Menikahi Mantan Istri

Menikahi Mantan Istri
68. Gagal Lagi


__ADS_3

“Tidak,” jawab Anyelir sambil menggelengkan kepala.


“Apa?” Dylan yang semula ada api menyala-nyala di matanya pun seketika padam. Pria tersebut mengerutkan dahi sambil menatap wajah sang istri yang masih bersemu merah. “Kenapa tidak? Kau menolakku?”


Pria itu sangat benci penolakan. Ditatapnya lekat-lekat wajah Anyelir dengan kedua alis yang bertaut.


Sementara itu wajah polos di bawahnya pun masih senantiasa berdiam diri seraya menghalangi tubuh Dylan dengan kedua tangannya. “Saya belum selesai datang bulan.”


Jawaban itu seketika menonjok Dylan hingga ke ulu hati. Suara pria itu tercekat karena terkejut sekaligus diingatkan jika sang istri masih belum bisa untuk disentuh olehnya.


“Hmmm ....” Dia mengembuskan napas panjang dan ambruk di atas tubuh Anyelir. Kepalanya terbenam di antara ceruk leher perempuan itu, hingga rambut-rambutnya yang berdiri itu mengenai mulut dan hidung sang istri.


Pria itu terlihat kecewa, tapi ia tak mau menyerah. Setidaknya, sampai Anyelir berhenti memanggilnya dengan sebutan ‘Pak’ dan juga berhenti menggunakan ‘saya’ – ‘Anda’ ketika berbicara dengannya.


“Pak, bisakah Anda pergi dari tubuh saya?” ujar Anyelir yang ingin mengusir Dylan dari atas tubuhnya. Perempuan itu agak mendorong suaminya menggunakan kedua tangan. Tapi sayangnya bukan itu yang terjadi.


Kancing baju Anyelir sudah terlanjur terbuka, maka dari itu Dylan langsung menyelinapkan tangannya ke dalam baju yang dikenakan perempuan tersebut.


“Emmm .... Apa yang Anda lakukan?” Wanita itu melenguh saat suaminya menggoda bagian atas tubuhnya.


“Berjanjilah untuk berhenti memanggilku, Pak!” tuntut Dylan sambil terus melakukan apa yang dia inginkan.


“Ber ... henti ....” Bahkan perempuan dengan bibir buah sakura itu sampai tak bisa mengontrol napas dan bicaranya tersendat-sendat.


“Berjanjilah untuk berhenti menggunakan kalimat formal saat bicara denganku.” Kali ini bukan hanya tangan, tapi mulutnya pun melakukan sesuatu yang membuat ujung-ujung syaraf di tubuh Anyelir meremang merasakan sengatan listrik.


“Hen ... ti ... kanh ....” Bahkan wanita itu memohon dengan suara yang diiringi desisan dan membuat dirinya terlihat semakin menggoda bagi Dylan.


“Jika kau tak mau berjanji padaku, aku tidak mau hentikan ini.” Dylan masih saja melakukan hal-hal yang membuat Anyelir tak bisa menarik napas dengan teratur.


“Baiklah .... Baiklah!” Anyelir pun mengalah.


Pria itu pun memberi sentuhan terakhir dengan sebuah kecupan di tulang selangka Anyelir. Ditatapnya wajah kemerahan bak kepiting rebus yang sudah tak karuan lagi. Dylan tersenyum tipis melihat perempuan di bawahnya merona menahan rasa malu. Namun tatapan itu dihentikan oleh tangan Anyelir yang menepuk pipinya.


“Berhenti menatap saya,” ujar Anyelir sambil dirinya juga menutup wajah menggunakan sebelah tangannya.

__ADS_1


Dylan pun menggenggam sebelah tangan Anyelir yang digunakan untuk menepuk pipinya. Lalu pria itu memaksa Anyelir untuk membuka wajahnya. “Apa katamu?”


Anyelir menghindari tatapan Dylan begitu pria tersebut memaksa untuk membuka wajahnya.


“Kau sudah berjanji untuk tidak menggunakan bahasa formal lagi, kenapa masih menggunakan saya dan Anda saat berbicara padaku?”


“Itu ... itu sangat sulit.”


“Beberapa hari kemarin kau bisa melakukannya!”


“Tapi ....”


“Tidak ada tapi-tapi, jika kau masih saja seperti ini, aku akan menghukummu. Kautahu, kan, seperti apa hukuman dariku?” ujar Dylan sembari mengendus pipi kiri Anyelir dan memberi seringainya.


Anyelir tak menjawab, dia hanya menghindari wajah sang suami yang terlalu dekat itu sambil menahan rasa geli karena serangan pria tersebut pada apel pipinya. “Berhenti,” pintanya sekali lagi.


