskan apakah Mas masih ingin melanjutkan pernikahan kalian? Kalau memang masih ingin, maafkan semua kesalahan Rania, lupakan kalau dia sudah berselingkuh. Sekalipun tak ada yang bisa menjamin Rania akan berhenti berselingkuh."


"Kalau memang sudah tak ingin... Lepaskan. Agar Mas tak perlu mengingat lagi apa yang sudah dia lakukan selama ini di belakang Mas. Agar dia juga bisa menentukan jalan hidupnya sendiri. Biarkan pengadilan yang memutuskan hubungan yang selama ini terjalin tak sehat, dari pada menunggu dia siap mendengarkan kata talak."


Giliran Aditya yang menghela nafas berat, tapi justru hatinya semakin mantap untuk segera berpisah dengan Rania. Mana mungkin pernikahan mereka bisa dilanjutkan, tanpa adanya bayang-bayang kalau tubuh Rania sudah disentuh lelaki lain.


Aditya menarik pinggang Putri, membuat tubuh perempuan itu menempel dengan tubuhnya.


"Mas...."


Aditya mengangkat blouse yang Putri kenakan, lalu menempelkan wajahnya di kulit yang menutupi perut sang istri. Putri menengadah sambil menutup mata, merasakan geli, hangat dan nikmat sentuhan wajah dan bibir Aditya di kulit perutnya.


Tangan Putri naik ke kepala Aditya, menekan kepala itu dengan pelan, agar kehangatan dari wajah dan kecupan suaminya lebih terasa di kulitnya. Aditya yang mengerti arti gerakan Putri, tak menyia-nyiakan waktu. Dijilatnya kulit perut Putri seperti es krim, sesekali berhenti untuk menghisap kulit perut tersebut dan meninggalkan tanda. ******* yang keluar dari mulut Putri, membuat Aditya semakin liar, kedua tangannya sudah bergerak ke arah bokong Putri yang padat.


Bughh!! Bughhhh!! Bughhh!!


"ADITYA!! ADIT!! KELUAR KAU!!"

__ADS_1


Aditya seketika saja menghentikan pergerakannya akibat suara gedoran di pintu kamar yang disusul dengan teriakan sang mertua, sementara Putri yang kaget, langsung menjauhkan tubuhnya dari wajah sang suami.


"ADITYA!! DASAR LAKI-LAKI CABUL!! ISTRI LAGI PINGSAN DIA MALAH ENAK-ENAKKAN SAMA PEREMPUAN LAIN!!"


Aditya menggeram marah, gegas dia bangkit dari duduk, lalu berjalan dengan langkah kasar menuju pintu.


Pintu kamar dibuka dengan kasar oleh Aditya, kedua matanya melotot menatap bu Eli.


"URUS ISTRIMU DULU!! JANGAN MALAH ENAK-ENAKKAN SAMA PELAKOR!!"


Amarah Aditya semakin memuncak mendengar ucapan bu Eli.


"DIA BUKAN PELAKOR!! DIA SUDAH KUNIKAHI!! SAH!!"


Bu Eli melonjak kaget, hingga mundur beberapa langkah. Rasa takut tiba-tiba menyerang melihat ekspresi Aditya yang sangar, tapi yang dia tunjukkan tetap sebuah kesangaran. Meskipun itu sangar yang pura-pura.


"PUTRI BUKAN WANITA MURAHAN SEPERTI ANAK ANDA!! JADI, TOLONG JAGA BICARA!!"


Aditya menunjuk lurus ke arah wajah bu Eli, membuat wanita tersebut mengkerut semakin ketakutan.


"Kalian pikir aku percaya dengan sandiwara yang kalian ciptakan? Lalu melunak dan membatalkan keinginanku untuk bercerai?!"


"TIDAK!!"


"Laki-laki mana yang akan tetap mempertahankan pernikahannya dengan wanita yang jelas-jelas sudah disentuh oleh laki-laki lain?! LAKI-LAKI MANA?!"


"AK-AKU NGGAK PERCAYA!! RANIA BUKAN PEREMPUAN SEPERTI ITU!!"


Bu Eli memberanikan diri untuk membela putrinya, meskipun di hati sebenarnya dia mulai ragu.


"Putriku adalah perempuan bermartabat!! Nggak mungkin dia melakukan itu!! Ini pasti akal-akalan perempuan yang baru kau nikahi itu!! Dia sedang mencoba menghancurkan rumah tangga kalian dengan ca...."


"PUTRI TIDAK PERNAH BERTEMU APA LAGI MENGENAL RANIA!! AKU YANG MELIHATNYA SENDIRI DENGAN MATA KEPALAKU!! NGGAK USAH SOK TAHU!!"


