Menikahi Mantan Istri

Menikahi Mantan Istri
6. Perjanjian Selesai


__ADS_3

Anyelir mendongak kesal mendengar apa yang dikatakan oleh Dylan. Bisa-bisanya pria itu berkata demikian tentang dirinya di depan sang ibunda.


"Jika kau mengatakan aku adalah wanita murahan, maka dirimu adalah pria hidung belang yang brengsek dan bajingan," umpat Anyelir dalam hati. Namun ia tak bisa menyuarakan umpatannya pada laki-laki kurang ajar itu.


Nyonya Lastri pun menatap pada Anyelir.


"Apa benar yang dikatakan oleh Dylan? Sebenarnya untuk apa uang itu?" tanya wanita bersanggul itu dengan mengangkat alisnya.


"Benar! Dia meminta uang lima milyar dariku," ucap Dylan mewakili Anyelir dalam memberi jawaban.


"Aku tidak bertanya padamu!" Nyonya Lastri kali ini berdiri di depan Anyelir.


Gadis itu pun terpaksa menjawab.


"Emm .... Itu untuk biaya melanjutkan perkuliahan saya dan ... untuk pengobatan mendiang ibu saya," jawab jujur Anyelir sambil menahan sedih karena ingat kembali pada ibunya.


Ia rela cuti dari perkuliahan, lalu menyewakan rahimnya untuk mengandung anak dari seorang pria yang menikahinya secara siri, demi kesembuhan ibunya. Namun sayang, ternyata sang ibu malah menghadap Illahi dan Anyelir pun merasa semuanya sia-sia.


Nyonya Lastri pun mendekat, ia melihat wajah pura-pura tegar dari gadis itu meski sedang menundukkan kepalanya. Wanita itu menepuk pundak Anyelir dan mengusap punggungnya.


"Pasti sulit kehilangan ibu yang sangat kita sayangi terutama setelah kita melakukan pengorbanan besar." Nyonya Lastri langsung memeluk Anyelir dan tangis pun tumpah dari keduanya.


"Kenapa kamu baru muncul sekarang, menantuku? Masa tuaku pasti akan sangat bahagia jika kau yang menjadi menantuku." Tangis pecah dari kedua wanita yang saling berpelukan tersebut, hal ini membuat Dylan pun bingung.


"Aku mengerti pasti wanita sebaik kamu ini tidak akan pernah menikahi anak laki-lakiku. Sebagai ibu, aku pun mengerti betapa brengs*knya anakku ini." Sang nyonya besar itu lagi-lagi melepas kacamata dan mengusap embun yang terbentuk di sana.


Dylan tercengang, kenapa ibunya malah berkata demikian di depan Anyelir?


Kemudian Anyelir pun mengangguk sambil menjawab dengan lirih. "Iya, anak ibu memang brengs*k. Maka dari itu aku tidak mau menikah dengannya." Wanita dengan jubah dokter itu menggelengkan kepala menunjukkan keengganannya. Dia juga menghindar dari bertatapan pandangan dengan Dylan.


Kali ini Nyonya Lastri pun menatap pada Dylan.


"Kau dengar! Anyelir bahkan tak mau menikah denganmu," ujar sang nyonya besar. "Kalau kau jadi anak gadisku, aku juga pasti akan melarangmu untuk menikah dengan pria seperti dia!" Nyonya Lastri menunjuk pada Dylan.


Dylan pun menganga. Ini memang sesuai dengan keinginannya. Tapi kenapa arah pembicaraan mereka tidak sesuai dengan skenario yang ia harapkan?

__ADS_1


"Seandainya bukan karena Rio, aku tidak ingin memaksamu menikah dengan anakku." Nyonya Lastri menatap sedih pada Anyelir. "Aku adalah orang pertama yang melarangmu untuk menikah dengannya!" Seketika matanya menatap tajam pada sang anak.


Anyelir tak berani menimpali apa-apa. Kini ia mengerti jika sang ibu sedang menghasut anaknya.


"Baiklah! Aku akan menikah dengan Anyelir!" jawab Dylan dengan tegas. Itu mengejutkan semuanya termasuk Anyelir sendiri.


"Apa?" Nyonya Lastri agak berteriak. "Anyelir memang kau mau menikah dengannya?"


Wanita itu langsung menggeleng dengan cepat. "Ti ... tidak, aku tidak mau." Anyelir menolak ucapan Dylan.


"Kita memang sepertinya harus mengikhlaskan Rio," ujar Nyonya Lastri sambil memeluk Anyelir. "Tidak mungkin kau menikah dengan anakku."


