
Mungkin terdengar gila jika Anyelir memutuskan untuk kembali bersama dengan Dylan. Namun, harus menunggu apa lagi? Kesempatan untuk dekat dengan Rio tak akan datang untuk kedua kali.
Lalu, apakah dia merusak hubungan Dylan dengan Andin?
Tentu tidak!
Bagi Anyelir, rusaknya hubungan Dylan dengan Andin bukan karenanya. Itu urusan mereka jika pasangan itu bercerai, pisah ranjang atau apalah itu namanya. Kedatangan Anyelir kemari hanya semata karena Rio. Ia ingin dekat Rio. Titik.
Jika dikatakan Anyelir melanggar kontrak, bagaimana?
Tentu tidak!
Perlu diingat oleh Dylan sekali lagi, bukan Anyelir yang datang ke tempat mereka. Melainkan Nyonya Lastri-lah yang menjemputnya.
Dan lagi, bukan Anyelir yang membuat ibu dari Dylan itu mengetahui hubungan mereka.
Dalam kasus ini bukan Anyelir yang salah, ya, bukan Anyelir!
"Tapi ... kenapa aku terus merasa berdosa karena Bu Andin pergi?" gumam Anyelir seorang diri yang sedang mondar-mandir di kamarnya.
Wanita yang satu ini, tentu tak bisa membohongi nuraninya sendiri. Berulang kali ia meyakinkan jika semua yang terjadi ini bukan salahnya, namun berulang kali pula ia menyalahkan dirinya sendiri.
"Bu Andin pergi bukan karena aku. Aku bahkan datang setelah ia pergi, bukan aku yang menyebab kepergiannya."
Anyelir kini duduk di ranjang usai berulang kali bolak-balik sambil berpikir dan menggumam.
"Anyelir."
Tok tok tok
Terdengar suara ketukan pintu dan juga panggilan.
Anyelir dengan segera berjalan dan mendekat.
"Anyelir," panggil suara nenek-nenek itu lagi.
"Iya, Nyonya." Wanita itu tergopoh-gopoh membukakan pintu dan menyapa calon mertuanya.
"Panggil aku, Ibu, kan, sudah diberitahu." Lastri menepuk pundak Anyelir.
Wanita itu pun tersenyum kaku. "Iya, Bu."
"Ayo," ajak Lastri.
Anyelir terkejut. Ke mana ia akan diajak?
__ADS_1
"Rio ingin bermain. Sambil menunggu waktu makan, ada baiknya kau menemui Rio terlebih dahulu. Kau sudah sholat maghrib, kan, tadi?" tanya Nyonya Lastri.
Anyelir mengangguk dan mengikuti ajakan dari calon mertuanya itu. "Sudah, Bu," timpalnya.
"Syukurlah." Lastri mengajak Anyelir untuk ke ruang atas tempat Rio bermain.
Saat ini, tentu saja Anyelir sangat gugup. Apakah Rio akan menerimanya sebagai ibu kandung?
Sudah beberapa kali memang, Anyelir bertemu dengan anaknya. Namun saat itu, Anyelir tak pernah memperkenalkan diri. Ia hanya mengajak Rio bermain tanpa pernah menyebutkan nama. Anyelir bahkan sangsi jika Rio mengingat wajahnya.
"Nah, ini untuk Rio, satu untuk papa." Suara bas itu terdengar bahkan saat Anyelir masih berjalan di tangga.
Bisa ditebak, siapa yang saat ini sedang menemani anak itu bermain.
"Dylan sedang menemani Rio bermain, tapi katanya sebentar lagi dia juga harus pergi. Jadi ... kalau bisa, kamu yang temani Rio bermain, ya, selama Dylan pergi? Kamu tidak keberatan, kan?" tanya Lastri dengan hati-hati.
Bagaimanapun juga, wanita tua itu sudah agak pesimis, karena sebelumnya Andin sering menolak untuk bermain dengan Rio karena mengaku jika wanita itu sedang sibuk.
"Tentu, Bu. Aku akan bermain dengan Rio." Jawaban Anyelir sungguh di luar dugaan. Wanita muda ini bahkan tersenyum riang saat ditawari hal demikian oleh Lastri.
"Syukurlah." Wanita tua itu tersenyum lebar.
"Rio ... lihat, nenek punya teman baru yang akan menemanimu ...!" seru Nyonya Lastri dengan suara yang mendayu untuk menarik perhatian Rio.
Anak kecil yang sedang duduk di pangkuan Dylan dengan puzzle di tangan itu pun langsung mendongak melihat siapa yang datang.
"Hai, Sayang," sapa Lastri yang langsung mendekat.
