
Anyelir tak memiliki kekuasaan di rumah ini. Yang dia perjuangkan saat datang ke sini hanyalah kesembuhan Rio. Maka dari itu, dia mengorbankan banyak hal untuk bisa bertahan tinggal di sini.
Sekarang Dylan berkeinginan untuk menunda niat bayi tabung, Anyelir bisa apa. Dia akan ngotot dan memarahi Dylan? Mana mungkin bisa begitu.
Biarkan saja Nyonya Lastri yang berkata memarahinya. Anyelir tak perlu repot-repot untuk memberi alasan apa pun pada Dylan.
Sementara itu Dylan berdiri sambil melipat kedua tangan. Dia pun hendak bersandar ke arah dinding namun, saat itu ia mengaduh kesakitan karena pundaknya menyenggol sesuatu. “Aw ... aw!”
Spontan Anye pun berdiri dan menatap pada pria yang sedang memijit-mijit pundaknya sendiri itu.
“Apa yang terjadi pada pundak Anda? Seingatku, dari kemarin Anda selalu mengeluh kesakitan di area yang sama. Biar aku lihat!” titah Anyelir sambil sedikit mendekat pada Dylan.
“Tidak perlu!” Pria itu menolak dan berusaha menjauh pada Anyelir.
Namun wanita itu terus memaksa dan mengimpit tubuh Dylan semakin terpojok ke belakang pintu. “Biar aku lihat!”
Anyelir memaksa agar Dylan duduk di tepi ranjang. Dia menyentuh sedikit bagian pundak pria tersebut.
“Sssh, aaw!” jerit Dylan.
“Maaf, sepertinya ada memar,” tebak Anyelir. “Benar, kan?”
Dylan tak menjawab, ia tak sengaja melihat wajah lugu Anyelir tepat berada di depannya. Mendadak ia merasa gugup dan langsung mengalihkan pandangannya.
“Coba buka dulu pakaian Anda.” Anyelir menarik pelan kancing kerah pada kemeja yang dikenakan oleh Dylan.
Saat berhadapan, napas Anyelir berembus tepat di depan wajah Dylan dan membuat pria tersebut menjadi semakin salah tingkah. “Tak perlu!” tolak Dylan sambil menggeser lengan Anyelir.
“Biar diobati,” ucap Anyelir yang sedikit memaksa.
“Ini tidak apa-apa.” Pria itu menolak penawaran Anyelir. Ia memberontak dan berusaha untuk bangun.
Anyelir pun tidak memaksa kali ini. Ia membiarkan suaminya itu pergi.
Namun saat Dylan berjalan ke luar dari kamar wanita itu, pundaknya malah menabrak ke arah pintu. “Aw!” jeritnya semakin keras.
__ADS_1
“Tuh, kan!” Anyelir hanya melihat dan berjalan mendekat. “Sini!” Wanita itu memaksa lagi agar Dylan mau duduk di tepi ranjang.
Wanita itu pun membuka kancing baju milik suaminya dan menurunkan salah satu bagian kemeja Dylan hingga bahunya terlihat.
Laki-laki tersebut masih memalingkan wajah karena ia tak sanggup untuk bertatapan dengan Anyelir dengan sangat dekat seperti ini.
Sementara itu, Anyelir tengah berkonsentrasi dengan apa yang terjadi pada tangan suaminya tersebut.
“Aku bilang, nggak apa-apa, kan?” ujar Dylan sambil mencoba menutup lagi bajunya.
Namun hal itu dicegah oleh Anyelir. “Nggak apa-apa gimana?” Dia pun menepuk pelan pada bagian yang memar.
“Aw, jangan dipukul.” Dylan menjerit lagi lebih kencang.
“Ini memar! Kalau ada pendarahan di dalam gimana?” ujar Anyelir yang menahan pundak pria itu agar tetap diam.
“Aku akan mengambil air dingin untuk kompres. Diam, ya! Jangan coba-coba kabur.”
Wanita itu pun pergi ke luar kamar untuk mengambil air es yang ada di kulkas.
“Untuk apa itu, Bu?” tanya Bi Ai yang melihat majikan barunya itu sedang menumpahkan es balok ke dalam baskom.
Sementara itu, para pelayan yang melihat kejadian itu saling bergunjing.
