Menikahi Mantan Istri

Menikahi Mantan Istri
94. Ponsel Wira yang Mencurigakan


__ADS_3

Kecurigaan Andin telah bermula saat ia menemukan kartu nama milik perusahaan Dylan dan juga perusahaan dari kawan-kawan sang suami. Kenapa pacarnya itu melakukan hal tersebut? Lalu ditambah dengan riwayat panggilan beberapa menit yang lalu dan ternyata pria itu baru saja menghubungi kantor tempat Dylan bekerja. Apa pria itu memang benar-benar ada perlu?


Jika memang ada kepentingan bisnis, kenapa harus pas sekali jika itu adalah perusahaan milik mantan suaminya dan juga orang-orang yang ada di sekitar sang suami.


Ia tak apa yang dibicarakan oleh Wira pagi tadi dalam telepon, bahkan tak ada riwayat pesan yang bisa ia baca. Ia sedikit kesal, tapi tak ada gunanya. Dirinya hanya berharap, semoga ini bukanlah hal buruk dan hanya sekedar urusan bisnis saja.


Lalu ... sambil mengendap-endap, Andin pun meletakkan kembali ponsel Wira. Di mana sebelumnya ia telah menghapus riwayat aplikasi yang terbuka dan ia juga kembali mengunci layarnya.


Wanita itu pura-pura tak menyentuh ponsel Wira dan kembali meninggalkan kamar untuk menghampiri segelas kopi miliknya yang telah ia buat sebelumnya.


*


Ibu kota dari sebuah negara memang tak pernah terlihat santai. Mungkin jika ada wabah yang menimpa kota ini dan mengharuskan seluruh penduduknya agar tak keluar rumahlah satu-satunya cara untuk membuat jalanan di sini lengang. Tapi itu tak mungkin terjadi!


Diantar dengan sopir pribadinya, Anyelir segera menuju ke rumah sakit. Perempuan itu telah membuat janji dengan sang suami untuk bertemu di tempat kerja Dokter Rian tersebut. Entah kenapa hari ini dia begitu antusias untuk menantikan pertemuan mereka, padahal biasanya Anyelir selalu was-was tiap mengetahui sang suami yang hendak bertemu dengan dokter seniornya itu.


Turun dari mobil di bagian depan rumah sakit. Anyelir tak masuk melalui pintu utama rumah sakit, apalagi ia masuk melewati bagian IGD seperti saat ia menjadi petugas jaga dulu. Tentu tidak!


Anyelir memilih untuk lewat jalan samping yang menuju bagian taman rumah sakit. Dirinya langsung menuju ke kamar rawat ICU tempat ibu mertuanya tersebut dirawat.


Lorong rumah sakit ini sepi dengan pencahayaan siang hari yang minim. Tapi bagusnya, kondisi seperti ini membuat bagian dalam bangunan terasa adem dan lebih nyaman dibanding di luar.


Perempuan itu berjalan dengan langkah kaki yang terdengar menggema. Bukan karena setiap jejak kakinya yang begitu keras, melainkan karena saking sunyinya tempat ini hingga embusan napas pun terdengar cukup keras.


Anyelir berdiri tepat di bagian tengah lorong, dia menghadap pada dinding kaca yang tembus pandang dan kemudian melihat ibu mertuanya terbaring dengan tubuh penuh selang yang dihubungkan.


Meja perawat khusus yang menjaga ruang ICU terletak di ujung lorong. Seorang perawat datang dan menatapnya.


“Anyelir,” panggilnya dengan volume suara yang sedang.


Perempuan itu menoleh. “Oh, hai!” Dia kawan sebaya Anyelir yang menjadi perawat magang di rumah sakit ini.

__ADS_1


“Mau menjenguk Bu Lastri?” tanya perawat tersebut pada Anyelir.


Anyelir mengangguk. “Ya, aku menjenguknya di sini saja tapi.” Dia menjawab demikian, karena nanti dikira dirinya ingin masuk untuk menjenguk ke dalam.


“Kalau kau ingin masuk akan kusiapkan perlengkapanmu,” ujar gadis perawat tersebut.


“Ah, tidak!” tolak Anyelir sambil menggerak-gerakkan tangannya seperti saat orang menolak sesuatu.


