Menitip Benih Di Rahim Pembantuku

Menitip Benih Di Rahim Pembantuku
Bab.15 Menitip Benih di rahim pembantuku


__ADS_3

...🕊Happy Reading🕊...


Aldy pun menjelaskan semuanya sesuai permintaan Arham untuk menutupi kehamilan Arvitha.


Malam hari nya Nyonya Erin menemui Arvitha saat Arvitha masih terbaring lemah dikasurnya.


" Minum jamu ini, saya buatkan khusus buat kamu," pinta Nyonya Erin menyodorkan secangkir racikan jamu.Arvitha segera menerimanya tapi ia was was untuk meminumnya, ia takit jika jamu tersebut akan berpengaruh buruk pada kehamilannya.


" Diminum biar kamu fit lagi," ucap Nyonya Erin yang melihat Arvitha hanya menatapi jamu itu saja.


" Maaf Nyonya saya gak biasa minum jamu, takut pahit," jujur Arvitha.


" Coba tutup hidung langsung teguk saja," saran Nyonya Erin yang hanya dibalas senyuman oleh Arvitha.


Arvitha pun mencoba menuruti saran tersebut dan hampir saja ia meminumnya untungnya Arham dan Niar segera masuk kedalam kamarnya.


Niar segera mengambil jamu dari tangan Arvitha dan menggantinya dengan secangkir susu hangat.


Nyonya Erin hanya diam dan pergi tanpa kata.


" Besok kalau mama masih kasih kamu jamu gak usah diterima ya," ucap Niar seraya mengelus perut Arvitha.


Paginya Nyonya Erin kembali memberikan secangkir jamu untuk Arvitha dan benar saja Arvitha menolaknya sesuai ucapan Niar.


" Kenapa? apa kamu takut saya kasih racun?,"


" Bukan bukan...bukan Nyonya Ar hanya tidak bisa minumnya," jelas Arvitha jujur.


" Hem, mungkin kamu sudah tercuci otak dengan Niar, mungkin juga kamu mempercayai apapun yang Niar ucapkan, saya memang terlihat arogan tapi saya bukanlah orang yang kejam, begitu kan Niar bercerita tentang saya." ucap Nyonya Erin terlihat sendu tiba tiba yang membuat Arvitha merasa bersalah.


" Enggak, enggak begitu Nyonya." elak Arvitha meskipun pada kenyataannya Niar memang mengatakan demikian.


" Saya tahu Ar, kamu akan membela Niar sama seperti Arham yang sudah masuk dalam dramanya Niar, Niar begitu pandai mengarang cerita sehingga di depan orang daya lah yang bersalah, hem sampai sekarang saya tidak bisa mendapatkan kepercayaan anak saya lagi Arham." ujar Nyonya Erin menatap kedepan dengan tatapan kosong kemudian ia menoleh pada Arvitha lagi.


" Apapun itu, tolong saya minta jangan mau menelan bulat bulat perkataan Niar ya, saya hanya tidak mau kamu terjerumus nantinya." lanjut Nyonya Erin kemudian mengelus lembut rambut Arvitha seraya tersenyum.

__ADS_1


" Lekas sembuh ya, sekalian saya mau pamit." ucap Nyonya Erin sebelum pergi.


Arvitha dibuat bingung oleh sikap Nyonya Erin barusan dan bukan hanya itu saja tapi ucapan Nyonya Erin juga benar benar membingungkan bagi Arvitha.


***


" Nanti mama kalau udah sampai kabari Arham ya," ucap Arham saat Nyonya Erin sudah berada di dalam mobil.


Nyonya Erin tersenyum mendapatkan perhatian dari putranya, sudah jarang sekali Arham menganggapnya sebagai ibu apalagi memperhatikannya Nyonya Erin bahkan sudah lupa kapan terakhir Arham bersikap lembut padanya, kecuali jika ada kemauan.


