
Panggilan dari Lina benar-benar tak dapat diabaikan. Sahabatnya tersebut telah memberitahu mengenai sesuatu yang sangat penting. Hal tersebut membuat Anyelir langsung pergi dari rumah saat itu juga dan menuju rumah sakit. Setidaknya, ia harus bertemu dengan dokter Rian bila ada waktu dan meluruskan permasalahan ini.
Semoga saja sang dokter yang sibuk itu ada waktu untuknya.
*
Bangku taman rumah sakit menjadi tempat yang tepat untuk gadis itu pergi bertemu dengan sahabatnya. Selain dirinya, di sana juga ada beberapa pasien lain yang sedang berjalan-jalan sejenak untuk menghirup udara bebas setelah seharian di dalam kamar dan merasa pengap.
Anyelir duduk dan mencoba untuk menyimpan rasa gugupnya. Minimal, ia bisa meminta maaf karena telah membuat di rumah sakit.
Ini adalah kejadian memalukan, seandainya bukan Dokter Rian yang mengangkat telepon dari Wira, ia tak tahu apa yang terjadi. Bisa jadi hal ini sudah menjadi bahan perbincangan lagi di kalangan pegawai rumah sakit dan juga teman-temannya.
“Anye,” panggil seorang gadis yang sedang berlari ke arahnya sambil memegang jas putih di tangan.
“Lin,” sahut Anyelir sambil mendekat.
“Jangan bicara di sini, ayo ke kantin,” ajak Lina yang langsung menyeret lengan kawannya.
“Apa karyawan lain juga mendengarnya, Lin?” tanya Anyelir yang khawatir karena melihat Lina yang panik dan terburu-buru mengajak Anyelir pergi.
“Nggak ada, jangan khawatir!”
Anyelir pun hanya mengekor Lina sambil memegang tas yang diselendangkan di bahunya. Lalu ketika ia sampai di kantin, dirinya pun mengerti kenapa Lina mengajaknya ke sana.
“Anye!” panggil Dokter senior berwajah khas Jawa dan sangat gagah juga tampan tersebut. Ya, Dokter Rian. Anyelir sempat berkecil hati karena takut ia tak bisa menemui pria ini, tapi ternyata kawannya bisa mempertemukan mereka.
“Oh, ternyata ada Dokter Rian. Kenapa kau tidak bilang,” kelakar Anyelir sambil duduk di hadapan pria tersebut.
“Mau pesan minum?” tawar pria tersebut.
“Ah, tidak perlu.” Perempuan itu menolaknya.
“Anye ... sebelumnya aku minta maaf. Karena aku tak mau Dokter Rian berburuk sangka padamu, maka dari itu aku menceritakan duduk permasalahannya dengan benar. Aku mengatakan berdasarkan ceritamu dan tidak ada yang aku ubah. Jadi ... sekarang, Dokter Rian tahu masalahmu,” jelas Lina tentang mengapa ada dokter senior ini di hadapan mereka.
__ADS_1
“Aku turut prihatin dengan yang menimpamu, Nye. Bagaimanapun juga, aku masih ingat pada pria paruh baya berambut keriting yang saat itu mengacau di depan IGD.” Dokter Rian ternyata masih mengingat saat memalukan itu. Jika ingat bagaimana Joni datang ke IGD untuk memerasnya dan mengaku-ngaku sebagai ayah kandungnya pada satpam, hal tersebut membuat Anyelir merasa ingin muntah saja.
“Maaf, Dok.” Hanya itu yang bisa dikatakan oleh Anyelir.
Rian pun menghela napas dan mengembuskannya. “Bagaimana dengan Dylan? Apa dia sudah tahu?”
Tentu saja Anyelir menggeleng. Dari mana suaminya itu bisa tahu. “Pak Dylan sibuk mengurus perusahaan yang satu minggu kemarin ia tinggalkan. Jadi aku belum sempat bisa cerita.”
“Tapi ... kamu memang berniat untuk bercerita, kan, Nye?” sela Lina.
Anyelir mengangguk. “Aku sudah mencoba untuk mencari waktu senggangnya, tapi ternyata Dylan terlihat seperti orang yang kelelahan, aku jadi tak tega mengatakan masalahku padanya, Lin.”
Rian mengangguk mengerti maksud dari Anyelir.
“Aku akan membantumu untuk mengurus pria ini ke kepolisian karena telah meneror.” Lina menimpali lagi.
