Menikahi Mantan Istri

Menikahi Mantan Istri
55. Kebuntuan


__ADS_3

‘Tidak ada negosiasi ulang. Jika mau membicarakan lagi, datanglah ke Hotel Anggrek sambil membawa uang tebusan atau jika kau tidak memilikinya, cukup bawa tubuhmu saja yang kemari.’ ~Wira.


Pesan yang diterima oleh Anyelir membuat dirinya gelisah. Perempuan itu datang kembali ke rumah keluarga Bagaskara dalam keadaan tidak baik-baik saja.


Keringat dingin, kulit dan bibir memucat, serta mata sayu seakan tak ada tenaga. Wajahnya benar-benar tak baik-baik saja. Jangan tanyakan bagaimana perasaan perempuan berstatus istri kedua Dylan itu, karena kini hatinya begitu kacau dan pikirannya kalut. Beruntung kesadarannya masih tersisa, setidaknya untuk sampai di gerbang depan rumah keluarga Bagaskara.


“Bu Anyelir, Bu Anyelir!” Satpam rumah melihat hal tersebut dan langsung menyangga tubuh Anyelir yang hampir jatuh.


“Aduh, maaf! Saya bisa jalan sendiri,” ujar Anyelir seraya menolak bantuan dari satpam tersebut.


Mereka hanya bisa melihat Anyelir yang jalan tertatih-tatih. Tak ada yang bisa mereka lakukan, jika bantuan dari para satpam tersebut justru ditolak mentah-mentah oleh istri kedua majikannya itu.


“Anyelir,” histeris dari Nyonya Lastri begitu melihat menantu kesayangannya baru saja datang.


“Kamu dari mana saja, Sayang?” tanya Lastri yang sedang bermain dengan Rio sambil menghampiri Anyelir.


“Saya ... dari rumah lama, Bu.” Anyelir menjawab dengan lirih dan mencoba untuk tetap tersenyum. Dia tak ingin mertuanya itu tahu apabila sedang ada masalah yang menimpa dirinya.


“Ibu tadi dengar mobil Dylan pergi pagi-pagi sekali, dia bilang mau jemput kamu. Terus ibu sempat tidur lagi dan ternyata Dylan bilang jika kamu sudah pergi. Begitu datang, kamu pergi lagi katanya. Bagaimana ibu tidak khawatir, bahkan kamu tidak bisa dihubungi sama sekali,” cerocos Lastri pada sang menantu.


Perempuan paruh baya itu pun menggandeng tangan sang menantu. “Loh, tanganmu ini kok dingin sekali?”


Lastri bahkan memegang kening Anyelir yang penuh dengan keringat.


“Saya nggak apa-apa, Bu. Cuma telat makan saja,” jawab Anyelir dengan jujur.


Perempuan itu pun bernapas lega, kemudian ia berkata, “Ya sudah, kalau begitu kamu sekarang cepat sarapan dulu deh, sebelum nanti malah pingsan kalau nggak makan-makan.”


Anyelir pun berpamitan untuk naik ke kamarnya dulu baru kemudian dia mengisi perut ke dapur.

__ADS_1


Satu suap, dua suap. Makan pun menjadi tak enak karena kejadian pagi ini. Semuanya karena Joni yang sudah menjual rumahnya. Mantan ayah tirinya itu benar-benar tak membiarkan dia untuk hidup dengan tenang.


“Mama ...,” sapa Rio yang mendekat sambil membawa mobil mainan kesayangannya. Anak itu langsung memeluk Anyelir bahkan sebelum perempuan itu mengeluarkan suara.


“Sayang .... Kamu sedang bermain apa?”


Rio tersenyum sambil menunjukkan mobil mainan miliknya. “Mama sedang makan?” tanya anak itu lagi.


Anyelir mengangguk. “Mama makan dulu, ya.”


“Mama harus makan yang banyak. Rio juga selalu diajari agar makan makanan yang cukup supaya tubuh ini selalu sehat. Lalu saat makan, kita tidak boleh bersedih. Kita harus tersenyum lebar ketika sedang makan, itu tandanya kita bersyukur,” jelas Rio sambil tersenyum dan mendongak menatap sang ibu.


Tangan perempuan itu pun terulur dan mengusap rambut anaknya. Helai hitam yang pendek itu tersisir dengan ringan menggunakan buku-buku jari Anyelir. Usapan itu membuat Rio sedikit memejamkan mata sambil tersenyum lebar. “Kamu mirip sekali dengan papa,” ujar Anyelir kala dia mengamati wajah Rio.


