
"Haha...ya iyalah kakak kamu, Arvitha, Arvitha bikin kesal aja kamu."ucap Arham tertawa sembari mencubit pipi istrinya.
"Gak ada yang lucu mas,aku serius,Mbak Niar itu kakak kandungku,"
"Bercanda aja kamu,orang tua Niar udah lama gak ada,dia yatim piatu,gimana mungkin kamu sodaraan sama dia."ucap Arham tak percaya dengan semua ucapan Arvitha.
"Terserah mas mau percaya atau tidak,yang pasti kita harus cerai,"ucap Arvitha kemudian pergi begitu saja meninggalkan Arham.Arham yang masih bingung kini terdiam.Ia masih mencerna semua ucapan Arvitha.
**
"Arvitha...,"ucap Niar melambaikan tangannya.
"Kita USG sekarang, Nyonya besar ingin photonya."lanjutnya, kemudian menggandeng tangan Arvitha keruang USG.
"Bayinya perempuan ya buk..."ucap dokter kandungan yang memeriksa Arvitha.
"Andai Mas Arham disini...,"bathin Arvitha tersenyum saat melihat hasil USG dilayar.
"Arvitha plis...dia suami kakak kamu,"lanjutnya membathin.
"Terimakasih dok."
"Gimana?,mana fotonya?,"tanya Niar saat Arvitha baru saja keluar dari ruangan dokter kandungan.
"Ya Allah...aku sudah sedekat ini, gimana bilangnya ya?,"bathin Arvitha saat Niar memperhatikan photo-photo bayi mungil di rahim Arvitha.
"Kok bengong sih?,aku bawa semuanya ya,"ucap Niar yang hanya diangguki oleh Arvitha.
**
"Yakin kamu ini photo USG kamu Ni?,"ucap Nyonya Erin saat melihat photo bayi mungil itu.
" Ya iyalah ma, emang bayi siapa lagi?,"ucap Niar PD tanpa ia sadari nama pasien dan tanggalnya berbeda.
"Oh...,"singkat Nyonya Erin karena sudah tahu ia sedang dibohongi.
**
"Arham,mama mau ngomong sama kamu,"ucap Nyonya Erin saat Arham baru saja masuk kedalam rumah.
"Kenapa ma?,keknya penting bangat,"bingung Arham sembari melepaskan sepatunya dan menggantinya dengan sendal rumah.
"Niar,dia itu pura-pura hamil kan?."
Deg
"Kok mama bisa tahu?," bathin Arham terkejut.
__ADS_1
"Haha...mama melucu aja,gak mungkin lah,orang kita samaan kok ke dokter kemarin,lagian mama kan lihat sendiri Niar lagi hamil."sela Arham dengan tertawa yang dibuat-buat.
"Arham,sudahlah,kamu tidak mesti menutupi kekurangan istri kamu lagi,dia itu memang mandul.Dia gak bisa kasih kamu keturunan."
"Ma,ma,mama gak bisa ngomong gitu dong, kasian Niar kalau dia sampai lagian paktanya Niar itu gdk mandul,andai dia mdndul dia gak mungkin bisa hamil kan?,"ucap Arham kesal menatap jengah pada mamanya.
"Mas,mas udah pulang?,"ucap Niar saat ia menuruni anak tangga.
"Jangan ngomong apa pun ma,"ucap Arham sebelum ia menghampiri istrinya.
"Arham...kapan sih kamu sadar,Niar tidak pernah mencintaimu nak?."bathin Nyonya Erin iba melihat putranya.
Niar pun menyalam takjim suaminya.Arham pun sengaja mencium perut Niar di depan mamanya atas kekesalannya tadi.
"Aku mau mandi dulu ya sayang...,"ucap Arham tersenyum kemudian ia mencium kening istrinya yang justru membuat Nyonya Erin semakin iba padanya.
**
"Ni,kamu masih bisa makan sup ikan?,"tanya Nyonya Erin curiga saat melihat Niar asyik melahap sup ikan miliknya.
"A...itu...,"
"Syukur dong ma,Niar udah gak mual muntah lagi sekarang."bela Arham segera sebelum kecurigaan mamanya semakin dalam dan masalah semakin panjang.