" Arham, mama ingin nanti kamu temui papa kamu ya, sudah lama kan kamu gak pulang ke rumah kita."


" Hem kalau Arham gak sibuk ya ma,"


" Ham...."


Arham tak menjawab, ia hanya tersenyum kemudian menyalim tangan mamanya.


" Hati hati ma," lanjutnya kemudian melambaikan tangannya, Nyonya Erin menghela nafasnya panjang lalu kemudian menyuruh supirnya menjalankan mobilnya.


***


Entahlah apa yang dokter itu ucapkan, tapi raut wajah Arvitha sudah menjelaskan jika itu adalah kabar buruk.


Arvitha pun segera pamit pada Niar dan Arham dan segera pergi kerumah sakit.


" Dokter, dimana papa?," tanya Arvitha saat sudah berada di dalam ruangan rawat papanya.


" Kami sudah memindahkan beliau ke ruang operasi, kami butuh tanda tangan mu Ar," ucap dokter itu memberikan selembaran kertas tanpa membaca lagi Arvitha segera menanda tanganinya.


" Tolong selamatkan papa," lirih Arvitha sendu. Dokter tersebut hanya tersenyum dan menyuruh Arvitha bersabar.


Arvitha kini duduk sendirian di kursi koridor rumah sakit.Ia terlihat sangat cemas dengan keadaan sang ayah yang sudah berada diruang operasi.


" Ya allah tolong selamatkan papa," lirihnya membathin, tak terasa air matanya kini sudah membanjiri pipinya.

__ADS_1


Tanpa sadar sepasang mata kini tengah memperhatikannya dari jauh, perlahan tapi pasti dia menghampiri Arvitha.


" Nak, kenapa kamu menangis?," tanya Mama Shafa, ua ingin sekali memeluk Arvitha putrinya tapi Arvitha segera menepiskan tangannya.


" Ini semua karena mama, mama senang sekarang? papa diruangan itu, ini yang mama mau kan?," ucap Arvitha menunjuk ruangan operasi.


" Ar, dengarin dulu mama ngomong, jangan membuat mama seolah olah duri dikeluarga kita,"


" Mama mau ngomong apa? apa mama mau ngomong selamat Fandy kamu sudah mendapatkan karmamu, iya?," ucap Arvitha menatap nanar mama Shafa, hampir saja mama Shafa menamparnya tapi tiba tiba sebuah tangan menghentikannya.


" Arvitha...maafin mama nak," lirih mama Shafa.


" Kenapa mama gak tampar Arvitha? kenapa? harusnya mama jelaskan alasannya kenapa kalian lakukan ini sama aku?," ucap Arvitha lirih seraya menatap nanar mama Shafa.


"Fa, kamu baik baik saja?," tanya suaminya mama Shafa.


" Tinggalkan Arvitha ma, Arvitha butuh waktu untuk memahami semuanya." lirih Arvitha menunduk.


" Tapi nak..."


" Ayok Fa," ucap Pak Dimas membawa mama Shafa dari sana.


****


Arham nampak berlari kearah Arvitha. " Gimana keadaan papa kamu?,"


" Belum sadar mas," ucap Arvitha lirih.


Kemudian Arham duduk disamping Arvitha dan membawanya kedekapannya.


" Sabar ya Ar, semua akan baik baik saja."


Seakan tengah mengadu, Arvitha menangis tersedu dalam dekapan itu.Ia tidak bisa menjelaskan bagaimana sakit yang ia rasakan, cukup air mata yang mengalir menceritakan semua kesedihannya.


" Arvitha, jangan cengeng seperti ini, papa kamu butuh kamu kan?," tanya Arham mengusap wajah Arvitha lembut.

__ADS_1


" Mbak Arvitha, baiknya keruang administrasi terlebih dulu sekarang," ucap seorang perawat.Arvitha pun segera mengikuti perawat itu ke ryang administratif.


__ADS_2