Rio kembali menuju ke tempat bermain, meski itu hal sederhana, akan tetapi kesedihan yang membebani hati dan pikirannya tak terasa begitu berat lagi. Setidaknya ia masih bisa menghabiskan beberapa suap lagi untuk mengisi perutnya.


“Kamu beristirahatlah! Nanti, kan, mau masuk lagi malam-malam. Dokter juga harus bisa menjaga kesehatan dan istirahat yang cukup ya.” Lastri berpesan pada Anyelir setelah perempuan itu menyelesaikan sarapannya yang kesiangan.


“Baik, Bu. Saya titip Rio, ya. Maaf.”


Lastri pun mengusap pundak Anyelir. “Biasanya juga Rio ada dengan saya. Sudah ayo, sana! Istirahatlah!”


Anyelir pun masuk ke kamarnya yang berada di lantai kedua. Perempuan itu melihat pada bagian kasur yang masih berantakan. Sepertinya Dylan juga langsung pergi begitu Anyelir pergi. Ia merasa bersalah pada suami yang ia tinggalkan begitu saja tadi.


Klek.


Perempuan itu mengunci pintu kamar dari dalam. Dia duduk di tepi ranjang dan kemudian mengangkat kakinya.


Berbaring, sambil memainkan ponsel. Anyelir melihat pada layar gadget tersebut yang sepi dari notifikasi. Biasanya juga sepi, tapi entah hari ini dia berharap mendapatkan panggilan atau juga pesan dari sang suami. Setidaknya Anyelir bisa tahu jika pria itu sedang marah atau tidak padanya. Kalau bukan itu, setidaknya pria tersebut menanyakan kenapa Anyelir tadi pergi tiba-tiba.

__ADS_1


Tapi ini ... kosong.


Tak ada apa pun yang ia dapatkan dari suaminya. Entah mungkin pria itu tak peduli pada Anyelir atau memang setidak berharga itu  dirinya di mata sang suami. Entah yang mana, sama saja.


Dia pun mencoba terpejam.


Mencoba melupakan masalah sejenak, agar tenaganya terisi kembali untuk nanti masuk kerja.


Akan tetapi, kelopak mata yang terpejam itu bagaikan layar putih yang memantulkan bayangan-bayangan tentang rumahnya. Kembali pada rumah itu di saat sang ibunda masih bersama. Lalu kini, rumah itu telah dijual oleh orang yang tidak bertanggungjawab dan Anyelir kehilangan kepemilikannya.


Air mata itu merembes dari sela-sela kelopak mata yang tertutup. Perempuan itu pun membuka matanya dan duduk. Matanya sudah sangat merah karena ia menangis tadi.


Dengan tangan yang bergetar, dia menelepon pada sang suami. Hanya ini satu-satunya jalan dan Anyelir tak terpikir jalan yang lain.


Lama sekali ....


Tak satu pun panggilan dari Anyelir dijawab oleh pria tersebut. Perempuan itu menyerah dan ia kembali merebahkan diri lalu tertidur.


*


Sementara itu, di kantor perusahaan Dylan. Pagi-pagi setelah Anyelir meninggalkannya, pria itu berangkat ke kantor tanpa menunggu sang istri menyiapkan pakaian. Suasana hatinya berantakan dan ia ingin meninggalkan rumahnya saat itu juga.


Entah kenapa, dia tak pernah menginginkan Anyelir, tapi jika ditinggalkan seperti ini dirinya benar-benar merasa kesal. Rasanya ia tak memiliki tempat untuk melampiaskan hasrat dan yang tersisa kini hanya kejengkelan menumpuk di ubun-ubunnya.


Tok tok tok


Pintu terketuk dan itu membuat konsentrasinya buyar.


“Hmmm?” jawab Dylan menimpali Tera. Ia sedang kesal, sehingga sekretarisnya yang tak salah apa-apa itu ikut terkena imbas kemarahannya.

__ADS_1


“Hanya seperti itu? Aku pikir kau akan begitu senang dan menyambutku dengan mata berbinar!”


Dylan mengenal suara itu, dia langsung mendongak dan menatap pada wajah yang selama ini menghilang dari hadapannya. “Andin? Kau kembali?”


__ADS_2