Menikahi Mantan Istri

Menikahi Mantan Istri
31. Kiss In The Car


__ADS_3

“Tidak perlu!” tolak Anyelir. “Saya bisa naik taksi atau bus saja.”


“Dylan!” Lastri tak peduli dengan penolakan Anyelir, namun dia malah memanggil sang putra tunggalnya itu agar berhenti.


“Kenapa?” tanya Dylan pura-pura tak tahu, pria itu langsung masuk mobil sambil menunggu ibunya bicara.


“Berangkatlah bersama Anyelir!” titahnya Nyonya Lastri dengan tegas.


“Cih!” Pria itu terlihat keberatan namun Nyonya Lastri tak peduli.


“Anyelir, ayo sini!” titah Lastri meminta agar menantunya itu segera turun dari teras rumah.


Namun yang ada, Anyelir malah menggelengkan kepala dan memperlihatkan ekspresi takut. Apalagi saat ia melihat bagaimana mata tajam menatapnya penuh kebencian.


“Ayo, Anyelir!” Nyonya Lastri berjalan mendekati sang menantu dan berusaha untuk menarik tangannya agar mau untuk turun.


Anyelir bersikukuh menggeleng dan enggan. Dia masih takut saat melihat wajah Dylan akibat kejadian semalam. Entah wanita itu terkena trauma atau apa, namun dia menjadi sangat enggan untuk menatap wajah suaminya itu.


Sementara itu, Dylan pun merasa kesal. Namun karena ibunya memaksa, pria itu pun akhirnya turun dari mobil dan membuka bagian kursi penumpang bagian depan.


Anyelir melihat itu dan ia menggeleng. “Saya berangkat sendiri saja ya, Bu.” Wanita itu tampak memohon, dia semakin takut saat Dylan semakin dekat dengan posisinya.


Nyonya Lastri tak menjawab apa-apa.


Karena sebelum dia menjawab, tangan dari Dylan telah terlebih dahulu meraih pergelangan tangan Anyelir.


“Ap ... apa?” gugup Anyelir saat itu.


Dylan tak menggubris ucapan wanita itu dan langsung menggandeng Anyelir untuk pergi dari sana.


Akan tetapi, yang ada Anyelir mempertahankan posisinya dan menolak untuk ikut dengan Dylan.


Lastri sudah masuk lagi ke rumah dan pura-pura tidak tahu dengan apa yang terjadi di luar, padahal ia sedikit mengintip melalui celah pintu. Ia berharap jika anak dan menantunya yang sekarang bisa saling mencintai suatu saat nanti.


Sementara itu, Dylan melirik ke sudut pintu yang ada. Ia tahu jika ibunya mengintip dari sana. Karena tak ingin banyak bicara, ia pun mengangkat tubuh Anyelir dan menggendongnya.

__ADS_1


“Hei, hei, kaumau bawa ke mana aku ini? Turunkan! Turunkan!” teriak Anyelir meronta-ronta.


Walaupun dirinya memukul-mukul dada pria yang menggendongnya secara tiba-tiba itu, namun pada akhirnya Anyelir mengalungkan tangan ke leher pria tersebut untuk berpegangan.


Dylan pun menempatkan Anyelir pada bangku penumpang bagian depan.


Setelah duduk, Anyelir pun spontan melepaskan tangan dari leher Dylan.


Keduanya pun merasa canggung dan tak saling bertanya.


Dylan langsung menutup pintu mobil dan berlari ke sebelahnya menuju kursi pengemudi.


“Apa lagi?” tanya Anyelir yang ketakutan sambil menyilangkan kedua tangan menutupi dadanya ketika Dylan mendekat ke arahnya.


Pria itu menatap Anyelir dan semakin mendekatkan wajahnya dengan tatapan sinis. Dia menarik sesuatu dari samping wanita tersebut.


“Kau pikir aku mau apa?” ujar Dylan saat ia memasangkan sabuk pengaman untuk Anyelir.


Anyelir menurunkan kedua tangannya setelah Dylan agak menjauh dan fokus dengan kemudi. Wanita itu diam dan masih belum berkata apa-apa ketika Dylan menjalankan mobil. Baru setelah beberapa meter keluar dari rumah dia pun membuka mulutnya.


Dylan tak menggubris Anyelir, dia hanya berkata, “Apa kau sedang memerintahku?” Sambil menatap Anyelir dengan tajam.


Hal itu membuat Anyelir menundukkan kepala dan tak berani menatap pada Dylan.


