Menikahi Mantan Istri

Menikahi Mantan Istri
62. Amarah Dan Gengsi


__ADS_3

Pria yang sedang menggandeng tangan Anyelir itu pun membawa perempuan itu pergi. Genggaman itu cukup kencang hingga membuat istrinya tersebut agak terseret jalannya.


Akhirnya, Anyelir pun melepas tangan Dylan dengan membanting lengannya.


Dylan menoleh karena terkejut, dia menatap Anyelir dengan tatapan yang heran.


“Saya bisa jalan sendiri,” ucap Anyelir sambil menghindar dari pria tersebut. Dia pun berjalan mendahului dan keluar dari rumah tersebut dengan wajah cemberut.


Pria itu pun membiarkan Anyelir, sementara dirinya mengambil mobil. “Tunggu di sini,” ujarnya.


Ingin sekali Anyelir kabur dan berangkat sendiri saja, tapi ia tak mau memperbesar masalah. Perempuan itu menutup bagian atas wajahnya karena silau cahaya matahari. Memang belum terlalu terik yang membuat kulit terasa panas, tapi cahaya pagi itu sudah cukup untuk membuat mata menghindar karena silaunya.


“Masuk!”


Mobil Dylan berhenti tepat di depan perempuan tersebut, seperti biasa Dylan tak akan membukakan pintunya. Maka dari itu, Anyelir pun membuka dan naik mobil sendiri.


“Mau ke mana? Urusan apa? Ke tempat temanmu? Atau ke tempat Rian?” Dylan memberondong Anyelir dengan berbagai pertanyaan. Pria itu sepertinya masih sangat kesal karena Rian mengantar Anyelir kemarin.


Anyelir menatap Dylan dan tak menjawab pertanyaannya. Dia memberi tatapan kesal pada pria tersebut. Namun setelah itu, perempuan tersebut membuang pandangannya.


“Jadi kamu mau kuantar ke mana?” tanya Dylan sekali lagi. Mobilnya sejak tadi sudah menyala, tapi pria tersebut sama sekali belum menjalankannya.


“Apotek,” jawab Anyelir dengan singkat.


Dylan mengerutkan dahi. “Kau mau membeli obat?” tanya pria tersebut sambil menjalankan mobilnya.


Anyelir melirik dengan aneh ke samping kanan. “Tumben sekali dia banyak bertanya?” gumam Anyelir dalam hati.


Sementara itu, Dylan senyum-senyum sendiri meski perempuan di sampingnya sama sekali tak menimpali dirinya yang sedang mengajak bicara. Entah kenapa, ada perasaan lega setelah semalam ia tidur dengan istri keduanya ini kemarin. Meski ia masih belum mau menunjukkan sikap baik pada Anyelir, tapi kemarahannya sudah benar-benar sirna. Setidaknya, kemarahan Dylan kini hanya tersisa pada Rian, bukan pada Anyelir.


Apotek tidak jauh dari rumah keluarga Bagaskara, sehingga waktu sepuluh menit cukup untuk sampai ke tempat tersebut.


“Apa yang akan kaubeli?” tanya Dylan setelah ia memarkir mobil di pinggir trotoar depan apotek.

__ADS_1


Anyelir masih diam tak menjawab. Perempuan itu langsung melepas sabuk pengaman tanpa menjawab ucapan suaminya. “Anda pulang saja lebih dahulu, saya akan pulang dengan ojek saja.” Dia menimpali ucapan Dylan menggunakan bahasa formal. Sejak tadi pagi, Anyelir kembali menggunakan bahasa formal untuk bicara dengan suaminya.


Dylan pun langsung mengerutkan dahi. “Mulai lagi!” ungkapnya dengan kesal.


Perempuan itu tak peduli dengan apa pun yang dikatakan Dylan. Jika pria itu marah karena hari ini Anyelir dalam mode ‘ngambek’, maka seharusnya dia introspeksi. Karena Anyelir tak akan marah secara tiba-tiba, tanpa suatu sebab.


Anyelir pun turun dari mobil dan sedikit membanting pintu. Wajahnya benar-benar ditekuk dan tak mau menoleh lagi ke arah mobil yang terdapat Dylan di dalamnya.


Pria itu pun diam dan memperhatikan.


Meski Anyelir sedang kesal dan memintanya untuk pergi, Dylan akan tetap menunggu istri keduanya tersebut sampai perempuan itu pulang.


