Menikahi Mantan Istri

Menikahi Mantan Istri
83. Siaran Pers Live!


__ADS_3

Duduk di ruang tengah memegang sebuah tablet dengan layar yang terus-menerus dipantau. Kacamata yang berulang kali dibenarkan agar tepat berada di tempatnya. Dahi wanita paruh baya tersebut benar-benar mengerut dengan alis yang bertaut.


“Ini teh jahenya, Bu.” Anyelir mendekat sambil menyodorkan segelas minuman hangat untuk sang mertua.


“Terima kasih,” jawab perempuan itu tanpa menengok pada gelas yang diberikan untuknya. Matanya masih fokus untuk terus menatap pada layar gawainya.


“Bagaimana, Bu? Masih belum?” tanya Anyelir sambil duduk di samping Lastri.


Perempuan paruh baya itu menggelengkan kepala, kemudian dirinya menggeser tangannya untuk menunjukkan layar tablet pada sang menantu. “Kaulihat saja, masih belum dimulai.”


Anyelir menyimpan nampan di atas meja, lalu dia ikut mengamati segala yang ditampilkan di sana. Podium masih kosong, belum terlihat wajah Andin ataupun Dylan ada di sana. “Apa mereka belum hadir?” tanyanya.


“Kata wartawannya tadi bilang Dylan sudah datang, dia ada di ruang tunggu. Tapi mungkin Andin yang belum.”


“Bapak belum pulang juga, Bu?” tanya Anyelir mengalihkan topik agar mereka tak jenuh menunggu jumpa pers yang tak kunjung mulai.


“Iya, katanya ada urusan dadakan yang  membuat dia harus lebih lama di sana. Dia memaksa ibu agar menyusulnya besok. Menyebalkan sekali,”  gerutu perempuan dengan cepol di rambutnya itu.


Anyelir terkekeh setiap mendengar sang ibu mertua membicarakan suaminya.


Apakah suatu saat dirinya juga bisa memiliki kedekatan seperti itu dengan Dylan?


“Anye, coba ke Bi Ai minta camilan-camilan atau apa begitu. Ini biar nggak cuma teh saja yang nemenin.”


Anyelir pun beranjak dari tempatnya dan mencarikan permintaan sang ibu mertua. “Baik, Bu.”

__ADS_1


*


“Kami selaku agensi dari Andin Sasmitha, membuka acara jumpa pers. Harap kalian menyimak penuturan dari artis kami agar tidak ada lagi berita miring yang tersebar di luar sana,” ujar Talita yang memimpin jalannya acara jumpa pers tersebut.


Perempuan yang berdiri di atas podium itu kemudian mengangguk pada salah satu pengawal, lalu tak lama kemudian dua orang yang sedang ramai dibicarakan itu pun muncul diiringi oleh pengawal lainnya.


Seluruh kamera berpindah arah, mereka bergerak mengikuti Andin dan Dylan yang berjalan dari pintu utama menuju ke podium yang disediakan.


“Harap semuanya tenang dan beri mereka waktu untuk bicara.” Talita mencoba menengahi kericuhan karena kedatangan dua orang tersebut.


Dylan dan Andin duduk bersebelahan secara terpisah di podium. Mereka tak menunjukkan kemesraan, tapi wajah dari keduanya masih senantiasa tersenyum pada kamera.


Talita mengangguk pada Andin untuk memberi kode agar artisnya segera mulai bicara saja, karena saat itu ruangan tersebut telah hening dan kondusif untuk mengawali acara.


“Baik, saya dan mantan suami saya akan memberi penjelasan secara bergantian. Jadi, saya harap kalian semua bersikap bijak dalam mengambil, mengutip maupun meliput keseluruhan acara ini. Saya tidak suka dan akan memberikan gugatan kepada siapa pun yang memotong ucapan-ucapan saya dan menjadikannya berarti lain dari apa yang saya katakan.” Dengan tegas Andin menyebutkan terlebih dahulu sanksi bila ada reporter yang memutar balikan fakta.


“Baik, sesi tanya jawab akan kami buka setelah klarifikasi dari Tuan Dylan Bagaskara. Silakan,” ucap manajer dari Andin tersebut.


Dylan pun menggeser duduknya menjadi lebih maju dan dekat dengan mikrofon. Pria itu pun membuka mulutnya. “Keberadaan saya di sini untuk mengklarifikasi mengenai adanya isu perselingkuhan yang kemudian menyeret nama anak saya. Hal ini selain nantinya akan memberikan citra buruk untuknya, juga berdampak buruk pada keluarga dan seluruh bisnis yang kami jalankan,” ucap Dylan.