Pria tersebut pun sedikit mengangkat tubuhnya lalu melihat kemeja Anyelir yang sudah tak terkancing akibat ulahnya. Dia akhirnya membetulkan seluruh kancing itu kembali pada tempatnya hingga bagian atas tubuh Anyelir tertutupi lagi seperti sedia kala.


Begitu Dylan berdiri, saat itu juga Anyelir pun pergi dari tempatnya menuju ke kamar mandi dan meninggalkan pria itu yang sedang mematung di sana.


*


Puk puk puk!


Dengan segera Anyelir menepuk wajahnya. “Sadarlah, Anyelir. Sadarlah,” ujarnya lirih pada pantulan dirinya yang ada di cermin.


Sebenarnya, Anyelir sudah menyelesaikan periode datang bulannya dalam lima hari ini. Tapi dia masih belum siap jika mendapat serangan dadakan dari suaminya seperti tadi. Apalagi, dia benar-benar baru selesai hari ini. Tepatnya saat pagi sebelum ia berangkat menjenguk Rio.


Anyelir pun mendengar suara pintu kamarnya terbuka dan tertutup kembali. Sepertinya, sang suami telah keluar dari kamar ini. Akhirnya Anyelir pun memberanikan diri untuk melihat apa yang terjadi di luar sana dan benar saja, Dylan sudah tak ada di sana.


“Huuuh, akhirnya.” Perempuan itu pun bernapas dengan lega, karena pria yang sejak selalu menatap tajam padanya itu telah pergi dari kamarnya.


*


Karena tak ada kegiatan yang bisa dilakukan, Anyelir pun memutuskan untuk membaca jurnal kedokteran dan berbagai laporan operasi untuk spesialis penyakit-penyakit kelainan darah seperti yang dialami oleh Rio.

__ADS_1


Rumah itu terasa sunyi, karena para pelayan semua beraktivitas di lantai satu, sementara itu Nyonya Lastri ke rumah sakit bersama Bi Ai dan Tuan Gunadi masih ada di kantor bila masih siang seperti ini.


Brak brak brak brak


Terdengar suara sepatu yang begitu berisik mengganggu konsentrasinya. Anyelir mengintip suara langkah kaki menuruni tangga yang terdengar jelas dari kamarnya. Langkah tersebut seperti orang yang terburu-buru.


Kriiet, derit pintu kamar Anyelir berbunyi saat perempuan itu membukanya dengan pelan.


Brak brak brak


“Kenapa dia terburu-buru seperti itu?” gumam Anyelir saat melihat ternyata suara langkah kaki itu adalah milik Dylan yang sedang berlari menuruni tangga. “Ah, aku dengar dia akan kembali lagi ke kantor setelah jam siang. Apa itu artinya dia tidak sempat makan?”


Perempuan itu pun dengan segera keluar dari kamar dan berniat menyusulnya. Kaki kecilnya tersebut ikut menuruni tangga dan menuju ke luar rumah tempat suaminya itu sudah menaiki mobilnya.


Anyelir berdiri di depan pintu dan menatap pria itu sudah menyalakan mobil. Ia belum sempat bertanya pada Dylan apakah suaminya tersebut sudah makan siang atau belum?


Namun tanpa diduga oleh Anyelir, kaca mobil milik Dylan ternyata diturunkan oleh pengendaranya. Terlihat pria tampan dengan rahang tegas itu menoleh pada Anyelir dan kemudian, dia turun dari mobil.


Anyelir hanya mematung saat melihat Dylan turun lagi dari mobil dan menghampirinya.


“Kau menghampiriku?” tanya pria tersebut sambil berdiri tepat di hadapan wanitanya.


Sang wanita hanya mampu mendongak dan memberi tatapan polos pada suaminya.


“Ada apa?” tanya Dylan lagi.


Bagi Anyelir, hari ini Dylan benar-benar berubah drastis. Kenapa pula pria ini tiba-tiba turun dari mobil hanya untuk menemui dirinya begini?


Cup.


Dylan mengecup kening Anyelir dengan singkat. “Maaf aku tak bilang padamu kalau aku harus berangkat lagi.”


Keduanya pun bertatapan untuk sejenak, lalu setelah itu pria tersebut berbalik. Hanya saja, Dylan merasakan ada yang mengait di jasnya. Pria itu pun menoleh ke belakang.


Jari-jari Anyelir memegangi jas tersebut, kemudian pria itu menatap pada perempuan yang sedang memegangi jasnya.

__ADS_1


“Apa kau sudah makan siang?” Satu kalimat tanya yang keluar dari mulut Anyelir, membuat Dylan semakin gemas pada perempuan itu.


Pria itu terkekeh lalu mendekat dengan mengacak-acak poni rambut Anyelir. “Dari mana aku bisa menemukan perempuan sepertimu?”


__ADS_2