Tak perlu menunggu lama, perempuan cantik dengan bibir sakura yang menjadi candu bagi Dylan tersebut terlihat telah keluar dari apotek.


Tapi ada yang salah, perempuan itu mengabaikan mobil Dylan. Dia tampak hendak menyetop angkutan umum dan benar-benar tak akan pulang bersama sang suami.


“Hei, Anyelir!” panggil Dylan sambil turun dari mobil.


“Nggak jadi, Pak!” teriak Dylan saat itu juga pada sopir angkot yang hampir berhenti.


Anyelir pun melotot. “Anda sedang apa?” Perempuan itu pura-pura terkejut melihat Dylan ada di sana. “Bukankah saya sudah menyuruh Anda pulang?” ujarnya dengan sinis.


“Aku ... akan pulang bersamamu. Aku menunggumu,” ujar Dylan meski agak ragu. Seperti yang dikatakan sebelumnya, Dylan sedang gengsi jika harus bersikap baik pada Anyelir tiba-tiba. Tapi kali ini, dia terpaksa.


“Ayo!” Pria itu menarik lengan Anyelir dan meski wanita itu meronta, dia tak melepaskan tangan sang istri sama sekali.


Anyelir pun mau tidak mau ikut lagi pada suaminya dan masuk ke dalam mobil tersebut.


Dylan pun duduk di kursi kemudi dan melihat Anyelir sedang cemberut dengan wajah yang sangat kusut, bahkan perempuan itu juga membuang muka dari Dylan.


“Apa yang kamu beli?” tanya Dylan pada Anyelir.


Wanita itu tak menggubris ucapan Dylan, hingga pria tersebut merebut tas Anyelir dan melihat apa yang dibeli oleh wanita tersebut.

__ADS_1


“Apa maksud Anda merebut tas saya?” bentak Anyelir dengan sedikit.


Tapi benda dengan bungkus warna biru dan merah jambu itu sudah berada di tangan Dylan.


“Kamu membeli ini?” tanya Dylan pada Anyelir.


Dengan segera Anyelir merebut kedua benda tersebut.


“Kamu hamil?” tanya Dylan lagi.


“Bukan urusan Anda,” jawab Anyelir dengan jutek.


Dylan pun mengerutkan dahi. “Hei, hei! Kenapa bisa jadi bukan urusanku? Memangnya kalau kau hamil, yang ada di perutmu itu anak siapa?”


Anyelir masih membuang dan tak mau menoleh pada Dylan. Bagi Anyelir, enak saja dirinya diajak berbaikan tanpa ada kata maaf dari pria itu. Perempuan itu tak akan luluh dan tetap mengacuhkan Dylan.


“Anyelir, kau tidak melakukannya dengan orang lain, kan?” tanya Dylan dengan nada serius,


Perempuan itu pun menoleh dan menatap Dylan dengan penuh kemarahan. “Anda pikir saya ini perempuan macam apa? Saya tidak akan pernah tidur dengan pria mana pun dan memberikan tubuh saya semudah itu. Hanya pria yang tidak gentle yang memaksa perempuan untuk tidur dengannya.” Perkataan Anyelir begitu menohok pada Dylan.


“Jadi ... kamu terpaksa?” tanya Dylan sekali lagi. “Tapi aku sudah memba ....”


“Apa? Membayar? Anda bayar saya?” Anyelir balik bertanya dengan nada ngototnya.


Dylan hendak mengangguk, tapi dia memilih diam kali ini. Dirinya memang hendak mengatakan hal itu tadinya.


“Saya sudah kembalikan uang Anda! Saya bukan perempuan murahan yang bisa dibeli dengan uang. Anggap saja yang kemarin kita lakukan itu adalah karena saya memang istri Anda dan Anda berhak lakukan itu pada saya!”


Dylan tertohok untuk yang kedua kalinya dengan ucapan Anyelir. Pria itu pun melihat ponselnya yang ia letakkan di atas dashboard. Benar saja, ada notifikasi uang seratus juta yang dikembalikan oleh Anyelir beberapa menit yang lalu tapi dia tidak menyadarinya.


Kali ini tak ada yang bisa Dylan katakan lagi. Dirinya merasa terpojok dan bingung, tapi ia gengsi untuk kalah apalagi mengaku salah.


“Jalankan saja mobilnya! Kalau tidak aku akan turun!”

__ADS_1


__ADS_2