
“Bapak harus minum vitamin tepat waktu agar cepat pulih, baru setelah itu ... bapak bisa menjenguk ibu di rumah sakit.” Anyelir berkata seolah memberikan penghiburan bagi pria paruh baya yang sedang berbaring tersebut.
“Sini, saya bantu untuk duduk,” ujar calon dokter berbaju hijau itu sambil membantu mertua laki-lakinya untuk duduk.
“Uhuk, uhuk!” Gunadi terbatuk sambil berusaha menggapai tangan Anyelir untuk ia berpegangan agar bisa duduk.
Di kamar itu, dia tidur seorang diri. Pria tua tersebut terlihat kesepian dan garis-garis halus di matanya menegaskan sedih yang ia rasakan. Beruntung dia memiliki menantu seperti Anyelir yang merupakan seorang calon dokter dan telaten untuk mengurus orang tua sedang sakit seperti dirinya.
Setelah berhasil menegakkan tubuh, Gunadi menerima beberapa buah pil dari Anyelir. Dia pun memasukkannya ke dalam mulut sekaligus.
Anyelir kini menyodorkan gelas berisi air mineral agar Gunadi bisa menelan semua obatnya.
Pria tua itu menerima gelas tanpa banyak bicara. Lalu dia menenggak airnya agar semua pil-pil tersebut ikut masuk dan larut dalam tubuhnya.
Sebelum kembali berbaring, dia meneguk lagi air mineral tersebut. Meski tidak sampai tandas, setidaknya telah menghilangkan rasa mengganjal di tenggorokannya.
“Biar saya bantu lagi, Pak.” Anyelir selalu peka dan ia langsung sigap membantu mertuanya itu berbaring lagi dengan pelan. Dipegangnya lengan atas Gunadi oleh Anyelir, lalu ia juga memegang bagian punggung mertuanya sampai pria tersebut berbaring sempurna.
“Terima kasih.” Dengan suara parau nan lirih, Gunadi mengucapkan kata tersebut untuk sang menantu.
Anyelir tersenyum sambil mengangguk.
“Bapak kalau ada apa-apa, boleh minta tolong kepada saya,” ujar Anyelir sambil membereskan bekas minum obat sang mertua.
“Aku bisa sendiri, Anye .... Kamu pikir aku ini ringkih?” jawabnya sambil memejamkan mata.
Anyelir terkekeh mendengar penuturan sang mertua. Meski belum sepenuhnya pulih, tapi pria ini tak mau menunjukkan jika ia sedang terpuruk.
“Aku ... hanya tak biasa orang selain Lastri yang mengurusku. Kalaupun itu asisten ataupun pelayan, mereka semua melakukan apa pun atas perintah Lastri. Harus siapkan ini, buatkan itu, semuanya dia yang mengurus. Aku tak pernah mendapatkan perhatian seperti itu dari orang lain selama menikah dengannya.” Pria tua itu kembali membuka kelopaknya. Dia menatap langit-langit seakan menembus pada lapisan kenangan yang tergambar di atas sana.
“Tapi ... aku senang kau dan juga Dylan selalu terlihat tegar di hadapanku. Ini memberi kekuatan tersendiri untukku dan ... menghilangkan rasa putus asa dalam benakku.” Gunadi melanjutkan ucapannya.
“Lastri tidak pernah salah memilih orang. Terima kasih telah hadir di keluarga kami,” ucapnya lagi.
Anyelir menggelengkan kepala. “Saya ... hanya membantu bapak untuk minum obat. Kenapa bapak mengatakan hal berlebihan seperti itu,” jawab Anyelir yang malah sungkan karena ucapan sang mertua.
“Kembalilah, aku ingin istirahat.”
“Baik, Pak.”
__ADS_1
Sambil membawa nampan berisi gelas bekas minum pria tua tersebut, Anyelir pun berjalan meninggalkan kamar sang mertua.
Dia tak perlu khawatir, karena di depan tersebut kini ada dua orang penjaga dan juga pelayan yang selalu tinggal di dekatnya. Tapi tetap saja, Anyelir selalu berpesan agar mertuanya itu memanggil dirinya saja bila membutuhkan sesuatu.
Wanita itu melangkah kaki, suara denting dari gelas di atas nampan terdengar cukup nyaring hingga ke lantai satu. Seorang perempuan lain mendongak ke atas untuk melihat apa yang sedang terjadi.
