
"Mau dibawa kemana bayinya mas?,"tanya Niar saat suaminya Arham menimang bayinya.
"Arvitha pasti ingin ketemu sama bayi kita Ni."singkat Arham sejujurnya.
"Stop mas,enak aja mas mau kasih dia ke Arvitha,tugas Arvitha itu cuma lahirin mas,istri kamu itu aku!."ucap Niar tegas sekaligus kesal dan segera mengambil alih menggendong bayi mungil itu.
"Hah...aku gak percaya dengan sikap kamu ini Ni,"
"Aku juga heran sama mas, bisa-bisanya mas suka sama pembantu seperti Arvitha."kesal Niar menuding Arham.Tak ingin memperpanjang masalah,Niar segera membawa bayinya pergi meninggalkan Arham.
**
"Siang cantik..."
"Paan sih mas,"kesal Arvitha mengerucutkan bibirnya.
"Hehe...baperan bangat dek,"ucap Rakha senyum-senyum sendiri.Kemudian ia mengupaskan buah apel untuk Arvitha.
"Makasih."singkat Arvitha dan segera melahap apelnya.
"Arham gak kesini?,"tanya Rakha yang membuat Arvitha menghentikan pergerakannya.
"Aku salah ngomong ya?,"tanya Rakha kemudian.
"Ar gak berhak atas suami orang mas." Jawab Arvitha kemudian memakan apelnya kembali.
"Iya paham,tapi keterlaluan namanya kalau dia gak peduli lagi sama kamu,kamu masih di infus loh..."ucap Rakha yang membuat Arvitha menghela nafasnya panjang.
"Ini urusan Arvitha mas."
"Urusan kamu urusan aku juga Arvitha."kesal Rakha menatap Arvitha.
"Ar...,"ucap Arham saat membuka pintu ruangan Arvitha.
"Eh ada kamu juga Kha.Gimana, Arvitha udah boleh pulang belum?,"tanya Arham kemudian menghampiri keduanya dan ia segera duduk disamping Arvitha.
"Aku mau ke kamar mandi."ucap Arvitha mengalihkan pembicaraan.
"Ya udah ayok, pelan-pelan ya."ucap Arham kemudian menuntun Arvitha ke kamar mandi.
Sekembalinya dari kamar mandi, Arvitha kembali berbaring di brankar.
"Aku mau istirahat,mas sama Mas Rakha keluar ya,"pinta Arvitha yang kemudian diiyakan keduanya.Seperginya Arham dan Rakha, Arvitha pun menangis.
"Maafin mama nak..."lirihnya,dibalik air matanya ada rasa rindu ingin bertemu dengan sang buah hati tapi apalah daya ia hanyalah sebuah rahim sewaan yang bayinya hanya menumpang sementara di rahimnya tapi ia bukanlah seorang ibu.
"Mama kangen...hiks hiks..."Isak Arvitha dalam tangisnya.
**
"Ijinkan aku ketemu Mayra sebentar saja, tolong mbak,"pinta Arvitha memohon.
"Aduh... Arvitha,lain kali aja deh,toh kamu belum sehat juga,"ucap Niar kesal.
"Niar jangan keterlaluan kek gitu kenapa sih?,"
"Mas yang keterlaluan,mas udah membagi cinta pada pembantu itu!,sekali lagi aku bilang aku gak suka kalian berdua bersama!,dan aku gak akan membiarkan kamu ketemu dengan Mayra!."bentak Niar kemudian keluar dari kamar Arvitha.
"Maafin aku ya Ar,sampai sekarang aku belum bisa membawakan Mayra kepelukan kamu,"sesal Arham kemudian mencium tangan Arvitha.
"Mas ngapain masih disini?," tanya Niar kembali membentak.
" Iya Niar,iya aku tahu,tapi kamu gak bisa semena-mena seperti ini sama Arvitha,dia sudah memberikan kamu bayi tapi sikap kamu malah kek gini sama dia!"bentak Arham tak kalah sengit.Arvitha akhirnya menangis dan menutup telinga nya.
"Udah mas,udah!,disini aku yang salah, gara-gara aku kalian jadi berantam terus.Aku yang harus pergi dari sini."ucap Arvitha kemudian pergi melangkah pergi.
"Bagus deh kalau kamu ngerti."jawab Niar melipat kedua tangannya.
Oe...oe..
Seketika, Arvitha menghentikan langkahnya saat mendengar suara tangis bayinya.
"Dengar Ar,Mayra gak ingin kamu pergi dari sini, tolong jangan pergi."ucap Arham kemudian memeluk tubuh Arvitha dari belakang.
"Apa-apaan sih mas,lepasin gak!,"kesal Niar dan berusaha melepaskan tangan Arham dari Arvitha.
