Menitip Benih Di Rahim Pembantuku

Menitip Benih Di Rahim Pembantuku
Bab.21 Menitip Benih di rahim pembantuku.


__ADS_3

🕊Happy Reading 🕊


" Aku gak ngikutin kamu," ucap Arham membuka suara.


" Maksud mas gak ngikutin aku gimana?, orang mas udah sampai sini."ucap Arvitha masih mengobati luka Arham.


" Aku gak tahu kenapa,tiba tiba aku kesasar kesini,sepertinya Allah ingin menunjukkan keberadaan kamu sama aku," ucap Arham yang mendapatkan helaan napas panjang dari Arvitha.


" Udah,kita kekamar aja, biar mas bisa istirahat yok," ucap Arvitha seraya memapah Arham menaiki anak tangga menuju kamarnya.


" Ini rumah kamu Ar?," tanya Arham saat mereka sudah sampai dikamar Arvitha.


" Iya mas,gak mungkin juga kan kita masuk rumah orang," ucap Arvitha seraya membantu Arham berbaring di ranjangnya.


" Kalau kamu punya rumah sebesar ini,untuk apa kamu menjadi pembantu di rumahku?," ucap Arham penuh pertanyaan.


" Pertanyaan bagus,hehe," ucap Arvitha malah tertawa kemudian melangkah kearah jendela kamarnya.


" Arvitha gak menemukan ketenangan dan kebahagiaan dirumah ini mas, dirumah ini, orang tua Arvitha bercerai itupun tepat didepan mata Arvitha,hem,Arvitha gak pernah suka dirumah ini, hem makanya..."


Dring dring


" Tunggu," ucap Arvitha menghentikan ucapannya dan segera meraih ponselnya dari atas sofa.


" Kenapa?,kamu mau jelasin apa sama aku hum?," tanya Arvitha saat panggilan vidio tersebut tersambung.


"Beb,aku minta maaf, aku cuma menjawab doang, abisnya tante Shafa terus nanyain kamu sih,jadi aku keceplosan." ucap Aleea dari sebrang sana.


" Hem, tahu gak aku dimana?," tanya Arvitha sembari menunjukkan suasana kamarnya.


" Arvitha, jangan gila kamu,kamu ngapain kesana?," ucap Aleea kini terdengar panik.


" Kenapa kamu harus panik?,Aleea aku udah hampir gila mencintai suami orang, sekarang kamu malah nambahin masalah aku, aku harus ngomong apa sama mama?," tanya Arvitha menangis frustasi, Arham ingin segera menghampirinya tapi Arvitha melambaikan tangannya seakan memberi kode agar Arham tak melakukan apa pun.


" Maafin aku Ar, aku gak bermaksud sama sekali," ucap Aleea kini ikut menangis.


" Bisa dilihat,tinggi bangat kan dari kamar ini ke bawah,sekali lagi kamu ikut campur, aku akan loncat dari sini," ancam Arvitha seraya menunjukkan suasana dari kamarnya kebawah sana dari jendela kamarnya.


" Ar, jangan gitu,plis jangan lakukan apapun!," ucap Aleea panik.


"Aleea,aku sudah muak dengan orang yang terus berpura pura baik,aku bosan dengan orang seperti itu, lihat papa aku sampai sekarang gak pernah merasa bersalah dan ngakuin kesalahannya sama aku dan mama, aku belum percaya sampai papa ngomong langsung dan sekarang lelaki yang di hadapanku ini sama aja, pengkhianat!,egois!, aku benci!," teriak Arvitha dalam tangisnya.Kemudian ia menjatuhkan ponselnya dari jendela kamarnya itu dan kemudian ia menangis sejadi jadinya, Arham pun segera memeluknya tapi ditepis oleh Arvitha.


" Aku gak butuh orang seperti mas!," ucap Arvitha seraya mendorong Arham darinya, namun Arham tak memperdulikan itu dan kembali mencoba memeluk sang istri.Kali ini, Arvitha hanya diam dan menangis pilu dalam dekapan itu.


" Kenapa kamu harus hadir dikehidupanku?, kenapa?," ucap Arvitha seraya memukul kesal tangan Arham.


" Tenangkan dirimu Arvitha,aku disini,"ucap lirih Arham, kemudian mencium pucuk kepala Arvitha.


