
Jawaban dokter Rian yang seperti itu, justru semakin membuat Anyelir yakin jika dokter tampan kawan dari Dylan tersebut telah melihat adegan ciuman pagi dari sang suami.
Jika diingat-ingat, kenapa pula Dylan tiba-tiba melakukan hal itu. Pria itu memang sengaja bermain-main dengan hatinya dan menunjukkan perilaku yang berubah-ubah.
Di lain tempat, Dylan merasa sangat puas sendiri hari ini. Dirinya tak henti-hentinya tersenyum bahkan memiringkan sudut bibirnya. Entah apa yang sedang dia ajak saat itu.
“Kamu tidak akan bisa macam-macam di depan Ryan, Anyelir. Jangan harap kamu bisa tebar pesona terhadap kawanku,” gumam Dylan sambil bersiul sepanjang perjalanan.
“Aku ... cemburu? Hahaha, bukan itu yang kulakukan. Aku hanya ... menyayangkan saja. Karena Rian ini pria yang sangat berkelas, sehingga dia tak pantas untukmu yang murahan. Ya, maka dari itu aku melakukan pencegahan. Rian sendiri tak akan mau dengan wanita sepertimu.” Pria itu berbicara sendiri meski tak ada yang bertanya padanya.
Sepanjang perjalanan ia hanya terus terkekeh sendiri. Selama kedatangan Anyelir ke rumahnya, ia tak pernah merasa sesenang ini.
*
Lina hendak pulang, karena ia baru menyelesaikan shift malam. Gadis itu melihat kawannya yang tampil lebih cantik karena mengikuti saran dandanan darinya kemarin. Namun ... justru ada yang aneh dengan pakaiannya. Ah, tunggu bukan pakaian, melainkan kain panjang yang terlilit di leher. “Sedang apa anak itu pakai syal saat hendak menjadi dokter jaga?” gumam Lina sambil menggelengkan kepala.
“Hei,” ujar Lina menyapa sang kawan.
“Hei, Lin. Kamu belum pulang?” tanya Anyelir.
“Iya, ini aku baru mau. Lagi beres-beres dulu,” jawabnya. “Kamu ... itu apaan?”
Mereka bercakap-cakap saat berada di lorong rumah sakit dan tanpa menyadari jika ada seseorang yang sedang mengikutinya dari belakang.
“Apa?” tanya Anyelir pura-pura tak tahu.
“Ini, loh! Kamu sakit?” Lina menunjuk pada syal yang digunakan oleh Anyelir.
Anyelir pun menggeleng. “Enggak, kok. Aku enggak sakit,” timpalnya.
“Kalau begitu, untuk apa kamu mengenakan benda ini? Pasien nanti bisa menyangka kamu sedang sakit. Mana ada orang sakit merawat orang sakit, Nye!”
Omongan Lina ada benarnya juga.
“Tapi ... kalau dibuka.” Wanita itu menunduk dan tampak ragu.
“Hayooo, kamu abis ngapain sama suami kamu?” tanya Lina yang berusaha menginterogasi.
Anyelir langsung memerah pipinya dan berusaha menghindar. “Apaan sih, kamu, tuh!” elaknya.
__ADS_1
“Pakai plester aja, biar ketutupan,” saran Lina yang mungkin sudah sering melakukan hal itu dengan pasangannya.
“Udah ini juga,” jawab Anyelir keceplosan.
“Oh, berarti bener, kamu habis ‘itu’ ya,” goda Lina secara sengaja.
“Gimana rasanya?” tanya Lina yang terus menggoda Anyelir.
“Apaan sih! Udah cepet pulang terus tidur di rumah sana!” usir Anyelir pada Lina.
“Nanti cerita, ya. Aku penasaran sama suami kamu yang ganteng itu,” jawab Lina terkekeh dengan suara cemprengnya.
Anyelir tersenyum meringis sambil menggelengkan kepala.
Lina pun pergi ke ruang loker untuk membereskan barang-barangnya.
Dari belakang Anyelir, langkah kaki seseorang berusaha untuk menyusulnya. “Anyelir.” Suara seorang pria muda dengan nada bariton yang terdengar berat.
Wanita itu langsung menoleh. “Eh, dokter Rian? Sejak kapan ada di ....”
