
Di sebuah ruangan tempat agensi dari para model, Andin dan dua orang lainnya duduk di kursi yang berhadapan. Akan tetapi, perempuan itu membuang muka dan seperti enggan menggubris perkataan dua orang yang sedang ada di depannya, yang mana salah satu dari mereka merupakan manajer untuk Andin.”
“Tiga dari empat brand yang pegang memutuskan kontrak sepihak. Belum lagi endorse-endorse di media sosial kamu yang tidak mau lagi memperpanjang kontraknya. Jadi sebenarnya, apa yang terjadi dengan rumah tanggamu, Ndin?”
Dia adalah Talita, manajer yang mengurusi jadwal dan segala kerja sama bisnis Andin. Wanita itu bangkit dari tempat duduk dan menekan meja menggunakan kedua telapak tangan. Awalnya wanita itu hanya menatap lurus pada Andin yang diam saja tanpa memberi jawaban, tapi karena mulut dari artisnya itu sama sekali tak bersuara, dia pun menggebrak meja untuk semakin memecah suasana.
Talita pun melipat kedua tangan sambil berjalan mondar-mandir di atas sepatu heels hitamnya.
Kemudian satu orang lain yang ada di sana pun menimpalinya. “Andin, kamu ceritakan masalahmu dengan kami. Agar kami bisa tahu, di mana lubang-lubang yang perlu kami tutupi. Ini semua bukan hanya tentang karier kamu, tapi ... tentang kita semua juga.” Pria itu bercerita dengan gerakan-gerakan tangan yang menunjukkan jika dirinya betul-betul gereget kepada Andin.
“Sudah, Eros. Aku sakit kepala! Hubungi kepala media yang menyebar berita itu! Kita harus bernegosiasi,” ujar Talita sambil berjalan pergi.
“Tapi ... apa yang harus aku katakan? Talita, Woy!” Eros berteriak, tapi tak didengar oleh wanita yang baru saja keluar tersebut.
Kini menyisakan dirinya, dengan sang artis yang sejak tadi hanya diam sambil memperhatikan bentuk dan warna kukunya yang baru saja diberi perawatan.
Eros pun kembali menoleh dan menatap pada Andin. “Andin ...,” panggilnya.
Sambil memasang wajah ketus, Andin masih enggan menatapnya.
“Ngomong, Ndin!”
Hening.
“Ndin, ngomong!”
Bentakan dari Eros justru malah membuat Andin berdiri dan pergi. Entakkan dari sepatunya terdengar menjauh meninggalkan ruangan itu dan juga Eros sebagai tim manajemen yang mengurus Andin.
__ADS_1
“Oh, dasar Wong Edan!” maki Eros sambil memukul-mukul dahinya.
*
Dirinya bingung harus mengatakan apa. Dalam sejarah berita dunia hiburan, Andin tak pernah memiliki noda mengenai rumah tangganya. Ia tak bisa mengatakan jika ini semua karena perkara tentang anak.
Baik Andin maupun sang suami adalah seorang publik figur. Dirinya sebagai artis, sementara Dylan adalah pengusaha sukses yang terkenal di dunia bisnis. Siapa di sini yang tidak mengenal Dylan Bagaskara dan keluarganya?
Wanita itu menekan pedal gas mobilnya lebih dalam, tangannya memutar setang kemudi untuk mengendalikan kendaraan yang ditunggangi. Tujuannya hanya satu, klub malam!
Dirinya ingin sebuah hubungan tanpa terikat pernikahan, seperti yang ia jalani dengan Wira.
Kenapa? Karena hubungan seperti ini tidak perlu melibatkan keluarga, tidak peduli juga dengan keturunan, sudah hamil atau belum, tidak perlu punya mertua dan lain sebagainya. Wanita ini ingin hubungan yang bebas, tapi ... ia tetap ingin pasangan yang setia.
Mungkin beberapa aspek yang lain bisa didapatkan oleh Andin dari seorang Wira. Pria itu tak hanya melimpahinya dengan uang dan kekayaan, tapi juga kebebasan. Hubungan mereka tidak terikat dan ke mana pun pergi bersama. Tapi ... sebagai pasangan yang setia, sepertinya tak ia temukan dalam diri Wira.