“Bu Anyelir,” ucap perempuan itu dengan lirih dan langsung menghampiri.
Mereka bertemu di tengah tangga dan saling menyapa.
“Kenapa, Bi? Bapak mau istirahat katanya,” ujar Anyelir.
“Sini biar saya yang bawa gelasnya, Bu Anyelir.” Bi Ai mengambil alih nampan tersebut.
“Aih, Bibi. Saya tak apa-apa kalau membawanya sendiri.” Anyelir padahal tak keberatan, tapi ia tak mau berebut saat berada di tangga seperti ini. Untuk itu ia pun membiarkan kepala pelayan di rumah itu untuk membawa gelasnya.
“Sudah bibi saja,” ucap Bi Ai yang langsung turun meninggalkan Anyelir.
Perempuan itu hanya tersenyum sambil ikut turun pula ke lantai satu. Ada sesuatu hal yang sedang ia tunggu sejak tadi. Sambil berjalan, dia melihat ke arah jam tangan.
“Seharusnya dia sudah pulang,” ungkap Anyelir yang gelisah.
Ada sesuatu hal yang ingin ia ceritakan pada suaminya, tapi sejak kepulangan Dylan kemarin, wanita itu masih belum memiliki kesempatan.
“Dia pasti akan segera pulang.”
*
“Brontosaurusku berwarna hijau,” ujar Rio seraya mengangkat buku gambarnya.
Anyelir mengambil gambar tersebut dan mengamatinya. “Wah, cara Rio mewarnai semakin hari semakin baik,” puji Anyelir pada hasil karya anaknya.
“Memangnya kemarin hasil mewarnai jelek, ya, Ma?”
Anyelir terkekeh mendengar pertanyaan putranya. “Bukan begitu, hanya saja hari ini lebih baik dari kemarin.”
Rio tersenyum lebar memperlihatkan gigi susunya yang tumbuh jarang-jarang.
Perempuan itu kembali melirik pada ponselnya, tak ada notifikasi sama sekali dari pria tersebut. Padahal jam sudah menunjukkan pukul 20:00 waktu Indonesia bagian barat. Seharusnya Dylan sudah pulang bahkan dua jam lalu.
__ADS_1
“Mama, aku akan mewarnai dinosaurus yang lain.” Rio mengambil kertas bergambar lainnya untuk ia warnai.
Anyelir hanya mengangguk tak memberi respons yang lain.
Dia benar-benar tak sabar ingin bertemu suaminya untuk mengatakan hal yang sedang mengganjal di pikirannya.
Drrrrt drrrrt drrrrt
Ponselnya pun bergetar, dengan tak sabar Anyelir langsung melihat pada layar.
Ternyata itu Lina, pundak perempuan itu pun merosot kala ia sedang merasa kecewa. Meski begitu, ia tetap mengangkat panggilan dari sahabatnya tersebut.
“Sebentar ya, Sayang,” bisik Anyelir pamit pada anaknya untuk mengangkat telepon.
Rio yang tak menggubris terus saja mewarnai, sementara sang ibunda tengah menuju ke luar kamar untuk mengangkat telepon dari sahabatnya.
“Ada apa, Lin?” tanya Anyelir dengan sedikit berbisik.
“Anye, kau baik-baik saja?” Suara di seberang sana lebih panik dibanding Anyelir.
“Aku ...? Kenapa memang? Yang sakit, kan, ibu mertuaku, Lin. Kautahu sendiri itu,” ujar Anyelir pada sahabatnya. “Memang ada apa?”
Terdengar Lina mengembuskan napas panjang melalui teleponnya. “Syukurlah.”
“Ada apa memang? Pertanyaan darimu membuatku tak tenang begini.” Anyelir pun protes.
“Ada kejadian yang kacau tadi,” ucap Lina pada sahabatnya tersebut.
“Kenapa?”
“Ada seseorang yang menelepon ke resepsionis rumah sakit, lalu orang tersebut mencarimu.” Suara Lina terdengar agak bergetar.
Anyelir sendiri mematung untuk mendengar kelanjutan ceritanya.
“Karena kau sedang cuti dan pada saat itu kebetulan ada dokter Rian lewat, jadi dia yang menerima telepon tersebut. Dan kautahu siapa yang menelepon ke rumah sakit mencarimu itu?”
Perempuan itu tetap diam, kali ini ia seakan tahu cerita selanjutnya. “Wira, kah?”
“Benar sekali!”
__ADS_1