
Sementara itu, di dalam apartemen mewah yang didiami oleh Andin, wanita itu sedang menikmati perawatan kuku dan jari. Akhir-akhir ini pekerjaan untuknya agak berkurang, bahkan endorse pun banyak yang menghentikan kerja sama dengannya. Selain itu, berita tak sedap mulai muncul memenuhi laman pencarian.
Andin memang bukan seorang artis besar, hanya saja apa pun berita panas yang terus digoreng oleh media akan menjadi santapan yang lezat untuk masyarakat. Tak peduli siapa pun yang akan dibicarakan, yang jelas jika terlalu banyak bukti digital tentang keburukan seseorang, maka akan lebih mudah memanaskan beritanya.
“Sayang, kaumau ke mana?” tanya Andin pada pria yang pergi menggunakan jas hitam tersebut. Pria tersebut diikuti oleh dua orang perempuan di belakangnya.
“Aku akan ada acara, mungkin malam ini tidak pulang. Tunggu aku, ya!” jawab Wira yang langsung menggandeng tangan dua orang perempuan di kanan-kirinya.
Pelupuk mata Andin memanas melihat hal itu, tapi ini bukan saat yang tepat untuk marah. Dia menyimpan api di dalam hatinya dan mencoba untuk berpikiran positif.
“Setelah ini tolong pijat punggungku juga ya, Mbak,” ucapnya.
Seketika ingatan Andin pada saat ia bersama Dylan membayangi pikirannya. Pria itu tak pernah membawa perempuan lain di sekitarnya. Bahkan bisa dibilang, Andin benar-benar satu-satunya wanita bagi Dylan.
Jika ditanya bagaimana perasaannya dengan sang mantan suami? Entah.
Andin hanya merasakan kejenuhannya sudah berada di lembah yang paling rendah. Bukan jenuh pada Dylan, tapi jenuh dengan kesehariannya. Jenuh dengan mertuanya, jenuh dengan rumah keluarga suaminya, juga jenuh dengan rutinitasnya. Andin sudah jengah dan benar-benar ingin keluar dari semua itu.
Tapi, ia tak bisa membawa Dylan. Semua itu adalah kehidupan miliknya, mana mungkin Andin menyeret pria tersebut untuk pergi dari kehidupannya sendiri.
Jika ditanya lagi tentang seberapa berat dirinya meninggalkan Dylan? Biasa saja.
Wanita itu tak terlalu sulit untuk meninggalkan sang suami. Setidaknya untuk saat ini. Karena pikiran Andin benar-benar ingin bebas. Dia ingin pergi ke mana saja untuk melepaskan simpul-simpul yang selama ini mengikatnya.
Tapi yang dia ragu, sampai kapan?
Seperti yang dikatakan sebelumnya, Andin bisa setidaknya untuk sekarang. Jika semua rongga dalam dirinya telah terisi kesenangan, apakah dia tetap bisa bertahan seperti ini?
Bersama Wira?
__ADS_1
Yang ....
Entah lagi, pria itu memberi semua kesenangan untuk Andin. Namun dia juga bersenang-senang dengan perempuan di luar sana.
“Ini sudah keputusanku, aku tak boleh menyesal.” Andin mengatakannya dalam hati.
“Bu Andin, ada pesan masuk,” ujar salah seorang pelayan yang memberikan ponsel milik Andin padanya.
Benda pipih itu pun berada pada genggaman Andin. Bunyi ‘klik’ terdengar begitu wanita itu menempelkan telunjuk pada pemindai sidik jarinya.
‘Aku melihat suamimu di depan apotek bersama perempuan lain. Apa ini yang menyebabkan dirimu berlibur seorang diri ke Bali kemarin?’
Sebuah pesan diterima oleh Andin. Teman-teman dekatnya bahkan tak tahu tentang bagaimana kondisi rumah tangga, tapi memang beberapa hari terakhir dirinya mendengar jika ada berita yang membicarakan mengenai dirinya dan Wira.
Tak hanya pesan, Andin juga menerima sebuah potret. Dalam foto tersebut, ia melihat bagaimana Dylan sedang menggenggam pergelangan Anyelir.
Memang ini yang ia inginkan, Dylan bisa melupakan dirinya lalu memenuhi keinginan orang tuanya melalui Anyelir untuk memiliki anak. Tapi kenapa ... Andin seakan merasa ada yang terbakar dalam hatinya? Padahal ini yang ia inginkan? Kenapa?
