Menikahi Mantan Istri

Menikahi Mantan Istri
76. Fotografer Misterius


__ADS_3

Pagi hari yang sangat indah dan penuh senyuman untuk Dylan. Pria itu tak pernah sebahagia ini begitu ia terbangun dari tidurnya. Dia melihat ke arah sekeliling kamarnya dan ia mendapati sesuatu yang berbeda dengan  sebelumnya.


Sambil meregangkan tubuh, ia melihat bagaimana Rio meringkuk di sisi kanannya sambil memeluk selimut. Sementara itu, suara keran air menyala di kamar mandi menjadi jawaban kenapa bagian kirinya menjadi kosong. Ya, sang istri sudah bangun terlebih dahulu dan kini sedang membersihkan diri.


“Aku akan siapkan baju untukmu,” ucap Anyelir begitu wanita tersebut keluar dari kamar mandi. Rambutnya masih basah dan dililit oleh handuk agar cepat kering.


Dylan tersenyum, dengan mata yang masih agak lengket karena bangun tidur, tapi pria tersebut dapat memastikan jika yang sedang berdiri di dekat pintu kamar mandi itu adalah sang istri. Pria itu merasa cukup lega, karena kini Anyelir tak lagi menggunakan bahasa formal untuk berbicara dengannya.


“Ya, sebentar lagi aku akan mandi.”


Anyelir pun tersenyum. “Jangan lupa salat dulu,” ucap perempuan tersebut.


Dylan mengambil ponselnya yang ada di atas nakas. Kali ini mereka tidur di kamar milik Dylan yang telah ditata ulang. Sehingga di kamar ini, tak ada sedikit pun pernak-pernik milik Andin yang tersisa. Memang sedikit aneh untuk Dylan, tapi lambat-laun ia akan terbiasa. Dirinya harus beradaptasi agar Anyelir tetap mau mendampinginya.


“Oh, ya. Dari tadi, Bu Tera menelepon padamu. Sepertinya ada beberapa pesan juga. Tapi kamu sedang tidur, jadi aku tak berani membangunkan.” Anyelir memberitahu pada suaminya sambil menunjuk pada ponsel yang kini berpindah tempat menjadi di atas tangan sang suami.


Tapi Dylan malah terkekeh. “Tera itu mungkin seumur denganmu, karena dia berbeda sekitar lima tahun dariku. Kenapa kau panggil dia dengan sebutan ‘Bu’?


Anyelir mengedip-ngedipkan, dia mana tahu informasi tentang hal seperti itu tentang sekretaris dari suaminya tersebut?


Pria tersebut membuka ponsel sebelum menuju kamar mandi. Ternyata benar, begitu banyak pesan yang dikirim oleh Tera dan juga panggilan tak terjawab.


‘Pak Dylan, potret Bu Anyelir banyak tersebar di internet. Melihat dari lokasinya, sepertinya pengambilan gambar Bu Anyelir ada di rumah Anda.’


*


Masih di hari yang sama, meja makan itu penuh dengan berbagai menu sarapan. Seperti biasa, Anyelir akan menyuapi Rio dengan penuh kasih sayang, sementara Dylan akan berdandan rapi menggunakan baju dan juga perlengkapan lain yang telah disiapkan oleh istrinya.


Kemeja yang tergantung rapi karena telah disetrika ulang setiap Dylan hendak berangkat kerja, tak lupa celana yang juga tergantung di sampingnya, kemudian dasi yang serasi dengan pakaian hari itu.

__ADS_1


Parfum, cufflink, jam tangan dan klip dasi pun telah disediakan untuk Dylan. Pria tersebut tinggal memakai tanpa perlu memikirkan lagi apa yang harus ia gunakan. Entah kenapa, selera padu padan yang dilakukan oleh Anyelir untuk baju-bajunya selalu pas dan sesuai dengan selera Dylan.


Pria itu pun turun setelah berdandan rapi untuk pergi ke kantor. Sambil berjalan, dia melihat ke arah lantai satu dan menatap pada Rio yang sedang sibuk mengunyah makanan. Dylan menghampiri dan duduk di samping sang buah hati.


Melihat suaminya sudah duduk di meja makan, Anyelir langsung berinisiatif untuk mengambilkan nasi dan lauk pauknya. “Ini sarapannya,” tawar Dylan pada Anyelir.


Dirinya mengambil sedikit porsi nasi, karena Dylan memang selalu sarapan seperti itu.


“Terima kasih,” jawab Dylan.


