
"Maksud mas apa mengatakan dia kakakku,bukannya harusnya dia adikku?,"tanya Arvitha bingung saat berbicara di telepon dengan Rakha.
"Iya Ar,setahu gua gitu,info lebih jelasnya mending kamu langsung tanyakan ke Pak Ardi aja,temannya papa kamu."saran Rakha pada akhirnya.Arvitha menghela nafasnya dalam-dalam sesaat untuk mencerna ucapan Rakha.
"Arvitha...kamu gak papa kan?,"tanya Rakha saat ia tak lagi mendengar suara Arvitha.
"Ar...,kamu dengar aku?,"lanjut Rakha khawatir.
"I-iya aku dengar,udah dulu ya mas,"jawab Arvitha.
"Em,tapi kamu gak papa kan?,"Rakha masih khawatir.
"Iya mas,"singkat Arvitha kemudian menutup panggilan telepon tersebut.
"Bagaimana mungkin papa setega ini sama mama pa?,"ucap Arvitha lirih,air matanya mengalir begitu saja di pipinya.Ia merasa kesal dengan papanya sekaligus kasian terhadap mamanya.
**
"Arham,gua minta tolong lihatin Arvitha,keknya dia lagi gak baik-baik saja,tolong yah,"ucap Rakha saat telepon tersebut tersambung.
"Hem, Arvitha baik-baik saja kok,memangnya ada apa?,"jawab Arham yang seketika membuat ia bingung.
"Lihat aja sih,lu kan suaminya gimana sih."kesal Rakha.
"Lah aku kan gak tahu masalahnya apa,setahuku dia baik-baik saja,Oke!,lagian...situ gak usah khawatirin Arvitha lagi kenapa sih."jawab Arham ikut kesal.
"Cemburu?,lah si p34,gua kan sodaranya,lupa lu gua sepupunya," ucap Rakha kesal bercampur senang atas kecemburuan Arham.
"Hemk,sepupu kok pacaran."ledek Arham kesal.
"Cih, ketahuan banget cemburu nya,udah sono ah...liatin si Ar tuh."ucap Rakha senyum-senyum sendiri kemudian menutup panggilan telepon tersebut secara sepihak.
Arham menghela nafasnya jengah saat panggilan telepon tersebut terputus begitu saja.
"Arvitha kenapa ya?,"tanyanya bermonolog sendiri.Alhasil ia pun akhirnya pergi ke kamar Arvitha.
"Ar...kamu kenapa?,"tanya Arham saat ia mendapati Arvitha sedang menangis di pinggiran kasur,akhirnya ia pun segera menghampiri istrinya dan segera memapahnya ke atas kasur.
"Aku gak papa kok,"ucap Arvitha lirih sembari menyeka air matanya.
"Ar,apa pun itu,cerita sama aku, jangan tutupi apapun dari aku hum..."ucap Arham menatap dalam pada istrinya.
"Aku benaran gak papa mas,mas gak usah khawatirin aku,"ucap Arvitha melangkah menjauhi Arham.Arham menghela nafasnya panjang.
"Arvitha,aku bingung sama kamu,aku suami kamu tapi kamu gak mau terbuka sama aku malah kamu curhat sama Rakha, sebenarnya kamu menganggap aku ada atau enggak sih?,"tanya Arham menatap tajam pada Arvitha.
"Mas salah paham,bukan seperti itu...,"sela Arvitha segera membalas tatapan Arham.
__ADS_1
"Terus...?,"singkat Arham.
"Ini gak ada kaitannya dengan rumah tangga kita mas,ini cuma...cuma,"
"Hum,gak usah lanjutkan,aku sadar aku siapa,aku bukan orang yang penting buat kamu kan?,"ucap Arham memberi kesimpulan sebelum Arvitha mengucapkan yang sebenarnya yang membuat Arvitha menggelengkan kepalanya.
"Mas kok bisa seegois ini?,"tanya Arvitha tak percaya.
"Dihati kamu gak pernah ada nama ku kan,?,"tanya Arham namun tak dijawab oleh Arvitha.
"Baik,aku mengerti tanpa kamu katakan pun,"ucap Arham kemudian tersenyum dan mengelus lengan Arvitha, kemudian ia pun melangkah ingin keluar kamar itu.
"Kenapa sih lelaki itu bisa seegois ini?,apa gak pernah terpikir ucapannya menyakiti perasaan orang lain?,"ucap Arvitha saat Arham memegang handle pintu.Seketika,Arham menghentikan langkahnya dan kembali menatap Arvitha meminta penjelasan.
"Maaf... bukan maksud aku ngomong gitu."lanjut Arvitha kini merasa bersalah.Arham pun mengernyit bingung atas sikap Arvitha kali ini.
