
“Lina ..., Lin!” Anyelir datang menghampiri sekumpulan dokter koas yang keluar dari ruang operasi. Mereka bukan menjadi tim yang ikut turun tangan dalam mengurusi operasi, melainkan hanya menjadi penonton dan belajar operasi yang dilakukan. Meski beberapa dari mereka belum memutuskan untuk mengambil spesialis yang mana.
“Anye ...,” sahut Lina sambil mengeluarkan tangan dari saku jas snelly putihnya.
“Bagaimana keadaan ibu mertuaku,” tanyanya pada Lina.
Tapi sayang, kawannya yang menjadi dokter koas itu pun menggeleng. “Aku tidak tahu, Nye. Tapi ... melihat ekspresi para dokter yang mengembuskan napas lega tadi, sepertinya ada kabar baik hasil operasi mereka.”
Anyelir mengembuskan napasnya, ia mengerti bagaimanapun juga dokter koas yang hanya menonton melalui kaca tak memiliki akses untuk ikut campur ataupun berbincang dengan dokter yang ada di dalam. Untuk itu ia belum bisa bernapas lega.
“Berdoa saja yang terbaik untuk Nyonya Bagaskara,” ucap Lina sambil meremas pelan lengan atas milik kawannya. “Aku pergi dulu ya, Nye. Dokter Rian masih di dalam,” ujarnya lagi.
Perempuan itu mengangguk.
Kini dirinya duduk hanya bertiga, bersama Tera dan Bi Ai. Jika para koas dan residen sudah keluar, sepertinya operasi sudah selesai. Tinggal melakukan bagian akhir dari operasi untuk menyelesaikannya.
“Semoga Pak Gunadi tidak apa-apa. Mas Dylan sudah ada di mana, Bu Anyelir?” tanya Bi Ai.
Anyelir yang sedang memijat keningnya sendiri pun mendongak.
“Baru juga berangkat, Bi,” timpalnya.
“Saya sudah mencarikan pesawat dengan penerbangan tercepat. Satu jam lagi pesawatnya lepas landas,” sela Tera di antara perbincangan Bi Ai dan Anyelir.
“Tera, apa kamu tidak punya jadwal untuk bekerja. Kamu boleh pergi, kami berdua di sini tak apa-apa,” ujar Anyelir. Ia tak bermaksud mengusir sekretaris dari suaminya tersebut, hanya saja dirinya mengerti betapa padatnya pekerjaan Tera yang sangat membuat gadis berambut pirang itu sering kewalahan dan sangat sibuk.
“Saya tidak apa-apa, Bu. Saya berniat akan ada di sini, setidaknya sampai memastikan kondisi Nyonya Bagaskara baik-baik saja,” jawabnya.
Lampu di atas ruang operasi telah berubah menjadi hijau, hal ini pertanda jika kegiatan di dalamnya telah usai dan sebentar lagi pasien akan keluar. Anyelir dan kedua orang lain sedang harap-harap cemas menunggu Lastri yang keluar dari ruangan tersebut.
__ADS_1
Cklak.
Seorang pria paruh baya keluar dari sana. Tentu saja ia akan menjadi orang yang dikerumuni oleh anggota keluarga dari pasien yang ada di dalam ruang operasi. Dia bahkan masih mengenakan penutup kepala berwarna biru, sepertinya ia adalah salah satu dokter yang ikut menangani operasi.
“Dokter, dokter! Bagaimana?” tanya Anyelir dengan sangat antusias. Dia langsung berdiri dan mendekat pada dokter itu, begitu juga dengan Tera dan Bi Ai.
Dokter tersebut memberikan senyum teduhnya. Lalu ia pun berkata, “Pasien telah melewati masa kritisnya. Dia masih belum sadarkan diri dan akan masuk ke ruang ICU setelah ini.”
Anyelir pun mengembuskan napas dengan lega. Ia berharap setelah ini, sang mertua perempuannya itu bisa baik-baik saja dan pulih kembali seperti sedia kala.
“Terus memanjatkan doa agar Yang Maha Kuasa memberikan yang terbaik untuk pasien,” timpal sang dokter lagi.
“Terima kasih, Dok.”
Pria paruh baya itu pun berlalu meninggalkan para anggota keluarga pasien yang menunggu.
Tak berselang lama, lampu indikator ruang tunggu operasi pun padam.