“Kalian mau bertaruh, sampai kapan Pak Dylan bakal tetap suka sama Bu Andin? Aku, sih, nebak kurang dari setahun Pak Dylan pasti bakal jatuh cinta sama Bu Anye.”
“Ah, kayaknya nggak mungkin deh, soalnya Pak Dylan, kan, cinta mati sama Bu Andin. Terus penampilan Bu Anye juga kurang hot. Dia bukan tipenya Pak Dylan,” timpal yang lainnya.
“Tapi ... perhatiannya Bu Anye ke Pak Dylan sama Rio itu hangat bangeeeeet. Kayaknya mereka bakal cepet jatuh cinta.”
“Bener juga sih.”
“Aku bertaruh bakal lama, kecuali kalau Bu Anyelir menjadi lebih cantik!”
Mereka pun bergosip tak ada henti untuk membicarakan taruhan mengenai kehidupan cinta mereka.
__ADS_1
Salah satu yang paling tua dari mereka pun bergabung. “Hush! Nggak baik bertaruh, itu sama kayak judi!” ujar Bi Ai yang memperingatkan mereka.
*
Sementara itu, di kamar milik Anyelir. Masih ada Dylan yang menunggu.
Anyelir masuk sambil membawa satu baskom air dingin dan sebuah lap lembut untuk mengompres.
Dia kembali duduk di samping Dylan dan kali ini ia meminta sang suami melepas bajunya saja. “Bisa dilepas bajunya? Nanti basah,” ucap Anyelir sambil sedikit menarik kain kemeja tersebut.
“Hmmm.” Tanpa berkata-kata, pria itu melepaskan baju kemejanya.
Anyelir mengambil kemeja itu dan menggantung di gantungan yang ada di kamarnya. Dengan perlahan, ia pun membasahi lap dengan air dingin lalu menyentuhkan perlahan pada bagian yang memar.
“Aaw!” Rasa ngilu itu terkena air dingin, namun kini terasa lebih baik untuk Dylan.
“Sejak kapan dapat luka ini? Kalau saya lihat, bahkan saat disenggol Rio kemarin pun Anda mengaduh kesakitan.” Anyelir fokus pada pundak memar milik Dylan.
Namun pria itu sibuk menutupi dadanya dengan menggunakan sebelah tangannya yang tidak sakit. Bagian otot dada dan perut milik Dylan memang sangat atletis.
Hanya saja, Anyelir sudah terbiasa dengan pemandangan seperti itu. Bukan berarti Anyelir yang suka jelalatan, namun wanita itu adalah calon dokter yang sering membantu dokter ahli dan sudah biasa melihat tubuh manusia tanpa menggunakan baju. Tak ada pikiran yang aneh dalam kepala wanita itu.
Akan tetapi berbeda dengan yang ada dalam pikiran Dylan. Pria itu semakin berdebar tak karuan ditambah sensasi dingin dan lembutnya sentuhan tangan wanita di samping ini membuat ia semakin pening.
“Ah, iya, Ndin. Bener itu yang dipijat pelan-pelan saja,” ujar Dylan yang tanpa sadar menyebut nama istri pertamanya. Sepertinya ia lupa jika wanita itu telah melayangkan gugatan cerai padanya.
Anyelir mengerutkan alis saat mendengar Dylan menyebut nama Andin di depannya. Namun wanita itu tak bicara apa-apa. Ia hanya menggelengkan kepala dan fokus pada memar yang diderita oleh Dylan.
“Sudah!” ujar Anyelir sambil mengambil tisu yang ada di meja riasnya.
Wanita itu pun mengeringkan bekas air yang digunakan untuk mengompres dengan tisu.
“Saya akan bebat dengan kain perban yang ada. Beruntungnya, tidak ada sendi di bahu Anda yang lepas, sepertinya sebentar lagi juga akan cepat sembuh. Dengan membalut luka memar bekas cedera, akan membantu proses pemulihannya dibanding jika dibiarkan terbuka begitu saja,” jelas Anyelir sama seperti saat ia berbicara pada pasiennya.
Selagi Anyelir membalut luka memar itu, Dylan terus memalingkan muka. Ia tak tahan dengan kedekatannya bersama istri barunya tersebut.
__ADS_1
“Sudah,” ucap Anyelir.
Dylan pun menatap pada wanita itu. “Kenapa kau senyum-senyum melihat perutku?”