Lagi-lagi bu Eli melonjak kaget mendengar Aditya tiba-tiba membentaknya lagi.


"URUS SAJA ANAK ANDA SENDIRI!! AKU SUDAH NGGAK PEDULI, MESKI DIA MATI SEKALIPUN!!"


Aditya kembali masuk ke kamarnya, lalu menutup pintu kamar dengan kasar.


BRAKKK!!

__ADS_1


Bu Eli memejamkan kedua mata, berusaha untuk tidak kaget, tapi gagal.


*


"Bu."


Bu Sukma mengangkat tatapan, lalu menatap Putri yang barusan memanggilnya. Diabaikannya sebentar makanan yang sedang dia nikmati tadi.


"Apa... Hmmmm... Apa Bu Eli tidak diajak makan? Beliau belum minum dan makan apa pun sejak datang tadi," tanya Putri. Bu Sukma memindahkan tatapan, menatap pintu kamar yang ditempati Rania. Bu Eli tentu saja sedang berada di dalam sana, menemani sang putri.


"Biarkan saja, Dik. Kalau mereka lapar, mereka akan keluar juga."


Aditya merebut jawaban, Putri dan bu Sukma sudah menoleh untuk menatapnya bersama-sama.


"Lagi pula, anaknya kan punya duit. Kalau mereka mau makan, bisa beli! Nggak perlu terlalu mengkhawatirkan mereka, bisa-bisa mereka jadi besar kepala dan tetap merasa benar," lanjut Aditya.


Putri menghela nafas panjang mendengar ucapan Aditya. Terlihat jelas kemarahan di wajah suaminya itu pada Rania dan juga ibunya. Tapi, Putri juga paham kenapa Aditya bisa semarah itu pada istri pertamanya. Mana ada manusia di dunia ini yang mau berbagi tubuh pasangan dengan orang lain. Kalau ada, sudah pasti ada yang salah di otaknya.


Pintu kamar Rania tiba-tiba terbuka, bu Eli keluar dari kamar, sementara Rania mengekor di belakangnya sambil memasang wajah lemah.


"Heh!! Sudah salah pilih suami kau, Ran!! Lihat!! Selain tak punya sopan santun, suamimu ternyata tak punya adab!! Mertua sah datang bertamu, bukannya diajak makan, malah dicuekin!!"


Lagi-lagi bu Eli mencoba memantik api keributan, bu Sukma menatap geram pada bu Eli, tapi bisannya itu mengacuhkan tatapannya tersebut.


"Kasihan sekali nasibmu, Ran... Ran. Kalau tahu...."


Brakkkk!!


Aditya membanting meja untuk menunjukkan kemarahannya, membuat kalimat bu Eli terhenti seketika. Aditya lalu bangkit dan keluar dari meja makan dengan kasar. Piring yang masih berisi makanan miliknya, ditinggalkan begitu saja.


Putri menatap iba punggung sang suami yang menjauh dan hilang di balik pintu kamar.


"Tamu nggak punya adab!! Bicara pakai nada tinggi, bisanya menyindir, merasa yang paling disakiti!! Dasar orang stress!!"


Bu Sukma juga bangkit dan keluar dari meja makan. Setelah itu beliau melangkah menuju kamar dan menutup pintu kamarnya dengan kasar.


"Hehhhh!! INI SEMUA GARA-GARA KAMU!! DASAR PELAKOR!!"


Bu Eli menunjuk lurus ke arah Putri, kedua matanya melotot untuk mengintimidasi Putri. Bukannya takut melihat tatapan bu Eli, Putri malah bangkit dan mengacuhkan wanita tersebut. Tangannya sibuk mengumpulkan piring-piring bekas makan miliknya, mertua dan juga sang suami. Ketiga piring tersebut masih berisi makanan, selera makan ketiganya lansung hilang begitu melihat kehadiran bu Eli dan Rania.


"Semakin sering anda berteriak, menyindir dan menyalahkan saya, maka akan semakin cepat anak anda didepak dari rumah ini, ucap Putri dengan santai. Setelah itu, Putri pun melanjutkan langkah ke dapur, meninggalkan Rania dan bu Eli, yang mengiringi langkahnya dengan pelototan tajam. Lho... Kemana perginya wajah lemah yang tadi ditunjukkan Rania?

__ADS_1


______________________________________________


Terima kasih buat yang sudah membaca cerita ini dan meninggalkan jejak-jejak manisnya. Bagi yang belum like dan subscribe, yuk di like dan subscribe dulu, agar mbak author semangat terus nulisnya...


__ADS_2