
🕊Happy Reading 🕊
" Apa aku pergi aja ya?,terus gimana dengan bayinya?," tanya Arvitha pada dirinya sendiri seraya menatapi luaran sana dari jendela,kemudian ia menghela nafasnya panjang.
Sedang di kamar lainnya, Niar juga masih tengah berkutat dengan pikirannya, antara pergi dan bertahan.
" Jika aku pergi, maka sama aja aku biarin Mas Arham dengan pelakor kek Arvitha, tapi jika bertahan...hem, terlalu sakit,Mas Arham juga sudah tidak peduli," lirih Niar sendu sembari merenung kembali.
Keroek
" Hem,lapar," ringis Arvitha memegangi perutnya,akhirnya ia memutuskan untuk keluar dari kamarnya dan segera kedapur mencari makanan,saat ia meneguk susu nya, Niar tiba tiba muncul dihadapannya.
" Pesan makanan online,gak ada yang masak jadi gak makanan," ucap Niar sembari mengambil minuman kaleng dari kulkas,Arvitha pun segera menganggukinya.
" Mbak..," lirihnya.
" Gak usah ikut ikutan,ini antara aku dan Mas Arham," ucap Niar memotong ucapan Arvitha dan segera pergi dari sana.
" Iya, tapi masalah itu ada karena aku," lirihnya kemudian menangis.
Mendung itu belum juga berakhir, saat Arham pulang pun sudah langsung disambut dengan tatapan kosong oleh Niar.Tak seperti biasanya, ia akan menyambut ramah suaminya,kini ia hanya diam saja dan menyenangkan dirinya sendiri dengan berkutat dengan laptopnya,bercanda ria dengan teman temannya.
" Hem,senang ya bisa pamer," ucap Niar saat videocall dengan Leo temannya.
" Yo,besok aku jemput, kita jalan barang?," tanya Leo disana, yang masih bisa didengar oleh Arham saat ia menaiki anak tangga menuju kamarnya.
" Boleh, bangat malah,aku butuh healing," jawab Niar senang.
Pada saat Arham kembali turun tangga, Niar masih juga bercanda dengan Leo dan Ratna, yang membuat Arham kembali menghela nafasnya panjang, kemudian ia pun mengetok pintu kamar Arvitha.Arvitha pun segera membuka kan pintu kamarnya.
" Gak usah diladenin,biar aja,Arvitha kamu masuk kamarmu," ucap Niar sembari berdiri setelah menutup laptopnya, Arvitha menatapi Arham dan menyatukan kedua tangannya sebagai kode permintaan maafnya dan segera menutup pintu kamarnya.
Lagi dan lagi Arham menghela nafasnya panjang nan dalam.
" Mau kamu apa hum?," tanya Arham saat Niar sudah selesai menaiki anak tangga.
" Kamu ngomong sama aku?," tanya Niar menunjuk dirinya sendiri.
" Niar...,"
" Aku hanya butuh istirahat dari semua itu, paham," ucap Niar memotong ucapan Arham dan segera masuk kedalam kamarnya.
Akhirnya, Arham hanya sendirian di ruang tengah, ia kembali membuka laptopnya dan mulai berkutat dengan laptopnya, bagaimana pun ia mencoba, ia tetap tidak bisa ookus karena terus menerus terpikirkan dengan kejadian semalam.
Akhirnya,ia mengetok pintu kamar Arvitha. " Maaf mas, Ar cuma gak mau masalah semakin rumit," ucap Arvitha dari dalam kamar.
" Sebentar saja, aku mau ngomong," ucap Arham kembali.
" Maafin Ar mas,Ar gak bisa, Ar cukup tahu diri," ucap Arvitha segera membaringkan tubuhnya dan mengucung dirinya dengan selimut. Sebenarnya ada rindu yang ia rasakan pada suaminya tapi rasa bersalah pada Niar terlalu besar sehingga mengalahkan rindu itu.
" Oke,aku mengerti,"ucap Arham kemudian, ia menyugar rambutnya dan menatap ke arah kamar Niar.Ia pun perlahan menaiki anak tangga,ia mengetok pintu kamar Niar begitu ia sampai disana.
" Jika mas,belum ada jaeabannya,aku gak mau ngomong sama mas," ucap Niar dari dalam kamar.
