
Terbangun dengan posisi berbeda dengan ketika saat hendak tidur, membuat Anyelir sedikit linglung. Seingatnya, Dylanlah yang tidur di atas ranjang dan ia yang tidur di bawah.
Apakah dirinya semalam hanya mengigau?
Namun mata Anyelir menatap pada celana hitam, dasi dan juga jas tanpa kemeja menggantung di sudut kamarnya. Dylan benar-benar datang dan tidur di kamarnya. Tapi sekarang pria itu tak ada.
Ke mana perginya Dylan?
Anyelir tak peduli lagi dengan pria tersebut pergi ke mana, ia hanya merasakan ngilu di sekujur tubuhnya dan perlu untuk bersiap karena hari sudah menjelang subuh.
*
“Ayo bangun, Sayang.” Suara dan sentuhan lembut itu membangunkan anak kecil yang sedang menutupi dirinya dengan selimut. Dia sebenarnya sudah terbangun, hanya saja masih malas untuk bangun dan tetap membiarkan dirinya di bawah kungkungan hangatnya selimut.
“Mama, kaupergi lagi semalam?” tanya Rio yang kecewa karena mendapati ibunya tak ada saat ia membuka mata.
Anyelir mengusap rambut anaknya yang tebal, mirip sekali dengan rambut milik papanya. “Maaf, ya, Sayang. Karena papa pulang terlalu larut malam, jadi mama mengantarnya ke kamar.”
“Bukankah papa juga berjanji untuk tidur denganku? Kenapa mama tidak bawa papa untuk tidur di sini dan kita berkumpul bertiga,” ujarnya dengan nada polos sembari menunjukkan tiga jari ke hadapan Anyelir.
Anyelir pun mengusap kepala anak itu lagi sambil membawa ke dalam pelukannya. “Itu karena papa berkata dia belum mandi dan merasa bau,” jawab Anyelir sambil mengibaskan tangan di depan hidung.
Rio pun mendongak sambil melepaskan pelukan mereka. “Baiklah, tapi berjanji lain kali untuk tidur bersama.” Dia menyodorkan kelingking mungil itu di depan sang bunda.
Perempuan tersebut merasa gemas pada anaknya. “Kita bicarakan ini dengan papa, ya? Karena takutnya papa pulang larut malam.”
Anyelir memandikan anaknya dan juga mendandaninya. Sudah beberapa hari Rio selalu dirawat oleh tangan Anyelir sendiri. Hal ini membuat Nyonya Lastri semakin menyukai menantu barunya karena memiliki watak yang sangat keibuan. Perilaku Anyelir yang terlalu kontras dengan Andin pun membuat wanita paruh baya tersebut terlihat mencolok ketika membedakan sang menantu.
Setelah mandi dan berganti baju bersama sang mama, bahkan makan pun disuapi oleh mama. Mereka berkumpul berempat dengan Rio yang disuapi Anyelir.
Bukan hanya Lastri, hal ini pun terjadi pada Gunadi. Pria tersebut terkekeh melihat cucunya yang begitu semringah di setiap pagi.
“Ke mana Dylan?” tanya pria tua berwajah keriput tersebut.
“Mungkin ada di kamarnya,” jawab Lastri sambil mendongak melihat ke lantai dua. “Semalam dia pulang jam berapa, Nye. Ibu waktu mau bangun melihat dia baru masuk kamar. Tapi sepertinya, dia keluar dari kamar kamu dulu.”
__ADS_1
Anyelir mendadak merasa malu karena ketahuan oleh mertuanya. “Itu ... dia pulang sekitar pukul dua lebih.”
“Ooh,” gumam Lastri membulatkan mulutnya.
“Dia berangkat ke kantor jam berapa, kalau jam segini belum juga bangun?” komentar Gunadi lagi.
“Ah, paling sebentar lagi dia juga bangun.” Lastri pun menyuapkan lagi makanan ke dalam mulutnya.
“Bu, itu wedang jahenya sudah mendidih, mau dimasukkan ke termos sekarang apa nanti?” ujar Bi Ai yang berlari kecil dari dapur menuju ruang makan.
Anyelir yang mendengar itu pun langsung bangkit dari duduknya. “Sebentar ya, Rio,” pamitnya pada sang anak.
Bocah itu mengangguk dengan mulut penuh makanan.
Perempuan melihat kondisi masakannya di dapur. Dia membuat sup iga daging sapi dan juga wedang jahe, tapi karena harus menyuapi Rio, maka dia menitipkan masakannya sampai mendidih di atas kompor pada para pelayan yang bekerja di sana.