__ADS_1
"Yang kamu inginkan itu cuma bayi Niar,bukan aku!,"ucap Arham kemudian membawa Arvitha pergi ke taman.
" Iii...dasar suami gak berguna!"kesal Niar mengepalkan tangannya.
"Aku minta maaf ya mas,"
"Aku yang minta maaf,dan ingat aku masih suami kamu,kamu gak boleh keluar dari rumah ini tanpa ijin dari aku."ucap Arham yang membuat Arvitha menatapnya.
**
Oe...oe..
Mendengar suara tangis bayinya, Arvitha segera menaiki anak tangga dan segera membuka pintu kamar Niar.Melihat bayinya dari jauh sungguh membuatnya terharu,air matanya terus mengalir dan ia pun segera menghampiri sang bayi dan menggendongnya.Seketika tangis bayi itu pun berhenti.Namun kini Arvitha yang menangis menahan haru.
"Berani-beraninya kamu masuk kamar aku!,"ucap Niar yang baru saja muncul dari kamar mandi dan ia segera mengambil alih menggendong bayi mungil itu.
"Dengar Arvitha, urusan kita udah selesai,Mayra ini anak aku bukan anak kamu,kamu ngerti!,"
"Tapi mbak..."
"Jangan bilang kamu menyesal atas semuanya, enggak Ar,kamu bukan siapa-siapa bayiku!."ucap Niar segera membawa bayinya keluar dari kamar itu.Tinggallah Arvitha dengan air matanya yang terus-menerus mengalir membasahi pipinya.
Beberapa Minggu kemudian....
"Talak aku mas,"pinta Arvitha menaruh tangan Arham diatas kepalanya.
"Aku gak bisa!,"ucap Arham menjauh dari Arvitha.
"Jangan mulai deh mas,ini saatnya mas cerain Arvitha!."ucap Niar yang masih menimang Baby Mayra.
" Mas harus bisa,kita gak bisa bersama mas,dan...dan pernikahan kita ini gak mungkin, seperti perjanjian kita aku hanya melahirkan bayi untuk kalian bukan untuk menjadi istrimu selamanya."ucap Arvitha,perlahan menghampiri Arham.Ia pun mengemgam tangan Arham.
"Cinta tak selamanya harus memiliki mas."lanjut Arvitha lirih.Akhirnya Arham memeluk Arvitha dalam-dalam bahkan air matanya cukup menjadi saksi atas sakit hatinya.
Arvitha pun menaruh tangan Arham diatas kepalanya sembari tersenyum.
"Talak aku sekarang mas,biar kita sama-sama bebas,"ucap Arvitha yang membuat Arham tak berhenti meneteskan air mata.
Dengan ketidak ikhlasan di hati keduanya,mereka harus terpisah hanya karena sebuah perjanjian.
"Aku talak kamu,"ucap Arham pelan,namun hal itu cukup membuat pernyataan yang sah dan akhirnya hubungan mereka pun berakhir disini.
"He'em."jawab Arvitha singkat sembari tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Ya udah ayok."ucap Rakha dan segera menggandeng tangan Arvitha.Seketika Arvitha menghentikan langkahnya saat sudah tiba di pintu ia kembali menoleh kebelakang dan kemudian berlari menghampiri Niar dan Baby Mayra.
"Ijinkan aku untuk terakhir kalinya mbak."ucap Arvitha yang membuat Niar kesal tapi tak ayal ia memberikan Baby Mayra dalam buaian Arvitha.Arvitha pun menciumi pipi dan kening bayinya.Air matanya terus saja mengalir sampai Niar mengambil kembali bayinya.
"Tega kamu Ar..."lirih Arham tanpa menoleh sedikitpun.
"Maafin aku mas,maaf Mayra,maaf mbak,"ucap Arvitha memohon maaf.
"Halah lebay...udah sana-sana."pinal Niar mengusir Arvitha.
"Pelan-pelan hem..,"ucap Rakha menuntun Arvitha menuruni anak tangga.
"Hehe...emangnya aku anak kecil apa?."tawa Arvitha dalam tangisnya.
"Kamu baru lahiran dek,"
Sampai disitu yang terdengar oleh Arham dan Niar,setelahnya hening pertanda Arvitha sudah pergi bersama Rakha.
"Tega kamu Ni!,tega!."teriak Arham kemudian melemparkan vas bunga yang ada diatas meja yang membuat Baby Mayra terkejut yang akhirnya ia menangis.
Seiringan tangis Mayra,Niar pun ikut menangis tapi bukan atas kepergian Arvitha melainkan karena suaminya Arham benar-benar menduakannya.
"Menangislah."suruh Rakha saat ia baru saja menghentikan mobilnya.Rakha yang mengerti perasaan Arvitha memang sengaja menghentikan mobilnya untuk Arvitha menenangkan hatinya.Arvitha pun menangis sejadi-jadinya.