Sementara itu, Anyelir sendiri sedang berhati-hati. Ia tak berani langsung mendekat pada sang bocah karena ia takut jika anak itu akan menolak dirinya.
"Tante Balon Panda?" panggil Rio secara tak terduga sambil menunjuk pada Anyelir.
Pada saat itu, baik Lastri maupun Dylan cukup terkejut dengan sebutan yang diberikan oleh Rio pada wanita tersebut.
"Hai, Rio. Iya, ini Tante yang memberimu balon Panda waktu itu." Anyelir sedikit membungkukkan badan sambil melambaikan tangannya pada Rio.
Kali ini Rio berdiri dan langsung menghampiri pada Anyelir. "Tante yang jadi teman nenek dan akan menemaniku?" tanya Rio dengan nada yang polos.
Anyelir mengangguk.
"Benar. Tante yang akan menemanimu," jawab Anyelir tersenyum lebar.
Berbeda dengan ekspresi wajah Dylan. Pria itu langsung beringsut karena merasa kesal, bagaimana mungkin anaknya bisa langsung akrab dengan Anyelir? Dia langsung diliputi kekesalan.
Pria itu pun langsung beranjak dari tempatnya. "Bu, aku pergi dulu kalau begitu. Ada perayaan perusahaan temanku yang harus kudatangi," pamit Dylan.
__ADS_1
"Bukannya masih nanti jam sembilan?" tanya Nyonya Lastri heran.
"Aku harus bersiap dari sekarang." Itu hanya alasan dari Dylan saja, sudah jelas ia ingin menghindar dari Anyelir.
"Rio ... papa pergi dulu, ya ...." Dylan sengaja mengatakan hal itu pada anaknya, karena biasanya Rio akan menangis bila tahu Dylan hendak pergi bekerja.
"Ssst!" Nyonya Lastri segera melarang Dylan untuk berbicara. "Jangan bilang-bilang, kamu malah sengaja ngomong," bisik Nyonya Lastri sambil mengomel pada anaknya.
Namun ternyata apa yang diinginkan Dylan tidak terjadi. Rio sama sekali tak menggubrisnya, anak kecil itu justru sedang asyik menyusun puzzle dengan Anyelir.
Hal itu membuat Lastri dan Dylan terperangah.
"Hah? Rio ... papa mau berangkat!" Sekali lagi Dylan memanggil.
"Sudah, sudah, kamu berangkat saja sana! Rio sedang asyik bermain dengan mamanya. Jangan mengganggu." Lastri mendorong anak laki-lakinya itu agar tidak mengganggu sang cucu.
Akan tetapi, ini tidak adil bagi Dylan. Baru saja ia dengan Rio bermain sedekat itu, hanya selang beberapa detik saja perhatian Rio langsung teralihkan. Ini tidak bisa dibiarkan! Begitu menurut Dylan.
Ia pun segera mendekat pada Rio.
"Heh! Dylan," ujar Lastri yang jengkel pada anaknya.
"Rio, Rio, papa mau pergi, loh!" Dylan kali ini berbicara tepat di depan wajah Rio.
Nyonya Lastri hanya bisa berkacak pinggang melihat kelakuan anaknya.
"Papa mau ke mana?" tanya Rio.
Mendapat pertanyaan dari sang anak, Dylan langsung berbinar. Seakan ia ingin menunjukkan pada Anyelir, jika dirinya lebih dekat dengan Rio.
"Papa mau ada acara, mungkin papa akan pulang malam, Rio jangan menangis, ya?" ucap Dylan dengan percaya diri.
"Nggak!" jawab Rio singkat sambil memperhatikan puzzlenya lagi.
"Eh, Rio, Rio, papa mungkin tidak pulang malam ini."
Rio tak menatap pada papanya.
"Rio ...," panggil Dylan sekali lagi. "Papa mau pergi ...." Perkataan Dylan kali ini lebih lirih dan terdengar putus asa.
"Tante, tebak! Puzzle ini kalau jadi akan bergambar apa?" Rio malah sibuk bermain dengan Anyelir.
Dylan benar-benar patah hati kali ini.
"Sudah, cepat pergi! Mumpung ada mamanya yang bermain dengan Rio. Kamu nggak perlu khawatir," ucap Nyonya Lastri sambil mencoba membawa Dylan untuk pergi.
__ADS_1
Namun, satu hal yang tak terduga. Anak kecil yang terlihat tak memperhatikan, tetapi bertelinga tajam itu langsung bangun dan menatap pada neneknya. "Jadi, Tante Balon Panda ini mamanya Rio juga?"