Akan tetapi bukan itu tujuan Andin kemari. Wanita tersebut segera menuju pada meja bartender, untuk meminta segelas anggur kesukaannya. Diletakkannya tas mini di meja, ia menangkap dagu menggunakan telapak tangannya, kemudian seorang pelayan bar menghampirinya.
"Sendirian?” tanya pelayan bar tersebut sambil menyodorkan sebotol anggur dan juga gelasnya. Kemudian pria berbaju putih dengan dasi kupu-kupu itu pun menuangkan minuman untuknya.
“Hmm.” Andin menyesap anggur menggunakan bibir merahnya. Dia tak ingin melakukan apa-apa untuk saat ini, sampai ia memutar kursi sambil membawa gelasnya turut serta.
Ia memperhatikan banyaknya pasangan pria dan wanita yang sedang menari berhadapan sambil mengangkat tangannya. Mereka mempertemukan bagian bawah perut dalam setiap gerakan.
Andin masih saja menyesap anggurnya sedikit demi sedikit. Kemudian, dari celah-celah gerakan orang-orang yang sedang tertawa sambil bergoyang itu, dirinya menangkap seseorang berbaju putih dan juga kemeja dengan kancing atas yang terbuka, lalu dasi yang tak lagi di tempatnya karena telah menggantung pada leher tanpa simpul dan tangan seorang wanita di ujung dasi tersebut.
Matanya agak memanas melihat hal tersebut, dia datang kemari untuk mendinginkan kepala, tapi malah melihat sesuatu yang menjengkelkan.
__ADS_1
Dirinya tak terbiasa melihat pasangannya terlibat dengan perempuan lain. Selama bertahun-tahun bersama Dylan, pria itu selalu setia dan sama sekali tak pernah menunjukkan hubungan dekat dengan wanita lain. Bahkan dengan Tera, dia hanya bersikap bagai bos dan sekretaris baik di dalam maupun di luar kantor. Tapi Wira ....
Wanita itu menggigit bibir bawah dan menenggak habis seluruh anggur dalam gelasnya. Hubungannya dengan Wira memang dirahasiakan dan dia tahu itu. Mereka hanya menjadi sepasang di atas ranjang dan Andin mengerti itu. Tapi bukan berarti pria itu bisa seenaknya dengan perempuan lain?
Sambil menuangkan anggur lagi, Andin menahan amarah di kepalanya.
“Kau kesal dengan Wira?” tanya pelayan bar yang tiba-tiba kini ada di depan Andin lagi.
Lagi-lagi Andin bungkam, ia tak bisa memperlebar masalah ini dengan menceritakannya pada orang lain.
“Semua orang di klub ini sudah tahu hubungan kalian, jadi ... ketika kami membaca berita itu di internet, kami ... tidak terkejut lagi,” ujarnya lagi.
Ingin dia mengacak-acak rambut dan kepalanya, tapi ... biarlah. Konon laki-laki tak menyukai perempuan yang terlalu menunjukkan perasaan suka di depan mereka.
“Bill!” ujar Andin pada pelayan bar tersebut.
Laki-laki dengan seragam pelayan pun menghampiri Andin. “Sudah mau pergi?”
Andin tak menjawab dan hanya menyerahkan kartu kredit pemberian Wira pada pria tersebut. Setelah pembayarannya selesai, perempuan itu pun keluar dari klub sambil pura-pura tak melihat apa-apa.
Wanita itu masuk ke dalam mobil sambil berpikir apa yang harus ia lakukan?
Wira memang memberinya uang, hidup mewah dan segala kesenangan dunia lainnya. Tapi ... belum genap satu bulan, kenapa perempuan tersebut tetap tak merasa bahagia? Meski setidaknya keadaan kali ini lebih baik daripada dikejar-kejar tuntutan hamil dari mertua.
Ia pun segera menghubungi seseorang sebelum ia pergi meninggalkan klub.
Dalam ponselnya ia mengatakan sesuatu, lalu ia pun menutup panggilan itu dan tak lama kemudian pesan baru ia terima.
__ADS_1
‘Aku akan mengatur semuanya, nama baikmu akan kupulihkan kembali.’ ~Talita.