
“Apa yang beliau mau kali ini?” tanya Anyelir sambil berusaha berdiri.
“Bu Anye? Astaghfirullah, saya nggak lihat ibu jatuh!” Sontak saja kepala pelayan itu pun langsung terkejut melihat majikan barunya itu tersungkur. Ditambah lagi saat ia melihat ke arah Dylan, pria itu sedang berdiri tanpa peduli dengan sang istri. Lalu pergi begitu saja meninggalkan mereka berdua.
“Kenapa, Bu? Bisa cerita sama saya, nanti saya yang bantu ibu?” Bi Ai menaruh curiga pada Dylan, namun wanita itu diam saja tak berani berspekulasi tentang majikannya.
“Saya nggak apa-apa, Bi. Sungguh!” Anyelir berusaha untuk bangun.
Bi Ai memberikan kacamata yang dicari oleh Anyelir, kacanya retak. Walau sebenarnya Anyelir ini memiliki minus yang tidak parah, namun tetap saja ia tak nyaman bila tak berkacamata karena hal itu sudah menjadi kebiasaannya.
“Ayo, Bu. Ke kamar bapak lagi?” ajak Bi Ai.
Namun Anyelir menggeleng.
“Kenapa? Bapak nggak marah ke Bu Anyelir. Dia justru sedang marah pada Pak Dylan.” Bi Ai menjelaskan dan mencoba mengerti kekhawatiran Anyelir.
Padahal yang dikhawatirkan oleh Anyelir bukanlah kemarahan Gunadi, melainkan tuntutan Gunadi kepada Dylan. Bapak mertuanya itu, memaksa pada suami Anyelir untuk memilih salah satu antara Anyelir atau Andin.
Di sinilah, yang membuat Anyelir takut.
Ia tahu jika Dylan akan memilih Andin. Maka dari itu, ia tak mau mendengar hal itu lagi. Karena fakta tersebut, sudah cukup menyakiti hatinya.
Namun di sini, Anyelir tak mengatakan alasan yang sesungguhnya pada Bi Ai. Dia memilih diam dan berdiri dibantu oleh perempuan tersebut.
“Saya bisa sendiri, Bi.”
Anyelir pun pergi sendiri ke kamar sang mertua untuk memenuhi panggilan mereka. Sementara Bi Ai, hanya melihat kepergian Anyelir lalu ia berbalik menuju ke lantai satu.
“Apa yang bapak tanyakan lagi kali ini? Jika tentang Anyelir dan Andin, aku tetap pilih Andin.”
Tuan Gunadi menggeleng. “Ceraikan istri pertamamu!”
__ADS_1
Anyelir yang baru datang ke kamar tersebut, langsung membelalak. Kenapa pula Tuan Gunadi meminta anaknya bercerai dengan si istri pertama? Padahal tadi dia tidak terlihat membela salah satu dari istri sang anak.
Sementara itu, Dylan menoleh ke arah Anyelir yang berdiri di pintu. Pandangannya begitu bengis penuh amarah dan kebencian.
“Kenapa aku harus memilih wanita itu?” tanya Dylan dengan gusar.
“Itu karena Rio harus diobat. Bersama Anyelir kau bisa memberikan adik untuk Rio. Sementara Andin, tidak bisa memberikan hal itu. Lagi pula, wanita itu juga sudah meninggalkanmu. Bapak telah memikirkan hal ini, lebih baik kau resmi ceraikan istri pertamamu!” titah Gunadi dengan tegas.
Meski baru saja ia pingsan, namun sikap tegas dan wibawanya sama sekali tak berkurang.
“Obat untuk Rio itu masih ada yang lain, Pak. Wanita itu hanya mengarang dan memanipulasi dengan bekerja sama bersama dengan dokter untuk mengatakan hal tersebut pada keluarga kita. Dia penuh manipulasi!” tuduh Dylan.
Anyelir menggelengkan kepala. Tudingan konyol macam apa itu? Dia bahkan hanya mahasiswi yang sedang menjadi dokter koas di rumah sakit itu. Dia bukan anak petinggi rumah sakit yang memiliki kedudukan atau setidaknya seperti Dokter Rian. Lantas, siapa Anyelir sampai dia berani-beraninya memanipulasi dokter spesialis senior? Punya apa dia yang akan diberikan pada dokter senior tersebut?