Anyelir merasakan semakin canggung saja. Setelah tadi dokter muda ini melihat dirinya dicium oleh Dylan dalam mobil, apa mungkin dia juga mendengar pembicaraan absurdnya dengan Lina tadi?
“Bisa ikut ke ruangan saya sebentar,” ujarnya.
Dia pun mengekor sampai di depan ruang milik dokter muda nan tampan itu. “Kamu masuk dulu, saya mau mengambil sesuatu.”
“Iya, Dok.”
Anyelir tak tahu, apa yang akan diperintahkan oleh Dokter Rian sehingga ia diperintahkan untuk datang secara khusus ke ruangannya. Dia menunggu dalam ruangan serba putih tersebut. Jejak basah masih terlihat di lantai, hal ini wajar karena setiap pagi semua sudut di rumah sakit ini pasti sedang dipel. Karena itu, bau cairan karbol bercampur dengan bau khas obat memenuhi ruangan ini.
Perempuan itu duduk di depan meja sang dokter. Dia memandang plakat nama Dokter Rian ada di sana, sambil dalam hati ia sendiri juga berdoa suatu saat namanya akan terpampang dalam plakat menggunakan gelar dokter di depannya.
Terdengar suara langkah kaki mendekat ke arah ruangan dan orang tersebut masuk.
Anyelir pun menoleh. “Ada apa, Dok?” tanya Anyelir saat melihat dokter Rian.
“Ini,” ujarnya sambil menyodorkan sebuah botol berbentuk tube dengan warna biru muda.
“Apa ini?” Anyelir membaca tulisannya. “Gel Aloe Vera?” ujarnya setelah membaca label. “Ada apa dengan ini, Dok? Apa ada pasien yang perlu diberi ini?” tanyanya.
__ADS_1
Dokter Rian menggeleng. “Pasiennya itu kamu. Gel ini untuk kamu.”
“Untuk saya?” Anyelir semakin tak mengerti.
“Iya itu untuk kamu,” ucapnya.
Anyelir pun menggeleng. Kenapa dia harus memakai gel ini? Untuk apa?
“Oleskan pada bagian kulit kamu yang terkena radang atau mungkin berwarna merah kebiruan. Di bagian mana saja yang seperti itu.” Dokter itu tersenyum lebar.
Sontak Anyelir yang paham dengan maksud sang dokter muda ini langsung merona parah. Wajahnya memerah bagai tomat yang masak. “Dokter, maksudmu apa?”
Dokter Rian terkekeh sambil membereskan peralatannya. Ia juga hendak pulang karena semalam ia berjaga shift malam bersama rombongan Lina.
“Pokoknya, katakan pada Dylan, jangan membuat tanda yang baru lagi sebelum ini hilang. Gunakan gel aloe vera yang lebih cepat menghilangkan bekas-bekas itu.” Sang dokter pun membawa tas jinjingnya dan meninggalkan ruangan.
Sementara itu, Anyelir sedang merasa malu parah karena hal tersebut. Ia tak berhenti mengutuk perilaku Dylan yang telah membuatnya seperti ini.
Anyelir pun sering tak bisa fokus hari ini. Beberapa kawan juga menyebut jika dirinya sedang sakit, padahal dia sedang baik-baik saja.
*
Sebuah resort di Bali, seorang wanita dengan pakaian bikini sedang duduk di atas kursi malas tepi pantai.
Motif loreng macan pada bikininya, begitu kontras dengan kulit seputih susu miliknya yang terekspos.
Pria yang berada di sampingnya pun mengusap pinggang putih mulus itu sambil menciumi pundaknya.
“Kau serius akan bercerai dengan Dylan?” tanya pria tersebut.
“Tergantung!” jawab wanita itu.
“Tergantung bagaimana?” tanya pria dengan brewok di sekujur tulang rahang pipinya.
“Jika kau mau memberiku 20 Milyar sekarang juga, maka aku akan bercerai dengan Dylan. Jika tidak, maka aku akan kembali pada Dylan dan meminta uang itu darinya,” jawab Wanita itu dengan enteng. Dia sengaja memberi tatapan nakal pada pria yang sedang duduk di sampingnya tersebut.
“Jangankan 20 Milyar, 30 Milyar pun aku beri, Andin. Asal kau mau puaskan aku setiap hari.”
*
__ADS_1
Cerita aku jelek ya?
Hiks hiks