Nyonya Erin akhirnya hanya bisa menghela nafasnya panjang.Ia masih harus mencari cara untuk membuktikan jika ucapannya benar adanya.Dan ia benar-benar tak habis pikir putranya begitu bodohnya percaya dengan Niar terlebih dengan apa yang sudah terjadi di masa lalu.
Sepertinya Arham, Nyonya Erin pun mencari-cari pakta tentang kehamilan Niar hingga ia selalu mengikuti langkah Niar tanpa Niar sadari.
"Huh...capek." ucap Niar saat ia sedang berada di kamarnya,dan akhirnya hal yang ditunggu-tunggu Nyonya Erin pun tiba,Niar melepaskan bantal kecil yang ia ikat diperutnya.
"Astaga...sudah kuduga,"bathin Nyonya Erin tak percaya, sangking gak percayanya ia bahkan menutup mulutnya.Kemudian ia pun perlahan meninggalkan Niar disana.
**
"Mama mau bicara sama kamu."ucap Nyonya Erin segera membawa putranya ke kamarnya.
"Ada apa ma?,"bingung Arham.
"Niar benar-benar pura-pura hamil Ham,mama lihat sendiri dengan mata kepala mama,dia cuma ikat bantal di perutnya."
Deg
Rasanya,Arham keringat dingin saat mamanya mengetahui semua kebohongan mereka.
"A-aku tahu mama gak suka sama Niar tapi gak gini juga ma,"ucap Arham kemudian berpura-pura menjadi korban.Akhirnya ia keluar dari kamar mamanya dan segera menemui istrinya.
"Gawat Ni gawat,"ucap Arham saat ia baru saja masuk kedalam kamarnya.
__ADS_1
"Gawat kenapa sih mas?."tanya Niar bingung.
Arham pun segera duduk di ranjangnya sembari menghela nafasnya panjang dan menghembuskannya pelan-pelan.
"Ada apa sih mas?,"ulang Niar bertanya.
"Mama tahu kamu pura-pura hamil,kok bisa sih ketahuan gini?,"ucap Arham menatap nanar istrinya.
"Mas kok nyalahin aku kek gitu,jujur aja mas aku gak suka di pojok-pojokin,"ketus Niar sembari beranjak dari tempat tidur.
"Bukan nyalahin kamu Ni,tapi sekarang kita harus gimana?,"tanya Arham memijit pelipisnya yang terasa berdenyut.
"Suruh aja mama kamu pulang sih mas,lagian aku juga udah capek dengan kepura-puraan ini.Intinya mas gak boleh nyerah bilang aku lagi hamil ya."ucap Niar yang seketika membuat Arham menghela nafasnya kasar.
**
"Loh mama mau kemana?,"tanya Arham saat melihat mamanya sudah siap pergi dengan kopernya.
"Mama mau pulang aja,mama capek ngomong sama kamu."ucap Nyonya Erin mendengus kesal.
"Ma..."
"Sudahlah Ham,percuma ngomong sama kamu,mama pulang aja."Nyonya Erin pun melangkah kan kakinya keluar rumah itu.
Arham menghela nafasnya panjang.Disatu sisi ia senang mamanya pulang tapi disisi lain ia berasa seakan menjadi anak yang jahat pada orang tuanya sendiri.
**
"Hah.... akhirnya aku bebas,"ucap Niar saat mereka bertiga baru saja menghempaskan tubuh mereka diatas kasur empuk.
"Aku ikut senang mbak,"lanjut Arvitha menimpali.
"Pendapat mas gimana?,"tanya Niar saat Arham tak ada membuka suara.
"Entahlah..."singkat Arham kemudian ia duduk disisi ranjang.Niar dan Arvitha pun mengikuti hal yang sama.
"Ada apa mas?,mas gak senang mama pulang?,"tanya Niar menatap suaminya.
"Disatu sisi aku berasa berdosa sama mama,"singkat Arham yang membuat Arvitha tersenyum.
"Ini kan demi kebaikan kita juga mas."jawab Arvitha menundukkan pandangannya ke lantai.
Bersambung
Tinggalkan jejak kalian ya...
Love you..
__ADS_1