
Karena buruk rupa, Mayleen dibuang oleh ayahnya ke sebuah
sumur dan sang ayah berharap gadis malang itu mati. Tidak seperti namanya yang
memiliki arti ‘Keindahan’, Mayleen justru memiliki nasib buruk, rupa yang
buruk, ekonomi yang buruk, dan lingkungan keluarga yang buruk.
Mayleen sering diperlakukan sebagai pembantu oleh saudara
tirinya. Semenjak ayahnya menikah lagi, tak ada seorang pun yang mau
membelanya. Jangan tanyakan perlakuan ibu tirinya, sudah pasti wanita itu tak
akan pernah membela Mayleen.
Setiap pekerjaan yang Mayleen lakukan, selalu dikacaukan
oleh adik tiri Mayleen. Hal itu membuat gadis malang tersebut harus mengulang
lagi pekerjaannya. Dan terakhir, nasib buruk Mayleen membawa dia ke sumur tua
ini.
Hal tersebut dikarenakan fitnah dari kedua saudara
kembar. Mereka memasukkan kalung permata milik salah seorang saudagar ke jubah
kumal Mayleen. Hal itu membuat Mayleen dihukum dan diasingkan.
“Gadis manis, bangunlah.” Sebuah suara lembut
membangunkan Mayleen.
“Di mana aku?” tanya gadis itu yang kebingungan.
Pandangannya berkunang-kunang dan ia masih merasa pusing. Seingatnya, ia
dilempar tanpa belas kasih oleh orang-orang suruhan ayahnya ke sumur tua yang
terletak di tengah hutan.
“Kau sedang berada di rumahku.” Suara wanita yang lembut
itu kembali terdengar.
Mayleen mencoba menyadarkan dirinya. Setelah beberapa
menit pandangannya pun mulai jelas.
“Kau masih merasa pusing?”
Mayleen menoleh dan ia pun melihat dengan jelas jika
wanita yang menolongnya itu sangat cantik. Menggunakan pakaian berwarna putih
biru, cara berjalannya begitu anggun dan memiliki paras yang sangat lembut.
Rambutnya panjang berwarna putih dan lagi, suaranya itu sungguh sangat
menenangkan hati.
__ADS_1
“Aku sudah merasa lebih baik.” Mayleen mencoba untuk
menegakkan badannya.
“Hati-hati tubuhmu belum pulih.”
“Terima kasih sudah menolongku,” ucap Mayleen.
“Justru kamu yang sudah menolongku. Terima kasih,” balas
wanita itu yang Mayleen tak mengerti.
“Benarkah?” Mayleen tak ingat kapan dia pernah menolong
wanita di hadapannya ini.
“Perkenalkan namaku Xiang, kau bisa panggil aku
Yang-Yang.” Wanita itu mengulurkan tangannya yang langsung disambut baik oleh
Mayleen.
“Anu ... kalau boleh tahu, bagaimana caramu mengeluarkan
aku dari sumur itu?”
Wanita itu pun hanya tersenyum dan mengambil secangkir
minum untuk Mayleen. “Kau minum ini untuk memulihkan kondisimu.”
Meski ia tak puas karena pertanyaannya belum terjawab,
namun Mayleen tetap saja meminum sesuatu yang diberikan oleh Yang Yang.
Mayleen tersenyum dengan lebar. Selain karena sifat Yang
Yang begitu lembut bak seorang ibu, ia juga baru kali ini mendapat pujian
sebagai gadis cantik. Maka dari itu, Mayleen tersipu.
“Aku merasa lebih baik.”
“Baiklah, syukurlah jika kau sudah lebih baik.”
“Tapi ....” Mayleen seketika merasa sedih. Bayangan
keluarganya yang memperlakukan Mayleen dengan buruk terulang kembali. Seketika
gadis itu memeluk lututnya dengan punggung yang bergetar.
“Apa yang terjadi padamu, Mayleen?” Yang Yang memegang
bahu Mayleen.
Mayleen merasa tenang karena sentuhan dari Yang Yang.
“Aku takut. Sebenarnya, aku ingin mati saja. Kenapa kau
selamatkan aku?” Mayleen menatap tajam pada Yang Yang.
Yang Yang terkejut mendapat tatapan tajam dari Mayleen. Bahkan
__ADS_1
ia hampir menjatuhkan cangkir bekas minum Mayleen yang ia bawa.
“Aku tidak ingin hidup.” Mayleen yang putus asa pun
menunduk sambil menumpahkan air matanya.
“Mayleen jangan seperti itu.”
“Semua orang membenciku. Mereka tidak menginginkanku.
Mereka hanya ingin melihatku mati.”
“Jangan begitu, Mayleen. Jika mereka menginginkan kau
mati, maka kau harus tetap hidup. Percayalah, aku akan selalu ada untuk
membantumu.”
“Memang siapa kau berani menjamin akan selalu ada
untukku?” bentak Mayleen lagi.
Kali ini Yang Yang tidak terkejut, ia malah mendekati
Mayleen dan memeluknya. “Aku sudah menjadi bagian dari dirimu. Kau menelan
banyak air dari sumurku, dan mulai saat itu, kau adalah inang yang menjadi
rumah baruku. Sementara aku, adalah Roh Dewi yang akan selalu membantumu.”
“Apa aku sedang bermimpi?” Seketika pandangan Mayleen
menggelap, lalu ia tidak ingat apa-apa lagi.
*
“Bisa kau percepat kudanya?”
“Ini sudah yang tercepat, Nona. Jika kau ingin lebih
cepat kenapa kau tidak naik mobil autos saja!”
“Kau memang tidak becus mengendalikan kuda!”
“Terserah kau saja!”
“Kau itu sangat kurang ajar sebagai kusir! Kembalikan
uangku! Lebih baik aku turun di sini saja!”
Perdebatan antara istri saudagar dan sang kusir terus
terjadi, hingga kusir tersebut menarik tali kekang kuda, dan kereta itu pun
berhenti.
“Hei, kau benar-benar akan menurunkan aku?” Wanita dengan
tahi lalat itu langsung menutup kipas lipatnya.
“Akan kukembalikan uangmu!” Pengendali kuda itu mengambil
__ADS_1
sebagian keping uang dari kantung, lalu melemparkan sisanya pada wanita
tersebut.