****


" Kalian dari mana aja sih?,aku capek nungguin kalian?,"omel Niar saat Arham dan Arvitha baru saja masuk kedalam rumah.Arvitha pun tersenyum lalu pergi begitu saja kekamarnya.


" Arvitha lagi ada masalah dengan orangtuanya,tolong kamu ngertiin ya," ucap Arham sembari tersenyum dan pergi menaiki anak tangga menuju kamarnya.


" Ish, kenapa jadi aku yang harus selalu ngertiin kalian, gak adil!," ucap Niar kesal.


***


Arvitha nampak termenung sembari menatapi keluar dari kamarnya,terniat dihatinya, ingin minta maaf pada Aleea sahabatnya itu dan segera meraih tas nya dan mencari ponsel nya namun ia tak menemukannya.


" Oh iya,hp udah gak ada huh," ucap kesal Arvitha seraya berdiri menghela nafasnya panjang.


" Mbak...Mbak...," ucap Arvitha seraya mengetok pintu kamar Niar dan Arham.


" Masuk aja,gak dikunci," jawab Arham dari dalam kamar, Arvitha pun membuka pintu kamar itu.


" Mbak Niar mana?,"


" Di dalam," tunjuk Arham kearah kamar mandi, kemudian pokus kembali mengobati luka di tangannya bekas pukulan Arvitha.

__ADS_1


" Masih sakit?," tanya Arvitha dan diangguki oleh Arham.


" Heh,gak bilang bilang sih,ada Arvitha," kesal Niar saat baru saja selesai dari kamar mandi dan ia hanya memakai handuk saja.


" Kan gak papa Mbak," jawab Arvitha tanpa merasalah bersalah.


" Iya, kamu mau ngapain ke kamar aku?,mau cari Mas Arham?, tuh orangnya." ucap Niar menunjuk Arham yang segera dapat gelengan kepala dari Arvitha.


" Bukan, aku mau pinjam hp,mau nelpon Aleea," jawab Arvitha seadanya.


" Hp kamu kemana?,"


" Ish, kasih aja sih Mbak, gak usah ditanyain lagi, hpnya udah koit soalnya," ucap Arvitha yang justru membuat Arham tertawa dalam hati.


" Ya udah, ambil tuh dalam laci, bukannya dari tadi," jawab Niar ketus sembari melangkah kearah lemari pakaianya.


" Misi mas," ucap Arvitha seraya membuka laci yang disamping ranjang Arham dan segera mengambil hp yang dimaksud.


" Kalian berdua kenapa sih?,judes bangat hari ini,gak suami,gak istri, sama aja,sama sama ngesalin,berantem? jangan ikutin nama Arvitha ya," ucap Arvitha yang mendapatkan tatapan tajam dari keduanya.


" Hihi sori, gak bermaksud,suer dah, kabur," ucap Arvitha seraya membuka pintu dan menutupnya kembali dengan kuat.


" Arvitha...!," teriak kesal Niar.


" Soriii...," jawab Arvitha berteriak sembari menuruni anak tangga.


****


" Beb,aku mau minta maaf soal tadi pagi," ucap Arvitha saat panggilan vidio tersebut tersambung.


" Gak papa kok, aku ngerti, tapi plis kamu jangan balik kerumah itu lagi ya, soalnya kamu berbeda kalau sudah berada dirumah itu," ucap Aleea mengingatkan.


" Janji, gak lagi kok,jangan aduin sama Mas Rakha ya, bisa bisa dia pulang terus nonjokin Mas Arham sampai babak belur,dia kan paling anti dengar aku nangis,"


" Oke sip,tapi kamu juga pegang janji ya," tanya Aleea kembali yang segera diiyakan oleh Arvitha.


" Ya udah beb,udah dulu dah...," ucap Arvitha seraya melambaikan tangannya dan mengakhiri panggilan vidio tersebut.


" Ada apa mas?," tanya Arvitha menatap keatas dimana arah Arham.


" Gak ada," ucap Arham sembari tersenyum dan kemudian masuk kedalam kamarnya.


" Apa sih,gak jelas," rungut Arvitha kesal kemudian masuk kedalam rumah.


****


" Udah merasa baikan sekarang?," tanya Arham saat ia membuka pintu kamar Arvitha.


