Menitip Benih Di Rahim Pembantuku

Menitip Benih Di Rahim Pembantuku
Bab. 12 Menitip Benih di rahim pembantuku


__ADS_3

🌹Happy Reading 🌹


Aleea nampak memikirkan bagaimana caranya ia bisa memporakporandakan hubungan Arvitha dengan Rakha.Sesuai keinginan Arvitha yang mengatakan ia ingin putus dengan Rakha.Bukan tanpa alasan Arvitha melakukan itu dan tak lain dan tak bukan itu ia lakukan agar pernikahan nya dengan Arham tak diketahui oleh Rakha.


***


" Bukan Niar namanya kalau tidak memiliki sejuta ide di otaknya hehem pinter." ucap Niar tersenyum jahat kemudian ia pun memanggil Arvitha.


" Arvitha, tolong buatkan kopi buat Mas Arham ya," pinta Niar.


Arvitha segera mengiyakan dan segera membuatkan kopi yang majikannya minta.Kemudian Niar juga meminta Arvitha untuk memberikannya pada Arham.Tanpa rasa curiga sedikitpun Arvitha hanya menurut saja.


" Kamu yang buat?," tanya Arham mendelik saat secangkir kopi itu sudah ada ditangannya.


" Iya mas, kenapa?," ucap Arvitha balik bertanya.


" Kalau Niar yang buat, selalu ada sesuatunya, malas aja." Arvitha tidak mengerti maksud Arham tapi ia juga enggan untuk menanyakannya.


Arham akhirnya menegak habis kopi itu dan dibeberapa menit berikutnya ia merasakan kepalanya pusing, ia juga merasa ada sesuatu yang harus ia tuntaskan dan pada akhirnya, ia meminta Arvitha melayaninya sebagai seorang istri.


Pagi harinya, Arvitha dibuat tak berdaya karena rasa sakit yang ia rasakan diseluruh tubuhnya.Arvitha berulang kali menghela nafasnya kasar kemudian ia bersiap siap untuk bekerja sebagai pembantu.


Niar mengernyitkan keningnya saat melihat Arvitha yang keliatan tak bersemangat.


" Kenapa Ar? kamu sakit?,"


" Gak papa Mbak," jawab Arvitha seadanya.


" Mas Arham masih dikamar kamu?," lanjut Niar bertanya.


" Masih Mbak, masih tidur kayaknya.Ar...kebelakang dulu Mbak mau beres beres." pamit Arvitha seraya melenggang.


Niar hanya membalas nya dengan senyuman lalu kemudian ia pergi membangunkan Arham.


" Pagi Mas, masih tidur aja, udah siang ini, bangunlah Mas...," ucap Niar seraya mengelus elus rambut sang suami.


Walau rasanya sangat berat Arham membuka matanya perlahan.


" Jam berapa?," tanya Arham dengan suara serak khas orang bangun tidur.


Niar tak menjawab pertanyaan itu, Niar hanya mengulas senyum dan terus mengelus rambut Arham.


" Mas senangkan?," tanya Niar yang membuat Arham bingung, soal apa dengan pertanyaan seperti itu.


" Maaf, aku hanya ingin kamu mau mewujudkan keinginanku untuk segera punya baby," lanjut Niar masih mengelus rambut Arham suaminya.


" Sudah ku duga, hah astaga Niar.. Niar..." hanya perasaan jengah yang Arham rasakan saat Niar selalu bertingkah seperti itu.


" Keluar, aku mau lanjut tidur" pinta Arham kemudian.


****


" Huek...huek," Arvitha memuntahkan isi perutnya yang hanya ada cairan kuning keruh.

__ADS_1


Niar yang melihat itu tentu saja merasa khawatir takut jika Arvitha sedang sakit, ia pun memijit tengkuk Arvitha kemudian membawa Arvitha kekamarnya.


" Istirahat ya, aku panggil dokter dulu," ucap Niar kemudian melangkah keluar dari kamar itu. Niar pun menelpon dokter kenalannya.


Sejam kemudian dokter tersebut sampai kerumah Niar, Niar pun segera menyuruhnya masuk ke kamar Arvitha dan memeriksa keadaan Arvitha.


" Yang ini kamarnya, Mas masuk aja duluan aku buatkan teh dulu," ucap Niar mempersilahkan dokter itu masuk ke dalam kamar Arvitha.


" Gak usah repot repot Niar,"


" Gak papa Mas, gak repot kok," jawab Niar kemudian melangkah pergi.Seperginya Niar, dokter itupun masuk kedalam kamar Arvitha.


Sontak ia shok, ia terkejut melihat siapa pasiennya itu.


" Arvitha?,"


" Mas Rakha?, Ma mas..ngapain disini?," tanya Arvitha terbata.


" Harusnya aku yang nanya, kamu ngapain?, jangan bilang kamu pembantunya Niar?,"


Belum sempat Arvitha menjawabnya, Niar sudah masuk kedalam kamar itu.


" Gimana mas, Arvitha sakit apa?," tanya Niar menatap Rakha.


" Belum ku periksa." singkat Rakha, ia pun akhirnya memeriksa keadaan Arvitha, setelahnya Rakha menatap nanar pada Arvitha terlihat jelas dari guratan wajahnya jika kini ia sedang marah pada Arvitha.


" Gimana mas? Arvitha sakit apa?," lanjut Niar khawatir bila Arvitha sakit parah.