Pria tersebut pun melanjutkan penjelasannya. “Rio memang bukan anak kandung dari istri pertama saya. Mengenai fakta yang kami tutupi selama empat tahun ini, kami meminta maaf yang sebesar-besarnya. Lalu seperti yang dikatakan sebelumnya, tidak ada perselingkuhan dalam pernikahan kami.”


“Saya menikah dengan ibunya Rio secara sah menurut agama dan atas persetujuan istri pertama. Kemudian, beberapa bulan setelah melahirkan anak kami, saya dan ibunya Rio resmi berpisah. Kami memutuskan untuk mengumumkan jika Rio adalah anak dari Andin, karena pada saat itu kami berpikir ... lebih baik Rio tahu seperti itu, daripada dirinya harus melihat Andin sebagai ibu tiri. Pada saat itu ... kami tidak berpikir akan terjadi seperti ini. Sekali lagi, kami mohon maaf karena fakta yang selama ini kami tutupi. Kami sama sekali tak bermaksud untuk membohongi publik.” Dylan pun menjauhkan mulutnya dari mikrofon karena penjelasannya telah usai.


“Baik, kami hanya akan membuka tiga buah pertanyaan dan setiap pertanyaan akan kami saring terlebih dahulu. Segala pertanyaan yang membuat tidak nyaman ataupun menggiring opini publik untuk berlawanan dengan fakta yang baru saja dijelaskan, kami akan menolaknya dengan tegas. Silakan!”

__ADS_1


Para reporter pun dengan semangat mengacungkan tangan dan Talita memilih satu yang paling cepat. “Iya, silakan.”


“Jika tadi sudah diklarifikasi bahwa Pak Dylan tidak berselingkuh, maka bagaimana dengan Andin dan Wira?” tanya salah satu reporter.


Talita dan Andin bertatapan, perempuan itu mengangguk memberi kode jika pertanyaan ini boleh untuk ia jawab karena tak menyudutkan siapa pun.


“Saya berhubungan dengan Wira setelah saya mengajukan gugatan cerai pada Dylan. Sebelumnya, saya tak ada hubungan apa pun baik dengan Wira maupun pria lain,” jawab Andin singkat.


“Lalu bagaimana kalian sedekat itu dalam waktu yang singkat? Itu artinya kalian telah menjalin hubungan saat kamu masih belum resmi bercerai?” Reporter itu mengajukan pertanyaan lain, tapi Talita memotongnya.


“Pertanyaan selanjutnya!” ujar wanita tersebut sambil menunjuk pada wanita yang berdiri di depan sambil memegang buku jurnal dan pulpen.


“Andin, kenapa kamu mau begitu saja saat Dylan melakukan poligami?” tanya reporter wanita tersebut.


Talita menatap pada Andin, tapi ternyata Dylan langsung mendekat pada mikrofon dan menjawab sebelum orang lain mendahului. “Itu adalah keputusan kami karena beberapa kondisi yang tak bisa kami jelaskan di sini. Pertanyaan selanjutnya!”


Andin melirik sinis pada Dylan dan kemudian tersenyum miring. Mungkin dalam hati wanita itu tak bisa menerima karena pria tersebut menyembunyikan alasannya. Padahal, satu-satunya alasan saat itu adalah karena rasa terpaksa dari dorongan dan tuntutan keluarga sang suami.


Kemudian Talita pun membuka satu lagi pertanyaan terakhir. “Silakan pertanyaan yang terakhir."


Dia pun memilih pada seseorang yang mengacungkan tangan terlebih dahulu. “Iya, silakan.”


“Apakah kalian memiliki rencana pernikahan dengan pasangan baru kalian dalam waktu dekat?” tanya reporter itu.


Andin kali ini menjawab terlebih dahulu. “Saya belum terpikir ke arah sana, saya dan Wira ingin menikmati hubungan yang seperti ini dahulu. Tapi entah dengan mantan suami saya dengan pasangan barunya, entah dia sudah menikahi kembali ibu dari Rio atau belum?” Pertanyaan Andin berhasil memancing Dylan lagi. Perempuan itu sengaja mendorong Dylan, agar pria itu bisa tersudutkan. Andin termasuk salah satu orang yang sudah mengetahui perasaan orang lain, dia sekarang hanya ingin memancing Dylan saja dengan berkata seperti itu.

__ADS_1


Dylan mengetahui apa yang ada di pikiran Andin, dia bahkan baru saja melihat senyum miring yang mencurigakan dari wajah mantan istrinya. Hal itu membuat Dylan semakin sadar, jika dia dipaksa oleh Andin.


“Aku ...? Aku juga akan memikirkan terlebih dahulu bagaimana rencana pernikahan kami. Entah dalam waktu dekat atau mungkin sampai masalah ini reda setidaknya.”


__ADS_2