__ADS_1
" Justru aku ingin ngomong soal itu," jawab Arham seadanya, Kemudian Niar pun membuka pintu kamarnya, Arham pun masuk dan menutup kembali pintu itu.
Arham menatapi Niar cukup lama,yang akhirnya membuat Niar membuka suara.
" Katanya mas, mau ngomongin soal itu,"
" Iya." singka Arham kemudian menundukkan kepalanya.
" Sebelumnya, aku minta maaf Ni,maaf,aku mencintai kamu dan dia,aku gak bisa milih siapapun dari kalian,gak tahu kenapa aku merasakan hal itu juga pada Arvitha, maaf Ni,dari awal aku gak bermaksud, tapi rasa itu tumbuh dengan sendirinya,maafin aku," ucap Arham kemudian bersimpuh dihadapan Niar, Niar pun segera membantunya berdiri.
" Mas gak usah lakuin itu,aku cukup tahu aku siapa,," ucap Niar sembari menjauhi Arham.
" Apa gak bisa lagi kita kembali ketujuan awal mas?," tanya Niar seraya membalikkan badannya dan terus menerus menyeka air matanya yang terus saja mengalir.
" Aku usahakan,tapi hati gak bisa dipaksakan Niar," ucap Arham sembari memeluk Niar.
" Maaf," lirihnya seraya mencium pucuk kepala istrinya.
Arvitha yang melihat dan mendengar itu semua,menutup mulutnya dengan tangannya, perlahan ia pun melangkah menuruni anak tangga dan segera pergi ke kamarnya.
Ia menutup mulutnya sendiri agar tangisan nya tak tersengar siapapun, sakit yang Niar rasakan, sama halnya dengan sakitnya Arvitha.
Arham begitu teganya, dalam hati yang sama menyakiti kedua hati seorang perempuan.
***
" Mbak,"ucap Arvitha seraya menghampiri Niar diruang tengah yang sedang berkutat dengan laptopnya.
" Mau minjam hp?, ada tuh di kamar, ambil aja, kalau mau tanya Mas Arham, aku gak tahu," ucap Niar tanpa mendengar ucapan Arvitha terlebih dulu.
" Mbak, Mbak salah paham sama aku,aku sama sekali gak ada niat menjadi orang ketiga dalam rumah tangga kalian," ucap Arvitha saat Niar sudah berada di anak tangga.
" Mbak,aku mohon,mbak jangan gini,aku janji Mbak,Mas Arham akan kembali pada Mbak, seutuhnya gak kurang sedikitpun,begitu juga dengan cintanya Mas Arham pada Mbak," ucap Arvitha kemudian membuat Niar kembali menuruni anak tangga dan segera menghampirinya.
" Maksud kamu apa?," tanya Niar.
" Jujur aja Mbak, aku merasa tertekan kalau Mbak gini dan maaf aku mendengar ucapan kalian tadi malam,Aku hanya akan tetap kembali ke tujuan awal Mbak, setelah bayi ini lahir,Mas Arham akan kembali pada Mbak sepenuhnya, kami akan pisah dan aku akan pergi dari kehidupan kalian, aku janji Mbak," ucap Arvitha seraya meraih tangan Niar.
" Tapi tolong, biarkan aku tetap bersama Mas Arham sampai bayi ini lahir,maaf jika aku membuat Mbak cemburu,tapi itu semua gak murni kemauan Arvitha, Mbak, bayi ini yang ingin dekat dengan ayahnya apa aku salah Mbak,maafin aku." lanjut Arvitha menjelaskan yang kini sudah menangis.
" Tapi gimana kalau Mas Arham gak mau ceraiin kamu," tanya Niar seraya melepaskan tangannya dari Arvitha.
" Arvitha janji, Mas Arham akan menceraikan Arvitha pada saat itu, gimana pun caranya Arvitha akan lakuin, Arvitha janji Mbak," ucap Arvitha meyakinkan.
" Oke, baik aku setuju," ucap Niar kemudian melenggang dari sana.
****
" Nih,makan yang banyak ya,spesial buat kamu," ucap Niar menyendokkan lauk untuk Arvitha, yang membuat tanda tanya besar di kepala Arham, ada apa gerangan, tiba tiba suasana kembali adem ayem.
" Kenapa Mas liatin aku gitu?," tanya Niar menatap suaminya, Arham pun segera berdehem.
" Gak papa," ucap Arham sembari tersenyum.
