
🕊Happy Reading 🕊
" Aku hanya gak mau terus menerus menjadi orang ketiga diantara kalian mas, itu saja," jawab Arvitha tadi sebelum ia masuk kedalam kamarnya yang kini menjadi beban pikiran Arham saat ini.
" Hati-hati, hati-hati, pelan pelan aja jalannya," terdengar suara Aleea menuntun Arvitha menuruni anak tangga yang artinya Arvitha sedang keluar rumah sekarang.Arham pun memperhatikan Arvitha dan Aleea dari jendela kamarnya.
" Mau kemana?," tanya Arham kemudian,Arvitha dan Aleea tentu saja menatap kearah suaranya itu.
" Gak papa mas,aku cuma ngajak Aleea ke taman bunga matahari,bosan dirumah terus,mas tenang aja aku udah ijin kok ke Mbak Niar," jawab Arvitha sekenanya.
" Aku ikut," ucap Arham segera menghilang dari pandangan Arvitha dan Aleea.Tak lama setelahnya, Arham pun muncul dari balik pintu dan ia segera menutup pintu dan menuruni anak tangga.
" Malas sendirian dirumah,gak papa aku ikut kan?," tanya Arham dan diangguki oleh Aleea,tapi justru membuat Arvitha nampak kesal.
Mereka pun akhirnya,pergi ke taman bunga matahari bersama,Arham nampak mengendarai mobilnya dengan semangat, sedangkan Arvitha malah kelihatan kesal dan sesekali merungut tak jelas yang membuat Arham heran terhadapnya.
Setiba ditaman,Arvitha dan Aleea segera turun dari mobil,Arham sendiri masih memilih diam di dalam mobilnya.
Dring dring...
Tiba- tiba atensinya beralih pada nada dering ponsel Arvitha yang terlet
k di jok belakang,ia pun meraih ponsel itu,ia sedikit ragu untuk menjawabnya namun melihat nama yang tertera adalah Dikter Irsyan maka,ia pun tak segan lahi menjawab panggilan itu.
" Arvitha maaf mengganggu,kamu harus ke rumah sakit sekarang,papa kamu sudah tiada," ucap Dokter Irsyan dari balik telepon yang seketika membuat Arham sedih menatap ke arah Arvitha dan Aleea.Tanpa menjawab ucapan itu,ia segera menutup panggilan telepon itu secara sepihak.Kemudian ia turun dari mobilnya,perlahan ia menghampiri Arvitha yang masih asyik bermain dengan Aleea.
" Kita harus ke rumah sakit!," ucap Arham sembari tersenyum dan meraih tangan sang istri.
Arvitha nampak bingung,namun ia menurut saja ketika Arham menarik tangannya dan membawanya kedalam mobilnya.Aleea pun hanya bisa mengikuti saja dari belakang.
***
Arvitha menatap Arham meminta penjelasan kenapa ia dibawa kerumah sakit.Namun, Arham hanya menepuk pundaknya saja sebagai jawabannya.Tak lama setelahnya,Dokter Irsyan datang dengan wajah sedih.
" Kami turut berduka Vitha," ucap Dokter Irsyan lirih seraya menunduk kan pandangannya kelantai.
__ADS_1
" Ma-maksud dokter?," tanya Arvitha mencerna ucapan Dokter uang telah menangani ayahnya itu.
" Papa...," lirih Arvitha sembari membuka pintu ruangan rawat ayahnya,tak terasa air matanya langsung membasahi kedua belah pipinya,ia langsung mendekap tubuh kaku sang ayah yang sudah tak bernyawa lagi.
" Kenapa papa ninggalin aku pa...?kenapa?," lirih Arvitha dalam tangisnya.
" Bangun pa...," lanjutnya lirih sembari mengusap wajah sang ayah.
" Arvitha...," Arham segera menenggelamkan kepala istrinya dalam pelukannya,Arvitha menangis sendu dalam dekapan itu.
***
" Selamat jalan pa," ucap Arvitha lirih seraya mencium nisan sang ayah,Shafa pun menghampirinya dan ikut duduk ditanah sembari tersenyum dan segera menggenggam tangan putrinya.
" Papa kamu pasti bangga punya kamu nak," ucap Shafa yang tak dihiraukan oleh Arvitha.Ia masih belum percaya dengan kepergian sang ayah,baru kemarin rasanya,ia bercanda dengan ayahnya tapi sekarang...ayahnya malah pergi untuk selamanya dan tak akan pernah kembali lagi.Arvitha terus menciumi nisan sang ayah dengan air mata yang terus mengalir.