" Arvitha hanya lagi mengalami trimester pertama dalam kehamilannya, makanya wajahnya pucat." jawab Rakha masih dengan tatapan nanarnya pada Arvitha sehinggga membuat Arvitha menunduk ketakutan. Lain halnya dengan Niar yang kini tertawa sumringah sambil berucap syukur pada sang pencipta.


" Pada awal kehamilan hal itu biasa terjadi, nanti saya kasih obat dan vitaminnya, agar Nona Arvitha dan bayinya sehat." ucap Rakha lagi yang sangat sangat menyeramkan bagi Arvitha hingga membuatnya terus ketakutan.


" Makasih banyak ya Mas," ucap Niar senang.


" Iya, oh ya suami kamu mana?," tanya Rakha kemudian duduk di sofa masih diruangan kamar Arvitha.


" Biasa, jam segini Mas Arham masih kerja, nih minum dulu." jawab Niar sembari memberikan secangkir teh yang ia buat tadi.


" Oh ya, lupa ngenalin kalian, Mas Rakha dia ini Arvitha adik saya, dan Ar ini Mas Rakha temannya Mbak."


" Sejak kapan kamu punya adik?," tanya Rakha dengan tatapan serius.


" Hehe bisa aja kamu mas, bercanda mulu," ucap Niar menepuk lengan Rakha.


" Sudah dari dulu dah mas, cuma dia tinggal dikampung sama mama makanya mas gak kenal." bohong Niar mencari cari alasan.


Sedangkan Rakha hanya ber oh seolah olah percaya dengan kebohongan Niar,


" Apa yang kaluan sembunyikan dari aku?, Niar Niar sempatnya kamu bohongi aku, mana mungkin Arvitha adik kamu darimana coba, jelas jelas Arvitha itu sepupuku," ucap Rakha membathin kemudian ia merogoh saku celananya mengambil ponselnya.


" Jelaskan semua ini Ar, temui aku nanti di cafe biasa." pesan chat wa dari Rakha semakin membuat Arvitha bergedik ngeri.


" Assalamualaikum...,"

__ADS_1


" Ha itu Mas Arham pulang, walaikumsalam," jawab Niar segera membukakan pintu.


" Arvitha, kenapa lu diam saja? sadis lu Ar, lu merusak kepercayaan gua," ucap Rakha menatap nanar pada Arvitha, sedang Arvitha terus menunduk ketakutan.


" Arvitha hamil mas," ucap Niar tersenyum sumringah kemudian memeluk Arham.


Akhirnya mereka pun masuk kedalam kamar Arvitha.


" Rakha?"


" Mas Arham,"


" Kalian sudah saling kenal?," tanya Niar tersenyum." Bagus dong kalau gitu" lanjutnya.


" Rakha, Arvitha....aku minta maaf, aku sudah merusak hubungan kalian."


" Hubungan? maksud mas apa?," tanya Niar bingung.


" Jadi lu yang sudah menghamili Arvitha?," tanpa menunggu jawaban Rakha segera membaku hantam Arham.


" Mas! Mas Rakha! hentikan Mas!," ucap Arvitha melerai keduanya, ia menumpahkan semua air matanya yang sedari tadi tertahan.


" Mas...Arvitha minta maaf, maaf...," ucap Arvitha lirih seraya menggemgam tangan Rakha, ia memohon dan berlutut meminta maaf telah mengkhianati Rakha.


Niar yang masih bingung dari tadi semakin bingung dengan keadaan ini.Sedangkan Arham terlihat meringis kesakitan mengelap ujung bibirnya yang sudah berdarah.


" Arvitha minta maaf...," ucap Arvitha masih dalam tangisannya.Lama lama Rakha tak kuat melihat tangisan itu, ia segera memeluk tubuh mungil Arvitha.


" Sakit Ar, sakit...bisa kamu jelaskan kenapa? kenapa kamu seperti ini?," Rakha sudah tak mampu menahan air matanya akhirnya pecah saat berada dalam dekapan itu.


Arham sangat merasa bersalah melihat itu, pasangan sejoli yang saling mencintai saling menyayangi terpaksa terpisah karena dirinya.Hanya karena keegoisannya ia mengorbankan cinta orang lain, ia bahkan tidak percaya dirinya sejahat dan seburuk itu.


Arvitha melepaskan pelukan Rakha darinya, kemudian ia meraih wajah Rakha dan mengelap air mata Rakha,


" Mas,gak pantas menangisi Arvitha, Arvitha terlalu ego sampai Ar tidak sadar sudah menyakiti kamu mas," ucap Arvitha lirih seraya menunduk.


" Ya jelaskan alasannya apa Ar?,"


Arvitha kemudian berdiri dan membantu Rakha berdiri, kemudian ia mengelap air matanya sendiri.Ia pun menunjukkan cincin yang terpasang di jari manisnya.


" Kamu sudah menikah?," tanya Rakha yang diangguki oleh Arvitha. Kemudian Arvitha menatap Arham.


" Dengan Arham?," lanjut Rakha bertanya yang dapat jawaban sama dari Arvitha.


Rakha menghela nafasnya panjang nan berat kemudian ia menyugar rambutnya frustasi.


" Maafin aku mas," lirih Arvitha sendu.


" Terimakasih Arvitha," jawab Rakha kemudian melangkah ingin keluar kamar itu, sebelum benar benar pergi ia kembali menoleh dan menatap nanar pada Arham kemudian ia pun pergi secepatnya dengan goresan luka dihatinya.


Bersambung


Jangan lupa like dan komen nya juga votenya ya gys.

__ADS_1


Masukkan ke faforit biar gak ketinggalan cerita nya. Makasih banyak


__ADS_2