"Mas,ini soal keluarga ku dan ini gak ada hubungan nya dengan hubungan kita,jadi...maaf aku gak bisa cerita sama mas."
"Memangnya kenapa?,"singkat Arham.
"Ya karena....,"seketika Arvitha diam karena ucapannya sendiri.Ia baru menyadari jika ucapannya telah menyakiti perasaan Arham.
"Mas,aku gak bermaksud..."ucap Arvitha menghampiri Arham.
"Hem,aku memang bukan siapa-siapa."ucap Arham tersenyum kecut kemudian ia pergi begitu saja meninggalkan Arvitha.
**
"Sayang...suapin...,"manja Arham pada Niar saat mereka bertiga sedang sarapan pagi ini.
"Asyem,Mas Arham pasti mau manas-manasi aku nih,"kesal Arvitha membathin.
Selanjutnya,Arham dan Niar pun suap-suapan yang membuat Arvitha muak melihatnya tapi ia tutupi dengan senyuman manisnya.
"Tuh rasain,cemburu kan?,"bathin Arham senang.
"Kenapa nih orang dua,lagi marahan apa ya?,tapi bagus deh akhirnya mereka berdua gak dekat lagi."bathin Niar yang melihat raut wajahnya Arham dan Arvitha dengan senyuman manis yang dibuat-buat.
**
"Mas..."panggil Arvitha saat Arham baru saja keluar rumah.Namun, bukannya menjawab Arham justru mengabaikan panggilan itu dan berlalu begitu saja.
"Mas..."panggil Arvitha lagi semakin kencang yang membuat Arham berjalan mundur.
"Kamu panggil aku?,"tanya Arham seakan tidak tahu apa-apa sembari menunjuk dirinya sendiri.
"Huh...udah deh mas,gak lucu tahu gak,kek anak kecil,"ucap Arvitha kesal yang tak ditanggapi oleh Arham.
__ADS_1
"Aku minta maaf."lanjut Arvitha.
"Hem,"singkat Arham kemudian pergi begitu saja.
"Mas...,"panggil Arvitha sembari mengejar langkah Arham.Diam-diam Arham tersenyum saat melihat Arvitha mengikutinya.
"Loh, kenapa kamu ikut masuk?,"tanya Arham saat Arvitha memasang sabuk pengaman mobil.
"Mas belum bilang kalau sudah maafin Ar,"ucap Arvitha tanpa menatap Arham.
Platak
"Aw... kenapa mas sentil aku sih?,sakit tahu,"kesal Arvitha mengelus dahinya.
"Sekarang yang kek anak kecil itu siapa?,udah turun sana!,aku mau kerja."ucap Arham sembari melepaskan sabuk pengaman Arvitha.
"Mas udah maafin aku?,"tanya Arvitha lagi.
"Iya,tapi dengan satu syarat,"ucap Arham kemudian tersenyum dan menaruh telunjuknya di bibirnya.Arvitha yang mengerti langsung mencium bibir suaminya.
Niar mengepalkan tangannya saat melihat adegan yang tak seharusnya ia lihat tersebut.
"Dadah..."ucap Arvitha melambaikan tangannya saat Arham pergi berlalu dengan mobilnya.
**
"Aku harap mulai sekarang kamu jaga jarak dengan Mas Arham, Arvitha!."ucap Niar saat Arvitha baru saja masuk kedalam rumah.
"Hem,mbak tenang saja,"jawab Arvitha menundukkan kepalanya.Ada rasa sakit tersendiri dihatinya mendengar ucapan Niar tersebut.
"Bagaimana bisa aku tenang Ar,semakin hari Mas Arham semakin lengket saja sama kamu.Harusnya kamu sadar diri Arvitha,kamu gak selevel dengan aku ataupun Mas Arham, tujuan pernikahan kalian hanya untuk melahirkan bayi,ingat itu!,"ucap Niar yang sangat menyayat bagi Arvitha.Akhirnya Niar pun berlalu begitu saja setelah mengucapkan kata-kata menyakitkan itu.
Arvitha menangis dalam diam,sakit hatinya ia pendam dalam-dalam,Niar benar ia tak seharusnya jatuh cinta pada suami orang lain.
**
"Apa bapak tahu kakak saya tinggal dimana?,"tanya Arvitha saat mengobrol dengan Pak Ardi.
"Nah... soal itunya saya gak tahu nak,papa kamu cuma kasih selembar photo,"ucap Pak Ardi kemudian mengambil sebuah photo dari dalam tasnya.
"Hah...astaga!,"ucap Arvitha terkejut setelah melihat photo itu.
Bersambung
Tinggalkan jejak kalian ya...
Love you...
__ADS_1
Note/ini bab pertama setelah hiat lama.