
Bau alkohol menguar dari tubuh dan mulut Dylan.
Karena terlalu menusuk pada hidung dan Anyelir tak terbiasa dengan itu, dia sedikit menjauhkan wajahnya dari wajah Dylan. Namun dia masih berusaha dengan keras untuk membopong sang suami hingga ke lantai dua.
“Ndin ....” Dylan masih meracau menyebut nama istri pertamanya.
Anyelir tahu itu adalah hal biasa jika Dylan menyebut nama wanita, di sini keberadaannyalah yang menjadi orang ketiga di antara mereka. Dia cukup tahu untuk menjadi sakit hati dan cemburu. Karena dirinyalah yang sebenarnya telah menyakiti Dylan dan perempuan itu.
Langkah demi langkah mereka menapaki tangga. Tubuh Dylan sangat berat di luar dari dugaannya. Anyelir berpegangan pada pegangan tangga selama ia membawa tubuh sang suami yang setengah terseret.
Sampai ia terengah-engah, dia pun akhirnya berhasil membawa Dylan ke lantai dua. Karena tak ada pilihan lain dan suaminya terlalu berat untuk ia bawa lebih jauh, Anyelir pun memasukkan Dylan ke kamarnya yang berada tepat di dekat tangga. Hal itu disebabkan kamar Dylan yang masih jauh karena berada di depan dan menghadap ke balkon.
Anyelir menidurkan Dylan di atas ranjangnya dan melepaskan jas, dasi, kaos kaki, bahkan sabuknya. Pria ini bahkan masih mengenakan setelah kerjanya saat sedang mabuk.
Perempuan itu pun menatap wajah tampan yang terbaring dengan mata terpejam dan mulut yang terbuka sedikit. Dengkur napasnya begitu halus membuat dia betah menatap wajah tersebut. Dia mengulurkan tangan untuk mengusap dahi suaminya. Bagai mimpi bagi Anyelir bisa menyentuh wajah ini dan menatapnya dari dekat.
“Ah, sadarlah, Anyelir. Dia ini suami orang,” ucap Anyelir lirih yang bergumam pada dirinya. Wanita itu berusaha untuk tak banyak bergerak agar tak menimbulkan suara. Dia masih saja duduk di samping Dylan, menatap wajah tampan itu dan membiarkan napas halus berbau alkohol yang pekat itu mengembus ke wajahnya.
“Ennngh ....” Dylan sedikit menggerakkan tubuhnya.
Hal itu langsung membuat Anyelir gugup dan menjauhkan tubuhnya dari Dylan.
__ADS_1
Namun saat Anyelir hendak beranjak dari tempat tidurnya, dia berniat untuk menggelar selimut sebagai alas tidur di atas lantai. Akan tetapi niat itu urung karena Dylan memegang pergelangan tangannya dan menarik wanita itu hingga berada di dalam pelukannya.
Anyelir terpaku karena bisa merasakan detak jantung begitu dekat dengannya. Bahkan napas berbau alkohol itu bukanlah menerpa wajahnya, melainkan benar-benar menerpa hidungnya. Mulut di depannya sedikit terbuka dan semakin mendekat pada bibir Anyelir yang masih terkunci rapat.
Perempuan itu menutup matanya dengan kuat saat Dylan mendekatkan kedua bibir mereka. Sisa percintaan mereka kemarin saja masih belum hilang dan kini Dylan telah berusaha menyentuhnya lagi? Setelah tadi pagi dia bahkan menolak mentah-mentah untuk melakukan setiap hari.
Namun bukan hal itu saja yang membuat Anyelir enggan disentuh lagi oleh Dylan, melainkan nama yang keluar dari bibir pria itu sebelum menciumnya. Antara sadar dan tidak, Dylan melakukan semuanya dengan memanggil nama wanita lain saat ia berada di atas Anyelir.
“Andin ....” Begitu ujarnya di tengah *******-******* pria tersebut. Dylan memperlakukan Anyelir dengan begitu lembut dan penuh kasih sayang. Namun Anyelir sadar, jika semua itu seharusnya bukan perlakuan untuknya.