Interaksi antara Anyelir dan juga Dylan membuat tuan Gunadi dan juga Laras tersenyum. Mereka pada awalnya sangat ragu jika Dylan akan melupakan Andin, tapi pada kenyataannya ternyata pria itu mampu luluh juga oleh istri mudanya.


Dylan pun memakan makanan yang ada di piringnya, sementara itu Anyelir lanjut untuk menyuapi Rio.


Interaksi kehangatan Dylan terhadap Anyelir benar-benar mengundang perhatian dari para pelayan. Sehingga, obrolan minggu-minggu lalu saat sang nyonya baru pertama kali datang, akhirnya dibahas kembali. Mereka sempat bertaruh apakah sang tuan itu akan jatuh cinta lagi pada nyonya baru mereka. Tapi melihat perlakuan Dylan yang benar-benar baik pada Anyelir, membuat tim pendukung perempuan itu kini merasa unggul.


“Aku bilang apa, Pak Dylan itu nanti lama-kelamaan akan luluh pada Bu Anyelir.” Salah satu dari mereka mencoba memperpanjang obrolan.


“Nggak, karena setiap hari Pak Dylan bertemu dengan Bu Anyelir, pasti perasaan Pak Dylan akan lebih berat pada Bu Anyelir yang sering bersamanya.”


“Eh, iya, iya, kalian ingat kemarin Pak Dylan meminta kita membuang semua peralatan milik Bu Andin?”


“Iya benar! Hampir tidak percaya aku, aku pikir semua itu karena aku terlalu sering mendengarkan musik lewat earphone kala tidur sehingga aku bisa salah dengar. Ternyata, kalian juga mendengar hal yang sama.”


“Kalian tahu? Padahal, foto pernikahan itu adalah kebanggaan dari Bu Andin. Tapi sekarang Pak Dylan membuangnya!”


“Hei, di mana kalian buang semuanya?”


“Aku masukkan ke dalam karung, lalu kubakar semua beserta karung-karungnya.”

__ADS_1


“Wah, gila. Nggak kebayang kalau Bu Andin kembali, dia akan shock berat dan marah melihat semua fotonya dibuang.”


“Aku nggak berharap Bu Andin kembali. Menurutku Bu Andin itu baik, tapi aku jujur lebih nyaman dengan Bu Anyelir.”


Perkumpulan itu pun akhirnya berhenti membicarakan sang bos sampai kepala pelayan dalam rumah keluarga Bagaskara itu membubarkan mereka. “Sst! Sst! Sepertinya asyik sekali ya?” tanya Bi Ai seraya menyindir mereka.


“Emm itu bu ....” Mereka pun mendapat teguran dari Bi Ai dan akhirnya para pelayan itu membubarkan diri untuk tak bergosip lagi.


“Sudah, sudah! Bereskan makanan yang ada di meja!” titah wanita dengan rambut yang digulung tersebut.


Sementara itu, Rio yang baru saja selesai disuapi pun langsung memilih untuk bermain dan Anyelir melanjutkan makan untuk dirinya sendiri.


“Anyelir, sebaiknya kamu hati-hati,” ujar Dylan pada istri mudanya tersebut.


Sang perempuan itu merasa tersanjung ketika mendengar sang suami mengkhawatirkan dirinya. “Aku tak apa-apa, kenapa kau khawatir?” Anyelir bertanya balik karena tak tahu situasinya seperti apa.


Dylan pun menggeleng. “Jangan keluar tanpa bilang dulu padaku. Ok?” ujar Dylan sambil mengusap kepala Anyelir.


Hal itu diintip oleh para pelayan dan mereka pun meleleh saat melihat perlakuan Dylan seperti itu pada Anyelir.


“Memang kenapa?” Wajah Anyelir malah tersipu saat suaminya berkata demikian.


“Pokoknya jangan.”


Dylan menggenggam sebelah tangan Anyelir, lalu pria tersebut menoleh pada sang ibu. “Bu?”


“Ada apa?” tanya Lastri yang sudah berpindah tempat duduk menjadi di ruang keluarga, sementara Dylan dan Anyelir masih duduk di meja makan.


“Bu, tolong nanti diperiksa satu per satu pelayan, satpam atau bahkan tukang kebun juga.”

__ADS_1


“Memangnya kenapa?”


Dylan pun mengusap tangan Anyelir sambil melanjutkan penjelasannya. “Ada yang tidak beres dengan para pegawai kita. Aku harap setelah ini, tak ada lagi pelayan yang kurang ajar di rumahku. Terutama pada istriku!”


__ADS_2