" Lumayan lah mas, udah jauh lebih baik kok,mas sendiri masih sakit?," tanya Arvitha balik bertanya dan menghampiri Arham sembari memeriksa luka Arham.


" Ya gini deh,hem gak nyangka aja,kamu kalau ngamuk seram juga," Seketika Arvitha menghempaskan tangan Arham kesal.


" Mas sih, bikin darting mulu,kesal tahu digituin terus," ucap Arvitha seraya berjalan ke arah jendela kamarnya dan menatapi jalan raya dari sana, Arham pun segera memeluknya dari belakang dan hal itu tak sengaja dilihat oleh Niar yang hendak meminta ponselnya pada Arvitha.


" Hemk...," deheman Niar pun berhasil membuat Arvitha segera mendorong Arham darinya, dan keduanya jadi kikuk saat Niar masuk kedalam kamar itu.


" Udah selesai hp nya?," tanya Niar kemudian diangguki cepat oleh Arvitha dan segera memberikan ponsel itu pada Niar.


" Makasih ya Mbak," ucap Arvitha dan hanya dibalas deheman oleh Niar seraya keluar dari kamar itu.


" Mas,acara paforit aku sudah mulai tayang," ucap Niar memanggil Arham saat ia sudah diluar kamar itu.


" Iya," singkat Arham.


" Ya udah, mas lanjut gih,sama isti tercinta,Arvitha mau mandi dulu, udah sore," ucap Arvitha segera pergi kekamar mandi sebelum Arham mengucapkan sepatah kata pun.


" Arvitha,nanti aku mau ngomong serius sama kamu,jangan dikunci pintunya," ucap Arham namun tak dijawab oleh Arvitha, Arham pun kemudian keluar dari kamar itu,Arvitha menghela nafas nya dalam dalam.


" Aku gak mau jadi perusak rumah tangga orang,tapi kenapa malah jadi kek gini?," ucap Arvitha lirih kemudian mengusap wajahnya sendiri.

__ADS_1


****


" Mbak, maaf,pinjam hp lagi," ucap Arvitha saat Niar dan Arham tengah mengerjakan pekerjaan bersama di laptop.


" Hp mu mas," ucap Niar, karena masih memakai hp nya untuk menyalin file.


" Hp ku rusak,habis ku banting kemaren," jawab Arham seadanya, masih pokus berkutat dengan laptopnya.


" Ck,kalian habis berantem?,lempar- lemparan hp apa?, bisa samaan gitu, bentar Arvitha, ini masih belum kelar sedikit lagi, sabar ya," ucap Niar, sama pokusnya dengan Arham berkutat dengan hp dan laptopnya.


Sementara, Niar dan Arham sibuk dengan laptop mading masing, Arvitha hanya duduk diam sebagai penonton saja, terbesit dihatinya sebuah penyesalan tentang melemparkan ponselnya tadi pagi.


" Nah,udah kelar,nih, buat apasn sih, sering bangat nelpon mulu," ucap Niar banyak bertanya sembari memberikan ponselnya dan segera diraih oleh Arvitha.


" Biasa Mbak,nelpon Aleea," ucap Arvitha singkat.


" Emang gak bosan Aleea dengarin kamu?," tanya Niar tanpa dosa.


" Mbak, sekali ngomong nyelekit Mbak, sakit hati saya," ucap Arvitha segera menghubungi nomor Aleea dari aplikasi hijau.


" Assalamualaikum bumil,ada apa gerangan nelpon malam malam begini?," tanya Aleea begitu panggilan vidio tersebut tersambung.


" Walaikumsalam,hem, itu, aku penasaran soal yang kamu bilang tadi,maksud kamu aku berbeda kalau berada dirumah sana gimana ya?, maksudku apanya yang beda gitu?,"


" Apa sih maksud Arvitha, bolak balik ngomong nya," celetuk Niar yang mendengar ucapan Arvitha.


" Udahlah, biarin aja, temannya itu ngerti bahasa dia kok," jawab Arham masih pokus berkutat dengan laptopnya.


" Hem, mas masih lama?,"


" Bentar lagi, sekitar 3 file lagi,mau bantuin?," tanya Arham menatap istrinya sekilas lalu kembali pokus ke laptopnya.


" Hah, capek mas, mas sendiri aja deh yang kerjain," ucap Niar,kemudian mengambil cemilannya, ia juga menyuapi Arham.