“Bagaimana hasilnya?” tanya Dylan pada Anyelir. Pria itu bahkan berdiri di depan pintu kamar mandi untuk menunggu istrinya itu keluar dari sana.
Namun perempuan itu diam saja, seakan apa yang ia dapat bukanlah hasil yang sesuai dengan keinginannya.
“Hei, aku bertanya,” ujar Dylan sekali lagi sambil memegangi lengan atas Anyelir.
“Aku datang bulan.”
Tiga kata yang diutarakan Anyelir barusan mematahkan harapan mereka berdua.
Dylan mematung menatap sang istri, sementara Anyelir berwajah lesu dan duduk di tepi ranjangnya.
__ADS_1
"Tak apa, kita bisa berusaha lagi untuk memberi obat bagi Rio.” Dylan duduk di samping Anyelir dan merangkul pundak perempuan itu.
Tapi tidak bagi Anyelir, dia menunjukkan wajah muram yang sangat terlihat jika dia bersedih dan kecewa pada dirinya sendiri.
“Aku lelah,” ujarnya.
Dylan hendak merapatkan posisi pelukannya, akan tetapi Anyelir menepis tangan pria tersebut.
“Kembalilah ke kamarmu, aku ingin tidur. Lagi pula aku sedang datang bulan, tak ada yang bisa kaulakukan saat berada di sini juga,” ucap Anyelir lagi sambil berdiri dan naik ke atas ranjang melalui sisi yang lain, yang pasti lebih jauh dari Dylan.
Anyelir mencoba menutup mata dan memikirkan kepedihan yang rasakan. Dylan bahkan tak pernah bersikap baik untuknya, bahkan mereka melakukan semua itu dalam keadaan terpaksa hingga badan Anyelir sakit semua. Dia ingin semua ini cepat usai, dirinya hamil dan mengandung adik untuk Rio, lalu melahirkannya dan pergi lagi dari rumah ini. Semua ini benar-benar melelahkan.
Setelah beberapa detik Anyelir berbaring, ia merasakan Dylan bangkit dari tempat duduknya di tepi ranjang dan menuju pintu. Suara pintu tertutup yang membuat Anyelir berpikir jika pria itu pergi dari kamarnya. Tapi ternyata tidak, Anyelir mendengar jika Dylan mengunci pintu kamarnya dari dalam. Hal itu langsung membuat Anyelir berbalik dan benar saja, ia mendapati suaminya itu belum pergi, malah berjalan ke arahnya.
Anyelir pun berusaha bangun dan menegakkan badannya. “Kenapa kau belum pergi?” tanyanya.
Pria itu tak menjawab, dia naik ke ranjang dan duduk di samping Anyelir. "Kenapa aku harus pergi? Apa kau tak ingin bersamaku di saat seperti ini?” Dylan mengatakan hal itu dengan wajahnya yang dingin tanpa ekspresi.
Keduanya mengembuskan napas bersamaan dengan keras. Tapi Anyelir berbaring terlebih dahulu dan membelakangi Dylan. Dia memberikan punggung untuk menghadap ke arah suaminya.
Dylan melihat bentuk tubuh itu dari belakang, memang berbeda dengan yang dimiliki oleh Andin. Jika tubuh Andin benar-benar dibentuk karena ia berprofesi sebagai model, maka tubuh Anyelir proporsional untuk seorang wanita bisa. Tentunya, Anyelir lebih pendek daripada Andin.
Secara tak sadar, memperhatikan Anyelir dari belakang membuat Dylan membandingkan wanita itu dengan istri pertamanya. Pria itu pun langsung mengusap matanya dan bersandar pada sandaran ranjang.
“Bukan hanya kau yang bersedih karena ini, aku juga.” Dylan membuka pembicaraan lagi.
“Aku tahu, kau juga menyayangi Rio sama sepertiku. Tapi kenapa kau tidak kembali ke kamarmu saat ini?” tanya Anyelir.
Dylan menarik pundak sang istri kedua tersebut, lalu mengarahkan wajah Anyelir untuk menatapnya.
__ADS_1
Perempuan itu pun terpaksa membuka mata karena suaminya.
Setelah keduanya bertatapan dengan posisi Dylan di atas tubuh Anyelir, pria itu pun bertanya, “Apa kau anggap kebersamaan kita dalam satu ranjang hanya untuk membuat adik bagi Rio?”