__ADS_1
Lagi, Arham kembali bengong melihat Arvitha dan Niar tengah menonton drakor bersama.
" Mereka udah baikan?,gimana ceritanya sih?, apa yang terlewat sih tadi?," pertanyaan pertanyaan seperti itu muncul dikepala Arham.
Arham kemudian tak menghiraukannya lagi dan kembali duduk di depan laptopnya, ia kembali membuka laptopnya dan mulai berkutat dengan laptopnya.
" Mau ku bantuin?," tanya Niar menatap Arham.
" Gak usah, bisa sendiri kok," tolak Arham namun Niar ngotot membantu juga, Arham pun menatap istrinya itu heran tapi hanya ada senyuman saja.
Sementara Arvitha,ia pergi kedapur mengambil rujak mangga muda yang tadi sudah Niar siapkan untuknya.
" Susunya diatas meja tuh Ar," ucap Niar memanggil Arvitha dan lagi Arham menatapnya dan hanya dibalas senyuman oleh Niar.
Arvitha kembali dengan rujak mangga muda beserta susu ibu hamil ditangannya." Makasih Mbak sudah menyiapkan semua ini," ucap Arvitha senang, lagi dan lagi Arham dibuat bingung dengan keadaan.
" Hem, seperti yang kamu minta kan?, aku beliin mangga muda sesuai permintaan kamu," ucap Niar menatap Arvitha sekilas, lalu kemudian pokusnya kembali ke berkas berkas Arham.
Arvitha tersenyum dan mulai lagi dengan panggilan vidionya dengan Aleea.
" Assalamualaikum bumil cantik, tumben nelpon lagi, semalam kemana gak ada kabar?," tanya Aleea saat panggilan vidio tersebut tersambung.
" Walaikumsalam,hp gua rusak,baru ganti tadi,lu ngapain?, ish...ada Raj rupanya," ucap Arvitha saat melihat Raj memeluk sahabatnya.
" Ti ati loh, pulang pulang bunting lu,"
" Mulut Arvitha,perkataan itu doa loh...," celetuk Aleea.
" Tau nih,si bebeb kamu bikin kesal," ucap Raj nimbrung sembari pergi dari depan kamera.
" Hihi, sori,gak bermaksud,jangan sampe lah,pulang besok kalian udah nikah ya," ucap Arvitha seraya melahap rujaknya.
" Tunggu Mas Rakha nikah dulu, baru aku nikah,lu kan dengar sendiri dia ngomong apa,dia gak mau jadi jomblo karatan jadi biar ada temannya gitu,"
Arham dan Niar saling pandang mendengar ucapan Aleea dan saling tersenyum.
" Dasar memang,sepupu gak ada ahklak Mas Rakha mah, kalau gak lu nikah sama dia aja,"
" Ogah gua nikah sama sepupu mah, sekali berantem, hancur lebur persaudaraan, apalagi gua sama Mas Rakha gak ada akur akurnya, bisa perang dunia perpecahan keluarga kami," ucap Aleea yang dibalas gelak tawa dari Arvitha.
" Tapi kalau sebagai sepupu,gua acungin jempol buat dia,syukur bangat punya dia jagain lahir bathin,gini gini dia jagain gua juga kok meski sering berantem."
" Nah itu makanya,jangan ngadu yang enggak enggak ya,sekali pulang dia,bisa Mas Arham yang jadi sasaran," Arham mendelik saat namanya ikut terseret dalam cerita itu.
" Iya,iya,gua diamin dah,btw lu lagi ngapain sih?," tanya Aleea, Arvitha pun menunjukkan rujak mangga muda nya.
" Omegot,ii..ngilu gigi yang ada, tapi lu kan lagi ngidam ya,wajar sih,ini kalau Mas Rakha tahu kena omel lu Ar,"
" Makanya jangan dibilangin,dari tadi juga,"
" Ar,Ar, mama lu nelpon,"
" Stop, jangan diangkat dulu,"cegah Arvitha dan segera menghampiri Niar dan Arham.Ia pun meraih tangan Arham." Maaf Mbak, aku pinjam Mas Arham sebentar," ucap Arvitha seraya membawa Arham ke kamarnya.
__ADS_1
" Duduk disitu ya mas, diam aja oke.," suruhnya,kemudian berbaring di ranjangnya dan menyuruh Aleea menjawab panggilan vidio tersebut.