Gadis perawat itu pun tersenyum. “Baiklah, tapi jika kau mau masuk atau butuh sesuatu, katakan padaku, ya!” Dia pun pergi untuk memberi privasi bagi Anyelir dan kembali ke tempatnya semula.


Anyelir kembali sendiri berdiri di sana. Dia memasukkan kedua tangan ke dalam saku dan berdiri menatap wanita paruh baya yang sedang berbaring tak sadarkan diri di dalam sana.


Kenapa harus Bu Lastri?


Kenapa saat itu dia harus mengalami kecelakaan?


Kenapa mobilnya yang harus mengalami tabrakan?


Jika dipikir-pikir lagi, semua orang baik di sekitar Anyelir selalu mengalami sesuatu yang tragis.


Satu-satunya orang yang membuat Anyelir bertahan di rumah keluarga Bagaskara hanya karena ibu mertuanya. Di tengah perlakuan Dylan yang tak pernah menyenangkan sama sekali saat itu, hanya Nyonya Lastrilah yang memperlakukan dirinya dengan penuh kasih sayang bak anaknya sendiri.


Belum lagi Rio. Tentu saja bocah kecil berusia empat tahun itu merasa sangat kehilangan sang nenek yang sangat menyayanginya. Sedari kecil ia hidup berjauhan dengan Anyelir dan hanya neneknyalah yang sangat peduli padanya.


Jangan ditanya apakah Rio sering bertanya tentang neneknya atau tidak?


Karena jawabannya sering, sangat sering.


Akan tetapi, beruntungnya Rio adalah anaknya yang pengertian. Dia tantrum hanya karena neneknya sedang tak ada. Sayangnya, anak seumur Rio tak bisa dibawa untuk menjenguk ke dalam rumah sakit apalagi sampai masuk ruang ICU.


“Kenapa diam di sini?” tanya seseorang dengan suara bas yang khas. Pria tersebut menyusut air mata di pipi Anyelir menggunakan selembar sapu tangan.

__ADS_1


“Dylan?” ujar perempuan itu sambil mendongak ke arah kiri tempat suaminya datang. Dia terkejut karena langkah kaki Dylan yang berjalan di lorong rumah sakit pun tak terdengar olehnya.


“Kau tidak menjenguk ke dalam?” tanya Dylan.


Anyelir menggeleng. “Aku ingin menangis setiap melihat beliau, jadi aku tidak boleh masuk karena itu akan mengontaminasi pasien yang ada di sana.”


Dylan tersenyum. “Oh, istriku memang benar-benar dokter sejati.”


Perempuan itu pun memutar bola mata. “Tidakkah kau terlihat terlampau bahagia untuk seorang anak semata wayang dengan ibu yang sedang koma dan dirawat di ICU?” sindir Wulan dengan keras.


Dylan pun meneguk ludahnya berkali-kali. “Aku ... bukan terlampau bahagia, Sayang. Aku ... aku hanya ... aku hanya ingin menghiburmu. Ya, menghiburmu! Jangan terlalu mudah menilaiku dengan buruk seperti itu, kau membuatku bersedih.”


Anyelir tersenyum kecil, lalu dia memeluk pinggang Dylan dan menyandarkan kepala di lengan atas suaminya. Beruntungnya sekarang, Dylan telah beralih hati padanya. Kini perempuan itu tak perlu kesulitan untuk mendapat secuil perhatian dari sang suami, apalagi harus terbagi dengan perempuan lain.


“Terima kasih,” ucap Anyelir pada Dylan.


“Kenapa?” tanya Dylan sambil mengelus bagian kepala Anyelir.


“Aku hanya ingin berterima kasih karena kau telah bisa kujadikan sandaran.”


Senyum lebar terbit di bibir Dylan, entah kenapa ia merasa jika sang istri saat ini sangat manis dengan ucapannya.


*


Sementara itu, kembali di apartemen Andin.


Perempuan itu menonton berbagai video random melalui ponselnya. Dia berbaring di atas kasur, di samping Wira.


Drrrrrt drrrrrt drrrrrt


Dengan penasaran Andin pun mengintip siapa yang menelepon pada pria tersebut.

__ADS_1


Lalu foto profil sekretaris cantik yang sangat dikenal oleh Andin pun muncul di sana.


“Ini, Tera? Untuk apa dia menelepon Wira?”


__ADS_2