Sakit yang menghunjam pada ujung jantung Anyelir bukan karena serangan fisik dari suaminya, melainkan karena dirinya hanya bagaikan seonggok daging bernyawa untuk memuaskan keinginan laki-laki itu. Sementara dalam fantasi liarnya, pria itu memikirkan wanita lain yang berstatus sebagai istri pertamanya.
Seberapa lama ia mandi mengguyur tubuhnya, Anyelir tetap tak merasakan kesegaran dalam badannya yang sudah terasa remuk seperti hatinya. Mandi yang ia lakukan kali ini hanyalah sekedar membasahi tubuh, namun tidak menyegarkan tubuh.
Dia menyeka kulitnya yang terdapat buliran air itu dengan handuk, lalu ia juga membungkus lagi rambutnya menggunakan handuk dan barulah ia keluar dari kamar mandi.
Mengendap-endap, dia melangkah pelan. Selain karena takut suaminya terbangun, ia juga merasakan sakit di pangkal kakinya. Maka dari itu, dirinya tak bisa bergerak dengan cepat. Dia mengambil baju ganti dan mengenakannya.
Selain itu, Anyelir juga mengambil selimut cadangan yang ia gelar di atas lantai untuk digunakan sebagai alas tidurnya kali ini. Ia hanya akan tidur di atas lantai samping ranjang karena tak ingin berada di atas kasur yang sama dengan suaminya.
Embus napas pelan keluar dari hidung dan mulut Anyelir, wanita itu terlelap dalam kelelahan hidup yang ia lakoni selama ini.
__ADS_1
Hingga pria yang berada di atas ranjang Anyelir pun sadarkan diri dan berusaha mencerna apa yang ia lihat.
Dylan memijit kepalanya dan berusaha menghilangkan pening yang ia dapatkan sebagai efek minum minuman semalam. Pria itu menatap sekeliling, ini bukan kamarnya. Kamar dengan warna abu muda dan juga putih lalu memiliki luas yang lebih sempit dari kamarnya ini jelas kamar Anyelir.
Pria itu berusaha menoleh ke samping, wanita itu tak ada di sampingnya. Dia melihat pakaiannya telah tak utuh dan berada di gantungan baju yang tersimpan di sudut kamar. Dylan memicingkan mata dan mencoba mengingat apa yang terjadi.
Dia pun turun dari ranjang. Namun langkahnya terhenti saat menyadari ada seorang perempuan yang terbaring di bawah kakinya.
“Anyelir?” gumamnya lirih.
Kali ini dirinya hanya sedang menggunakan celana kolor saja tanpa pakaian yang lain, tiba-tiba Dylan pun melayangkan pikirannya saat ia memikirkan penyatuannya bersama Andin. Apa mungkin jika dia sebenarnya melakukan dengan wanita ini?
Pikiran Dylan masih belum bisa jernih. Pria itu pun membungkukkan badan lalu mencoba mengangkat Anyelir dengan kedua tangannya. Perlahan ia bopong tubuh ringkih itu dengan kedua tangannya dan ia bawa ke atas kasur. Entah kenapa akal sehatnya menunjukkan rasa bersalah melihat Anyelir yang tertidur di bawah karenanya. Dylan juga menyelimuti tubuh Anyelir dengan selimut yang tadi ia gunakan.
Berjalan agak terhuyung, Dylan berusaha mengambil kemejanya yang sudah kusut. Hanya kemeja saja dan ia pun mengenakannya, tanpa menggunakan pakaian yang lain.
Pria itu memakai kemeja putihnya tanpa terkancing dengan utuh sampai ke atas. Mengendap-endap dia keluar dari kamar Anyelir. Hanya dengan kemeja putih yang dipakai dengan asal dan juga celana pendek, pria itu berjalan dari kamar Anyelir menuju ke kamarnya sendiri.
Sementara itu, Nyonya Lastri yang hendak bangun karena waktu telah menunjukkan pukul empat pagi menyadari jika anaknya baru saja lewat dengan penampilan yang berantakan. Wanita paruh baya itu terkekeh melihat Dylan keluar dari kamar menantu barunya tersebut dengan pakaian tersebut.
Dalam pikiran Lastri saat ini adalah, “Semoga aku bisa segera menambah cucu.”
__ADS_1