" Ihklaskan pak Fandy,Arvitha...," ucap Arham,menyemangati istrinya.
Namun sepertinya,luka dan sedih memang sangat dalam bagi Arvitha,begitu berat baginya merelakan sang ayah pergi untuk selamanya.Tak ada sepatah katapun yang ia ucapkan,tapi air matanya cukup membuat orang yang melihatnya ikut merasakan dukanya.
"Papa kamu punya anak lain selain kamu Ar,wajar bila mama kamu minta cerai,siapapun orangnya,tidak ada seorang pun yang ingin suaminya menduakannya bukan?," ucap Rakha kala itu,Arvitha kembali terngiang dengan kata-kata itu dan semakin membuat ia terisak tangis.
" Pa...," lirih Arvitha sembari memeluk makam sang ayah.
" Arvitha hentikan nak!,kasihan papa kamu!," ucap Shafa sembari membawa Arvitha dalam dekapan nya.Shafa pun menghapus jejak bulir air mata putrinya dengan tangannya,kemudian ia menatap dalam pada putrinya itu.
" Ihklas nak,agar papa kamu nisa tenang disana."
Arvitha akhirnya mengangguk dan kembali mencium nisan ayahnya." Aku benci sama papa!," lirih Arvitha sembari mengelus nisan ayahnya.
" Selamat jalan," lanjutnya lirih,kemudian ia berdiri dan menarik tangan Aleea sebagai tumpuan agar ia tidak tumbang seketika.
***
Arvitha nampak murung menatapi layar ponselnya,ia masih kepikiran dengan ucapan Rakha yang mengucapkan ia punya saudara,ia menimang-nimang ponselnya,ragu antara ingin menelpon Rakha atau enggak.
__ADS_1
" Makan dulu Ar," ucap Niar sembari tersenyum dan meletakkan sepiring nasi dan lauknya di meja.
" Aku gak selera Mbak,maaf," ucap Arvitha lirih.Niar yang mengerti kemudian mengangguk.
" Aku paham,tapi bayi kamu butuh nutrisi Ar,makan ya,aku suapin," ucap Niar sembari mengambil piring itu kembali.Tak inhin Niar kecewa akhirnya Arvitha menurut saja,Niar pun menyuapi Arvitha.
" Makan yang banyak ya,kamu harus sehat agar bayinya juga ikut sehat," ucap Niar,yang seketika membuat Arvitha menangis.
" Loh...kamu kenapa?,aku salah ngomong ya?," ucap Niar merasa bersalah.Ia meletakkan piring itu dimeja dan menggemgam tangan Arvitha.
" Maaf yah," lirih Niar.
Arvitha menyeka air matanya dan membalas gemgaman tangan Niar.
" Aku yang minta maaf Mbak,aku sudah hadir di keluarga kalian,aku sudah membuat hubungan rumah tangga kalian hancur," ucap lirih Arvitha sedih.
Jelas saja,Arvitha sangat membenci perusak rumah tangga mama dan papanya ealau nyatanya ia sendiri adalah perusak rumah tangga Niar dan Arham.
" Aku yang meminta mu Ar,dan seperti perjanjian itu hanya untuk melahirkan keturunan Mas Arham saja kan?," ucap Niar,kemudian tersenyum dan memeluk Arvitha.
" Ni,berkas aku semalam dimana?," tanya Arham sembari menuruni anak tangga yang seketika menetralkan suasana.
" Kalian bahas apa,tegang gitu?," tanya Arham menatap kedua istrinya bergantian.Hening sesaat,tidak ada yang membuka suara.
" Oh itu,kita lagi bahas usg,iya usg iya kan Ar," ucap Niar mencari alasan yang hanya diangguki oleh Arvitha saja.
Meski tak percaya sepenuhnya,Arham pun mengangguki hal itu.
" Aku ke kamar ya Mbak, Mas, mau istirahat," ucap Arvitha pamit,sembari berdiri dari duduknya.
" Ar,ihklasin pak Fandy ya,biar hati kamu tenang juga," ucap Arham saat Arvitha membuka pintu kamarnya dan ingin segera masuk.Arvitha pun mengangguki hal itu sembari tersenyum.
***
" Maksud mas apa dengan mengatakan kalau dia kakakku,bukannya harusnya dia adikku?," tanya Arvitha saat telponan dengan Rakha.
__ADS_1
Bersambung