Perempuan itu memasang wajah polos dan tak berdosa. Ia sama sekali tidak seperti itu. Meski ia bekerja di rumah tersebut, tapi tak semudah itu bagi Anyelir untuk memiliki akses agar bisa berinteraksi dengan dokter spesialis yang sudah senior.
“Dylan! Ini bukan kata Anyelir, tapi ini kata dokter anak spesialis onkologi yang berkata demikian. Dia ini menyarankan terapi sel punca untuk anakmu!” tegas Nyonya Lastri.
Anyelir menggelengkan kepalanya lagi. “Saya tidak melakukan apa pun. Percayalah! Aku sudah katakan sejak awal, jika ada cara lain yang lebih baik untuk menyembuhkan Rio, maka aku akan mengikuti cara tersebut. Apa pun aku akan lakukan, meski aku harus bertukar nyawa dengan anakku.”
Ucapan Anyelir terdengar bagai bualan di telinga Dylan.
“Terserah saja lah!” timpalnya sambil mencibir.
“Ibu tadi meminta kamu untuk datang ke dokter kandungan, bagaimana hasilnya?” tanya Lastri.
Dylan dan Anyelir pun berpandangan. Mereka urung untuk konsultasi karena Dylan malah sibuk menerima telepon dari Andin saat giliran antrean mereka dipanggil.
Namun Anyelir hanya diam saja, ia menyerahkan masalah ini pada Dylan agar pria itu yang menjelaskan.
“Kami ... belum sempat untuk menemui dokter,” ucap Dylan.
__ADS_1
“Kenapa? Bukankah kau sudah berangkat ke rumah sakit? Apa kau berbohong pada ibu?” tanya Lastri curiga.
Dylan menggeleng. “Aku menuju ke rumah sakit, tapi ....” Dia menggantung kalimatnya.
“Tapi ... saya sangat sibuk tadi, Bu. Jadi, saya tidak bisa menemui dokter kandungan,” sela Anyelir menyelamatkan Dylan.
Tadinya perempuan itu tak ingin menjawab apa pun. Namun jika sampai Dylan dimarahi lagi oleh kedua orang tuanya, maka Dylan akan melampiaskan kemarahannya lagi pada Anyelir.
Perempuan itu bukan melindungi Dylan, tapi dia melindungi dirinya sendiri. Walau dia memiliki perasaan pada Dylan, namun ia tak mau jika harus hidup bersama dengan pria itu. Meski hatinya selalu sakit setiap Dylan memilih Andin, namun dia juga menyadari jika Dylan sampai memilihnya, dia akan tetap sakit hati karena sikap pria itu padanya.
“Jadi ... kalian mau melakukan program kehamilan agar segera hamil untuk memberikan obat bagi Rio?” tanya Gunadi.
Hal itu dijawab dengan anggukan oleh Dylan dan Anyelir.
“Mereka mau melakukan bayi tabung untuk membuat Anyelir hamil,” celetuk Lastri yang tanpa sengaja membuka pintu untuk masalah baru.
“Bayi tabung?” Gunadi terkejut mendengar ucapan istrinya.
Sementara itu, Lastri langsung menutupi mulutnya sendiri yang tak sengaja keceplosan. Lalu Dylan dan Anyelir malah terkejut sambil membelalakkan matanya tak percaya.
“Memangnya kalian memiliki masalah kandungan apa? Sehingga harus melakukan bayi tabung?” tanya Gunadi.
Dylan pun terdiam, apalagi Anyelir.
Mereka tak mau menjelaskan alasan kenapa harus melakukan bayi tabung. Satu-satunya alasan yang dimiliki oleh Dylan, kenapa ia menjalankan bayi tabung adalah karena ia ingin menjaga perasaan Andin dan tak mau menyentuh wanita lain selain istri pertamanya.
“Saat membuat Rio, mereka juga menjalankan prosedur bayi tabung katanya,” sahut Lastri. Entah kenapa, saat ini ia malah merasa senang jika membocorkan rahasia bayi tabung. “Dylan nggak mau nyentuh Anyelir, dia tak mau memberi nafkah batin untuk istrinya sendiri!”
Gunadi kali ini benar-benar melotot ke arah Dylan. Kemarahannya tak dapat ditahan lagi.
“Kamu!” bentak Gunadi sambil melotot ke arah Dylan.
__ADS_1