Pria itu tidak bodoh, jika dia menurunkan Anyelir pada jarak baru beberapa meter dari rumahnya, maka bisa jadi ada beberapa orang yang melihat mereka dan kejadian itu bisa sampai lagi pada telinga Nyonya Lastri. Maka dari itu, dia hanya akan terus mengantarkan wanita di sampingnya ini sampai ke tujuannya yakni rumah sakit tempat Anyelir menjadi dokter koas.


Selama dalam perjalanan mereka masih terdiam, tak ada satu pun yang mau membuka pembicaraan. Bahkan Anyelir masih trauma untuk menyapa suaminya terlebih dahulu. Ia terus melihat ke arah jendela dan menghindar dari pria itu.


“Apa yang kamu pikirkan?” tanya Dylan.


Anyelir diam saja tak menjawab. Dia tak memikirkan apa pun tentang pria itu, wanita itu hanya ingin segera turun dari mobil yang membuat pernapasannya serba sumpek ini.


“Bersiaplah, dua minggu lagi. Jika kau masih belum menunjukkan tanda-tanda kehamilan maka kita akan mengulang lagi adegan semalam.” Dylan menyeringai dan memperlihatkan gigi taringnya.


Perempuan di sampingnya pun langsung bereaksi dengan menoleh padanya. Matanya membelalak dan seakan tak percaya dengan apa yang ia dengar.

__ADS_1


"Kenapa? Kau terlalu senang?" sindir pria tersebut.


Bagi Anyelir itu adalah perkataan kurang ajar yang diucapkan seorang laki-laki untuk perempuan.


Wanita itu tak menjawab apa-apa. Dia hanya bergidik sambil menyilangkan lagi tangan ke arah dadanya, lalu menatap ke luar jendela menghindar dari tatapan Dylan.


“Reaksi macam apa itu? Seharusnya kau senang jangan pura-pura.”


Anyelir terdiam dan tak menggubris Dylan. Sampai akhirnya mereka sampai di rumah sakit, tapi Anyelir malah mematung dan tak menyadari hal itu.


“Kau mau keluar sendiri atau kugendong sampai ke depan IGD seperti tadi saat berangkat?” Pertanyaan yang dilontarkan oleh Dylan segera menyadarkan Anyelir dan membuat wanita itu tergopoh-gopoh untuk segera melepas sabuk pengaman dan turun dari mobil milik Dylan.


Namun saat wanita itu hendak membuka pintu mobil, sebelah tangannya dicekal oleh Dylan. Pria itu menahan agar wanita tersebut tidak turun terlebih dahulu dari mobilnya.


Dengan perasaan gemetar, Anyelir mencoba melepaskan pegangan itu. “Ada apa?” tanyanya dengan wajah yang terlihat risi.


Dylan tak menjawab apa-apa, hanya mendekatkan tubuhnya dan mencondongkan kepala ke arah wanita di sampingnya itu. Dia menatap pada bibir semerah ceri yang sedang merekah di antara kedua pipi yang merona. Tanpa pikir panjang, pria itu mencium bibir Anyelir dalam waktu yang cukup lama.


Anyelir langsung melotot saat ia menyadari jika Dylan kali ini menciumnya dengan lembut. Entah apa yang dipikirkan oleh pria itu kali ini, yang pasti hal ini membuat wanita tersebut mematung sejenak. Hanya mematung karena sedang berpikir, bukan mematung karena terbuai oleh ciuman dari Dylan.


Meski itu hanya kecupan panjang, namun pipi Anyelir menjadi lebih merona dari sebelumnya. Ia tidak berharap mendapat ciuman seperti itu dari seorang Dylan.


“Ingatlah, aku hanya akan menyentuhmu jika sampai dua minggu setelah ini kamu belum hamil juga. Jangan berharap lebih jika aku akan menyentuhmu setiap hari.” Dylan berbisik di samping telinga Anyelir.


Pria itu pun melepaskan tangannya dari sang istri dan membiarkan wanita itu turun dari mobil.


Anyelir turun dari mobil dengan wajah yang merona parah. Namun yang lebih mengejutkan lagi adalah ketika ia melihat Dokter Rian melambaikan tangan pada Dylan.


“Hai, Anyelir!” sapa dokter muda itu.


“Ha ... hai,” jawab Anyelir gugup. “Em ... sejak kapan dokter ada di sana? Saya tidak melihat ada dokter di sana,” tukas perempuan itu dengan wajah yang masih merona dengan parah.


Dokter Rian seketika tersenyum melihat Anyelir. “Percayalah, aku tidak melihat apa-apa.”


*

__ADS_1


Jangan lupa buat kasi komen dan tonton iklannya untuk dukung penulis ya. Semakin banyak kalian dukung aku, semakin rajin aku untuk upload konten cerita ini.


__ADS_2