**
4 hari kemudian....
"Maafin mama ya,mama telat lihat cucu mama."ucap Nyonya Erin saat baru saja masuk kedalam rumah putranya.
"Gak papa kok ma,"jawab Niar senang.
__ADS_1
"Arham..."
"Dia pergi kerja ma,gak papa kok aku ada suster juga yang bantu jagain Mayra."jawab Niar sigap sebelum mama mertuanya bertanya banyak hal.
Oe...oe
Melihat Baby Mayra menangis,Niar pun segera memberikannya susu dari dhot.
"Kasih asi lebih baik loh Ni,kasian bayi kamu masih kecil.Kalau mau susu formula nanti setelah 6 bulan ya.Ayo dong susui..."ucap Nyonya Erin memancing Niar agar kedok Niar segera terbongkar.
"A-anu ma..."
"Anu apa?,kamu gak bisa kan,"selidik Nyonya Erin.
"Bukan gitu ma,cuman aku belum keluar asi."
"Gimana mau keluar asi,orang bukan anak kamu,"bathin Nyonya Erin kesal pada Niar.
**
"Ni tolong ambilkan berkas aku dong!,"pinta Arham saat ia masih berkutat dengan laptopnya.
"Mas gak lihat aku lagi ngapain hah?,aku lagi tidurin anak kamu ini," kesal Niar yang tak sadar didengar oleh mertuanya.
Meski gak sengaja menguping, akhirnya Nyonya Erin melihat sifat buruk dan watak aslinya menantunya itu.
"Niar,emangnya kamu pikir ngurus bayi itu mudah apa?,kan kamu sendiri yang ingin bayi maka dari itu kamu gak usah ngeluh."ucap Arham ikut kesal.
"Aku capek mas,capek,seharian ngurusin bayi pulang-pulang kamu nyuruh-nyuruh aku lagi."kesal Niar tersulut emosi.
"Lagian dia bukan bayi aku sih mas,nah urus sendiri."lanjut Niar kesal memberikan Baby Mayra pada Arham.
"Apa maksud kamu,bukan bayi kamu?,"tanya Nyonya Erin seketika membuat Arham dan Niar terdiam.
"Mama...ini gak seperti yang mama pikirkan."ucap Arham mencoba menjelaskan.
"Dari awal mama sudah curiga,lagian mana mungkin Niar hamil,Niar kan sudah operasi tutup rahim."
"Maksud mama?,"tanya Arham bingung.
"Ya iya,dari dulu mama ingin bilang sama kamu,Niar itu bukan orang yang benar dia gak mau punya anak dari kamu makanya ia rela tutup rahim segala."
"Mas,aku bisa jelasin..."ucap Niar mencoba meraih tangan Arham namun segera dihempaskan oleh Arham.
"Mama punya buktinya Ham."Nyonya Erin pun memberikan fhoto dimana Niar melakukan operasi tutup rahim bahkan Nyonya Erin juga punya bukti atas kesengajaan Niar menggugurkan kandungannya dulu.
"Hah...astaga,aku gak percaya kamu setega ini sama aku Ni."
"Maaf mas,maaf...aku khilaf waktu itu."
"Aku pikir kamu memang mandul tapi ternyata ...tega kamu Ni.7 tahun kita menikah tega kamu bohongi aku!,tega kamu bunuh anak kamu sendiri!,aku gak nyangka aku sebodoh ini.Aaa..."teriak Arham yang seketika membuat Baby Mayra menangis.Arham pun memeluk erat putrinya dan ikut menangis.
"Maafin papa nak..."ucap Arham mencium kening putrinya.
"Menit ini juga,detik ini juga,aku talak kamu Ni!,"ucap Arham.
Maka,siang itu juga,Arham dan Niar berakhir menjadi suami-istri.Ia pun segera pergi mencari Arvitha.
"Mas...."teriak Niar memanggil Arham,namun Arham tak memperdulikannya dan berlalu begitu saja membawa putrinya.
"Ini akibat dari perbuatan kamu sendiri Ni,aku menyesal punya menantu sepertimu,"ucap Nyonya Erin kemudian berlalu meninggalkan Niar dengan air matanya.
**
"Mama kangen nak,pasti kamu lapar ya?," ucap lirih Arvitha saat ASI-nya keluar dengan sendirinya.
"Ar,udah dong.Jangan sedih terus kek gitu."ucap Rakha yang segera diiyakan oleh Arvitha.Arvitha pun pamit mau pergi membeli buah.
Sesampainya ia di toko buah,ia mendengar suara tangis bayi yang lagi dan lagi membuatnya teringat dengan bayinya.Akhirnya ia pun tak sadar sudah menangisi hal itu.
Tin tin...
"Aaaa..."
Bersambung
__ADS_1
Tinggalkan jejak kalian ya
Love you...