“Kita masukkan termos bekal sekarang juga tak apa-apa. Nanti sisanya simpan di termos besar ya, Bi. Untuk supnya, biar nanti saya yang tata. Kita matikan saja kompornya,” ucap perempuan tersebut sambil memindahkan satu panci sup iga ke atas kitchen island.
"Bi, bisa tolong ambilkan wadah sayur untuk ini?”
Setelah itu, perempuan tersebut memindahkan sebagian sup ke dalam mangkuk sayur berkapasitas besar tersebut. Aroma kaldu sapi pun langsung menguar ke seluruh penjuru dapur. Sup yang terasa hangat dengan rasa gurih dari daging sapi asli ini terbayang begitu lezat bahkan ketika kita sekedar menatapnya.
“Saya bawa ini, Bi.” Anyelir meninggalkan dapur dan dia mengangkat wadah berisi sup panas itu agak tinggi sejajar dengan wajahnya.
Kemudian wanita itu menyimpannya di meja makan dan tersaji untuk semua yang sedang sarapan. “Silakan dimakan, Pak, Bu,” ujar Anyelir.
Lastri pun berbinar melihat sup iga yang begitu menggairahkan. Belum lagi, wangi khas dari tulang sapi yang sangat ia sukai. “Wah, kamu masak ini pagi-pagi, ya. Ibu mau tambah lagi jadinya.”
“Bi Ai yang bantu, Bu. Soalnya saya juga sibuk mengurus Rio dan siap-siap berangkat ke rumah sakit,” ucap Anyelir merendah.
Lastri tersenyum mendengar penuturan menantunya. Dia merasa mendapatkan paket komplit dari seorang menantu ketika menikahkan anaknya dengan Anyelir.
“Mama lihat!” ujar Rio menunjukkan piringnya yang sudah kosong.
“Wah, Rio hebat! Rio makan sendiri ya saat mama di dapur tadi?” tanya Anyelir.
__ADS_1
Rio menganggukkan kepalanya.
“Dia pintar, bahkan saat tadi mau disuapi nenek, dia memilih untuk makan sendiri,” puji Lastri.
“Wah, Anye, coba bapak ambilkan mangkuk baru. Bapak mau coba sup iga ini,” ujar Gunadi yang sedari tadi hanya memperhatikan. Namun karena wangi sup yang begitu menggoda, ia pun tertarik untuk mencicipinya.
Anyelir segera melakukan permintaan bapak mertuanya. Setelah itu, ia menyiapkan bekal untuk dia makan di rumah sakit nanti. Dia bahkan membawa mangkuk dengan tutup anti tumpah, khusus untuk membawa sup.
“Ibu tumben mau bawa sup untuk bekal?” tanya Bi Ai yang ada di sana.
Perempuan itu tertegun, kenapa ia mau membuat sup? Untuk menghilangkan pengar? Memang siapa yang mabuk? Kenapa dia harus memasak sup padahal bukan dia yang habis mabuk-mabukan semalam?
“Emm, ini ... karena aku ingin memakannya saja. Sekarang hari sering hujan. Memakan sup hangat rasanya enak.” Anyelir mengungkapkan alasan yang bisa diterima akal juga.
“Kebetulan juga, ya. Semalam, Pak Dylan juga katanya dia pulang dalam keadaan mabuk. Pak satpam yang kasih tahu saya. Sup ini nanti biar dimakan sama Pak Dylan juga, biar pengarnya hilang,” celetuk yang sebenarnya tepat sasaran.
Mungkin mulutnya tidak mengakui, namun jauh di alam bawah kesadaran Anyelir, perempuan ini membuat sup dan wedang jahe untuk suaminya.
“Oh begitu, ya.”
Anyelir pun bersiap untuk berangkat ke rumah sakit.
Saat itu pula ia melihat Dylan berjalan terburu-buru sambil turun dari tangga dengan tangan masih melipat dasi.
“Aku berangkat dulu,” ujarnya sambil sedikit berlari.
Lastri yang melihat itu pun berteriak. “Jangan lupa bareng sama Anyelir!”
Dylan tak membalas ucapan ibunya. Dia hanya berlari keluar dan melihat istri kecilnya itu sedang berjalan dari teras menuju ke gerbang depan.
“Kaumau masuk sendiri ke dalam mobilku atau aku yang menggendongmu seperti kemarin?”
*
Hai-hai, nggak nyangka udah sepuluh hari aja aku nulis di noveltoon.
__ADS_1
Terima kasih untuk yang sudah membaca. Jangan lupa untuk klik favorit cerita ini, juga follow akun author ya.