Tapi kali ini Rian menggeleng kepalanya. “Sepertinya akan sulit, karena yang mereka lakukan hanya menelepon untuk menagih hutang dan tidak ada kekerasan.”
“Tapi, kan, mereka telah meneror Anyelir, Pak?” protes Lina yang tak terima.
“Tapi ... itu, kan, bukan hutang Anyelir!” Lina tak terima dengan keadaan sahabatnya.
“Aku mengerti, maka dari itu, kita harus mempelajari terlebih dahulu kondisi lawan. Untuk melakukan hal ini, aku benar-benar membutuhkan Dylan. Dia harus diberitahu. Kau tidak apa-apa, kan?” tanya Rian pada Anyelir untuk memastikan.
Perempuan itu pun mengangguk untuk mengizinkan. “Boleh. Tapi ... aku takut dia sedang sibuk dengan pekerjaannya.”
“Kalau masalah itu biar aku yang urus. Biar aku yang bicara pada Dylan,” timpal Rian menawarkan diri.
Anyelir hanya bisa mengangguk. “Terima kasih, Dok. Maafkan aku yang merepotkanmu.”
Perempuan tak tahu harus bagaimana jika tak dibantu Lina dan Dokter Rian. Belum lagi, nanti dokter Rian yang akan meminta tolong kepada Dylan, suaminya. Semoga saja, ia bisa mengalahkan pihak lawan.
“Tapi aku masih curiga pada pria yang meneleponmu,” ujar Rian sambil menyandarkan punggung di kursi kantin tersebut.
__ADS_1
"Kenapa memangnya, dia Wira, kan?” tanya Lina lagi.
Sang dokter itu mengangguk, tapi kemudian berkata lagi. “Aku hanya curiga dengannya.”
“Dokter, apa kau curiga jika pria itu adalah pacar Bu Andin yang sekarang?” Anyelir menyahut. Karena kini nama Andin juga meroket berkat viralnya kasus skandal yang menimpa rumah tangga mereka.
Rian hanya tersenyum. “Itu baru dugaan saja.”
“Tapi ... jika Wira yang dimaksud itu adalah pacar Bu Andin, apa itu artinya akan sulit menjebloskannya ke penjara?” tanya Anyelir ragu. Ia tak mau hubungan rumah sakit ini dengan kliennya menjadi rusak hanya karena kasus yang menimpa Anyelir.
Kali ini Rian tak menjawab, ia hanya mengulum bibirnya sambil sedikit berpikir. “Entah, jika aku tak terlalu menunjukkan diri dalam ikut campur, mungkin semuanya akan mudah. Tapi ... jika dia sampai tahu, maka bisnis keluargaku juga jadi ancaman.”
“Kalau begitu kita lakukan diam-diam,” timpal Lina.
“Semoga Dylan bisa membantuku kali ini,” keluh Rian sambil berdiri dari meja kantin.
“Terima kasih karena Dokter Rian telah percaya padaku dan tak memakan mentah-mentah berita miring tersebut." Anyelir mendongak karena melihat Rian yang telah beranjak dari kursinya.
“Aku mengenalmu, Anyelir.” Dokter Rian memberi senyum ramahnya, kemudian dia pergi meninggalkan kedua perempuan main tersebut.
Mereka berdua pun hanya makan berdua sama-sama, tapi sayang, Lina malah tak menghabiskan makanan enaknya itu dan malah berlari karena jam istirahatnya telah habis.
Anyelir hanya bisa menggeleng sambil tersenyum tipis. Seandainya tak harus mengandung adik untuk Rio, maka dari itu Anyelir pasti telah melanjutkan program koas seperti Lina.
Belum perempuan itu menghabiskan sisa makanannya, seorang pria yang tadi menemui dirinya pun kembali lagi.
“Ada apa, Dok? Apa ada yang ketinggalan?” tanya Anyelir.
Rian pun menghela napas. “Aku meninggalkan buku .... Nah, ini dia. Ketemu!” ujarnya seraya mengambil buku yang tergeletak di samping kursinya tadi.
Anyelir pun hanya terkekeh melihat dokter senior juga ternyata kadang pelupa.
“Anyelir ...,” panggil Rian setelah tak ada Lina yang melihat mereka berdua.
__ADS_1
“Iya, Dok?”
“Aku ... aku ... aku minta agar kamu tetap mempertimbangkan penawaranku yang dulu.”