" Mas,semakin kesini, jujur aja aku kurang suka sama Arvitha," ucap Niar yang membuat Arham menolehnya.


" Kenapa kamu ngomong gitu?, " ucap Arham kembali pokus ke laptopnya.


" Aku lihat, makin hari, makin lama, Arvitha kek pecicilan gitu,suka bangat gangguin kamu juga, mau nempel terus,lama lama Arvitha kek pelakor," ucap Niar, membuat Arham menghentikan pekerjaannya.


" Niar, aku gak suka kamu ngomongin Arvitha seperti itu,masih ingat,kamu yang memintanya buat menikah sama aku dan melahirkan anak untuk kita,Arvitha nempel terus,itu wajar,dia lagi hamil,kamu itu perempuan Niar, harusnya kamu tahu gimana keadaan orang yang lagi hamil, bukannya kamu dulu gitu juga,tolong kamu ngertiin Arvitha sekarang ini,dia lagi hamil, moodnya berubah ubah,jadi semua yang dia lakukan itu wajar wajar saja, oke." ucap Arham panjang lebar menjelaskan kondisi Arvitha dan meminta pengertian dari istrinya itu.


Niar segera berdiri" Kenapa mas ceramahin aku sih,aku kan cuma bilang pendapatku aja,mas gak mesti dong marah marah gini sama aku,mas yang seharusnya ngertiin aku,aku istrimu mas bukan orang lain,Arvitha yang orang lain aja bisa kamu hargai mas," ucap Niar kemudian melangkah menjauhi Arham.


" Apa segitu cintanya mas sama dia?,sampai mas udah gak peduli lagi sama aku?, mas yang seharusnya sadar mas, tolong mas ngertiin aku,aku menyewa Arvitha bukan untuk menjadi maduku mas, bukan," ucap Niar kini sudah menangis dan kembali menatapi suaminya.


" Hanya menitipkan anak dirahimnya,itu saja,bukan untuk berbagi suami dengannya,mas ngerti gak gimana sakitnya aku hum?," tanya Niar menatap nanar wajah suaminya, namun Arham diam tak bisa berkata apapun.


" Jawab mas!, kenapa mas diam?," ucap Niar kembali seraya menyeka air matanya.


" Hem,maaf,Arvitha gak sengaja dengar, Mbak makasih hp nya," ucap Arvitha yang baru saja muncul dan segera meletakkan ponsel Niar di sofa dan segera berlalu dari sana ia masuk kedalam kamarnya.


" Niar, udahlah,kita gak perlu membahas ini lagi," ucap Arham mengakhiri pembicaraan.


" Aku butuh jawaban mas,sebenarnya apa yang mas pandang dari Arvitha, sampai mas begitu mencintainya?,"


" Niar,soal itu kamu gak usah menanyakan apapun lagi,ya udah, aku minta maaf,tapi plis hentikan semua ini," ucap Arham kini berdiri seraya membereskan berkas dan laptopnya.


" Niar, udah malam,gak enak sama tetangga,plis hentikan," ucap Arham sembari menaiki anak tangga menuju kamarnya.


***


Pagi itu, masih sama seperti biasanya, matahari tetap terbit dengan cerahnya,berbeda dengan suasana rumah Arham yang sedang mendung, bahkan Arvitha pun enggan untuk keluar dari kamarnya karena kejadian tadi malam, jujur saja ia merasa bersalah pada Niar dan sesama wanita ia tahu rasanya diduakan sangat sakit, pakai bangat malah, tapi ia tak menyangka jika dirinya lah duri itu,orang ketiga dalam sebuah rumah tangga.


Arham merapihkan dasinya, bersiap akan kekantor." Maafin aku Ni, maaf," ucap Arham sembari mencium kening Niar yang tak sedikitpun membuat Niar tersentuh, hatinya sudah cukup rapuh, hancur berkeping keping atas sikap Arham, tatapannya kosong dan ia enggan bangun dari tidurnya,ia hanya terus merenungi nasibnya dan menatapi langit langit kamarnya.


Begitu Arham turun dari tangga, ia terniat inhin mengetok pintu kamar Arvitha, tapi mengingat kejadian semalam membuatnya mengurungkan niatnya itu.Akhirnya ia pun keluar rumah dan segera pergi berharap jika ia pulang nanti keadaan akan lebih baik.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2