
“Bu Anye ....”
Suara bisikan Bi Ai yang tiba-tiba datang membuat Anyelir mengalihkan perhatian, padahal ia sedang menelepon sang suami.
Perempuan paruh baya itu pun melanjutkan ucapannya. “Ada panggilan dari pria bernama Wira.”
*
Rindunya belum tuntas, tapi ia terpaksa mengakhiri panggilannya. “Kenapa harus sekarang, sih!” kesal wanita itu sambil meletakkan ponsel di atas ranjangnya dan bergegas keluar dari kamar.
“Bi Ai, Bi Ai,” panggil Anyelir sambil menerima gagang telepon dari kepala pelayan tersebut.
“Iya, Bu?”
“Jangan sampai orang rumah tahu, kalau aku mendapat telepon dari orang ini,” ujarnya seraya berbisik.
Meski penuh dengan kecurigaan, tapi Bi Ai mencoba tetap berbaik sangka pada istri dari majikannya tersebut.
Anyelir pun berjalan agak jauh dari agar pembicaraannya tak terdengar oleh orang lain. Melihat hal tersebut, Bi Ai akhirnya memilih untuk pergi dan memberi privasi pada perempuan tersebut. Walaupun ada sesuatu yang mengganjal di hatinya.
“Sepertinya aku salah memilih waktu,” ujar pria di seberang telepon Anyelir.
Sambil melirik kanan dan kiri, perempuan itu pun membalas ucapan Wira. “Tolong, jangan teror aku begini,” pintanya dengan nada memohon.
Pria di sana tampak mengembuskan udara, entah karena menarik napas panjang atau karena ia tengah mengeluarkan asap rokok dari mulutnya. “Ini bukan meneror, aku hanya memberimu kesempatan untuk membayar kewajibanmu atau aku akan meruntuhkan rumahmu. Sebenarnya ... dengan menelepon pada keluarga suamimu juga menjadi bentuk rasa kasihanku padamu. Setidaknya, aku tidak membebankan hutangmu pada dirimu saja, tapi pada keluarga suamimu juga!”
Perempuan itu menggigit bibir bawahnya karena geram. Jika bukan karena rumah itu yang jadi jaminannya, maka ia akan mengabaikan saja setiap ancaman dari orang-orang ini.
“Itu bukan hutangku! Aku akan mencari uang untuk menebus rumahku kembali. Tapi tidak dengan sisa hutang Joni!” ujar Anyelir dengan penuh kekesalan.
“Jangan telepon lagi ke sini!”
“Baik, mungkin aku akan menelepon lagi jika suamimu telah kembali.”
Anyelir pun segera berlari dan kembali meletakkan gagang telepon di tempatnya semula. Dadanya kembang kempis menandakan jika dirinya sedang menahan amarah. Kekesalannya pada Joni sudah tak bisa sekedar dilampiaskan, tapi pria parasit tersebut harus benar-benar diberi pelajaran.
__ADS_1
Sedari tadi, Anyelir sadar jika ada sepasang mata yang mencoba mencari tahu dengan apa yang ia bicarakan bersama pria lain di telepon. Maka dari itu, perempuan itu sengaja mendekat, setidaknya ... agar tidak menambah kadar kecurigaan orang tersebut padanya.
“Bi ...,” panggil Anyelir mendekat.
Bi Ai yang sedari tadi sedang merapikan pakaian milik Nyonya Lastri itu pun menoleh. Ia berpura-pura saja jika dari tadi tidak memperhatikan apa yang dibicarakan Anyelir. “Kenapa, Bu ...?”
Anyelir diam dan bingung bagaimana mengawalinya. Maka dari itu, ia mulai dengan menawari bantuan pada Bi Ai. “Sini biar saya bantu,” ujarnya.
“Nggak perlu repot-repot, Bu,” ujar Bi Ai sambil tersenyum.
“Tidak apa-apa,” jawabnya sambil mengambil salah satu baju dan mulai melipatnya.
“Jadi ... Bu Anyelir kenal dengan Pak Wira yang jadi pacar Bu Andin?” tanya Bi Ai mencoba basa-basi.
Anyelir pun langsung melihat pada perempuan paruh baya di sampingnya. Nama pria itu memang Wira, tapi ... apa dia pacar Andin?
Wanita itu menggeleng dengan wajah ragu. “Namanya memang Wira, tapi aku tak tahu apa dia adalah Wira yang sama dengan pria yang sedang digosipkan bersama Bu Andin ... atau bukan,” jawabnya.
“Memang Bu Andin belum bertemu dengan pria itu?” tanya Bi Ai.