"Hei! Kau ... baru saja menolakku?" tanya Dylan dengan gugup. Entah kenapa kini ia merasa benar-benar dibuat kesal.


Baru kali ini ada wanita yang menolaknya dan wanita itu tidak ada apa-apanya di mata Dylan.


Anyelir mengangguk dengan tegas. "Meski aku adalah wanita murahan, namun aku ... tak mau menikah dengan ... pria baj*ngan." Ucapan Anye benar-benar menohok ulu hati Dylan.


"Anye ... ibu mohon, ini demi Rio. Menikahlah dengan Dylan." Kali ini Nyonya Lastri menggenggam tangan Anyelir begitu hangat.


Dylan menatap ada yang aneh dengan perilaku ibunya. Selama ada Andin di rumah, sang ibunda tak pernah berperilaku demikian pada istrinya.


Ini sungguh menjadi pertanyaan besar di kepala Dylan.


"Demi Rio. Kau tak perlu menjadi istri untuk Dylan. Ibu berjanji, setelah menikah kau tak perlu melayani anak ibu layaknya suami istri. Cukup menjadi ibu kandung untuk Rio dan menjadi menantuku." Nyonya Lastri tersenyum bahagia.


Anyelir melirik pada Dylan.


Ini benar-benar di luar kesepakatan mereka. Lagi pula, kenapa pria itu juga plinplan? Anyelir kini tak mengerti harus apa.


Namun yang jadi masalah tidak cukup di sana. Dylan merasa tak suka dengan ucapan ibunya. "Apa maksud ibu, dia tak perlu melayaniku seperti suami istri? Lalu bagaimana kita memberi adik untuk Rio?"


"Program bayi tabung," celetuk Anyelir dengan singkat. "Baiklah, aku bersedia untuk menikah. Demi Rio!" Wanita itu tersenyum.


Meski ia sakit hati karena ucapan Dylan, namun entah mengapa ucapan Nyonya Lastri sangat menghibur dirinya. Apalagi dengan pernikahan ini, bisa membuatnya semakin dekat dengan Rio, sang buah hati.

__ADS_1


Dylan pun mengangguk. Ia lupa dengan program bayi tabung yang memang ia rencanakan.


"Baiklah, perjanjian selesai." Dylan pun pergi dari ruangan itu meninggalkan mereka berdua.


Nyonya Lastri pun tersenyum.


Seseorang datang ke dalam ruang paviliun itu membawa tiga gelas teh manis yang hangat.


"Em, kenapa perginya Pak Dylan?" tanya pelayan pribadi Nyonya Lastri.


"Dia sedang keluar. Anyelir, perkenalkan, ini Bi Ai. Dia yang menjadi pelayan pribadiku," ujar Nyonya Lastri.


"Saya Ai, Bu Anyelir. Silakan diminum tehnya." Ia menyuguhkan teh tersebut ke depan Anye dan sang majikan tuanya itu.


"Ini satu lagi untuk saya, ya, Bu?" ujarnya.


"Minum saja."


Ketiganya pun berbincang penuh kehangatan. Nyonya Lastri begitu hangat dengan pelayannya. Hal tersebut membuat Anyelir merasa nyaman melihat interaksi mereka.


"Kau boleh kembali, Anyelir! Pekerjaanmu pasti sangat padat. Maaf mengganggu waktumu," ucap Nyonya Lastri pada calon menantunya.


Anyelir pun mengangguk dan permisi pada mereka berdua.


"Bi Ai, coba lihat foto yang tadi," pinta Nyonya Lastri pada pembantunya.


Ternyata di galeri pelayan Nyonya Lastri itu, tersimpan begitu banyak foto Anyelir saat sedang bertugas. Selain itu, ia juga mendapatkan gambar saat Dylan mencegat Anyelir.


"Bukankah Anyelir lebih cantik dari Andin?" tanya sang nyonya sambil menggulir setiap foto wanita itu saat sedang bekerja.


"Benar, sepertinya dia lebih cocok dengan Pak Dylan daripada Bu Andin."


"Kalau tahu ibu kandung Rio adalah Anyelir, seharusnya sejak dulu dia saja yang menjadi menantuku," gerutu wanita tua itu dengan kesal.


"Sabar, Bu. Sebentar lagi keinginan Bu Lastri akan terwujud."

__ADS_1


*


Jangan lupa vote dan komen yang banyak yaaa...


__ADS_2