
...🌹Happy Reading 🌹...
" Huh...Mak Lampir disini," keluh Niar saat ia baru saja turun dari mobilnya dan melihat mobil milik mertuanya sudah terparkir di arena rumahnya.
" Apa kamu bilang?, itu mama loh yang datang," Arham menimpali.
" Iya tahu, jujur aja mas, aku gak suka mama kamu kerumah kita," lirih Niar cemberut. Bukanya Arham tidak tahu alasannya hanya saja ia hanya mencoba agar tak durhaka pada ibunya.
" Sabar ya sayang, pasti akan baik baik saja kok," ucap Arham menyemangati sang istri.
Niar menghela napasnya. " Iya tahu, tarik napas, buang perlahan terus senyum iya kan?,"ucap Niar yang dibalas anggukan dan senyuman dari Arham.
Arham dan Niar pun masuk kedalam rumah mengucapkan salam bersamaan.
" Assalamualaikum.." ujar keduanya kemudian mengulas senyum,
"Walaikumsalam,"
Kemudian keduanya menyalim tangan Nyonya Erin bergantian.
"Gimana sudah ada tanda tanda kehamilan mu Niar?," tanya Nyonya Erin sebelum Niar dan Arham sempat duduk.
" Ma, kita lagi berusaha, mama sabar ya," jawab Arham sembari menggemgam tangan Niar untuk menguatkan istrinya itu.
" Yang mama tanya Niar, bukan kamu Arham," lanjut Nyonya Erin kemudian meminum teh nya dengan sangat elegan.
Niar sebenarnya ji jik melihat tingkah mertuanya yang sok sok an seperti ratu itu.Pengen bangat rasanya Niar mengumpati mertuanya itu tapi apalah daya ia hanya seorang menantu yang tak dianggap.
" Niar kamu dengar saya tidak?," tanya Nyonya Erin kembali menyadarkan Niar dari lamunan nya.
"Iya ma, Niar lagi usaha, Niar juga udah berobat kok," ucap Niar lembut mengulas senyum kepalsuan dibibirnya.
__ADS_1
" Niar, kamu tahu seorang istri itu tugasnya selain melayani suami, juga harus mampu memberikan keturunan untuk suaminya,"
Ucapan Nyonya Erin benar benar sangat menyakitkan bagi Niar, bukan Niar saja tapi juga Arham sebagai suaminya, begitu juga dengan Arvitha yang sesama wanita.
"Rumah sebesar ini, harusnya dipenuhi canda tawa anak anak bukan seperti saat ini yang hanya senyap seperti tak ada penghuni," lanjutnya lagi semakin membuat sakit sesak didada Niar.
"Maap ma,aku harus kekamar mandi sekarang,"ucap Niar seraya berdiri dan segera pergi dari sana.
" Ckck...mama tak habis pikir dengan istri kamu itu, bisa bisanya dia membuat alasan seperti itu, dasar tidak sopan!," ucap Nyonya Erin kesal.
" Mama terlalu menekan Niar ma," ucap Arham angkat suara membela Niar,ia ingin menyusul Niar namun Mamanya melarangnya.
Sementara Niar kini menangis tersedu sedu, sakit! sakit sekali yang ia rasakan,serasa rasa sakit itu memenuhi dadanya,menyesakkan seketika.
Arvitha beralih ingin mengangkat jemuran,makanya ia terbebas dari kekangan Nyonya Erin. Sebenarnya itu cuman dalih saja ia hanya tak mampu melihat kesedihan Niar majikannya.
"Sabar ya mbak," ucap Arvitha saat sudah memeluk Niar.
"Kamu tahu Arham,Mama dulu malah harus mengerjakan semuanya sendiri,jadi kalian sekarang itu udah enak,istri enak enakan bersolek bersantai dirumah masa gak mau punya anak secepatnya,"
"Bukan gak mau ma, tapi belum rejekinya ma,"jawab Arham sekenanya.
"Alah...kamu mah sama aja,tuh lihat sekarang istri kamu gegara kamu manjakan terus jadi melawan sama mama,"
Arham tak berani menjawab lagi,ia takut ia akan khilaf dan justru membuat keadaan semakin keruh.
***
Malam hari nya saat mereka sedang makan malam.Hanya ada keheningan tanpa ada yang berani membuka suara.
"Niar,pokoknya mama inginkan kamu segera memberikan keturunan untuk keluarga ini,"ucap Nyonya Erin memecah keheningan itu.
__ADS_1
Niar menghela napasnya dalam dalam.Lagi ia harus mendengar ucapan yang sama dari mertuanya itu.
Ting
Arham meletakkan sendokknya kepiring dengan kasar sembari berdiri .
" Udahlah ma, Arham capek mendengar nya!,mama hanya mau menuruti ego mama saja tanpa memikirkan sakit yang Niar rasakan!,"ucap Arham meninggikan suaranya, ia benar benar kepancing emosi oleh sikap mamanya itu.
" Mas...," lirih Niar menggemgam tangan suaminya agar kembali duduk dan membiarkan mamanya.Tapi Arham benar benar tidak bisa menahan emosi sekarang, ia kesal kenapa mamanya terus mengulang ngulang ucapan yang sama, ucapan yang sangat menyakitkan bagi dirinya dan Niar.
" Aghk..." kesal Arham menyugar rambutnya frustasi kemudian ia menatap nanar mamanya sebelum akhirnya ia beranjak dari sana.
"Mama tenang aja, untuk beberapa bulan kedepan aku akan memberikan mama cucu, tenang saja,"ucap Niar kini gemetar oleh rasa sakitnya.Air matanya bahkan tidak bisa menutupi rasa sakit itu.
Niar pun pergi menyusul Arham suaminya.Sedang Arvitha dan Nyonya Erin masih berada diruang makan.
"Kenapa kamu?, lanjutkan makanmu jangan pikirkan mereka!," ucap Nyonya Erin tanpa rasa bersalah sedikitpun pada Niar dan Arham.
Arvitha hanya tersenyum, kemudian melanjutkan acara makannya.
Nyesek ....pen nangis.....
yang pernah diposisi ini, nangis berjamaah yok.
Bersambung
Jangan lupa like dan komen nya juga votenya ya gys.
Masukkan ke faforit biar gak ketinggalan cerita nya.
Makasih
__ADS_1