Anyelir kembali menggeleng. Ia merasa ini adalah waktu yang tepat untuk memberi penjelasan, setidaknya agar tak membuat Bi Ai merasa curiga padanya. “Saya tidak tahu, pria itu katanya bos rentenir. Mantan bapak tiri saya memiliki hutang padanya, biasanya sang anak buah yang menelepon saya, tapi ... akhir-akhir ini dialah yang meneror saya. Entah itu melalui ponsel pribadi saya atau ... nomor telepon rumah ini,” aku Anyelir.
“Emm, lumayan besar untuk saya. Ah, bukan lumayan lagi ... tapi sangat besar,” jawab Anyelir tanpa menyebut nominalnya.
Bi Ai pun diam dan tak berusaha untuk menanyakan lagi mengenai nominal, yang jelas jika disebut sangat besar oleh sang majikan, maka itu juga sangat besar bagi dirinya.
“Saya pikir, Bu Anyelir juga memiliki hubungan spesial dengan pacar Bu Andin,” sahut Bi Ai. Kini rasa penasarannya pun terjawab sudah.
“Ya ampun, Bibi pikir saya ini apa, selalu mengambil pria yang dimiliki Bu Andin,” timpal Anyelir seraya mengerucutkan bibir lalu kemudian ia tersenyum.
Bi Ai pun terkekeh. “Maaf, Bu. Ya, kan, namanya prasangka. Makanya saya nanya juga.”
Anyelir pun mengangguk. “Terima kasih bibi sudah mau bertanya pada saya. Itu tandanya, bibi peduli terhadap saya.”
Perempuan paruh baya itu pun mengusap pundak Anyelir. “Saya selalu peduli pada Bu Anyelir.”
__ADS_1
“Bi, saya mohon, Bibi rahasiakan telepon tadi dari Dylan dan keluarganya, ya. Saya ... tidak mau mereka tahu,” ujar Bi Ai.
“Kenapa, Bu? Bukannya bagus kalau Pak Dylan tahu, nanti beliau akan membantu mencari jalan keluarnya,” ujar Bi Ai.
Anyelir menggeleng lagi. “Tidak, Bi! Ini adalah hutang milik Joni, kenapa harus keluarga ini yang diberi beban. Saya sedang memutar otak bagaimana cara menjebak pria itu, tapi saya bisa mendapatkan rumah saya kembali.” Wanita itu mengepalkan tangan dengan erat di depan dadanya untuk menunjukkan semangat.
“Rio mana, Bi? Katanya mau minum jus sama bibi?” tanya Anyelir yang baru sadar jika di lantai ini tak ada suara ribut dari anaknya.
“Ada ... sedang bermain sama pelayan. Sepertinya di sana. Di asrama pelayan,” jawab Bi Ai.
Di rumah mewah ini, ada sekitar dua puluh kamar yang disebut sebagai asrama pelayan. Para pelayan, pengawal, tukang kebun dan satpam yang memiliki kampung halaman jauh dari tempat ini, semuanya tinggal di sana.
“Oh, begitu.”
“Tak perlu khawatir, semua pelayan sangat menyayangi Rio. Mereka akan menjaga Rio dengan baik, Bu.” Bi Ai pun lanjut melipat pakaian lagi. “Bu Anyelir, saran saya ... ibu minta bantuan pada Pak Dylan. Ya, ibu terus terang saja, agar masalah ini ada jalan keluarnya.”
Anyelir hanya bisa menarik napas panjang tanpa menanggapi setelahnya.
*
Beberapa hari kemudian, pria yang begitu dirindukan oleh Anyelir kembali menginjakkan kaki di tanah air. Hal ini juga dengan perjuangan keras karena sulit untuk mendapatkan izin bagi pasien yang baru saja terkena serangan jantung, agar bisa bepergian lagi dengan pesawat.
“Papa!” teriak Rio yang melambaikan tangan saat melihat pria dewasa dengan wajah hampir mirip dirinya tersebut.
Pria itu langsung berlari dan membungkukkan badan untuk menggendong Rio.
“Loh, ada dokter Putra juga?” tanya Anyelir yang kaget.
“Dia sengaja kupanggil dari Indonesia untuk menemani bapak di pesawat. Eh, sebentar ya,” pamit Dylan yang menjauh untuk menerima telepon.
Pria itu tampak sibuk walau baru turun dari pesawat.
Di belakang Anyelir ada Tera yang ikut menjemput sang atasan. Perempuan itu seakan tahu, telepon apa yang sedang diterima oleh Dylan.
“Dylan,” panggil Anyelir setelah melihat Dylan menutup teleponnya. Perempuan itu mendekat dan bermaksud untuk berjalan di samping prianya.
__ADS_1
Namun, ponsel Dylan tak berhenti berdering. “Sebentar ya, Sayang.”
Di sana Anyelir hanya bisa menatap suaminya yang sibuk dengan kegiatannya sendiri. “Apa aku memiliki waktu untuk menceritakan hal itu pada Dylan?”