Pria yang sedang keluar dari bandara itu jalan terburu-buru. Di sana telah ada beberapa orang yang menunggunya untuk segera membawa pria tersebut pergi. Sebelumnya, dia telah bersepakat untuk membagi tugas dengan sang istri. Di mana ia akan ke Singapura untuk mengurus bapaknya, lalu sang istri ia tinggalkan di Indonesia untuk tetap menemani ibundanya. Juga ia memiliki anak yang sedang menyandang penyakit dan butuh perhatian, untuk itu ... sang ibu harus tetap dekat dengannya.
“Sudah berapa jam bapak tak sadarkan diri?” tanya Dylan dengan keadaan panik. Keringat dinginnya meluncur dari dahi menuju ke area rahangnya.
Sedari tadi alisnya bertaut karena pikirannya yang begitu serius memikirkan kondisi orang tuanya.
Dylan pun masuk ke dalam mobil dan duduk di bagian jok belakang.
“Beliau terkena serangan jantung sesaat sebelum kembali pulang ke Indonesia. Dia langsung dilarikan ke rumah sakit dan diberi penanganan. Kini beliau telah melewati masa kritisnya dan masih dirawat di ICU.” Pengawal yang duduk di kursi depan menjawab pertanyaan Dylan.
Karena serangan jantung terjadi di bandara, maka pasien dilarikan ke rumah sakit yang tidak jauh dari sana. Maka dari itu, Dylan pun tak lama akhirnya sampai di rumah sakit tempat bapaknya dirawat.
__ADS_1
Para pengawal mengarahkan dirinya menuju ke ruang ICU. Langkah kaki beralaskan sepatu begitu keras, bergegas dan terdengar seragam bersamaan.
Perasaan dalam hati Dylan tak karuan karena kondisi yang menimpanya. Selama ini, ia begitu fokus pada anaknya, sehingga tanpa ia sadari jika kedua orang tuanya juga butuh perhatian. Sampai akhirnya kejadian ini terjadi dan pria itu begitu sadar arti dari keberadaan kedua orang tuanya.
Di ujung lorong, terdapat sebuah pintu dengan plang bertuliskan VIP ROOM di atasnya. Suasananya begitu hening dengan cahaya yang tidak terlalu terang. Seorang perempuan telah lebih dahulu berdiri di sana.
Para pengawal berdiri di sisi tembok dan mempersilakan Dylan untuk melihat kondisi bapaknya melalui kaca tembus pandang.
Pria tersebut berdiri di samping perempuan itu.
Perempuan dengan gaun hitam dan juga topi lebar berwarna senada. Tak lupa sarung tangan jaring berwarna gelap yang menggenggam tas mini di sana.
“Kau menjenguk orang tuaku atau sedang berharap segera berkabung saat melihatnya?” Dylan bertanya demikian dikarenakan perempuan di sampingnya ini menjenguk bapaknya dengan pakaian dan atribut serba hitam seperti melayat orang meninggal.
“Aku ... sedang ada peragaan busana. Baju ini adalah baju yang kuperagakan, tapi mendengar mertuaku sakitnya kambuh sampai tak sadarkan diri, apa aku masih bisa melakukan cat walk di atas runaway?” tanyanya balik dengan suara lembut.
Dylan pun menoleh lalu berkata lagi. “Mertua? Apa kau tidak salah menyebutnya?” tanya pria tersebut.
“Tidak ada yang namanya mantan mertua dalam kepercayaan kita, bukan?”
Pertanyaan Andin seketika membuat Dylan terdiam.
Perempuan itu mengaku sedang ada jadwal modeling di negara ini, sehingga ia bisa berada di sini.
“Terserah kau saja lah! Sebaiknya kau cepat pergi,” usir Dylan sambil melipat kedua tangan menutupi tubuhnya.
Perempuan itu tersenyum. Sambil menenteng tas, ia pun berbalik dan berniat untuk meninggalkan Dylan.
Hanya saja, baru beberapa langkah ia pun mundur dan berdiri tepat di belakang sang mantan suami. Kemudian, ia pun berbisik. “Aku membaca percakapan antara istrimu dengan bapakmu, aku pikir penyebab Tuan Bagaskara terkena serangan jantung adalah karena istrimu.”
__ADS_1
Tangan kiri Dylan terkepal, ingin rasa ia menyalurkan kekesalannya tapi dirinya ingat posisi masih berada di rumah sakit di negara orang lain. “Andin ... untuk apa kau membukanya, seharusnya kau sudah tahu batasan antara kita!”